Love U My Bodyguards

Love U My Bodyguards
Pakai baju apa?



Acara makan malam di rumah Boy sudah selesai. Juna, Tiffany dan Jo pun sudah pergi. Bayu-Sania juga kembali pulang ke rumah mereka tanpa Jessi. Ya, Jessi memilih untuk menginap di rumah Boy karena dia tidak ingin memperpanjang urusan dengan Sania yang pasti akan melontarkan pertanyaan klasik "Kapan nikah?"


Sejak makan malam tadi, Sania secara frontal mengucapkan pertanyaan itu sebanyak 2x pada Jessi di depan semua orang. Sudah pasti jika Jessi pulang bersama mereka, akan ada pertanyaan ketiga sekaligus ceramah umum dari Bayu. Untuk alasan itulah Jessi harus menghindar dari orangtuanya untuk sementara waktu.


Sekarang Jessi memilih bersantai di kamar tamu sambil membuka media sosialnya. Sedangkan Ken, Marsha, Boy dan Ny.Lee alias Mom Marsha sedang berbincang di ruang tengah.


Mereka tampaknya terlibat dalam percakapan yang cukup serius dan Jessi sempat sedikit mencuri dengar jika Marsha meminta Ken untuk kembali jadi bodyguardnya. Sepertinya Marsha memang tidak bisa jauh-jauh dari Ken.


"Jess..boleh aku masuk?" suara Marsha terdengar dari luar dan mengejutkan Jessi yang sedang melamun.


"Ya, eonni masuk saja." jawab Jessi setengah berteriak.


Marsha masuk lalu duduk di sebelah Jessi.


"Selamat Eonni..aku ikut senang mendengar kabar kehamilanmu." Jessi memeluk Marsha sambil mengusap perutnya.


"Thanks.." "Bagaimana kamu di sana dengan Ken? Apa dia bekerja dengan benar?" tanya Marsha setelah Jessi melepaskan pelukannya.


"Dia kejam sekali, Eonni. Ken menyuruhku ke pasar tradisional. Dia juga menyuruhku jalan kaki. Ken bahkan tidak mau meminjamkan aku uang." Jessi mengeluarkan unek-uneknya selama ini pada Marsha.


Marsha tertawa mendengar keluh kesah Jessi. Dia sebenarnya kasihan pada Jessi yang harus mendapatkan didikan militer dari Boy dan Ken. Tapi cara Jessi menyampaikannya sungguh lucu dan ekspresif.


"Ya, meskipun sedikit kaku dan menyebalkan, tapi Ken adalah pria paling gentleman yang pernah kutemui."


"Gentleman apanya?" omel Jessi tidak terima.


"Dia sangat memperhatikan siapa yang sedang dia jaga. Bukankah begitu?"


Jessi harus mengakui perkataan Marsha kali ini. Meskipun Ken telah melakukan kesalahan satu kali, tapi Ken memang sangat sigap dan juga perhatian. Bahkan ketika cuti, Ken masih menelepon Jessi.


"Apakah Eonni tau kalau Ken suka sama Eonni?"


"Tentu saja tau."


"Serius? Oppa gak marah?" Jessi memperbaiki posisi duduknya untuk menghadap Marsha.


"Kenapa kamu jadi penasaran dengan Ken?" "Atau jangan-jangan......" Marsha tersenyum kecil ketika menyadari sesuatu.


"Apaan sih Eonni." "Ken sudah punya pacar. Mana mungkin aku suka dengannya." protes Jessica yang mencoba mengenyahkan pikiran liar Marsha.


Marsha tertawa keras. Dia sama sekali tidak bicara apapun. Tapi Jessi terlihat salah tingkah sendiri. Dan dia secara tidak langsung malah mengungkapkan perasaannya tentang Ken.


"Ken punya pacar?" tanya Marsha tidak percaya. Selama menjaga Marsha, Ken tidak pernah melirik wanita manapun, bahkan ketika wanita itu lewat di depannya menggunakan pakaian seksi.


"Iya. Katanya pacarnya itu cantik." ada nada sedih ketika Jessi bicara tentang itu.


"Tapi, adik iparku jauh lebih cantik." "Kenapa kamu tidak mencoba dengan Ken?" "Aku yakin 1000% kalau dia belum punya pacar."


"Tapi.. aku dengar dia bersama dengan seorang wanita." Jessi jelas ingat ketika dia mendengar suara wanita saat menelepon Ken.


"Jess.. percaya padaku. Aku kenal Ken sudah 10 tahun lebih. Dia sepertinya juga menyukaimu." Marsha menggenggam tangan Jessi dengan lembut.


"Tapi Eonni.. aku tidak mungkin dengan Ken. Dia hanya seorang bodyguard." jawab Jessi jujur.


"Jess.. dalam hidup, kita tidak bisa memastikan soal itu. Ken memang hanya seorang bodyguard. Tapi dia jauh lebih baik daripada mantanmu itu. Zaman sekarang, kamu akan sulit menemukan laki-laki yang baik." Marsha memberikan Jessi saran yang baik.


"Astaga...jangan terlalu polos Jess." "Kakakmu yang aneh itu tidak akan mengijinkan Ken lama-lama di dekatku." Marsha mengibaskan rambutnya ke belakang dengan ekspresi jengah. Boy sedikit lebih protektif pada Marsha sejak beberapa bulan ini.


"Siapa yang aneh?" Boy menyeruak masuk ke dalam kamar dan langsung berdiri di depan Marsha.


"Oppa yang aneh." jawab Jessi cepat. "Sudah aneh, jelek lagi."


"Sayang, kamu bilang hanya ingin ambil minum. Tapi kenapa malah bicara dengan Jessi?" protes Boy sambil bercak pinggang. Dia tidak mempedulikan Jessi karena perkataan Jessi tidak penting.


"Aku hanya kangen pada Jessi."


"Ya sudah. Ayo kembali ke kamar." "Mom mu sudah tidur di sana." Boy menggendong Marsha ala bridal tanpa persetujuan darinya.


Jessi bergidik melihat kemesraan pasangan yang selalu bucin itu. Meskipun sudah sering melihat mereka berduaan, tapi Jessi belum terbiasa. Rasanya Jessi mual sendiri ketika melihat drakor ala Boy-Marsha itu.


"Kami kembali dulu ke kamar." Boy berbalik. Tapi baru beberapa langkah, Boy berhenti dan menengok ke belakang.


"Rambutmu jelek sekali. Kamu lebih cocok dengan rambut biru." ejek Boy.


"Boooooy...." Jessi melemparkan bantal ke arah Boy. "Ini gara-gara kamu yang asingkan aku di tempat terpencil. Dasar kakak tidak berakhlak."


Boy tertawa senang. Sudah cukup lama dia tidak membuat kesal adiknya itu. Boy berlalu setelah menutup pintu kamar Jessi.


'Tok.. tok..'


"Apalagi Boy? Cepat pergi. Aku tidak mau mendengarkan ejekanmu lagi." teriak Jessi dari dalam.


'Tok.. tok..'


Jessi terpaksa bangun dari ranjang untuk menghajar Boy. Tapi ketika buka pintu, Jessi malah dihadapkan dengan Ken yang bertelanjang dada. Ken menatap Jessi intens.


"Ken, kamu mau apa?" otak kotor Jessi langsung berjalan. Dia menutupi bagian dadanya dengan kedua tangannya.


"Singkirkan pikiran kotormu, nona." "Saya ke sini hanya untuk mencari sesuatu." "Apa koperku ada di sini?" tanya Ken sambil melongok ke dalam ruangan.


"Apa warna kopermu?" tanya Jessi tanpa mengalihkan pandangan dari dada bidang Ken.


"Biru tua."


"Oooh.. kopernya aku turunkan lagi dari mobil. Aku pikir itu koperku." ucap Jessi dengan santainya.


"Astaga.. lalu aku pakai baju apa malam ini?" Ken mengusap wajahnya dengan kasar. Dia sudah memasukkan bajunya di mesin cuci dan sekarang dia hanya menggunakan celana boxer saja.


"Tidak usah pakai baju juga tidak apa-apa. Malah lebih bagus." kata Jessi tanpa sadar.


"Apa anda bilang?" Ken terlihat kesal pada Jessi yang sama sekali tidak merasa bersalah.


"Enggak, maksudku.. kamu bisa pinjam baju Boy." Jessi menggelengkan kepala untuk mengenyahkan pikirannya tentang badan Ken yang terpampang begitu jelas di depan mata.


"Itu tidak mungkin." "Ya sudahlah. Aku akan kembali ke kamar." Ken berbalik. Tapi, Jessi segera memegang pergelangan tangan Ken.


"Sepertinya aku punya baju yang bisa kamu pakai."