
"Jessica!" teriak Ken begitu melihat Jessica sedang berdiri mematung sambil memandang cermin.
Ken langsung memeluk Jessica, sama seperti yang dia lakukan waktu Jessica jatuh terpelosok di gunung. Ya, Ken sangat panik begitu seseorang memberitahunya jika ada wanita yang diancam oleh seorang pria. Jadi, ketika melihat Jessica masih aman, Ken begitu bersyukur.
"Ken.. kenapa kamu ke sini?" tanya Jessi yang agak kesulitan bernafas karena Ken memeluknya dengan begitu erat.
"Tentu saja untuk memastikan kamu baik-baik saja."
"Ya, tapi seharusnya kamu tunggu di luar." ucap Jessi dengan kesal.
Ken melepaskan Jessi. Dia memandang ke sekeliling. Ken baru sadar jika ternyata dia berada dalam toilet wanita. Dan kini semua mata mengarah padanya.
Wanita-wanita di toilet jelas saja heboh dengan kehadiran seorang pria kekar yang begitu tampan di depan mereka.
Ken sangat malu sekali. Tapi, Jessi segera menarik Ken keluar. Mereka sedikit menjauh dari toilet, tapi masih di area koridor.
Ketika suasana sudah kondusif, Ken mengecek Jessi dari atas ke bawah. "Apa ada yang terluka, nona?"
Jessi menggeleng. "Tadi, ada yang menolongku." jawab Jessi lirih.
"Siapa?"
"Namanya..." Jessi tiba-tiba lupa dengan nama orang yang menolongnya. Otaknya berpikir tentang Marco, jadi dia sampai lupa akan orang yang telah menolongnya tadi.
"Ya sudah, yang penting anda tidak apa-apa." ucap Ken dengan lega. Marsha dan Boy akan sangat marah jika Jessi sampai dibawa oleh Marco.
Ken sebenarnya sudah curiga jika ini hanya kamuflase Marco supaya Jessi keluar dari persembunyiannya. Benar saja, ketika di Jakarta, Marco muncul dan kembali mengikuti Jessi.
Untung saja ada yang menolong Jessi.
"Kita pulang saja, nona. Anda terlihat pucat." Ken merapihkan rambut Jessi yang sedikit berantakan.
"Ken, aku takut Marco akan menangkap aku dan aku bernasib seperti Leana." Jessi menunduk dan tidak berani menatap Ken.
"Selama ada aku, aku jamin nona akan aman."
Jessi tidak bisa menjamin itu 100%. Ken sudah 2x kecolongan. Setelah ini akan ada peristiwa apalagi?
"Ken, apa aku harus pergi ke Africa saja sesuai saran Boy?"
Ken memandang Jessi, lalu dia tertawa lebar. Air mata Ken bahkan sampai keluar. "Jangan, itu berat. Kamu gak akan mampu." Ken menirukan perkataan Dilan tentang rindu.
"Ish.. kamu gak percaya aku bisa tinggal di sana?" Jessi mengerucutkan bibirnya karena kesal. Tapi, dia diam-diam memperhatikan Ken yang tertawa begitu bahagia tanpa beban. Ya, Ken yang kaku, hemat bicara, jarang tersenyum, kini bisa tertawa riang seperti ini.
"Nona, jangan bercanda lagi. Ayo kita pulang saja." Ken mengelap air matanya, lalu dia menggenggam tangan Jessi dengan kuat.
Jessi mengikuti Ken yang berjalan dengan sangat percaya diri sambil menggandengnya.
"Ken, apa pacarmu tidak marah jika dia melihat kita seperti ini?" tanya Jessi iseng.
"Tidak. Dia tidak begitu peduli padaku." jawab Ken tanpa menengok ke arah Jessi. Dia sedang berfokus untuk melihat sekeliling karena takut Marco akan kembali.
"Wah, aku jadi punya kesempatan dong." ucap Jessi keceplosan.
'BRUK' Jessi menabrak punggung Ken yang tiba-tiba berhenti. Kali ini, Ken menengok ke arah Jessi.
"Maksudku, ada yang ingin berkenalan denganmu. Aku jadi bisa kenalkan dia padamu." kata Jessi dengan asal.
Jessi hanya diam mencerna kata-kata Ken. Marsha bilang jika Ken tidak punya pacar. Tapi Ken sendiri mengakuinya dan bahkan dia bisa setia pada pacarnya meskipun pacarnya tidak peduli pada Ken.
*
*
*
"Nona, kita sudah sampai." Ken mematikan mesin mobilnya. Dia menengok ke arah Jessi. Tapi, Jessi terlihat sudah tertidur pulas. Kemacetan di Jakarta memang dapat membuat semua orang jadi lelah di perjalanan.
"Nona.." Ken mencoba lagi dengan menepuk lengan Jessi dengan pelan. Tapi, Jessi tidak bangun juga.
'Kalau aku gendong dia ke dalam dan ketahuan Boy, dia pasti akan mencincang aku. Tapi, kalau aku diam saja seperti ini, aku bisa tidur sampai pagi di mobil.' terjadi perang batin dalam diri Ken. Semua pilihan tampaknya sangat sulit.
Ken memikirkan solusi selama setengah jam. Dia juga mencoba membangunkan Jessi dengan berbagai cara. Tapi, Jessi terlihat kelelahan dan tidak bangun juga. Akhirnya Ken mempertaruhkan dirinya untuk menggendong Jessi masuk ke dalam. Dia dapat dengan mudah menggendong tubuh Jessi. Dia menekan Bel dengan tangan kirinya.
Bibi melongo melihat Ken di depan pintu dengan Jessi yang berada dalam gendongannya.
"Ken, kamu benar-benar sudah ndak waras. Tuan bisa marah besar kalau tau adiknya di gendong olehmu." omel Bibi setelah kesadarannya kembali.
"Kalau aku waras, aku gak akan kerja di sini, Bi." ucap Ken tanpa menghiraukan lagi omelan Bibi.
Bibi terdiam sesaat. Sepertinya perkataan Ken terdengar ada yang salah. Tapi apa?
"Oalah, bocah stress. Maksudmu, aku itu gak waras karena masih kerja di sini?" cerocos Bibi yang tidak terima di bilang tidak waras oleh Ken secara tidak langsung. Logat jawanya juga langsung keluar.
Ken membuka pintu kamar Jessica dengan sedikit kesulitan. Setelah terbuka, dia lalu menaruh Jessica dengan hati-hati di ranjangnya.
"Jangan pergi." Jessi tiba-tiba mencengkram tangan Ken. Kuku-kukunya bahkan menancap ke kulit Ken. "Aku takut." "Kamu jangan pergi." igaunya lagi.
"Nona, anda sudah aman di rumah Boy." bisik Ken.
"Tidak, Ken. Aku mau kamu tetap di sini."
Ken kebingungan dengan Jessica. Kenapa dia bisa mengigau seperti ini?
"Nona Jessi..bangun nona." ucap Ken kembali mencoba menyadarkan Jessi. Sepertinya Jessi masih ketakutan dengan Marco.
Jessi membuka matanya perlahan. Dia memandang Ken dengan wajah bingung. Baru saja Jessi bermimpi jika Marco menangkapnya lagi dan Ken malah pergi meninggalkan Jessi.
"Ken.. kamu di sini?" tanya Jessi lirih.
"Ya, anda tidak mau melepaskan tangan saya." ucap Ken sambil memandang tangan Jessi.
"Ya, aku tidak akan lepaskan ini."
"Kenapa nona? Saya harus kembali ke kamar."
"Karena.." "Karena sepertinya aku menyukaimu, Ken."
Ken mengulurkan tangannya untuk mengecek dahi Jessi. Tidak panas. Artinya Jessi bukan mengigau, mabuk atau sakit.
"Nona, anda pasti kelelahan. Anda sebaiknya istirahat dulu." Ken sedikit memaksa Jessi untuk melepaskan tangannya. Setelah berhasil, Ken langsung pergi tanpa mengatakan apapun lagi.
Jessi menutup tubuh dengan selimut sampai ke atas. Dia sungguh malu dengan apa yang baru saja dia ucapkan. Mau ditaruh mana mukanya setelah ini?