
Sudah 3 bulan aku berkirim mail ke Danny-kun, walau hanya pesan singkat tetapi hal itu bermakna dikarenakan aku hanya bisa menghubunginya lewat smartphone saja. Karena kalau aku bertemu dengannya, mungkin bisa 3 hari kami mengobrol serta banyak ekspresi yang akan aku tampakkan padanya. Jarak antara aku dan Danny-kun hanya sebatas smartphone ini, dekat tapi tak tersentuh.
"Kalau begitu, bagaimana aku mengunjungi sekolahnya??? Kuharap aku bisa melihat wajahnya walaupun dari kejauhan..." ucapku sambil tersenyum tipis.
Aku pun segera bersiap untuk esok hari mengunjungi Hope Peak's Academy yang sekarang Danny-kun bersekolah dan aku merasa deg-degan karena aku akan bertemu Danny-kun.
"Besok aku mesti pakai baju apa ya??? Bingung..." ucapku sambil mencoba mencocokkan baju.
Namun selang beberapa lama, aku pun belum menentukan baju seperti apa yang akan aku pakai besok.
"Apa sebaiknya aku memakai pakaian yang biasa aku kenakan saja ya??? Soalnya Danny-kun kan suka aku memakai pakaian itu..." pikirku.
Akhirnya aku memutuskan untuk memakai kimono yang biasa aku pakai dan setelah itu, aku beraktivitas seperti biasa.
Esok hari
"Etto... Coba kulihat..." ucapku.
Aku memeriksa setiap hal yang akan aku bawa hari ini karena selain aku bertemu dengan Danny-kun aku juga sesekali ingin jalan-jalan bersama Danny-kun. Setelah kuperiksa bahwa tidak ada yang ketinggalan, aku pun berangkat dengan wajah tersenyum. Di sepanjang perjalanan, aku memperhatikan setiap momen yang membahagiakan ini bahkan aku mengabadikannya. Untunglah setiap orang tidak terlalu memperhatikanku, namun bukan berarti aku adalah seorang banci kamera ya. Hanya seseorang yang sedang berbahagia, itu saja.
Akhirnya aku sampai ke Hope Peak's Academy, aku melihat sekolahnya benar-benar besar mungkin lebih besar dari kuilku. Aku melirik kiri dan kanan untuk mencari Danny-kun dan berharap semoga dia muncul didepanku.
"Disitu ada tempat duduk, aku duduk disitu saja deh..." ucapku.
Kemudian aku langsung duduk.
Aku terus menunggu Danny-kun pulang sekolah, dan aku melihat Danny-kun pulang melewati pintu depan. Namun aku terkejut melihat sosok seorang gadis di sebelah Danny-kun bersama 2 orang pria yang kelihatannya teman sekelas Danny-kun.
"Siapa gadis itu??" ucapku sambil menggigit kuku jempol tanganku.
"Gadis itu lebih manis dariku... Danny-kun, sebenarnya selama sekolah disini apa sih yang dilakukannya???" pikirku.
"Kalau begitu, aku akan mengikuti mereka..." pikirku lagi.
Aku pun mengikuti mereka diam-diam.
Kemana pun Danny-kun pergi, aku ikuti. Ke kiri aku ikuti, ke kanan aku ikuti, ke depan aku ikuti, kecuali kebelakang karena aku akan ketahuan kalau aku mengikutinya. Selama aku mengikuti Danny-kun, dalam hati aku harap-harap cemas karena takut Danny-kun akan diambil oleh gadis itu. Mungkin aku sudah keterlaluan untuk mencurigainya, namun demi masa depanku dengan Danny-kun, aku rela untuk mencurigai gadis itu.
Aku mengikuti mereka hingga sampai ke sebuah cafe yang tak jauh dari apartemen murah dimana Danny-kun tinggal saat ini, aku juga masuk namun aku hanya duduk di belakang meja Danny-kun dan teman-temannya, serta tak lupa pula aku menguping pembicaraan mereka.
"Bagaimana perkembangan ceritamu Grace-san???" tanya Danny-kun kepada gadis itu.
"Berjalan dengan lancar Danny-san... Kalau kamu sendiri???" tanya gadis itu kembali kepada Danny-kun.
"Aku juga sama, walau ada sedikit kendala..." ucap Danny-kun sambil menghela nafasnya.
"Cerita dong padaku... Siapa tahu aku bisa membantumu..." ucap gadis itu dengan tersenyum.
"Aku tidak ingin merepotkanmu Grace-san..." ucap Danny-kun dengan tersenyum.
"Kamu selalu saja begitu... Kita ini kan teman sekelas..." ucap gadis itu membalas senyuman Danny-kun.
Di tahap inilah aku terbakar api cemburu, rasanya aku ingin menghilangkan gadis itu dari pikiran Danny-kun.
Namun niat itu aku urungkan karena aku bukan gadis kecil lagi yang mudah terbakar api cemburu. Setiap pembicaraan mereka, aku dengar dan ada satu titik dimana kemarahanku memuncak namun aku tetap tak ingin kemarahanku menjadi petaka buatku. Pembicaraan mereka adalah :
"Danny-san, bukankah lebih baik kamu putuskan saja hubunganmu dengan tunangan kamu???" tanya gadis itu.
Gigiku pun mulai gemeretak dikarenakan kemarahanku mulai memuncak.
"Aku tidak bisa Grace-san... Karena dia cinta pertamaku..." jawab Danny-kun.
Aku mulai tersipu malu.
Aku mulai tidak menghiraukan gadis itu karena omongan yang keluar dari mulut Danny-kun mulai memengaruhi pikiranku.
"Kamu salah Grace-san... Hope Peak's Academy memang sekolah elit, akan tetapi tidak menjanjikan apapun selain menjanjikan diri sendiri... Hope Peak's Academy memang sekolah bergengsi, tetapi itu hanya sekolah saja menurutku... Tak lebih dari bangunan yang bisa hancur kapan saja... Karena harapan sesungguhnya bukan dari Hope Peak's Academy, tetapi dari lubuk hati kita yang paling dalam..." ucap Danny-kun sambil tersenyum kepada gadis itu.
"Kelihatannya aku tidak akan pernah menang berdebat denganmu..." ucap gadis itu dengan menghela nafasnya.
Aku menjadi tersipu malu karena Danny-kun ternyata membelaku.
"Danny-san memang baik... Aku jadi ingin memelukmu..." goda gadis itu.
"Hentikan Grace-san... Malu dilihat orang lain..." keluh Danny-kun.
Sontak aku pun langsung melabrak gadis itu dan menarik gadis itu agar melepaskan Danny-kun.
"Mei, sedang apa kamu disini???" tanya Danny-kun kaget.
"Aku sedang melindungi kamu dari durobo neko ini..." ucapku sambil menatap marah kepada gadis itu.
Lalu aku memukul wajah gadis itu dengan tanganku dan gadis itu pun terjatuh.
"Walaupun aku belum menjadi murid Hope Peak's Academy, bukan berarti kamu bisa seenaknya saja mengatakan bahwa aku tak pantas untuk Danny-kun... Karena hanya aku yang tahu seperti apa rasa sakit Danny-kun dulu... Jadi kamu jangan sok tahu kalau kamu mengetahui sesuatu tentang Danny-kun..." ucapku dengan panjang lebar sambil marah kepada gadis itu.
Aku pun langsung menarik tangan Danny-kun dan segera keluar dari kafe itu karena udara yang kurasakan sungguh sesak karena gadis itu.
"Mei, apa yang kamu lakukan???" tanya Danny-kun.
"Aku hanya memukulnya sekali saja agar mulutnya tidak berkata seenaknya tentang kita..." jawabku.
"Tapi kan tidak perlu sampai keterlaluan begitu..." ucap Danny-kun.
"Maafkan aku Danny-kun, aku tak bisa mengontrol emosiku atas kejadian tadi..." ucapku.
"Kenapa kamu sampai begitu Mei???" tanya Danny-kun lagi.
"Aku tidak suka gadis itu karena dia merendahkan aku..." jawabku.
"Mei...." kata Danny-kun lembut.
"Aku tidak masalah jika dia mengejekku karena fisikku atau semacamnya, tetapi aku tidak suka kalau aku dibandingkan dengan gadis lain di sekolahmu..." ucapku sedih.
Danny-kun langsung memelukku, dan dia mengusap kepalaku.
"Maafkan Grace-san yang tadi ya Mei.. Dia tidak bermaksud untuk menertawakan karena kamu tidak lulus masuk ke Hope Peak's Academy..." ucap Danny-kun.
Aku mengangguk manja.
"Yasudah, kalau begitu silahkan masuk ke apartemenku.. Mungkin tidak terlalu besar, tetapi lumayan karena tidak terlalu jauh dari sekolah..." ajak Danny-kun.
Aku pun mengiyakan.
Aku pun masuk ke apartemen Danny-kun, dan aku merasa apartemen ini walau tidak terlalu luas namun tetap nyaman. Mungkin karena ada Danny-kun disini yang membuatku nyaman.
"Oya Danny-kun, tahun depan aku pasti akan masuk ke Hope Peak's Academy, dan akan kubungkam mulut gadis yang tak tahu malu itu..." ucapku dengan semangat.
Danny-kun mengangguk sambil tersenyum.
CHAPTER 9 - THE CAT THIEF
end