Kanaya Meissa (Ultimate Kagura Dancer) ~Eternal Love~

Kanaya Meissa (Ultimate Kagura Dancer) ~Eternal Love~
CHAPTER 38 - PENCULIKAN DANNY-KUN YANG KEDUA



Seminggu lagi adalah ujian kenaikan kelas di Kibou Gamine Gakuen. Kami mempersiapkan bakat kami dan aku melakukan latihan di ruangan latihanku. Aku menari dengan luwes mengikuti alunan musik. Disekolah kami sangat unik, karena kami tidak ada ujian tertulis melainkan ujian praktek saja.


"Tuuuut....tuuuut..." suara mail masuk ke smartphoneku.


"Semangat ya Mei untuk ujian naik kelasnya..." ucap Danny-kun di mail.


"Iya, Danny-kun juga ya..." balasku di mail dengan tersenyum.


Setelah selesai latihan, aku pun beristirahat sambil minum teh dingin.


"Rumah ini sepi sekali... Dulu masih ada ayah dan ibu.. kemudian saat ayahku sudah meninggal, Danny-kun datang. Setelah ibuku meninggal, hanya ada aku dan Danny-kun. Kini setelah Danny-kun tinggal di apartemen, aku tinggal sendiri.." ucapku.


"Apa aku harus menjual rumah ini??" tanyaku sendiri.


"Sepertinya tidak, karena disini banyak kenangan yang kudapatkan sampai hari ini..." jawabku sendiri.


"Aku mau, rumah ini akan menjadi rumahku dan Danny-kun saat kami sudah menikah nanti..." ucapku lagi.


Terdengar suara bel berbunyi.


Aku segera menuju pintu masuk dan melihat siapa yang datang. Ternyata yang datang adalah editor Danny-kun. Aku pun mempersilahkannya masuk dan ia pun masuk.


"Silahkan duduk, editor-san..." ucapku.


"Terimakasih..." balasnya.


Editor Danny-kun pun duduk.


"Mau minum apa??" tanyaku.


"Teh dingin saja..." jawabnya.


"Sebentar ya..." ucapku.


Aku pun membuat teh dingin untuknya dan juga untukku.


"Ada perlu apa??" tanyaku.


"Apa Danny sensei datang kemari??" tanya editor Danny-kun.


"Tidak ada... Namun bukankah Danny-kun ada di apartemennya??" jawabku dan bertanya kembali.


"Aku sudah mendatangi apartemennya tadi, namun ia tidak disana..." jawab editor Danny-kun.


Aku berpikir sejenak.


"Mungkin Danny-kun sedang mencari inspirasi untuk menulis puisinya agar puisinya bagus untuk ditunjukkan kepada penguji nantinya.." ucapku.


"Kalau itu masalahnya, setidaknya smartphonenya masih bisa dihubungi.." ucap editor Danny-kun.


"Aku akan mencoba menghubunginya.." ucapku.


Tuuuut...tuuuut...tuuuut...


"Aneh, biasanya Danny-kun mau mengangkatnya..." lanjutku.


"Bagaimana???" tanya editor Danny-kun.


"Mungkin Danny-kun sedang tidur atau mandi..." jawabku.


"Apa yang terjadi pada Danny-kun?? Jangan-jangan Danny-kun diculik lagi seperti waktu itu..." gumamku gelisah.


"Bagaimana perkembangan buku puisi Danny-kun, editor-san??" tanyaku sambil meminum tehku.


"Perkembangan buku Danny sensei cukup bagus, tinggal pemilihan cover buku saja..." jawab editor Danny-kun sambil meminum tehnya.


"Wah, itu berita bagus..." ucapku.


"Namun untuk memilih cover yang menarik, tidaklah semudah itu... Karena hal itu untuk menarik minat pembaca..." ucap editor Danny-kun sambil menghela nafasnya.


Aku mencoba menghubungi Danny-kun kembali, namun tidak ada jawaban. Aku mulai khawatir, apakah Danny-kun baik-baik saja atau tidak.


"Bagaimana???" tanya editor Danny-kun.


"Masih belum..." jawabku.


Aku menjadi khawatir.


"Kalau begitu, beritahu padaku jika Danny sensei sudah bisa dihubungi ya.." ucap editor Danny-kun.


Editor Danny-kun pun pulang. Setelah mengantar editor Danny-kun pulang, aku kembali duduk di kursi tempat aku biasa duduk dan memikirkan Danny-kun.


"Apa Danny-kun baik-baik saja??" gumamku.


"Karena aku tidak ingin kejadian penculikan itu terulang kembali..." gumamku lagi.


Selama satu jam, aku menunggu kabar Danny-kun. Aku menunggu dengan sabar sehingga tanpa terasa telah satu jam aku menunggu kabar darinya. Namun tiba-tiba mail dari Danny-kun masuk yang isinya.


"Ada apa Meissa-san??? Maaf sudah menunggu membalas mail darimu.. karena aku sekarang berada di stasiun kereta api tadi.. jadinya aku bisa membalas mail darimu..."


Aku merasa senang sekali, namun setelah itu aku tersadar, bahwasanya Danny-kun tidak pernah sekalipun memanggilku dengan sebutan Meissa-san. Kemudian, aku membalas mail dari seseorang yang mengaku Danny-kun.


"Tadi ada seseorang yang mencarimu, namun sekarang ia sudah pulang.. ia mengatakan kalau ia adalah pacarmu..."


Tak lama kemudian, mail dari orang yang menyamar sebagai Danny-kun membalas mail dariku lagi.


"Seperti apa orangnya??? Apakah ia seperti pacarku???"


Dari jawaban mail ini aku menyadari bahwasanya yang menjawab mail ini bukan Danny-kun, melainkan orang lain yang sedang memegang smartphone Danny-kun. Lalu aku membalas mail darinya.


"Oya Danny-san, kamu sekarang berada dimana???"


Lalu tidak lama kemudian, mail dari orang yang mengaku Danny-kun menjawab.


"Sedang rapat dengan Kaori-san..."


Membaca balasan mail dari seseorang yang mengaku Danny-kun tersebut, aku teringat saat aku dan Danny-kun masih SMP. Gadis yang bernama Kaori itu adalah senior kami berdua ketika SMP. Ia satu klub dengan Danny-kun, dan terlebih lagi ia dikagumi oleh Danny-kun. Kemudian aku mengirimkan mail lagi.


"Dimana tempat rapatnya, Danny-san?? Agar aku bisa memberitahu pacarmu agar ia tidak khawatir.."


Namun kali ini jawaban dari seseorang yang mengaku Danny-kun membalas sedikit lebih lama, dan kemudian ia menjawab mail dariku.


"Di kafe Le Bron..."


Setelah aku melihat jawaban dari mail tersebut, aku segera bersiap-siap untuk kesana. Dan tentu saja dengan persiapan yang matang. Aku tak ingin kejadian penculikan Danny-kun terulang kembali lagi. Aku segera menghubungi Hinada, Nozomi, dan Hatsuki untuk membantuku ke kafe yang disebutkan oleh orang yang mengaku Danny-kun tadi. Namun, kali ini untuk memastikan bahwa yang kami cari adalah Danny-kun, Hatsuki, Nozomi, dan Hinada melakukan pengecekan terlebih dahulu.


Setelah mereka melakukan pengecekan, mereka memberitahu bahwa Danny-kun tidak ada disana. Kemudian aku mengirimkan mail kembali ke orang yang mengaku Danny-kun yang isinya.


"Danny-san tidak ada disana... Apakah tempat rapatnya pindah??"


Tak lama kemudian, mail dariku dibalas oleh seseorang yang mengaku Danny-kun.


"Sebenarnya, tempat rapatnya berada di karaoke dekat stasiun..."


Melihat jawaban tersebut, hal itu bukanlah rapat lagi, melainkan sebuah kencan. Tanpa basa-basi lagi, aku langsung menuju ke sebuah karaoke dekat stasiun bersama mereka bertiga setelah ku beritahu bahwasanya Danny-kun berada disana sedang kencan dengan editornya. Setelah sampai disana, aku dan mereka bertiga masuk ke dalam tempat karaoke tersebut. Dan kami berempat berpencar sementara untuk mencari tahu dimana Danny-kun berada.


Setelah kami mencari selama hampir satu jam, kami tidak menemukan Danny-kun. Namun entah mengapa aku merasa ada yang aneh, begitupun dengan mereka bertiga.


"Apakah Danny-kun diculik ke tempat yang waktu itu???" tanyaku.


"Kelihatannya tidak mungkin... Mana ada seseorang yang mau bersembunyi di tempat yang sama..." jawab Nozomi.


Namun tidak lama kemudian, smartphoneku berbunyi dan itu adalah nomor yang tidak dikenal.


"Halo..." ucapku.


"Apakah kamu mencari seseorang yang bernama Danny-kun???" ucap penelepon itu.


"Apa kamu sudah lupa dengan suara ini..." jawab penelepon itu.


"Kaori-san??" ucapku dengan menebak.


"Pingpong...pingpong... Benar sekali, Kanaya-chan..." ucap Kaori sambil tersenyum di telepon.


"Katakan dimana Danny-kun berada!?!?" ucapku kesal.


"Jangan kesal begitu dong, Kanaya-chan... Danny-kun sedang ada bersamaku kok..." ucap Kaori di telepon.


"Jangan main-main denganku!?! Dan tolong berhenti mengatakan Danny-kun karena kamu ini orang asing!?!?!" ucapku yang masih kesal.


"Jangan begitu dong, Kanaya-chan.. bukankah aku ini senpaimu dan Danny-kun??" ucap Kaori di telepon.


"Maaf saja, yang namanya senpai itu harus membantu kohainya... Dan tolong hentikan mengatakan Danny-kun lagi.. karena hanya aku yang boleh mengatakan Danny-kun..." ucapku kesal.


"Baiklah, kalau begitu aku akan memberitahu dimana Danny-kun berada, namun ada syaratnya..." ucap Kaori di telepon.


"Apa syaratnya???" tanyaku.


"Kamu harus datang sendiri..." ucap Kaori di telepon.


"Baiklah kalau begitu, katakan dimana alamatnya..." ucapku.


Kaori pun memberitahu sebuah alamat, lalu ia segera menutup teleponnya.


"Kamu jangan pergi sendirian kesana, Kanaya-san... Berbahaya..." ucap Hatsuki.


"Jangan khawatir, kalau misalkan dia berani menyentuh Danny-kun, aku akan meninjunya 4x.." ucapku sambil tersenyum.


"Kami bertiga akan melihat dari jauh saja.. agar tidak mencurigakan..." ucap Hinada.


"Okey... Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti..." ucapku.


"Kalau kita berhasil menyelamatkan Da-kun, boleh aku meminta Da-kun menciumku dipipi???" tanya Hinada sambil tersenyum.


"Kalau begitu, aku akan meninjumu 100x..." ucapku sambil tersenyum.


"Tunggu sepuluh menit setelah aku berangkat, kemudian kalian bertiga menyusulku..." ucapku.


Mereka bertiga mengangguk.


Setelah aku melihat mereka bertiga mengangguk setuju, aku segera menuju ke tempat yang disebutkan oleh Kaori. Dan setelah sepuluh menit berjalan, mereka bertiga mengikutiku dari belakang. Sesampainya di tempat tujuan, aku langsung masuk dikarenakan pintu depan telah terbuka.


"Apakah disini tempatnya???" gumamku sambil melirik nama bangunan tersebut.


Setelah memastikan tempatnya benar, maka aku pun masuk ke dalam. Namun setelah aku memasuki pintu tersebut, aku dihadang oleh 4 orang perempuan. Tak lama kemudian, Kaori muncul di monitor.


"Kalau Kanaya-chan mau mengetahui dimana Danny-kun berada, kamu harus mengalahkan kami berlima..." ucap Kaori di layar.


Kelihatannya mereka mau mengeroyokku, namun aku sudah mempersiapkan diriku untuk hal ini. Salah satu dari mereka mengunci pintu agar aku tidak bisa keluar.


"Kelihatannya kalian ingin merasakan pukulanku ya?!?!" ucapku sambil tersenyum.


Mereka berempat mulai menyerangku dan aku mampu menghindari serangan mereka dikarenakan tubuhku luwes. Setelah mereka kelelahan, aku langsung meninju kedua mata mereka berempat sehingga membuat mereka berempat jatuh pingsan.


"Ternyata begini saja kemampuan kalian..." ucapku sambil tersenyum.


Tak lama kemudian, Hinada, Nozomi, dan Hatsuki masuk ke dalam.


"Kamu tak apa-apa kan, Kanaya-san??" tanya Hatsuki.


"Oh, kalian... Aku tak apa-apa kok..." jawabku sambil tersenyum.


"Siapa mereka ini, Meigomi??" tanya Nozomi.


"Mereka?? Entah mengapa mereka ingin menghajarku..." jawabku.


Tiba-tiba Kaori muncul di layar monitor.


"Bagaimana??? Apakah kalian..." ucap Kaori.


"Apa!!???!!" ucap Kaori dengan terkejut.


"Mengapa kaget begitu, Kaori-chan??" tanyaku sambil tersenyum.


Kaori pun terlihat kesal dan tanpa sengaja membuat pintu didepanku terbuka.


"Ayo kita masuk...." ucapku.


Mereka bertiga mengangguk. Kami pun masuk ke dalam pintu tersebut untuk menyelamatkan Danny-kun.


Di dalam pintu tersebut, Kaori duduk dengan kesal.


"Ada apa, Kaori-chan?? Kelihatannya kamu kesal sekali..." ucapku sambil tersenyum.


"Ini tidak adil... Mengapa ada banyak sekali cewek yang menyukai Danny-kun..." ucap Kaori dengan kesal.


"Karena Danny-kun adalah pria yang baik..." ucapku.


"Jadi sekarang, dimana Da-kun?!?!" tanya Hinada.


"Aku akan memberitahu kalian dimana Danny-kun, namun Kanaya-chan harus bermain game denganku..." ucap Kaori dengan tersenyum.


"Aku menolak... Katakan dimana Danny-kun berada..." ucapku dengan marah.


Tiba-tiba muncul sebuah ring tinju dari bawah lantai.


"Kalau kamu ingin aku memukul wajahmu, aku tidak akan segan-segan..." ucapku sambil tersenyum.


Aku dan Kaori masuk ke dalam ring tersebut.


"Apa kamu tidak mengganti pakaianmu, Kanaya-chan??? Bukankah kamu akan kesulitan untuk bergerak???" ucap Kaori sambil mengejekku.


"Tenang saja, kimono ini aku pakai untuk menghajarmu, Kaori-chan..." ucapku sambil tersenyum pula.


Kemudian bel tanda pertandingan berbunyi. Tak lama berselang, aku berhasil mengalahkannya dan Kaori terjatuh di sudut ring.


"Mengapa... mengapa aku bisa kalah ini tidak adil..." ucap Kaori.


"Mengapa kamu bilang tidak adil?!?!? Bukankah tadi aku menghadapi 4 orang gadis?? Berarti kamu juga harus menghadapi kami berempat dong..." ucapku sambil tersenyum.


"Tapi tetap saja itu tidak adil..." keluh Kaori.


"Aku tidak mengatakan satu lawan satu bukan??" ucapku sambil tersenyum lagi.


"Nah sekarang, katakan dimana kamu menyembunyikan Danny-kun, Kaori-chan?!?! Atau aku akan menghajarmu lagi..." ucapku sambil tersenyum seram.


"Danny-kun berada di apartemennya..." ucap Kaori.


Mendengar jawaban itu, aku segera menghubungi smartphone Danny-kun. Dan Danny-kun mengangkatnya lalu kami berbicara sebentar, kemudian aku menutupnya.


"Kalau begitu, mengapa kamu memberitahu kalau Danny-kun diculik?!" tanyaku sambil tersenyum namun marah.


"Karena aku ingin tahu berapa banyak gadis yang disukai oleh Danny-kun..." jawab Kaori.


Aku tersenyum lalu kami berempat membantu Kaori berdiri. Setelah Kaori berdiri, mereka berempat malah memegang tangan dan kaki Kaori sehingga Kaori tidak bisa bergerak kemanapun.


"Lepaskan!!!???" ucap Kaori sambil meronta-ronta.


Aku tersenyum lalu mengambil ancang-ancang untuk melakukan uppercut ke dagunya. Kemudian kepalaku berkedut dan melakukan uppercut ke dagunya sehingga membuatnya terlempar ke luar ring.


CHAPTER 38 - PENCULIKAN DANNY-KUN YANG KEDUA


end