
Setelah mengalami hal yang menegangkan minggu lalu, akhirnya sekolahku dan Danny-kun melakukan ujian akhir untuk naik tingkat. Aku naik tingkat kedua, sedangkan Danny-kun naik tingkat ketiga. Namun aku menyadari, aku bisa bertemu dengan Danny-kun setahun lagi. Karena itu, aku akan menghabiskan waktu bersama Danny-kun setahun ini untuk membuat kenang-kenangan yang tidak akan terlupakan olehnya.
Setelah aku menyelesaikan ujianku, aku segera menemui Danny-kun yang berada di gedung yang berbeda. Ternyata pengujian Danny-kun belum dimulai. Aku mencari tempat duduk dimana aku bisa melihat Danny-kun dengan jelas.
Aku menunggu giliran Danny-kun dengan sabar. Aku melihat semua bakat yang dimiliki oleh setiap murid disini. Ada yang membuatku tertarik, ada juga yang tidak. Tak lama kemudian, tibalah giliran Danny-kun. Aku memperhatikannya dengan serius dan tersenyum. Namun entah mengapa banyak murid-murid perempuan yang menonton Danny-kun tampil. Namun aku harus berpikiran positif saja, karena kemungkinan mereka berpikir bahwa Danny-kun memiliki bakat yang menarik dimata mereka. Danny-kun mulai membacakan sebuah puisi yang terdengar seperti musim semi disaat musim dingin masih berlangsung. Ketika Danny-kun selesai membacakan puisi tersebut, tak terasa air mataku terjatuh. Dan penguji pun menilai bahwasanya Danny-kun naik tingkat. Dan Danny-kun tersenyum sumringah.
Setelah selesai ujian tersebut, di luar gedung aku menunggu Danny-kun dan mengajaknya makan siang bersama dan Danny-kun pun juga telah membawa bekal makan siangnya sendiri.
"Maaf menunggu Mei..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.
"Tidak apa-apa kok Danny-kun..." ucapku sambil membalas senyumannya.
"Apakah kita makan siang di tempat biasa???" tanya Danny-kun.
"Tidak, kali ini aku menemukan tempat yang bagus..." jawabku sambil tersenyum.
"Namun bukankah lebih baik kita makan siang bersama di tempat biasa???" tanya Danny-kun.
"Aku menemukan tempat yang bagus loh Danny-kun dari tempat yang biasa..." jawabku sambil tersenyum lagi.
"Mungkin Mei hanya ingin berdua saja denganku..." gumam Danny-kun.
"Okey... Namun apakah tempatnya jauh???" tanya Danny-kun.
"Tidak kok... Aku yakin Danny-kun pasti suka dengan tempat itu..." jawabku.
Kami berdua pergi ke tempat yang kutemukan diam-diam saat baru dua bulan aku masuk ke sekolah ini. Hanya saja, karena ketiga gadis yang menyebalkan itu selalu menggagalkan rencanaku untuk berdua saja dengan Danny-kun.
Sesampainya disana, Danny-kun melihat sebuah pondok yang dikelilingi oleh taman bunga. Danny-kun terpesona dengan pemandangan itu.
"Tempat ini indah sekali..." ucap Danny-kun.
"Benar kan... Aku yakin kalau Danny-kun pasti suka..." ucapku sambil tersenyum.
Aku dan Danny-kun mendatangi pondok tersebut dan membuka pintunya.
"Tunggu sebentar Danny-kun... Aku akan masuk terlebih dahulu..." ucapku.
Danny-kun mempersilahkan aku untuk masuk duluan. Namun aku langsung bersiap-siap seolah-olah aku adalah istri Danny-kun yang menunggu Danny-kun pulang. Aku mempersilahkan Danny-kun masuk.
"Selamat datang kembali... Apakah Danny-kun mau makan dulu?? Mau mandi dulu?? Atau a..ku..." ucapku sambil menahan malu.
"Ya ampun Mei... Kamu ini ada-ada saja..." ucap Danny-kun tertawa.
"Kalau begitu, makan dulu..." ucap Danny-kun sambil tersenyum kemudian.
Aku pun segera meletakkan bekal makan siang kami. Disitu, aku duduk disebelah Danny-kun. Aku dan Danny-kun membuka bekal kami dan masing-masing dari kami mulai menyantap bekal kami.
"Mei, apa tidak apa-apa kita tidak mengajak mereka??" tanya Danny-kun.
"Mengajak siapa??" tanyaku sambil mengunyah.
"Hatsuki-san, Hinada-san, dan Nozomi-san..." jawab Danny-kun.
Ketika mendengarnya aku tersedak, dan Danny-kun memberikan minuman padaku dan aku meminumnya dan mulai tidak tersedak lagi.
"Aku tidak melihat mereka, mungkin mereka sedang menghadapi ujian.." ucapku sambil melihat ke arah lain.
"Aku tidak tahu apakah Hatsuki-san dan Hinada-san sedang menghadapi ujian, namun bukankah Nozomi-san itu sekelas denganmu???" tanya Danny-kun lagi.
"Mungkin ia sedang menunggu giliran ujian..." jawabku.
"Walau sebenarnya aku tidak tahu apakah ia sudah selesai apa belum dan aku juga tidak perduli..." gumamku.
"Sebenarnya aku sudah menemukan pondok ini sudah dua bulan semenjak aku sekolah disini..." ucapku sambil mengunyah makananku.
"Kalau begitu, mungkinkah ini dibuat oleh senpai kita saat dia sedang mempunyai waktu luang??" tanya Danny-kun.
"Mungkin.. tapi kalau benar, kita bisa gunakan ini untuk beristirahat disini saat istirahat siang..." jawabku.
"Benar juga.. dan disini juga ada sofa.. seakan-akan orang yang membangun pondok ini akan menjadi tempat tinggal sementara..." ucap Danny-kun.
"Oya Danny-kun, tolong rahasiakan pondok ini ya.. karena kemungkinan besar para guru akan menghancurkan pondok ini..." ucapku.
"Tenang saja... Aku tidak akan memberitahu guru kok.. karena tempat ini mungkin juga bisa membantuku untuk menulis puisi..." ucap Danny-kun.
Aku tersenyum senang dalam hati.
"Ayo kita habiskan... Karena sebentar lagi kita akan masuk kelas..." ucap Danny-kun.
Aku pun mengangguk walau sebenarnya aku ingin bersama Danny-kun lebih lama lagi. Selesai kami makan bersama, kami keluar dari pondok tersebut dan tak lupa untuk menutup pintunya. Namun tanpa kuketahui, terdapat CCTV yang terpasang di sudut ruangan dikarenakan tersembunyi dan tak terlihat olehku dan Danny-kun.
"Danny-kun.. setelah ini Danny-kun ada kegiatan apa lagi???" tanyaku.
"Setelah ujian selesai, aku langsung pulang..." jawab Danny-kun.
"Kalau begitu, kita pulang bersama-sama saja... Aku juga tidak ada kegiatan lain..." ucapku.
"Oke..." ucap Danny-kun.
"Yesss... Pulang bersama Danny-kun..." gumamku senang.
Setelah semua murid selesai melakukan ujian kenaikan tingkat, aku menunggu di depan kelas Danny-kun dan kami langsung pulang bersama.
Di perjalanan pulang
"Mei.. bagaimana ujianmu??? Apakah lancar??" tanya Danny-kun.
"Lancar kok Danny-kun..." jawabku sambil tersenyum.
"Apakah kamu gugup saat ujian tadi???" tanya Danny-kun.
"Tidak kok... Karena aku sudah terbiasa dihadapan penonton..." jawabku.
Danny-kun mengusap rambutku sehingga membuatku senang.
"Mei, setelah ini maukah kamu menemaniku belanja???" tanya Danny-kun.
"Tentu saja aku mau..." jawabku sambil tersenyum.
Aku segera merangkul tangan Danny-kun sambil berjalan menuju supermarket tempat biasanya kami berbelanja.
Epilog
Di tempat yang tidak jauh terdengar suara 3 orang gadis yang bersembunyi di balik semak-semak. Mereka bertiga melihatku memeluk Danny-kun dari jauh dan muncul rasa iri di hati mereka.
"Ayo kita mulai sidangnya..." ucap Hinada.
"Sidang apa???" tanya Nozomi.
"Tentu saja, sidang pertanggungjawaban si kucing bau..." jawab Hinada sambil tersenyum.
CHAPTER 39 - LAST EXAM PERIOD
End