Kanaya Meissa (Ultimate Kagura Dancer) ~Eternal Love~

Kanaya Meissa (Ultimate Kagura Dancer) ~Eternal Love~
CHAPTER 73 - RED ROSE DATE



Hari ini aku janjian dengan Danny-kun untuk kencan. Kali ini, Danny-kun yang membimbing dikarenakan ada sebuah tempat yang ingin Danny-kun kunjungi. Disamping itu pula, hari ini adalah hari Valentine dimana setiap wanita memberikan coklat kepada pasangannya. Aku memakai pakaian berwarna merah agar terlihat dewasa dimata Danny-kun.


"Sepertinya aku akan pakai parfum ini saja..." ucapku.


Aku menyemprotkan parfum ke bajuku secukupnya sampai tercium bau mawar di hidungku. Lalu setelah itu, aku berangkat kencan dengan Danny-kun. Sesampainya di stasiun kereta, aku menunggu Danny-kun sambil kembali merapikan rambutku yang sebenarnya sudah aku rapikan setelah aku selesai berpakaian. Tak lama kemudian, Danny-kun muncul di depanku.


"Apakah kamu sudah menunggu lama??" tanya Danny-kun.


"Tidak kok.. aku baru sampai..." jawabku sambil tersenyum.


"Oya Danny-kun, bagaimana penampilanku??" tanyaku sambil memutar tubuhku.


"Kamu imut sekali hari ini, Mei..." jawab Danny-kun sambil tersenyum.


Lalu Danny-kun mengusap kepalaku yang membuatku tersenyum malu.


Aku pun langsung merangkul lengan Danny-kun dan berjalan disampingnya. Dan tak lama kemudian, tibalah di suatu tempat yang telah Danny-kun beritahu kepadaku dimana kami berdua akan kencan.


"Kafe ini sepi sekali, Danny-kun..." ucapku.


"Tempat ini memang sudah didesain seperti itu... Namun bukankah tempat ini menyenangkan??" ucap Danny-kun sambil tersenyum.


"Iya... Tempat ini menyenangkan... Bahkan sebagian bunga mawar merah ada disini..." ucapku sambil tersenyum pula.


"Kita duduk disini saja..." ucap Danny-kun.


Danny-kun dan aku duduk di kursi yang Danny-kun pilihkan, lalu kami pun memesan makanan. Aku melihat menunya dan kebanyakan adalah kue, sedangkan minumannya berupa teh atau kopi. Danny-kun sudah memutuskan apa yang ingin dipesan, dan aku hanya menurutinya saja.


"Kami pesan 1 set shortcake, lalu minumnya, teh susu..." ucap Danny-kun.


"Baiklah... Tunggu sebentar ya..." ucap pelayan itu.


Pelayan itu pergi untuk mengatakan kepada tukang masak untuk segera membuat kue dan teh susu yang kami pesan.


"Ngomong-ngomong, mengapa Danny-kun ingin kencan di tempat ini??" tanyaku.


"Karena aku ingin mencoba saja..." jawab Danny-kun sambil tersenyum.


"Tapi tempat ini sepi sekali... Namun kalau begitu, ini kesempatanku untuk bersenang-senang..." gumamku sambil tersenyum.


"Oya Mei, penjualan buku puisi karyaku sukses besar..." ucap Danny-kun.


"Selamat ya Danny-kun..." ucapku sambil tersenyum manis sambil memegang pergelangan tangan Danny-kun.


"Terimakasih Mei..." ucap Danny-kun sambil tersenyum pula.


"Kalau begitu, kita berdua harus merayakannya..." ucapku sambil tersenyum.


Danny-kun tersenyum kepadaku dan mengusap kepalaku.


"Tidak usah Mei... Aku tidak ingin membuat keributan di tempat ini..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.


Aku mengerti apa maksud dari Danny-kun lalu aku mengambil tangan Danny-kun dari kepalaku untuk aku taruh di pipiku sambil tersenyum manis. Lalu tiba-tiba, ada seseorang di meja yang lain tersandung sesuatu sehingga membuat aku kaget dan aku segera melepaskan tangan Danny-kun.


"Siapa sih yang mengganggu kemesraanku dengan Danny-kun..." gumamku dengan kesal.


Lalu aku melihat sekeliling dan ternyata ada 4 orang disitu yang duduk di satu meja. Aku tidak bisa melihat wajahnya mereka berempat dikarenakan mereka menutup wajah mereka. Aku pun kembali ngobrol dengan Danny-kun.


"Danny-kun, ini coklat valentine untukmu..." ucapku sambil tersenyum dengan memberikannya kepada Danny-kun.


"Terimakasih Mei... Aku akan memakannya nanti..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.


Danny-kun lalu meletakkan coklat valentine yang kuberikan padanya ke sisi meja dekat dinding dikarenakan kami akan menikmati pesanan yang kami pesan. Disitu Danny-kun melihatku sedang bersedih.


"Ada apa Mei??? Mengapa kamu bersedih??" tanya Danny-kun.


"Tidak apa-apa kok Danny-kun..." ucapku tersenyum sambil mengusap air mataku.


"Jangan khawatir Mei... Coklat ini pasti akan aku makan kok..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.


Aku tersenyum mendengarnya. Dan tak lama kemudian, pesanan kami pun datang. Kami menikmati 1 set shortcake serta teh susu hangat diiringi dengan musik yang pelan dan tenang. Aku memakan shortcake tersebut seperti tuan putri kerajaan yang makan dengan sopan dan santun. Danny-kun melihatku dengan tersenyum sambil tertawa kecil.


"Ada apa Danny-kun??" tanyaku heran.


"Tidak apa-apa Mei... Hanya saja aku melihat cara makanmu yang lucu..." jawab Danny-kun sambil tersenyum.


"Aku sedang meniru seorang putri yang sedang menikmati teh di sore hari..." ucapku sambil tersenyum.


"Lalu mestinya aku harus berkelakuan seperti apa??" tanyaku.


"Seperti kamu apa adanya saja..." jawab Danny-kun sambil mengusap kepalaku.


Aku pun tersenyum ketika kepalaku diusap oleh Danny-kun dengan lembut. Lalu tiba-tiba terdengar suara seperti itu lagi dan kami berdua pun kaget dan Danny-kun mengakhiri usapan lembutnya di kepalaku. Aku pun merasa kesal karena ada yang mengganggu kami berdua, aku kembali melihat ke arah mereka berempat namun aku kembali mengacuhkannya dikarenakan aku tidak mau buang-buang waktu untuk mengurusi orang yang tidak aku kenal.


"Oya Danny-kun, setelah ini kamu akan mengajakku kemana???" tanyaku.


"Sepertinya di tempat "itu" lagi... Karena aku suka tempat "itu"..." jawab Danny-kun.


"Kalau begitu, sekarang saja kita ke tempat "itu"..." ucapku sambil tersenyum.


"Nanti saja ketika sudah pukul 16.40..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.


"Mengapa harus jam segitu??" tanyaku.


"Karena aku sudah memperkirakan kalau kita berangkat jam segitu, kita bisa melihat matahari terbenam tepat waktu..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.


Aku merasa terkejut bahwa Danny-kun membawaku ke tempat itu hanya untuk melihat matahari terbenam.


"Danny-kun ingin melakukan hal yang romantis denganku... Senangnya..." gumamku sambil tersenyum.


"Oya Mei, coklat buatanmu akan aku makan sekarang juga... Selagi teh susunya masih tersisa..." ucap Danny-kun.


"Silahkan, Danny-kun..." ucapku sambil tersenyum.


Danny-kun memakan cokelat buatanku.


"Bagaimana Danny-kun??" ucapku dengan gugup.


Danny-kun memakannya sambil tersenyum.


"Ini enak Mei..." jawab Danny-kun.


"Dan aku merasakan adanya keju di coklat ini..." lanjut Danny-kun.


"Karena aku memakai lelehan keju sebagai pengganti coklat... Disamping itu, aku tidak ingin memberikanmu coklat valentine yang biasa saja..." ucapku sambil tersenyum.


"Kalau begitu, hadiah untuk White Day akan membuatku bingung untuk memilih apa..." ucap Danny-kun.


"Tidak apa-apa kok Danny-kun, aku tidak ingin balasan darimu..." ucapku sambil tersenyum.


Danny-kun lalu mengusap rambutku sehingga membuatku senang. Dan tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 16.40 yang menandakan bahwasanya Danny-kun akan mengajakku ke tempat "itu". Danny-kun lalu memanggil pelayan tersebut untuk membayar harga yang sudah dipesan tadi dan kami berdua pun pergi ke tempat "itu". Di perjalanan menuju ke tempat "itu", kami berdua menaiki bus selama satu jam lalu kami berjalan lagi selama 10 menit dan tibalah kami di tempat "itu", yaitu tempat yang selalu aku kunjungi ketika aku merasa kesepian saat aku tidak melihat Danny-kun. Sesampainya disana, kami berdua menghirup udara sore yang segar dan angin yang bertiup sepoi-sepoi. Aku melihat Danny-kun begitu tersenyum ketika melihat banyak rumah berjejeran di dekat dinding hingga terlihat ada sungai perkotaan yang mengalir disana.


"Disini udaranya segar sekali..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.


"Iya... Disini udaranya segar..." ucapku sambil tersenyum manis.


Danny-kun lalu berjalan mendekati pinggir dinding sambil melihat ke arah sungai yang besar itu.


"Mei..." ucap Danny-kun.


"Ada apa, Danny-kun???" tanyaku sambil tersenyum.


"Sebulan lagi aku akan segera lulus..." jawab Danny-kun.


"Lalu??" tanyaku lagi.


"Apakah aku boleh kembali lagi ke rumahmu sampai tahun depan??" tanya Danny-kun.


"Tentu saja boleh, Danny-kun... Rumah itu juga rumahmu..." jawabku sambil tersenyum senang.


"Kapan kamu akan pulang, Danny-kun??" tanyaku.


"Bulan April..." jawab Danny-kun.


"Okey..." ucapku sambil tersenyum.


Lalu aku memeluk tangan Danny-kun lalu menyenderkan kepalaku di pundaknya.


Dan pada akhirnya kami pun menikmati mentari terbenam dengan penuh kehangatan walaupun sore itu terasa dingin untukku.


CHAPTER 73 - RED ROSE DATE


End