Kanaya Meissa (Ultimate Kagura Dancer) ~Eternal Love~

Kanaya Meissa (Ultimate Kagura Dancer) ~Eternal Love~
CHAPTER 86 - HALLOWEEN SERVICE'S WAR



"Sebentar lagi perayaan Halloween akan tiba, namun bagaimana caranya aku bisa merayakan Halloween berdua saja dengan Danny-kun???" gumamku.


"Kalau begitu, aku harus membuat mereka berempat menjauh terlebih dahulu..." gumamku lagi.


"Mengapa kamu bergumam sendiri, kucing bau???" tanya Hinada.


"Bukan urusanmu, rubah betina..." jawabku.


"Haaaaa..." ucap Hinada dengan nada kesal.


"Apa...." ucapku dengan nada menantang.


Aku dan Hinada saling bertatapan dengan wajah kesal sehingga menimbulkan aliran listrik.


"Bukankah sebentar lagi itu ada perayaan Halloween??" tanya Mimi.


"Memangnya ada apa dengan perayaan Halloween???" tanya Hatsuki.


"Kebetulan sekali, aku ingin merayakan Halloween dirumahku..." ucap Hinada.


"Aku tidak ikut..." ucapku datar.


"Tidak ada yang mengajakmu kok..." ucap Hinada dengan ketus.


"Aku hanya mengajak, Hatsuki-san, Nozomi-san, Mimi-chan, dan Da-kun..." lanjutnya.


"Kalau begitu, aku ikut..." ucapku sambil tersenyum.


"Karena kalau Danny-kun ikut, berarti aku sebagai tunangannya juga harus ikut.." lanjutku lagi.


"Tidak ada yang mengajakmu tahu..." ucap Hinada.


"Kalau kamu ikut juga, siapa yang akan jaga rumahmu???" tanya Nozomi.


"Aku dan Danny-kun yang akan jaga rumah ini... Kalian pergi saja merayakan Halloween..." jawabku sambil tersenyum.


"Kalau begitu, kita rayakan saja Halloween disini..." saran Mimi.


Mereka berempat mengangguk setuju atas saran dari Mimi, namun hal itu tidak baik untukku dikarenakan aku tidak bisa berduaan bersama dengan Danny-kun.


"Mengapa kalian tidak merayakan dirumah Hinada-san saja???" tanyaku sambil tersenyum.


"Pasti akan meriah, bukan??" tanyaku lagi sambil tersenyum.


"Maaf, dirumahku akan ramai sepertinya nanti saat perayaan Halloween..." ucap Hinada sambil tersenyum.


"Aku harus bisa merayakan Halloween tahun ini bersama Da-kun.." gumam Hinada sambil tersenyum.


"Tentu saja aku tidak akan membiarkan itu, rubah betina..." gumamku sambil tersenyum pula.


"Terlalu cepat bagimu untuk berduaan dengan Danny-kun... Silahkan tunggu 10.000 tahun lagi ya..." gumamku lagi sambil tersenyum.


Akhirnya diputuskan bahwasanya pesta Halloween akan diadakan dirumahku.


"Tapi kita tentukan peraturannya..." ucapku.


"Apa peraturannya?" tanya Nozomi.


"Tidak boleh memakai pakaian mesum..." jawabku.


"Memangnya kenapa??" tanya Hinada.


"Kalau ada yang berani melakukan itu, aku tidak akan segan-segan membakarnya hidup-hidup..." jawabku sambil tersenyum manis.


"Hal itu juga berlaku untukmu, bukan??" tanya Mimi.


"Tentu saja..." jawabku sambil tersenyum.


"Tapi kita akan merayakannya seperti apa??" tanya Hatsuki.


"Bagaimana kalau kita lomba untuk memenangkan hati Danny senpai??" saran Nozomi.


"Sepertinya bagus juga, kita kan belum menentukan siapa pemenangnya..." ucapku.


"Tapi yah, sudah jelas kan siapa pemenangnya..." ucapku sambil tersenyum.


"Huuuuuhhhh???" ucap mereka berempat sambil tersenyum dengan kepala yang berkedut.


"Tapi kalau hanya menentukan pemenangnya saja, tidak akan seru..." ucapku.


"Bagaimana kalau ditambahkan, orang yang kalah harus mengikuti pemenang??" tanyaku.


Mereka pun menyetujuinya.


Namun yang kami berenam tidak sadari adalah Danny-kun menguping pembicaraan kami, dan Danny-kun pun juga memikirkan bagaimana caranya agar tidak terjadi pertumpahan darah.


Seminggu kemudian, perayaan Halloween pun diadakan dirumahku. Disitu hanya ada kami berenam. Danny-kun sedang pergi keluar untuk mengerjakan proyek selanjutnya bersama editornya. Di rumah, kami berenam memakai pakaian terbaik kami dan kami duduk manis menunggu kepulangan Danny-kun. Kami menatap satu sama lain dan saling membanggakan diri kami sambil tersenyum.


"Aku yang paling imut disini..." gumamku sambil tersenyum.


"Tidak, aku yang paling imut..." gumam Hinada sambil tersenyum.


"Tidak, aku yang paling imut..." gumam Hatsuki sambil tersenyum.


"Tidak, aku yang paling imut..." gumam Nozomi sambil tersenyum.


"Tidak, aku yang paling imut..." gumam Mimi sambil tersenyum.


"Bagaimana caranya agar aku bisa menyingkirkan mereka?" gumam kami berenam secara serentak.


"Ada sumpit, ada garpu, dan ada pisau.." gumam kami berenam secara serentak lagi.


Namun kami mengurungkan niat kami untuk saling membunuh. Kami menunggu Danny-kun untuk pulang, namun Danny-kun belum juga pulang. Hingga aku ingin buang air kecil, namun ditahan oleh mereka berempat.


"Hei, aku sudah tidak tahan... Biarkan aku ke kamar mandi..." ucapku menahan rasa sakit.


Lalu Hinada mengeluarkan botol plastik untuk diberikan kepadaku.


"Kalau begitu, lakukan disini saja..." ucap Hinada sambil tersenyum.


"Aku harap bisa..." jawab Hinada sambil tersenyum.


Lalu kami berdua pun berkelahi, namun sisanya melerai kami. Selama hampir mendekati makan malam, Danny-kun belum pulang juga sehingga membuat kami semua cemas. Namun tak lama kemudian, Danny-kun pulang. Kami pun segera menyambut Danny-kun dengan wajah gembira. Kami menyambut Danny-kun di pintu depan, namun kami terkejut melihat sesuatu yang berbeda dari Danny-kun. Yaitu Danny-kun mengubah gaya rambutnya sehingga membuat kami berlima pangling.


"Aku pulang..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.


Kami hanya terdiam dan terpesona melihat Danny-kun.


"Mengapa kalian diam saja??" tanya Danny-kun sambil tersenyum.


"Se... Selamat datang kembali..." ucap kami berlima secara serentak.


Danny-kun lalu melepaskan sepatunya serta langsung ke ruang tamu untuk beristirahat sebentar. Kami berlima mengikuti Danny-kun dari belakang, lalu aku duduk di sebelah Danny-kun sedangkan yang lainnya duduk di tempat masing-masing.


"Ada apa???" tanya Danny-kun.


"Mengapa kamu mengubah penampilanmu, Danny-kun??" tanyaku.


"Aku hanya ingin mengganti gayaku saja..." jawab Danny-kun sambil tersenyum.


"Apa aku terlihat aneh??" tanya Danny-kun lagi.


"Tidak kok..." jawab kami berlima secara serentak sambil menggelengkan kepala.


"Apa kalian sudah makan malam??" tanya Danny-kun.


Kami menggelengkan kepala kami.


"Kalau begitu, aku akan menyiapkan makan malam... Kalian tunggu saja di meja makan..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.


Danny-kun lalu pergi ke dapur untuk membuat makan malam. Kami berlima masih terpesona dengan Danny-kun tadi sehingga membuat kami berlima berkhayal sambil tersenyum.


"Tidak...tidak... Aku masih belum boleh berpikir seperti itu..." gumamku.


Lalu aku melihat mereka berempat berkhayal sambil tersenyum sehingga membuatku kesal. Aku menusuk mata mereka berempat dengan jariku.


"Hei... Sakit tahu!!" ucap mereka berempat serentak sambil kesakitan.


"Berapa lama kalian melihat Danny-kun dengan tatapan mesum kalian, huh??" tanyaku sambil tersenyum.


"Kalau aku pikir, mungkin sekitar lima menit..." jawabku sambil tersenyum.


"Itu berarti, 5 menit \= 300 detik \= 2000 second..." ucapku lagi sambil tersenyum.


"Dan itu berarti, aku akan meninju kalian selama 1 bulan..." ucapku sambil tersenyum.


Lalu Danny-kun memukul kepalaku dengan chop.


"Sakitnya..." ucapku meringis sakit.


"Kalau kalian masih berkelahi, aku tidak akan membuat makan malam untuk kalian..." ucap Danny-kun dengan tegas.


Lalu kami pun duduk di meja makan sambil meringis kesakitan. Di meja makan, kami pun saling bertatapan satu sama lain dikarenakan siapa yang akan duluan melayani Danny-kun.


"Danny-kun, apa makan malamnya??" tanyaku.


"Salisbury steak..." jawab Danny-kun sambil tersenyum.


"Kelihatannya enak..." ucap Mimi.


"Tentu saja... Yang membuatkan makanan itu adalah orang yang aku cintai..." ucapku sambil tersenyum.


Tiba-tiba saja, Hinada menendang tulang keringku. Lalu aku membalasnya dengan mencubit kakinya dengan jari kakiku sehingga membuatnya kesakitan juga.


"Ayo maju sini..." gumam Hinada sambil tersenyum.


"Ayo..." gumamku sambil tersenyum pula.


Kami berdua saling bertatapan, namun kaki kami saling menyerang di bawah meja makan.


"Apa cuma begini saja, rubah betina..." gumamku sambil tersenyum mengejeknya.


"Rasakan ini!!!" gumam Hinada.


Hinada berhasil menendang lututku hingga membuatku kesakitan.


"Rasakan itu, kucing bau..." gumam Hinada sambil membalas mengejekku.


Lalu tak lama kemudian, Danny-kun selesai membuat Salisbury Steak yang sangat enak. Bahkan sebelum memakannya, kami berlima sudah merasa kenyang hanya dengan melihatnya saja.


"Selamat makan..." ucap kami semua secara serentak.


"Inilah kesempatanku..." gumamku.


Aku lalu duduk di sebelah Danny-kun.


"Apa aku boleh menyuapimu, Danny-kun??" tanyaku sambil tersenyum manis.


"Aku bisa memakannya sendiri..." jawab Danny-kun sambil tersenyum pula.


"Hanya satu suapan saja kok..." ucapku sambil memohon.


"Baiklah..." ucap Danny-kun.


Aku pun mulai menyuapi Danny-kun, namun tiba-tiba saja terjadi sesuatu yang menggemparkan di meja makan, yaitu Hinada mencium pipi Danny-kun sehingga membuat garpu yang ku pegang jatuh ke piring Danny-kun.


"Nananananananana" ucapku secara terbata-bata.


"Apa yang kamu lakukan???" ucapku sambil berteriak ke arah Hinada.


"Seperti yang kamu lihat, aku sedang mencium pipi Da-kun..." ucap Hinada sambil tersenyum.


Aku pun naik pitam dan aku berjalan ke arah dimana Hinada duduk, lalu aku menarik kerah bajunya dan menyeretnya keluar ruangan lalu aku pun menutup pintunya. Ketika pintu sudah ditutup, aku menyeretnya ke halaman belakang rumahku untuk memberinya hukuman dikarenakan mencium pipi Danny-kun adalah dosa yang tidak pernah aku maafkan. Kami berdua berkelahi hingga kami berdua babak belur.


CHAPTER 86 - HALLOWEEN SERVICE'S WAR


End