Kanaya Meissa (Ultimate Kagura Dancer) ~Eternal Love~

Kanaya Meissa (Ultimate Kagura Dancer) ~Eternal Love~
CHAPTER 31 - FOUR EYES, GAMBLE, GIRLFIGHT



Malam setelah tahun baru, aku dan rubah betina sedang saling bertatapan satu sama lain di sebuah kamar rahasia, aku sedang berdiri sedangkan rubah betina sedang duduk.


"Ada apa lagi, kucing bau... Mengapa kamu meninjuku??!?!?" tanya Hinada dengan nada kesal sambil memegang matanya yang memerah.


"Maaf, aku sengaja... Soalnya kamu ini gadis yang tidak tahu diri... Bukankah sebelumnya aku pernah bilang kalau Danny-kun itu tunanganku.." jawabku sambil tersenyum dengan kepala berkedut.


"Apa buktinya??? Apakah berupa cincin?? Atau berupa barang lain??" tanya Hinada lagi yang masih memegang matanya.


"Itu bukan urusanmu..." jawabku sambil tersenyum.


"Berarti pertunangan kamu itu palsu... Karena tidak mempunyai bukti..." ucap Hinada yang melepaskan tangannya dari matanya sudah karena sudah tidak terlalu sakit.


"Kamu mau sebelah matamu kutinju lagi?!?!?" ucapku dengan tersenyum namun kepalaku berkedut dan bersiap untuk memukul Hinada.


"Silahkan saja... Nanti akan aku adukan ke Da-kun biar kamu dimarahi..." ucap Hinada dengan nada menantang.


"Hoooo.... Maaf saja, Danny-kun saat ini tidak bisa mendengar percakapan kita...." ucapku sambil tersenyum lagi.


"Bukankah ini dikamar Danny-kun???" tanya Hinada.


"Siapa bilang ini dikamar Danny-kun??? Kalau ini di kamar Danny-kun, aku sudah menenggelamkanmu dilaut..." ucapku.


"Kalau begitu, berarti disini kamarmu..." ucapnya lagi.


"Kalau ini kamarku, aku akan mematahkan gigimu satu persatu..." ucapku lagi.


"Kalau begitu, ini kamar siapa???" tanyanya lagi.


"Ini adalah kamar khusus dirumahku untuk orang seperti kamu..." jawabku.


"Heee... Apakah aku adalah orang yang penting sehingga kamar ini kamu siapkan hanya untukku??? tanya Hinada dengan sedikit kaget.


"Tentu saja aku tidak akan menganggapmu seistimewa itu... Karena kamu hanyalah seseorang rubah betina yang mencoba untuk mengambil Danny-kun dariku..." jawabku.


"Terus, apa maumu???" tanya Hinada.


"Kita bertanding...." jawabku.


"Bertanding apa??" tanyanya lagi.


"Tanding suit...." jawabku sambil tersenyum.


"Huh???" tanya Hinada dengan heran.


"Tapi bukan suit biasa... Kalau yang biasa, hanya boleh dilakukan antara aku dan Danny-kun..." ucapku lagi.


"Sejak kapan ada peraturan seperti itu..." sanggah Hinada.


"Sejak dulu...." ucapku sambil tersenyum.


"Aku mau keluar dari sini saja..." ucap Hinada.


Ketika Hinada sampai didepan pintu kamar, Hinada memutar kenop pintu. Namun entah mengapa tidak bisa membukanya.


"Hei, kucing bau... Apa maksudmu melakukan hal ini?!?!?" ucap Hinada dengan marah.


"Oya, aku lupa bilang kalau pintu tersebut aku kunci..." jawabku.


"Dan ini adalah kuncinya...." Aku menunjukkan kunci tersebut ke Hinada.


"Berikan kunci itu..." ucap Hinada.


"Tidak bisa, kamu harus mengalahkan aku dalam bermain suit..." ucapku.


"Kelihatannya tidak ada pilihan lain, aku harus melakukannya..." gumam Hinada.


"Baiklah, aku akan melakukannya..." jawab Hinada.


"Apa peraturannya???" tanya Hinada.


"Peraturannya adalah, tangan kiri kita akan diikat dengan selotip... Sedangkan tangan kanan kita yang akan melakukan suit..." jawabku.


"Hanya begitu saja???" tanya Hinada lagi.


"Tentu saja tidak... Ada peraturan tambahan...." jawabku.


"Kalau saat suit, salah satu kita menang.. maka boleh meninju lawannya satu kali..." tambahku.


"Menarik... Kebetulan, aku ingin membalas perbuatanmu tadi..." ucap Hinada sambil tersenyum.


Aku tersenyum karena aku sudah mempersiapkan rencana licik untuk membuat Hinada tidak akan pernah melupakan hal ini.


"Baiklah kalau begitu, aku akan meletakkan kunci ini di pintu..." ucapku sambil memasukkan kunci ke kenop pintu.


Setelah itu, aku mengambil selotip yang sudah kusiapkan sebelumnya dan mulai melilitkan selotip tersebut ke tangan kiri kami yang sudah kami dekap seperti dalam pertandingan adu panco.


"Ada tambahan yang harus kukatakan sebelum kita mulai pertandingannya..." ucapku.


"Apa itu??" tanya Hinada sambil tersenyum.


"Kalau tidak terdengar kata "suit" dari lawan, yang terakhir meninju harus menghitung sampai sepuluh perlahan-lahan..." jawabku sambil tersenyum pula.


Aku meletakkan gunting di lantai dan kami pun duduk seiza.


"Ayo kita mulai... su...iiii.." kataku sambil mengangkat tangan kananku.


"T...." ucap Hinada mengulurkan tangannya.


Kami berdua saling menunjukkan hasilnya dan ternyata yang menang adalah Hinada.


"Kelihatannya aku menang..." ucap Hinada dengan tersenyum.


"Aku ingin minta ulang..." ucapku dengan protes.


"Tidak bisa, kucing bau... Terima dong wajahmu kutinju...." ucap Hinada dengan mengejekku.


Aku hanya bisa pasrah.


"Satu... Dua...." ucap Hinada sambil bersiap untuk meninjuku.


"Bammmm!!!" mata kiriku ditinju Hinada.


"Bagaimana rasanya tinjuku???" ucap Hinada dengan mengejek.


"Ayo lagi..." ucap Hinada sambil mengangkat tangannya.


"Su..i.." ucap Hinada.


"T..." ucap kami bersama menunjukkan hasilnya.


"Aku menang lagi..." ucap Hinada sambil tersenyum.


"Bammmm!!!" mata kiriku ditinju lagi.


"Bammmm!!!" mata kiriku ditinju lagi.


"Bammmm!!!...bammmm!..bammmm.....bammm!!!..bammmm!!!" mata kiriku ditinju lagi dan lagi.


"Arere... Mengapa kepalaku pusing???" gumamku.


"Kenapa, kucing bau??? Sudah menyerah?!?!?!?" ucap Hinada dengan mengejek.


"Su...iii...." ucap Hinada mengangkat tangannya.


"T... Bammmm!!!!" ucap Hinada lalu melakukan hook ke pipi kiriku.


Aku terjatuh dan pingsan.


"Ternyata kamu ini cuma bisa menggertak saja..." ucap Hinada dengan mengejek.


"Makan tuh!!!" Ucap Hinada dengan mengejek lagi.


Setelah itu, Hinada menghitung sampai sepuluh dan aku tak bangkit lagi sehingga Hinada pemenangnya.


Hinada memotong selotip dengan gunting, lalu keluar kamar tersebut dengan hati yang senang karena sudah berhasil membalas rasa kesalnya.


Setelah ia membuka pintu tersebut, ternyata Danny-kun berada di luar.


"Tidak ada... Aku hanya ingin ke toilet saja, namun aku tidak tahu dimana toiletnya..." ucap Hinada dengan tersenyum manis.


Namun Danny-kun melihat ke dalam kamar tersebut dan melihatku jatuh pingsan. Kemudian Danny-kun berlari ke arahku.


"Mei... Sadar Mei..." ucap Danny-kun sambil menepuk pipiku.


Aku masih pingsan.


Kemudian Danny-kun menggendongku seperti seorang putri dan membawaku ke kamarku. Setelah meletakkanku di tempat tidur, Danny-kun segera ke dapur untuk mengambil kompres es kemudian meletakkannya di mata kiriku yang bengkak karena ditinju.


Danny-kun menunggu kompres es itu mencair dan kemudian setelah kompres es tersebut mencair, Danny-kun menaruh es lagi dikompres tersebut lalu meletakkannya lagi di mata kiriku, dan begitu terus hingga bengkak dimataku berkurang.


"Bagaimana keadaan Kanaya-san, Da-kun???" tanya Hinada dengan pura-pura perhatian padaku.


"Kelihatannya, lumayan parah pembengkakannya... Sebenarnya apa yang terjadi padanya???" tanya Danny-kun.


"Sebenarnya, dia..." jawab Hinada.


"Jangan coba-coba kamu beritahu Danny-kun, rubah betina..." gumamku.


"Entah mengapa aku bisa mendengar suara kucing bau itu dikepalaku.." gumam Hinada.


"Siapa yang kamu bilang kucing bau, rubah betina?!?! Kamu mau kutinju lagi sekarang juga?!?!" gumamku.


"Ternyata kamu hanya pura-pura pingsan ya, kucing bau... Aku bilang ke Da-kun kalau kamu berusaha mencederai aku..." gumam Hinada.


"Kalau kamu berani mengatakan hal itu, aku akan menenggelamkanmu di laut Okinawa..." gumamku.


"Silahkan saja, nanti kamu akan dipenjara ditambah Da-kun juga akan meninggalkanmu, kucing bau..." gumam Hinada.


"Kamu berani mengancamku?!?! Oke.. silahkan katakan yang sebenarnya ke Danny-kun, setelah itu aku akan menghajarmu..." gumamku.


"Sebenarnya Da-kun, aku diancam oleh Kanaya-san karena saat malam tahun baru kemarin karena.." ucap Hinada dengan wajah yang gugup.


"Karena apa???" tanya Danny-kun.


"Karena.. itu..." ucap Hinada bertambah gugup.


"Santai saja, Hinada-san..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.


"Karena aku mencoba untuk mencium bibirmu..." jawab Hinada dengan wajah yang memerah.


"Apakah itu benar, Hinada-san???" tanya Danny-kun lagi.


Hinada mengangguk.


"Hinada-san... Bukankah sudah kukatakan saat pertama kali kita bertemu kalau kami berdua sudah bertunangan???" tanya Danny-kun menegaskan.


"Tapi aku tidak melihat buktinya, Da-kun..." ucap Hinada.


"Jujur saja, kalau yang kamu maksud adalah sebuah cincin.. aku belum mampu untuk membelinya... Karena aku ini masih pelajar...." ucap Danny-kun sambil tersenyum.


"Kalau begitu, berarti Danny-kun belum resmi bertunangan, bukan???" tanya Hinada.


"Kami sudah bertunangan, namun belum resmi dikarenakan bukan didepan orang tuaku dan orang tuanya Mei..." jawab Danny-kun.


"Kalau begitu, apa yang kamu berikan untuk Kanaya-san saat bertunangan??" tanya Hinada lagi.


"Kimono..." jawab Danny-kun dengan wajah memerah.


Hinada membuat mimik wajah tanda terkejut.


"Kimono??? Hadiah pertunangan seperti apa itu??? Aku tidak pernah dengar..." ucap Hinada dengan nada terkejut.


"Waktu itu, aku membelinya asal saja, dikarenakan cincin pertunangan itu mahal sekali... Aku belum sanggup untuk membelinya..." ucap Danny-kun.


"Kalau boleh tahu, mengapa kamu begitu mencintai Kanaya-san???" tanya Hinada.


Danny menutup mata sejenak.


"Kalau begitu, akan aku ceritakan dari awal..." jawab Danny-kun.


Danny-kun menceritakan semuanya dari awal hingga akhirnya kami berdua bisa bertunangan. Hinada hanya diam seribu bahasa mendengar kisah Danny-kun. Setelah Danny-kun selesai bercerita, Hinada memegang tangan Danny-kun.


"Setelah aku mendengar ceritamu, aku semakin yakin kalau aku takkan kalah dari kucing bau itu, Da-kun..." ucap Hinada sambil menjentikkan matanya ke arah Danny-kun.


"Berani sekali kamu melakukan itu, rubah betina!?!?!?!" gumamku.


"Kucing bau??? Bukankah itu kata yang kasar, Hinada-san???" ucap Danny-kun.


"Justru karena itu, aku tidak akan kalah darinya... Karena aku tak suka kalau kucing bau itu lebih sering menghabiskan banyak waktu denganmu daripada aku..." ucap Hinada.


"Tapi Hinada-san... Aku tidak bisa mencintai wanita lain..." ucap Danny-kun.


"Aku tidak perduli dengan hal itu, Da-kun... Mungkin kemenanganku masih kecil, namun bukan berarti aku tidak bisa membuatmu jatuh cinta padaku kan???" ucap Hinada dengan wajah tersenyum.


"Pulang sana atau kamu akan kutinju kalau aku melihatmu lagi...." gumamku.


"Sampai jumpa besok, Da-kun..." ucap Hinada dengan tersenyum.


Seketika aku membuka mataku perlahan dan kumelihat tiba-tiba saja Hinada mencium pipi Danny-kun dan itu membuatku segera bangkit dan mendorong Hinada agar menjauh dari Danny-kun.


"Apa yang sudah kau lakukan, rubah betina!?!?!" ucapku dengan kesal.


Hinada mundur sejenak.


"Ternyata kamu sudah sadar ya... Jangan khawatir, pipi Da-kun masih suci kok... Karena sekarang aku berada diposisi yang sama denganmu..." ucap Hinada sambil tersenyum.


"Sama?!?!? Apakah aku tidak salah dengar huh?!?!" ucapku dengan kesal.


"Tentu saja sekarang kita sama... Karena aku akan membuat Da-kun berpaling padaku mulai besok dan seterusnya..." ucap Hinada yang masih tersenyum padaku.


Aku menggemeretakkan gigiku karena sangat kesal.


"Da-kun, aku pulang dulu ya... Tidak usah mengantarku sampai ke depan rumah..." ucap Hinada sambil menjentikkan matanya.


Hinada pulang meninggalkan kami berdua.


"Kamu tak apa, Mei??? Apa matamu masih bengkak??" tanya Danny-kun.


Aku tidak menjawab karena aku masih kesal dan geram kepada Hinada. Kemudian aku menepuk pipi Danny-kun.


"Danny-kun, tolong jangan berbuat baik kepada setiap gadis yang kamu jumpai ya... Karena aku tidak menyukainya..." ucapku dengan nada cemburu.


"Aku tidak bisa, Mei... Namun yang jelas, aku tetap akan setia padamu hingga akhir nanti..." jawab Danny-kun.


"Ka.. kalau begitu, tak apa..." ucapku sambil tersipu malu.


"Oya Mei, ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu..." ucap Danny-kun.


"A..apa itu??" tanyaku yang masih tersipu malu.


"Waktunya hukuman, Mei... Karena kamu sudah keterlaluan..." jawab Danny-kun dengan wajah yang menakutkan.


Aku terdiam dan ketakutan karena dibelakang Danny-kun muncul roh setan yang memakai topeng.


"A..apa hukumannya???" tanyaku dengan gugup.


"Tutup matamu..." jawab Danny-kun.


Aku menutup mataku.


Setelah aku menutup mataku, tiba-tiba Danny-kun mencium pipiku. Lalu aku membuka mataku dan melihat wajah Danny-kun memerah.


"Selamat tidur, Mei..." ucap Danny-kun sambil tersenyum lalu Danny-kun menutup pintu kamarku.


Aku hanya bisa terdiam dan memegang pipiku yang dicium Danny-kun. Kemudian wajahku memerah seperti tomat.


Epilog


Di rumah Hinada, dia memberitahu Nozomi dan Hatsuki sesuatu yang baru tentang Danny-kun melalui mail di smartphone. Ternyata pesan tersebut sudah dibalas oleh mereka berdua yang isinya "Aku juga tidak akan kalah oleh kalian semua" sambil tersenyum.


CHAPTER 31 - FOUR EYES, GAMBLE, GIRLFIGHT


End