
Saat hari Sabtu di musim panas, aku diajak Danny-kun untuk makan es krim. Tentu saja aku menerimanya, dikarenakan cuaca hari ini panas.
"Kita akan makan es krim dimana, Danny-kun??" tanyaku sambil tersenyum manis.
"Sebentar lagi sampai kok, Mei..." jawab Danny-kun sambil tersenyum pula.
Aku pun penasaran dimana kami berdua akan kencan. Lalu tak lama kemudian, sampailah kami di tempat itu yang ternyata agak sedikit tersembunyi dan jauh dari kebisingan kota.
"Danny-kun, apa masih jauh tempatnya??" tanyaku penasaran.
"Sebentar lagi sampai kok... Karena tempatnya tidak terlalu jauh..." jawab Danny-kun sambil tersenyum.
Akhirnya kami pun sampai di tempat yang Danny-kun katakan. Tempat ini lumayan nyaman untuk kencan, apalagi tidak terlalu banyak orang yang tahu seakan tempat ini dikhususkan untuk orang berkencan saja.
"Apa Danny-kun sudah mencari tahu tentang tempat ini??" tanyaku.
"Tentu saja sudah... Lagipula tempat ini lumayan nyaman dan harga es krimnya juga terjangkau..." jawab Danny-kun sambil tersenyum.
Aku dan Danny-kun duduk di salah satu meja. Lalu tak lama kemudian, pelayan tersebut datang untuk menanyakan pesanan kami. Kami pun memesan pesanan yang sama dikarenakan Danny-kun yang mentraktirku makan es krim di siang yang panas ini. Selagi menunggu pesanan kami datang, kami pun mengobrol.
"Danny-kun tahu dari mana tempat ini??" tanyaku penasaran.
"Aku tahunya dari suatu pamflet dan mencoba mencari tahu dimana tempatnya..." jawab Danny-kun sambil tersenyum.
"Dimana kamu menemukan pamfletnya??" tanyaku lagi.
"Aku tidak begitu ingat nama pamfletnya... Sepertinya ada seseorang yang tidak sengaja membuangnya..." jawab Danny-kun.
"Kalau pamflet tersebut dibuang, mengapa Danny-kun membacanya??" tanyaku lagi.
"Karena aku ingin tahu tempat mana lagi yang menurutku bagus untuk didatangi..." jawab Danny-kun sambil tersenyum.
"Dan lagipula, tidak masalah bukan untuk mengetahui tempat mana yang menarik..." lanjut Danny-kun.
"Tidak masalah kok... Lagipula aku hanya ingin kencan denganmu saja... Dan aku juga ingin tahu tempat mana lagi yang cocok untuk kencan kita..." ucapku sambil tersenyum.
Lalu aku menyenderkan kepalaku di bahu Danny-kun hingga pesanan kami datang. Tak lama kemudian pesanan kami pun telah datang.
"Es kacang merah??" tanyaku.
"Yup, es kacang merah..." jawab Danny-kun sambil tersenyum.
"Bukankah kita sudah lama tidak makan ini??" tanyaku lagi.
"Karena kita sudah lama tidak makan ini, makanya aku ingin membelinya untuk kita..." jawab Danny-kun.
Aku menjadi tersenyum mendengarnya, lalu kami pun segera menyantapnya dikarenakan takut akan menjadi cair. Kami menikmati es kacang merah tersebut dengan perlahan-lahan sambil kami mengobrol.
"Danny-kun... Ahhhhhnnnn" ucapku sambil mau menyuapi Danny-kun.
"Ahhnnn" Danny-kun memakan suapanku.
"Bagaimana rasanya, Danny-kun??" tanyaku.
"Rasanya dingin dan segar..." jawab Danny-kun.
"Ahhhhhnnnn..." ucapku sambil membuka mulutku untuk disuapi Danny-kun.
Lalu tiba-tiba entah mengapa aku berfirasat ada yang mengeluarkan aura kemarahan padaku sehingga membuatku terkejut.
"Ada apa, Mei??" tanya Danny-kun penasaran.
"Tidak apa-apa kok, Danny-kun..." jawabku sambil tersenyum.
Lalu kami pun menghabiskan es kacang merah tersebut, lalu Danny-kun membayarnya kemudian kami pun pulang. Di perjalanan, kami membahas tempat tadi dan membahas tentang es kacang merah yang kami pesan tadi. Es kacang merah tersebut enak dan segar sehingga cocok untuk hari ini yang panas.
"Bagaimana Mei, dengan kencan kita hari ini??" tanya Danny-kun.
"Lumayan kok, Danny-kun..." jawabku sambil tersenyum.
"Apa kamu punya ide dimana kita akan kencan nanti suatu hari nanti??" tanya Danny-kun lagi.
"Aku belum tahu dimana kita akan kencan, tapi yang pasti kencan kita yang selanjutnya akan lebih menyenangkan..." jawabku sambil tersenyum lagi.
Kami pulang ke rumah sambil berpegangan tangan. Ketika di tengah perjalanan, tiba-tiba saja ada yang mengikuti kami berdua yang kemungkinan besar orang tersebut akan menculik Danny-kun. Karena aku tidak ingin kejadian tersebut terulang kembali, aku pun menyuruh Danny-kun untuk pulang terlebih dahulu.
"Danny-kun, Danny-kun pulang saja lebih dulu... Ada sesuatu yang ingin aku beli..." ucapku sambil tersenyum.
"Kalau ingin membeli sesuatu, bagaimana kalau kita perginya bersama-sama??" tanya Danny-kun.
"Tidak usah, Danny-kun... Aku akan membelinya sendiri saja... Karena aku ingin mengejutkanmu dengan masakan buatanku..." jawabku sambil tersenyum.
Lalu Danny-kun mengiyakan serta ia pun pulang. Setelah Danny-kun tidak kelihatan lagi, aku pun berjalan ke arah yang berbeda dikarenakan tadi ada seseorang yang mengikuti aku. Setelah aku menemukan tempat yang agak sepi, disitulah aku menunggu orang yang sejak tadi mengikutiku dan Danny-kun. Setelah itu, seseorang yang mengikutiku pun datang kepadaku. Dihadapanku, aku melihat seseorang tersebut memakai jaket bertudung di cuaca yang panas.
Orang tersebut hanya diam saja.
"Kalau kamu hanya diam begitu, aku hanya akan berprasangka buruk terus..." ucapku lagi.
"Bagaimana kalau begini saja, aku akan menebak siapa dirimu ini..." ucapku lagi sambil tersenyum.
Orang tersebut pun hanya diam saja.
"Baiklah kalau begitu, aku akan menebak siapa dirimu ini..." ucapku sambil tersenyum.
"Kalau aku melihat tubuhmu dari sini, aku menduga bahwasanya kamu ini adalah seorang gadis..." ucapku lagi sambil tersenyum.
"Dan juga, tinggimu lebih tinggi daripada aku..." ucapku lagi.
"Yah, walaupun aku agak sedikit kesal mengakuinya..." ucapku lagi.
"Apakah aku benar, ayam rabun..." ucapku sambil tersenyum.
"Darimana kamu tahu itu adalah aku??" tanya Hatsuki sambil membuka tudungnya.
Aku lalu menunjukkan sebuah pamflet padanya yang tadi diberikan oleh Danny-kun.
"Pamflet itu..." ucap Hatsuki.
"Heeee... Jadi pamflet ini punyamu ya..." ucapku sambil tersenyum.
"Kembalikan itu..." ucap Hatsuki dengan kesal.
Hatsuki berusaha untuk mengambilnya, namun aku tidak membiarkan Hatsuki mengambilnya.
"Pamflet ini apa gunanya untukmu??" tanyaku sambil tersenyum.
"Pamflet itu untuk mengajak kencan Danny-san...." jawab Hatsuki.
"Maaf saja, aku sudah mengajak Danny-kun duluan hari ini dengan pamflet ini..." ucapku sambil tersenyum mengejek.
"Apaaaaaa......" ucap Hatsuki dengan kaget.
Hatsuki pun marah kepadaku dikarenakan aku duluan yang mengajak Danny-kun kencan menggunakan pamflet tersebut karena menggunakan pamflet tersebut adalah rencana Hatsuki untuk berkencan dengan Danny-kun.
"Kalau begitu, aku yang menang..." ucapku dengan bangga.
"Huh?!?! Sejak kapan kamu menang, kucing bucin??" tanya Hatsuki dengan kesal.
"Sejak aku bertunangan dengan Danny-kun..." jawabku sambil tersenyum.
"Dan satu lagi, yaitu saat aku menyuapi Danny-kun tadi... Huhuhu..." ucapku sambil tertawa kecil.
"Kalau begitu, bagaimana kalau aku membuat kalian berdua berpisah saja..." ucap Hatsuki sambil tersenyum.
Aku pun melempar pamflet tersebut setelah aku meremasnya menjadi sebuah bola sehingga mengenai wajah Hatsuki.
"Apa yang kamu katakan tadi, ayam rabun??" tanyaku sambil tersenyum dengan kepala yang berkedut.
"Aku ingin membuat kalian berpisah saja..." jawab Hatsuki dengan wajah tersenyum dengan kepala yang berkedut pula.
Lalu gerimis pun turun sehingga membuat suasana menjadi panas. Lalu aku dan Hatsuki saling berhadapan untuk berkelahi.
"Kalau aku bisa memisahkanmu dengan Danny-san, akulah yang akan menang..." ucap Hatsuki sambil tersenyum.
"Tentu saja tidak bisa... Karena aku sudah menang sejak awal..." ucapku sambil tersenyum pula.
"Sejak kapan kamu menang, kucing bucin??" tanya Hatsuki sambil tersenyum.
"Sejak aku bertunangan dengan Danny-kun, aku sudah menang..." jawabku sambil tersenyum pula.
Aku dan Hatsuki mengeluarkan aura hitam sehingga memunculkan suara petir yang membuat suasana untuk berkelahi semakin intens. Lalu, aku dan Hatsuki memulai perkelahian kami selama 1 jam. Disaat kami hendak melancarkan pukulan terakhir, tiba-tiba saja ada seseorang yang memukul kepala kami berdua.
"Siapa yang memukulku??" tanya kami berdua dengan suara membentak.
Setelah kami mengatakan itu sambil menoleh ke arah tersebut, kami berdua pun terkejut ternyata ada Danny-kun disitu.
"Ada apa ini??" tanya Danny-kun sambil tersenyum.
Kami berdua pun ketakutan lalu kami berdua melakukan dogeza.
CHAPTER 80 - ICE CREAM DATE
End