Kanaya Meissa (Ultimate Kagura Dancer) ~Eternal Love~

Kanaya Meissa (Ultimate Kagura Dancer) ~Eternal Love~
CHAPTER 75 - THE HOUSE DATE



Aku menunggu kedatangan Danny-kun di ruang tamu karena hari ini hingga setahun ke depan, Danny-kun akan berada di rumah ini. Aku memakai pakaian yang rapi serta memakai celemek karena ketika Danny-kun ingin memakan sesuatu, aku akan langsung membuatnya. Aku bersenandung kecil menunggu Danny-kun pulang ke rumah, lalu tiba-tiba terdengar suara bel di pintu masuk dan aku pun langsung membukanya.


"Aku pulang..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.


"Selamat datang..." ucapku sambil tersenyum manis.


"Apa mau makan dulu?? Mau mandi dulu?? Atau... A...ku..." ucapku lagi sambil tersenyum memerah.


"Ya ampun Mei... Kita ini belum menikah loh..." ucap Danny-kun.


"Tidak apa-apa... Anggap saja ini adalah latihan kalau kita menikah nanti..." ucapku sambil tersenyum.


"Kalau begitu, aku mau merapikan barangku terlebih dahulu lalu aku membantumu menyiapkan makanan..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.


Danny-kun lalu membawa barang bawaannya ke kamarnya dan aku pun juga membantunya sebagai calon istri yang baik. Setelah selesai, Danny-kun dan aku langsung memasak makanan untuk makan siang.


"Siang ini kita akan makan apa, Danny-kun??" tanyaku.


"Kita akan makan sup ayam..." jawab Danny-kun sambil tersenyum.


Aku pun tersenyum ketika kami akan memakan sup ayam. Karena sup ayam adalah salah satu makanan favoritku. Apa yang membuat sup ayam buatan Danny-kun itu enak? Rahasianya adalah kelembutan daging ayamnya. Daging ayam yang mudah dipotong oleh sumpit dan kelembutan daging ayamnya ketika aku memakannya membuat perasaan ini seperti di istana bawah laut yang keindahannya belum terjamah oleh tangan manusia.


"Mei, apakah kamu sudah selesai memotong daun bawangnya??" tanya Danny-kun.


"Sudah kok Danny-kun..." jawabku sambil tersenyum.


Apakah bisa dimasukkan ke dalam air mendidih??" tanyaku.


"Sebentar lagi, Mei... Aku akan masukkan wortel dan tomat terlebih dahulu..." jawab Danny-kun.


Lalu Danny-kun memasukkan wortel dan tomat ke dalam air mendidih tersebut. Setelah 10 menit, Danny-kun menyuruhku untuk memasukkan daun bawang yang sudah aku iris tadi ke dalam campuran wortel dan tomat tadi. Lalu Danny-kun mengaduknya perlahan-lahan. Lalu, Danny-kun memasukkan kentang yang sudah dipotong, lalu Danny-kun memasukkan bubuk kari ke dalamnya.


"Danny-kun, bukankah kita akan memakan sup ayam??" tanyaku heran.


"Memang kita akan memakan sup ayam... Tapi dengan cara yang berbeda..." jawab Danny-kun.


Aku pun masih bingung apa maksud perkataan dari Danny-kun. Lalu, Danny-kun menyuruhku untuk mengaduk kari, lalu Danny-kun membuat ayam goreng tepung yang tulangnya sudah dipisahkan sebelumnya agar bisa dengan mudah dimakan. Setelah Danny-kun selesai menggoreng ayamnya, Danny-kun meniriskan ayam tersebut agar minyak goreng yang menempel pada ayam tersebut terpisah.


"Jadi kita akan makan ayam goreng tepung saus kari???" tanyaku sambil mengaduk kari.


"Yup, kita akan makan itu..." jawab Danny-kun sambil tersenyum.


"Apakah itu enak??" tanyaku penasaran.


"Mudah-mudahan enak... Aku baru sekali ini mencobanya..." jawab Danny-kun.


Dengan kata lain, ini adalah makanan yang dibuat oleh Danny-kun untuk pertama kalinya dan aku berkesempatan untuk mencobanya terlebih dahulu. Jadinya, aku bisa memberitahu Danny-kun apa saja yang perlu ditambahkan atau dikurangi. Dan pada saat kami memakan makanan yang sama lagi, makanan ini adalah makanan yang paling enak yang pernah kami makan. Setelah selesai, kami meletakkan piring nasi, sendok, ayam goreng tepung, di atas meja. Sedangkan kuah kari tetap di dapur agar tidak tumpah mengotori meja makan. Lalu kami berdua duduk untuk menyantap makanan yang baru saja dibuat. Pada saat aku hendak menyuapi makanan, tiba-tiba ada suara bel berbunyi. Danny-kun membuka pintu untuk melihat siapa yang membunyikan belnya. Aku duduk sambil menyantap masakan yang dibuat oleh kami berdua.


"Kami seperti suami istri saja..." gumamku sambil tersenyum malu.


Lalu aku terkejut melihat Danny-kun membawa masuk Hinada sehingga membuat mataku terbelalak.


"Hinada-san, silahkan duduk..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.


"Terimakasih, Da-kun..." balas Hinada sambil tersenyum.


Hinada pun duduk di meja makan, lalu ia melihatku tersenyum.


"Ada apa, kucing bau??" tanya Hinada keheranan.


"Tidak apa-apa kok..." jawabku sambil tersenyum.


"Matilah... matilah...matilah..." gumamku sambil tersenyum.


"Mengapa kamu tidak lenyap saja sepuluh kali dari dunia ini??" gumamku lagi sambil tersenyum.


"Silahkan dinikmati..." ucap Danny-kun sambil sambil tersenyum dengan menyerahkan sepiring nasi kepada Hinada.


"Terimakasih, Da-kun..." jawab Hinada membalas senyuman Danny-kun.


"Kira-kira, apa hukuman yang pantas untukmu ya, rubah betina??? Sepertinya tidak bisa menggunakan hukuman yang ringan..." gumamku sambil tersenyum kedut.


Hinada lalu mengambil ayam goreng tepung lalu menuangkan kuah kari ke piring, lalu ia pun menyantapnya.


"Untunglah..." jawab Danny-kun sambil tersenyum.


"Okey, ini tidak bisa dibiarkan begitu saja... Aku tidak ingin kencan dengan Danny-kun diganggu oleh hama yang satu ini..." gumamku sambil tersenyum kedut.


"Danny-kun, kok rasanya panas sekali ya??" tanyaku sambil mengipaskan leherku.


"Apa iya??" tanya Danny-kun keheranan.


"Yup..." jawabku.


"Apa karena ada hantu ya disini??" tanyaku lagi sambil menyindir Hinada.


"Hantu?? Sepertinya tidak ada..." jawab Danny-kun.


"Ada kok... Dia sedang berada disini sekarang..." ucapku agar Hinada menyadarinya.


"Mungkin kamu hanya mengkhayal saja, Kanaya-san... Hantu itu tidak ada kok... Kalaupun ada, saat ini dia sedang duduk disini..." ucap Hinada sambil tersenyum ke arahku.


"Ada kok... Saat ini dia sedang duduk bersamaku dan Danny-kun..." ucapku sambil tersenyum ke arah Hinada.


"Loh?? Bukannya dia sedang duduk bersamaku dengan Da-kun ya??" ucap Hinada sambil tersenyum kedut.


"Itu cuma khayalanmu saja, Hinada-san... Saat ini hantunya sedang duduk bersamaku dan Danny-kun kok..." ucapku sambil tersenyum kedut juga.


Tiba-tiba, terdengar suara petir dan aliran listrik dari tatapanku dan tatapan Hinada. Lalu muncul khayalan kami berdua sedang berada di atas ring dan kami pun berkelahi. Beberapa pukulan dan tendangan mengenai wajah dan perut kami, bahkan dari mulut kami tak jarang keluar liur bahkan darah. Perkelahian kami berdua begitu hebat hingga ruangan didalam khayalan kami rusak berat.


Tak lama kemudian, Danny-kun sudah menyelesaikan makannya dan ia segera mencuci piringnya.


"Apakah masakannya tidak enak??" tanya Danny-kun kepada kami berdua.


Pertanyaan Danny-kun membuyarkan lamunan kami berdua.


"Enak kok, Danny-kun..." jawabku sambil tersenyum.


"Enak kok, Da-kun..." jawab Hinada sambil tersenyum pula.


"Kalau begitu, cepat dihabiskan makanannya agar sekalian bisa ku cuci piringnya..." ucap Danny-kun.


Kami pun berusaha secepat mungkin untuk menghabiskan makanan kami karena siapa yang cepat, berarti bisa mencuci piring bersama Danny-kun. Hinada tanpa sengaja tersedak karena tidak mau mengalah dariku. Lalu ia pun minum air agar tidak tersedak lagi. Dan akhirnya yang selesai duluan adalah aku. Dan aku merayakan kemenanganku dengan mencuci piring bersama Danny-kun. Sebuah kencan di rumah yang selalu aku inginkan karena sudah lama aku tidak mencuci piring bersama dengan Danny-kun. Aku mencuci piringku disebelah Danny-kun sambil tersenyum senang, lalu setelah selesai aku dan Danny-kun kembali duduk bersama dengan Hinada yang baru saja selesai makan.


"Lambat sekali... Seperti ulat bulu saja..." ucapku dengan nada mengejek kepada Hinada.


"Maaf ya... Aku ini sedang memakan masakan buatan Da-kun... Jadi aku harus menikmatinya..." ucap Hinada sambil tersenyum kepadaku.


Tanpa terasa, Hinada pun menyelesaikan makanannya dan ia pun juga mencuci piringnya.


"Harus sampai bersih ya... Jangan sampai ada kotoran yang tertinggal..." ucapku dengan nada mengejek lagi.


"Kalau kamu berani memerintahku sekali lagi, wajahmu yang akan aku sikat..." ucap Hinada sambil tersenyum kedut.


"Tentu saja... Ini kan rumahku... Sedangkan kamu hanyalah tamu yang tak diundang..." ucapku sambil tersenyum.


Hinada pun menarik nafasnya dan membuangnya secara perlahan agar kecantikannya tidak pudar.


"Oya Da-kun, kapan kamu akan berangkat ke luar negeri??" tanya Hinada.


"Mungkin tahun depan..." jawab Danny-kun.


"Danny-kun akan tinggal disini setahun lagi... Dan selama setahun, aku akan bersama dengan Danny-kun setiap detiknya..." ucapku sambil tersenyum.


"Owh begitu..." ucap Hinada dengan tenang.


Lalu Hinada pun pamit pulang dan kini hanya ada aku dan Danny-kun saja, tidak ada yang mengganggu. Setelah Hinada tidak kelihatan lagi, aku dan Danny-kun duduk di ruang tamu. Lalu aku menyenderkan kepalaku di bahunya sambil menikmati momen kencan di rumah ini.


Epilog


Saat sore hari, tiba-tiba ada suara bel yang berbunyi di pintu rumahku. Aku dan Danny-kun membuka pintu dan aku sangat terkejut karena keempat gadis hama itu memutuskan untuk tinggal di rumahku selama setahun. Hal ini menyebabkan selama setahun penuh, rumahku akan menjadi neraka untukku dikarenakan kedatangan empat gadis hama ini.


CHAPTER 75 - THE HOUSE DATE


End