
"Hari ini kita akan mengadakan pengadilan untuk terdakwa Kanaya Meissa..." ucap Hatsuki.
"Hei, apa-apaan ini... Aku tidak suka diperlakukan seperti ini..." ucapku sambil dalam keadaan terikat.
"Terdakwa tidak boleh berbicara sedikitpun..." ucap Hinada sebagai hakim.
"Dimana hakku untuk berbicara..." ucapku kesal.
Nozomi mengikatku lebih kencang sehingga membuat tubuhku sakit.
"Hei.. sakit tahu!!??!!" ucapku kesakitan.
"Baiklah, kita mulai saja pengadilan ini..." ucap Hinada.
Bagaimana bisa terjadi seperti ini? Kita kembali saat aku sudah selesai belanja dengan Danny-kun ketika pulang dari sekolah tadi.
"Apakah hanya ini saja, Danny-kun???" tanyaku.
"Ya, aku hanya ingin memakan makanan yang sederhana saja hari ini.." jawab Danny-kun.
"Oya Danny-kun, besok aku datang ke apartemenmu ya.. sekalian mau bermain dengan Shirou..." ucapku.
"Boleh... Kamu mau datang jam berapa, Mei???" tanya Danny-kun.
"Sekitar jam sepuluh pagi..." jawabku.
"Okey... Aku tunggu..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.
Aku pun pamit pulang dan berjalan dengan senyum. Di pertengahan jalan, aku belok melewati jalan pintas agar cepat sampai ke rumah. Di sana aku melewati sebuah taman dan tiba-tiba ada yang memasukkan ku ke dalam sebuah karung dan aku diangkut ke suatu tempat. Tentu saja aku berusaha berteriak, namun karena tertutup oleh karung suaraku tidak terdengar.
Ketika karungku dibuka, disinilah aku sekarang. Di hadapanku ada tiga gadis menyebalkan yang kukenal.
"Apakah ada pembelaanmu, kucing bau??? Sepertinya tidak ada..." ucap Hinada tanpa rem.
"Hei.. aku punya pembelaan tahu..." ucapku dengan kesal.
"Baiklah kalau begitu, mari kita dengarkan apa pembelaan mu..." ucap Hinada dengan tidak semangat.
"Sebelum aku mengeluarkan pembelaan ku, boleh tahu mengapa aku disini???" tanyaku.
"Baiklah, aku akan jawab walaupun itu tidak akan membantumu..." jawab Hinada.
"Silahkan lihat video ini..." ucap Hinada lagi.
Muncul sebuah tayangan video ketika aku dan Danny-kun sedang duduk berdua di pondok yang kutemukan tadi siang, walaupun sudah kutemukan setelah dua bulan aku menemukan pondok tersebut.
"Terus???" tanyaku.
"Bertanggungjawablah kucing bucin... Karena di video ini menunjukkan bahwa kamu dan Danny-san sedang kencan berdua saja..." ucap Hatsuki.
"Memangnya aku harus meminta izin kepada kalian bertiga untuk kencan dengan Danny-kun???" ucapku dengan tegas.
"Tentu saja harus... Karena kami bertiga juga menyukai Danny senpai..." ucap Nozomi.
"Kalau aku menikah dengan Danny-kun kelak, apa aku juga harus meminta izin kepada kalian??" tanyaku.
"Kalau itu, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi..." jawab Hinada.
"Apa kamu mau dihajar??" tanyaku sambil tersenyum kedut.
"Ayo, maju sini kita selesaikan secara betina..." ucap Hinada sambil berkedut juga.
Hinada turun dari podiumnya dan berhadapan denganku.
"Pendek!!!??!!" ejek Hinada.
"Jelek!!!??!!" balasku.
"Cacingan!!!??!!" ejek Hinada lagi.
"Penguntit!!!??!!" balasku.
Hinada menamparku dan aku pun membalas tamparannya. Kami berdua pun berkelahi sehingga menimbulkan polusi asap yang beterbangan. Hatsuki dan Nozomi pun juga ikutan, namun bukan untuk melerai kami tetapi malah ikutan berkelahi denganku. Dengan kata lain, aku berkelahi dengan tiga orang.
Setelah berkelahi selama satu jam, kami berempat kelelahan. Hatsuki dan Nozomi sudah tidak sanggup berdiri, hanya bisa duduk. Sedangkan aku dan Nozomi masih berdiri dan bersiap untuk lanjut ke ronde dua.
Ketika aku meninju hidung Hinada, tiba-tiba saja ada seseorang yang memukul kepalaku dari belakang.
"Awww!!??!!" ucapku.
"Jadi?? Apa yang terjadi disini??" tanya seseorang laki-laki dibelakangku.
"Suara itu..." gumamku.
Aku berbalik dan ternyata itu adalah Danny-kun.
"Apa yang terjadi disini???" tanya Danny-kun.
"Danny-kun.. mereka melakukan hal yang jahat padaku..." ucapku dengan manja sambil memeluk Danny-kun.
"Hei, enak saja kamu bilang kami jahat..." ucap Hinada.
"Aku tidak bertanya siapa yang jahat dan yang tidak... Aku hanya bertanya apa yang terjadi disini??" tanya Danny-kun sambil tersenyum.
"Sebenarnya...." jawab Hinada.
Hinada pun menjelaskan apa yang terjadi dikarenakan ia tidak ingin Danny-kun membencinya.
"Owh begitu... Terus yang ada di video itu apa??" tanya Danny-kun.
"Nah, itu yang ingin aku tahu..." ucapku sambil masih memeluk Danny-kun.
"Begitu ya... Lalu mengapa kalian berempat berkelahi???" tanya Danny-kun lagi.
"Karena mereka tidak suka aku berduaan terus denganmu..." jawabku.
"Apakah itu benar???" tanya Danny-kun lagi.
Mereka bertiga mengangguk.
"Begitu rupanya..." ucap Danny-kun.
Danny-kun menutup matanya sebentar lalu membukanya kembali.
"Ada pepatah di negeri seberang yang mengatakan, selama lonceng pernikahan belum berdentang ia bukan milik siapapun..." ucap Danny-kun ke arah lain.
Mendengar hal itu, mereka bertiga masih memiliki harapan untuk mendapatkan Danny-kun. Namun tidak untukku, aku memeluk lebih erat Danny-kun lalu aku menatap tajam mereka bertiga yang maksud tatapanku ini adalah, "Aku tidak akan pernah membiarkan kalian mengambil Danny-kun sedetik pun dariku... TIDAK AKAN PERNAH!!!!". Lalu mereka bertiga juga menatap tajam padaku yang maksud dari tatapan mereka adalah "Aku pasti akan bisa mengambil Da-kun/Danny senpai/Danny-san darimu, KUCING BAU/MEIGOMI/KUCING BUCIN!!!!!".
"Apa jangan-jangan kalian ini penguntit ya???" ucapku dengan curiga.
"Jangan menuduh seperti itu, Mei.. tidak baik.." ucap Danny-kun.
"Tapi memang benar kan...." ucapku dengan menuduh mereka.
"Bukankah lebih baik mendengar dulu alasan mereka..." ucap Danny-kun.
"Baiklah kalau begitu..." ucapku dengan cemberut.
"Nah, siapa yang hendak menjelaskannya??? Aku tidak akan marah selama kalian jujur..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.
Melihat Danny-kun tersenyum, Hinada mulai bicara.
"Sebenarnya aku yang membangun pondok itu.." ucap Hinada.
"Huh??? Bukankah pondok itu aku temukan saat baru dua bulan aku sekolah disitu???" tanyaku heran.
"Sebenarnya pondok itu sudah kubangun setahun yang lalu..." jawab Hinada.
"Berarti saat aku masuk Kibou Gamine Gakuen..." ucap Danny-kun.
"Lebih tepatnya saat kamu masih SMP, Da-kun..." ucap Hinada.
"Saat SMP?? Darimana kamu tahu kalau aku akan masuk Kibou Gamine Gakuen??" tanya Danny-kun.
"Karena kita ini satu sekolah dan sekelas..." jawab Hinada.
"Ah... Kamu yang memakai kacamata botol itu ya..." ucapku.
Hinada mengangguk.
Aku semakin memeluk erat Danny-kun.
"Tunggu dulu.. apa kamu itu Hina-chan???" tanya Danny-kun.
"Akhirnya kamu mengingatku, Da-kun..." ucap Hinada sambil meneteskan air mata.
Lalu sontak Hinada memeluk Danny-kun. Ketika Hinada memeluk Danny-kun, aku kaget dan mendorongnya agar melepaskan Danny-kun.
"Lepaskaaaaaaaannnnn..." ucapku sambil mendorong Hinada.
"Kamu yang lepaskan..." ucap Hinada sambil mendorongku juga.
Kami saling mendorong sehingga membuat Danny-kun kesal.
"Bisakah kalian berdua melepaskan pelukan kalian???" tanya Danny-kun sambil tersenyum.
Kami berdua tidak menghiraukan perkataan Danny-kun karena kami berdua saling dorong agar melepaskan pelukan. Kemudian tiba-tiba saja, Danny-kun mengusap rambut kami dan kamipun tidak jadi saling mendorong.
"Hinada-san.. mengapa kamu membangun pondok di sekolahku???" tanya Danny-kun lagi.
"Itu untuk membangun sarang cinta kita, Da-kun..." ucap Hinada sambil tersenyum.
Mendengar jawaban itu, kepalaku berkedut dan aku melakukan hook kanan ke pipi Hinada sehingga Hinada jatuh dengan pipi yang kupukul mengarah ke atas.
"Jadi begitu ya... Sarang cinta...." ucapku sambil berkedut.
Lalu aku menginjak pipinya dengan kaki kananku, menekannya lalu memuntirnya dengan tersenyum namun kepalaku berkedut.
"Kelihatannya kamu sudah berani sekali membuat sarang cinta ya, Monyet Betina!!!" ucapku sambil tersenyum kedut.
Mendengar kalimat itu, Hinada memegang kakiku dan menjatuhkanku dan Hinada menindihku.
"Siapa yang kamu panggil Monyet Betina itu, huh?!?!?" ucap Hinada kesal.
Kemudian aku menggulingkan tubuhku sehingga membuatku menindihnya.
"Tentu saja itu julukanku untukmu, Monyet Betina!!??!!" ucapku.
Kami pun melanjutkan ronde kedua kami. Polusi asap berkumpul disekitar kami, namun tidak lama kemudian kurasakan aura yang menakutkanku dan Hinada. Dan aura itu adalah aura kemarahan dari Danny-kun.
"Bisakah kalian berdua tenang??" ucap Danny-kun sambil tersenyum.
Aku dan Hinada ketakutan melihat aura dari Danny-kun sehingga kami pun berhenti berkelahi.
"Nah, begitu kan bagus..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.
"Hinada-san, aku hanya ingin mengatakan kalau pondok yang kamu dirikan itu indah sekali..." puji Danny-kun.
Mendengar pujian itu, Hinada tersipu malu.
"Namun aku belum bisa menempatinya, dikarenakan pondok itu belum diberikan izin oleh pihak Kibou Gamine Gakuen.." lanjut Danny-kun.
"Kalau soal itu, jangan khawatir... Aku sudah mendapatkan izin dari pihak Kibou Gamine Gakuen..." ucap Hinada sambil tersenyum.
"Begitu ya... Kalau begitu, pondok itu bisa digunakan untuk semua murid.." ucap Danny-kun.
"Kalau itu, tidak bisa... Dikarenakan aku hanya membangun pondok tersebut untukmu saja..." ucap Hinada.
Kemudian aku berpikir, kalau hanya untuk Danny-kun saja berarti tidak akan menjadi sarang cinta. Dikarenakan pondok itu tidak mungkin ada yang bisa menempatinya kecuali Danny-kun. Tak lama kemudian, aku tersenyum.
"Ada apa kamu senyum-senyum, Kucing bau??!!?" tanya Hinada.
"Tidak ada apa-apa kok, Monyet Betina..." ucapku sambil tersenyum.
"Kelihatannya kesalahpahaman ini sudah selesai... Aku permisi pulang dulu..." ucap Danny-kun.
"Ayo Danny-kun, kita pulang..." ucapku sambil merangkul tangan Danny-kun dengan tersenyum.
Kami berdua pulang meninggalkan mereka bertiga.
Epilog
"Hinada-san.. apakah pondok itu hanya untuk Danny-san saja???" tanya Hatsuki.
"Tentu saja tidak... Aku mengatakannya agar Kucing bau itu tidak menyadarinya..." jawab Hinada.
"Kalau begitu, untuk apa membangun pondok tersebut untuk Danny senpai???" tanya Nozomi.
"Karena aku mencintai Da-kun..." jawab Hinada dengan tersenyum.
CHAPTER 40 - LOVE COURT
End