
3 hari lagi, aku berulang tahun. Namun entah mengapa tahun ini adalah tahun terburuk untukku. Di kamarku, aku menulis apa saja yang ingin aku lakukan di tahun ini pada secarik kertas. Aku menulis :
Aku harus membuat dadaku lebih besar dari para gadis hama itu;
Aku harus lebih imut dari para gadis hama itu;
Aku harus membuat Danny-kun tersenyum kepadaku setiap hari;
Aku harus membuat tubuhku lebih seksi dari para gadis hama itu;
Aku harus melayani calon suamiku setiap hari;
Aku harus menghajar para gadis hama;
Aku harus mencium Danny-kun didepan para gadis hama itu.
Itulah daftar yang aku inginkan untuk tahun ini. Lalu setelah aku selesai menulisnya, aku keluar dari kamarku untuk belanja makan malam. Namun ada sesosok gadis misterius memasuki kamarku yang tidak aku kunci, karena aku hanya pergi sebentar saja. Dia melihat daftar yang aku inginkan, lalu ia memotretnya dengan smartphone miliknya. Lalu ia pun keluar dari kamarku dan menemui ketiga sosok gadis yang lain untuk mengadakan rapat yang sangat berbahaya.
"Apa yang kamu temukan??" tanya gadis misterius 2.
"Aku menemukan sesuatu yang sangat menarik.." jawab gadis misterius 1 sambil tersenyum.
Lalu gadis misterius 1 memperlihatkan apa yang sudah dipotretnya tadi di kamarku.
"Apakah ini benar keinginannya??" tanya gadis misterius 4.
"Aku tidak akan membohongimu jika ini berkaitan erat dengan musuh bersama kita..." jawab gadis misterius 1.
"Kalau begitu, bagaimana caranya agar ini tidak berhasil???" tanya gadis misterius 3.
Mereka lalu berpikir bersama-sama, sehingga mereka berempat membuat kesimpulan bahwasanya salah satu dari keinginan yang aku tulis harus terwujud. Dan akhirnya dipilih 1 dari 7 tersebut untuk dibiarkan saja, selebihnya mereka akan melakukan hal yang berbahaya kepadaku.
Setelah mereka membuat keputusan bulat, mereka pun bersiap-siap untuk menjalankan rencana mereka, karena 3 hari lagi adalah hari ulang tahunku.
Esoknya aku menjalani hari-hari biasa bersama mereka, namun ketika aku sedang bersandar di bahu Danny-kun, mereka berempat membiarkan aku melakukannya. Hal ini sungguh terasa aneh, namun aku merasa ini adalah kesempatanku untuk merasakan kemenangan mutlak ini.
"Tunggu saja nanti, kucing bau... Kami berempat akan membuat perhitungan denganmu..." gumam Hinada sambil tersenyum.
Aku bercanda dengan Danny-kun didepan mereka berempat agar memanas-manasi mereka berempat.
"Danny-kun, bagaimana kalau kita berdua kencan diluar?" tanyaku dengan manja.
"Boleh juga, tapi kita mau kemana?" jawab Danny-kun.
"Kebetulan tadi aku melihat ada toko yang menjual crepe disana..." ucapku.
"Boleh juga idemu... Aku sesekali ingin makan yang manis..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.
Akhirnya aku dan Danny-kun pergi ke toko crepe sambil aku merangkul tangan Danny-kun.
Ketika kami sudah berada di luar, keempat gadis hama itu melampiaskan kekesalannya dengan mengumpat.
"Bagaimana?? Apa rencanamu selanjutnya??" tanya Mimi.
"Bisakah kamu tenang sebentar saja?" ucap Hinada sambil menahan amarahnya.
Mereka berempat diam sejenak menunggu Hinada tenang. Setelah itu, mereka berempat mulai menyusun rencana yang membuatku harus membayarnya. Di perjalanan menuju toko crepe, aku merangkul lengan Danny-kun sehingga membuatku merasa nyaman.
"Mei, kamu mau memesan crepe dengan rasa apa?" tanya Danny-kun sambil tersenyum.
"Kalau ada crepe untuk pasangan, aku ingin memakannya..." jawabku sambil tersenyum.
"Kalau habis??" tanya Danny-kun lagi.
"Kalau habis, aku akan memaksa mereka untuk membuatnya lagi..." ucapku.
"Jangan begitu, Mei... Bisa-bisa kita tidak diperbolehkan untuk kesana lagi..." ucap Danny-kun sambil mengusap kepalaku.
"Hanya bercanda kok Danny-kun..." ucapku sambil tersenyum manja.
Danny-kun lalu mengusap kepalaku sambil tersenyum. Ketika aku melihat Danny-kun tersenyum, aku berkata didalam diriku.
"Aku tidak akan membiarkan para gadis hama itu melihat senyuman Danny-kun..." gumamku.
Sesampainya disana, kami memesan crepe untuk pasangan. Lalu kami duduk di sebuah bangku taman dan memakannya.
"Oya Danny-kun, ayo kita foto dulu sebentar..." ucapku sambil tersenyum.
Danny-kun dan aku melakukan pose memakan crepe yang kami beli tadi, lalu aku memotretnya. Lalu kemudian, aku mengirimkan foto tersebut kepada empat gadis hama untuk membuat hati mereka berempat menjadi panas karena dibakar oleh api cemburu.
"Kamu mau mengirimkan foto tadi kepada siapa, Mei???" tanya Danny-kun.
"Tidak kepada siapapun kok, Danny-kun... Aku hanya menyimpan fotonya saja..." jawabku sambil tersenyum.
Kami pun menikmati crepe yang kami beli tadi sambil duduk di taman, lalu setelah itu kami berdua pun pulang. Tibalah saatnya hari ulang tahunku tiba. Aku merayakannya bersama Danny-kun yang aku sayangi serta dengan 4 orang lainnya yang tidak mau saya sebutkan karena bisa membuat saya muntah.
"Selamat ulang tahun, Mei..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.
"Terimakasih Danny-kun sayang..." balasku dengan tersenyum manis.
Aku pun langsung memeluk Danny-kun dan Danny-kun pun juga memelukku. Lalu, ia memberikanku sebuah hadiah berupa manisan yang aku suka.
"Terimakasih Danny-kun..." ucapku sambil tersenyum manis.
"Sama-sama Mei..." balas Danny-kun dengan tersenyum pula.
Para gadis hama pun juga memberikan hadiah untukku. Dan mereka mengatakan kepadaku untuk tidak membukanya didepan Danny-kun, karena hadiah yang mereka berikan kepadaku adalah hadiah yang tidak akan pernah membuatku lupa.
Kami berenam pun memulai acara ulang tahunku dari mulai acara tiup lilin hingga makan masakan buatan Danny-kun.
"Sama-sama Mei..." balas Danny-kun dengan tersenyum pula.
"Terimakasih juga untuk kalian berempat yang ikut juga merayakan ulang tahunku ini..." ucapku dengan nada datar.
Mereka berempat membalasnya dengan senyuman tipis saja. Setelah kami berenam selesai merayakan ulang tahunku, Danny-kun kembali ke kamarnya untuk beristirahat agar besok kembali bekerja. Hanya tinggal para gadis saja di ruang tamu yang membuat suasana menjadi semakin panas.
"Sekarang, kado dari kami berempat..." ucap Hinada.
"Aku tidak butuh..." ucapku dengan nada datar.
"Janganlah begitu, kucing bucin... Kami sudah bersusah payah untuk mencari kado untukmu..." ucap Hatsuki.
"Palingan hadiahnya tidak berguna sama sekali untukku..." ucapku ketus.
Mereka berempat pun mengepalkan tangan mereka untuk segera memukulku, namun mereka tahan sejenak agar tidak merusak rencana yang telah mereka lakukan.
"Ini untukmu..." ucap Mimi.
Mereka lalu menutup mataku dengan sebuah kain, dan mereka membawaku dengan mata tertutup. Dan entah mengapa, aku merasa seperti ada tali yang menyentuh lenganku. Lalu mereka menyandarkanku pada sebuah tiang, lalu kemudian entah mengapa ada sesuatu yang dipakai di tanganku. Lalu ketika salah satu dari mereka berempat membuka penutup mataku, tiba-tiba saja aku kaget karena aku berdiri di sebuah ring tinju.
"Apa maksudnya ini???" tanyaku heran.
"Loh, bukankah kamu ingin menghajar kami??" tanya Nozomi.
Aku pun merasa heran mengapa mereka berempat repot-repot untuk menyiapkan ini semua.
"Apakah kalian masuk ke kamarku?" tanyaku memastikan.
Mereka berempat melihat ke arah lain untuk menghindari pertanyaan itu.
"Jadi mereka memang masuk ke kamarku ya..." gumamku.
"Baiklah kalau begitu, kita mulai saja..." ucapku dengan tersenyum sambil melepaskan kimono yang aku pakai.
"Karena aku ingin melihat wajah Danny-kun saat tidur..." ucapku lagi sambil tersenyum.
Mimi pun membunyikan belnya, lalu pertarungan antara aku dan Hinada pun dimulai. Untuk memulainya, aku melakukan jab ke pipi kanan Hinada.
"Apaan ini... Tidak sakit sama sekali..." ucap Hinada dengan nada meremehkan.
"Yang benar itu, seperti ini..." ucap Hinada.
Lalu Hinada melakukan hook ke arah pipi kananku. Ketiga gadis hama itu pun bersorak gembira. Lalu Hinada pun melanjutkannya dengan hook ke arah pipi kiriku. Dan itu membuat semakin tambah sorakan mereka untuk menambah semangat Hinada. Aku berusaha untuk melindungi wajahku, namun Hinada langsung memukul perutku sehingga aku pun terjatuh. Ketiga gadis lainnya pun bertepuk tangan karena Hinada berhasil menjatuhkanku.
"Aku tidak mengerti mengapa Da-kun memilihmu..." ucap Hinada.
"Iya... Benar itu..." ucap ketiga gadis lainnya secara serentak.
"Apa Da-kun itu tidak sadar bahwasanya dia sudah dibodohi selama ini..." ucap Hinada.
Mendengar kalimat itu, aku berusaha bangun.
"Apa yang kamu katakan???" ucapku sambil mencoba berdiri.
"Apa kamu tidak mendengarnya?? Da-kun itu tidak sadar bahwasanya dia sudah dibodohi olehmu..." ucap Hinada.
Ketika aku sudah berdiri, Hinada pun langsung melakukan hook kiri, lalu melakukan hook kanan dan mengenai kedua pipiku. Pada saat Hinada mau melakukan uppercut ke daguku, aku pun menangkapnya.
"Aku tidak perduli kalau kau menghinaku... Ataupun meludahiku... Namun kalau kau berani menghina Danny-kun, aku akan mengirimkanmu ke neraka..." ucapku dengan amarah.
Lalu aku melakukan uppercut ke perut Hinada dengan sangat kuat, sehingga membuat Hinada membungkuk dan langsung bersimpuh ditempat.
"Bangun..." ucapku dengan nada dingin.
Karena Hinada tidak bangun, aku pun menarik rambutnya dengan tangan kiriku, lalu aku meninju mata kirinya secara bertubi-tubi hingga bengkak. Lalu aku menarik rambutnya lagi dengan tangan kananku, lalu kemudian aku meninju bibirnya dengan tangan kiriku bertubi-tubi juga. Lalu kemudian, Hinada akhirnya jatuh pingsan.
"Siapa selanjutnya???" tanyaku kepada mereka bertiga sambil tersenyum.
Mereka pun gemetar ketakutan dan berusaha untuk kabur. Namun yang mereka lupa adalah, bahwasanya kunci tersebut ada pada Hinada yang pingsan di tengah ring. Lalu, mau tak mau akhirnya mereka bertiga pun melawanku. Kami bertarung selama 3 jam dan akhirnya akulah yang keluar sebagai pemenangnya, sedangkan mereka berempat pingsan di tengah ring.
Epilog
Aku keluar dari ruangan tersebut dan tanpa sengaja bertemu dengan Danny-kun yang baru saja bangun.
"Selamat pagi, Mei..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.
"Selamat pagi juga, Danny-kun..." balasku sambil tersenyum pula.
"Apa kamu belum tidur??? Karena aku melihatmu berkeringat begitu banyak..." tanya Danny-kun.
"Iya, aku membersihkan ruangan itu karena aku tidak bisa tidur..." jawabku sambil tersenyum.
"Kalau begitu, aku tidur dulu ya Danny-kun..." ucapku.
"Silahkan..." ucapnya.
"Oya, Danny-kun... Danny-kun jangan masuk ke ruangan itu dulu ya... Karena baru saja aku mengepelnya..." ucapku.
"Okey..." balasnya.
Akhirnya aku pun ke kamarku dan aku tertidur pulas.
CHAPTER 87 - MY BROKEN BIRTHDAY'S PRESENT
End