Kanaya Meissa (Ultimate Kagura Dancer) ~Eternal Love~

Kanaya Meissa (Ultimate Kagura Dancer) ~Eternal Love~
CHAPTER 34 - THE WONDERFUL WHITE DAY



Sebulan setelah kejadian penculikan yang hampir membuat nyawa Danny-kun melayang, aku berinisiatif untuk setiap hari pulang bersama Danny-kun sampai ke apartemennya.


"Jangan lupa ya Danny-kun, setelah sampai segera dikunci pintunya agar tidak ada maling yang masuk..." ucapku.


"Tenang saja Mei... Aku sudah tak apa-apa kok..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.


Namun karena aku masih belum percaya, aku tidak menghiraukannya.


"Baiklah kalau begitu, aku akan antar Danny-kun sampai ke kamar.." ucapku lagi.


"Tapi kan kini kita sudah ada di depan apartemenku..." ucap Danny-kun.


"Kalau Danny-kun diculik saat aku berbalik sebentar, bagaimana???" tanyaku dengan khawatir.


"Baiklah, hanya sampai depan pintu saja... Setelah itu, kamu hati-hati pulangnya..." jawab Danny-kun sambil tersenyum.


Aku mengangguk.


Lalu aku dan Danny-kun berjalan menuju apartemen Danny-kun dan ketika sudah sampai di depan pintu, aku pamit pulang setelah memastikan bahwa tidak ada seseorang yang mencurigakan untuk menculik Danny-kun. Kemudian Danny-kun menutup pintu, dan aku mengetuk kembali pintunya.


"Ada apa, Mei???" tanya Danny-kun sambil tersenyum.


"Cium pipiku dulu..." jawabku sambil tersenyum manja.


Danny-kun langsung menutup pintunya sambil tersenyum sehingga membuatku merajuk. Kemudian aku pulang ke rumah.


Sebulan yang lalu, tepatnya saat sehari setelah penculikan itu. Danny-kun banyak diberi pertanyaan oleh wartawan dan para guru disekolah, sehingga berita tersebar tentang penculikan Danny-kun di sekolahku, terutama di kelasku. Banyak teman-teman sekelasku menanyakan hal tersebut apakah benar adanya atau tidak. Namun agar tidak banyak gosip yang beredar, aku menjelaskan bahwasanya Danny-kun memang benar diculik dan kedua gadis yang menculiknya berhasil ditangkap. Hal ini juga dibenarkan oleh Nozomi sehingga membuat berita itu memang benar adanya.


Begitulah berita tentang sebulan yang lalu, kini aku bertugas untuk menjaga Danny-kun sampai ke apartemennya.


Di kelas


"Enaknyaaaa... Padahal aku juga ingin menemani Danny senpai kembali ke apartemennya..." ucap Nozomi karena merasa iri padaku.


"Iya dong... Kan aku ini tunangannya.. kalau kamu siapa?? Pacar bukan... Tunangan juga apalagi..." ucapku dengan mengejek.


"Pokoknya aku mau menemani Danny senpai pulang ke apartemennya...." ucap Nozomi dengan merajuk.


"Boleh kok... Tapi 10 tahun lagi ya..." ucapku.


"Okey... Tapi 10 tahun lagi aku menikah dengan Danny senpai ya..." ucap Nozomi.


Aku menarik kerah baju Nozomi.


"Buang jauh-jauh pikiran itu Akuma Milku, okey?!?!?!" ucapku sambil tersenyum kedut.


"Tidak mau?!?!?!" ucap Nozomi juga ikut tersenyum.


Kami berdua saling tersenyum namun muncul aliran listrik.


"Kelihatannya kita masih kecil untuk ikut ke dalam obrolan mereka..." ucap Mihoshi.


"Tapi untunglah salah satu dari kita tidak menyukai Danny senpai lebih dari senior kita..." lanjut Canis.


"Kalau kita seperti mereka, maka sulit bagi kita untuk mengalahkan mereka..." ucap Ramaru.


Bel tanda istirahat berbunyi.


Aku segera menuju ke kelas Danny-kun untuk makan siang bersama. Namun Nozomi juga mengikutiku dari belakang sehingga aku mempercepat langkahku. Disepanjang jalan, murid-murid lain memperhatikan kami berdua dikarenakan kami berdua membawa bekal untuk dimakan bersama Danny-kun. Setelah sampai didepan kelas Danny-kun, aku membuka pintu kelasnya, namun aku tidak melihat Danny-kun.


Banyak teman-teman Danny-kun melihatku, namun karena aku ingin bertemu dengan Danny-kun aku mengacuhkan mereka. Disaat itu pula, aku melihat Karasu-kun sedang duduk di kursinya, lalu aku mendatanginya.


"Karasu-kun, apakah kamu melihat Danny-kun???" tanyaku.


"Kalau kamu mencari Danny-san, tadi dia sudah keluar..." jawab Karasu.


"Kalau boleh tahu, Danny-kun pergi kemana???" tanyaku lagi.


"Kalau tidak salah, dia menuju taman dekat kolam air mancur...." jawab Karasu.


"Terimakasih Karasu-kun..." ucapku sambil tersenyum padanya.


"Oya, Kanaya-san... Sebelum kamu kemari, tadi ada seorang gadis yang datang ke kelas kami... Namun yang membuatku aneh adalah dia mengatakan kalau Danny-san itu calon suaminya...." ucap Karasu.


"Seperti apa gadis itu???" tanyaku penasaran.


"Rambutnya bergelombang seperti bor, dan sikapnya seperti seorang ojou-sama... Hanya itu yang aku tahu..." jawab Karasu.


Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari menuju tempat yang dikatakan Karasu tersebut karena aku yakin kalau itu adalah rubah betina itu. Disaat yang sama, Nozomi sampai ke kelasnya Danny-kun. Namun karena dia tidak melihatnya, dia langsung pergi begitu saja entah kemana.


Di taman dekat air mancur sekolah


"Da-kun... Apa kamu mau mencoba makananku???" tanya Hinada sambil tersenyum.


"Apa boleh???" tanya Danny-kun memastikan.


"Tentu saja boleh..." jawab Hinada sambil tersenyum lagi.


"Aku coba dulu ya... Selamat makan..." ucap Danny-kun.


Danny-kun menyuapkan makanan Hinada ke dalam mulutnya. Dan mulai mencoba rasa masakannya.


"Ini enak, Hinada-san...." puji Danny-kun.


"Terimakasih Da-kun atas pujiannya..." ucap Hinada.


"Untunglah...." gumam Hinada.


"Oya Da-kun, boleh aku mencoba bekalmu???" tanya Hinada.


"Boleh kok... Silahkan..." jawab Danny-kun sambil memberikan kotak bekalnya ke Hinada.


Hinada mengambil sepotong ayam goreng milik Danny-kun untuk dicobanya. Kemudian ia menyuapkan ayam goreng tersebut ke dalam mulutnya dan mulai mengunyahnya.


"Ini enak sekali, Da-kun...." puji Hinada.


"Terimakasih, Hinada-san..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.


Melihat senyum Danny-kun, Hinada langsung meleleh seakan ditembak dengan pistol.


"Da-kun, ayo kita menikah...." ucap Hinada sambil memegang tangan Danny-kun.


"Ettoooo... Hinada-san???" Danny-kun sweatdrop.


"TIDAAAAKKKKK BOOOOOLEEEEHHH!!!!" teriakku sambil berlari mendekati mereka.


"Cih!?!?!" gumam Hinada kesal.


"Apa maksudmu mengatakan itu, Rubah Betina?!?!?! Apa kamu mau aku buat kamu ke rumah sakit?!?!" ucapku dengan kesal.


"Mei, itu tidak baik... Aku tidak suka kamu mengatakan itu.." ucap Danny-kun.


"Rasakan itu, kucing bau...." gumam Hinada.


"Minta maaflah kepada Hinada-san, Mei...." suruh Danny-kun.


"Tapi kan...." ucapku.


"Mei, itu tidak baik mengatakan Hinada-san begitu..." ucap Danny-kun.


Aku hanya diam saja.


"Lebih baik, kamu sekarang minta maaf kepada Hinada-san..." lanjut Danny-kun lagi.


Aku mengulurkan tanganku dengan wajah cemberut.


"Mei..." ucap Danny-kun.


Wajahku berubah menjadi senyum, namun dalam hati aku cemberut. Hinada pun juga menyambut uluran tanganku sambil tersenyum pula.


"Makanya, jangan mengejekku terus ya, kucing bau... beginilah akibatnya kalau mengejek tuan putri seperti aku..." gumam Hinada.


"Jangan kamu merasa menang dulu ya, rubah betina?!?!? Setelah ini, aku tidak akan membiarkanmu pergi hidup-hidup.." gumamku.


Aku melepaskan uluran tanganku.


"Oya Danny-kun, kamu bawa bekal apa hari ini??" tanyaku sambil tersenyum manis.


"Ayam goreng tepung..." jawab Danny-kun.


"Boleh aku coba??" tanyaku lagi.


"Silahkan.. masih banyak kok ayam goreng tepungnya..." jawab Danny-kun.


Aku hanya melihat bekal Danny-kun saja.


"Kok tidak dicicipi???" tanya Danny-kun.


"Tolong disuapin, Danny-kun..." ucapku dengan nada manja.


"Okey..." jawab Danny-kun.


"Ahnnnnnn.." aku membuka mulutku.


Danny-kun menyuapkan ayam goreng tepung tersebut ke mulutku dan aku mengunyahnya sambil tersenyum senang.


"Dasar manja...." gumam Hinada.


"Rasakan itu, rubah betina!!??!" gumamku.


"Oya Mei, kita makan bersama-sama saja bertiga... Kan lebih baik kalau lebih ramai..." saran Danny-kun.


"Baiklah..." jawabku sambil tersenyum.


Dalam hati.


"Mana mau aku duduk bertiga bersama rubah betina ini... Yang ada makananku akan menjadi tidak enak.." gumamku.


Aku pun terpaksa duduk dengan Hinada, namun aku duduk di sebelah Danny-kun.


"Bekal apa yang kamu buat, Mei??" tanya Danny-kun.


"Biasa saja kok, Danny-kun... Pakai telur rebus dan sosis goreng..." jawabku.


"Masakan apa itu??? Seperti masakan kelas rendahan... Beda jauh dengan masakan Danny-kun yang bernama ayam goreng tepung.." ejek Hinada dengan bergumam.


"Sepertinya enak... Boleh aku mencobanya???" tanya Danny-kun.


"Silahkan..." jawabku sambil menyodorkan kotak bekalku sambil tersenyum.


Danny-kun menyuapnya dan mengunyahnya.


"Ini enak, Mei... Telur rebusnya matang 90%.. pas dengan lidahku..." puji Danny-kun.


"Wow... Ternyata Da-kun bisa seakurat itu..." kaget Hinada dengan bergumam.


"Kan bekal ini aku buat untukmu, Danny-kun... Kalau bisa, kita makan berdua bersama saja... Jangan bertiga, karena angka tiga itu angka sial..." ucapku sambil tersenyum.


"Jangan begitu dong Mei... Tidak baik.. kan tidak apa-apa sesekali makan bertiga...." ucap Danny-kun sambil tersenyum.


"Baiklah." ucapku dengan cemberut sambil menoleh ke arah lain.


"Oya, aku hampir lupa... Kalian mau apa untuk hadiah White Day???" tanya Danny-kun.


"Terserah Danny-kun saja... Aku tetap suka apapun pemberianmu..." jawabku.


"Aku juga, aku hanya ingin Da-kun menikah denganku..." jawab Hinada sambil tersenyum.


Danny-kun sweatdrop. Setelah itu, kami bertiga selesai makan.


"Oya, nanti saat pulang sekolah, aku tunggu di taman bermain yang pernah kita kunjungi itu ya Mei... Dan jangan lupa beritahu Nozomi-san juga..." ucap Danny-kun.


"Kalau kesana, aku hanya ingin berdua saja denganmu..." ucapku.


"Namun kali ini, ada yang harus aku berikan kepada kalian berempat..." lanjut Danny-kun.


"Okey..." ucap Hinada sambil tersenyum.


"Baiklah..." ucapku sambil cemberut.


Danny-kun kembali ke kelasnya. Setelah Danny-kun tidak kelihatan lagi, aku menatap Hinada dengan wajah kesal.


"Apa maksudmu perkataanmu tadi, rubah betina??? Apa kamu ingin aku buat babak belur???" ucapku dengan mengancam.


"Yang mana???" tanya Hinada bingung.


"Yang kamu katakan *aku hanya ingin Da-kun menikah denganku...*" jawabku yang masih nada mengancam.


"Oh yang itu.... Maaf sengaja.... Tehe.." ucap Hinada dengan mengejek.


Aku menampar Hinada. Lalu Hinada membalas tamparanku, kemudian kami berkelahi dengan berguling-guling di rumput taman sekolah sambil saling menarik rambut. Bahkan tak jarang pula pukulan pun ikut melayang ke wajah kami. Untunglah tidak ada murid ataupun guru yang lewat disana.


Setelah perkelahian itu, tak lama kemudian bel pulang sekolah berbunyi. Ketika pulang sekolah, aku, Hatsuki, Nozomi, dan Hinada menuju taman bermain yang pernah aku kunjungi bersama Danny-kun saat itu. Karena mereka bertiga tidak tahu jalannya, terpaksa aku yang menunjukkan jalannya. Di sepanjang jalan, aku cemberut setengah mati karena tempat itu adalah tempat istimewa bagiku dan Danny-kun.


Setelah sampai ditempat itu, kami menunggu Danny-kun dan tak lama berselang, Danny-kun tiba.


"Apa kalian sudah menunggu lama???" tanya Danny-kun sambil tergopoh-gopoh.


"Kami juga baru sampai..." jawab Hatsuki sambil tersenyum.


Aku ngedumel dalam hati.


"Ya sudah kalau begitu, ayo kita masuk.." ajak Danny-kun.


Kami berlima masuk ke taman bermain itu dan yang membayar tiketnya adalah Danny-kun. Didalam taman bermain itu, ternyata Danny-kun sedang mencoba bermain untuk memenangkan hadiah berupa boneka. Hanya 4 boneka yang didapatkan oleh Danny-kun, yaitu boneka sapi, panda, lumba-lumba, dan beruang.


"Nah, sekarang kalian pilih mana yang kalian suka..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.


Aku mengambil boneka lumba-lumba, Nozomi mengambil boneka sapi, Hatsuki mengambil boneka beruang, dan Hinada mengambil boneka panda.


"Terimakasih...." ucap kami berempat serentak sambil tersenyum.


Kemudian, aku mendekati Danny-kun sambil berbisik.


"Terimakasih Danny-kun, ini adalah hadiah White Day yang terbaik..." ucapku sambil tersenyum.


Kemudian aku mencium pipi Danny-kun dan itu membuat mereka bertiga menjadi heboh.


"Apa maksudnya ini, kucing bau?!?!? Berani sekali kamu mencium Da-kun sebelum aku..." ucap Hinada dengan kesal.


"Sebelumnya, aku sudah pernah melakukan lebih dari ciuman pipi..." ucapku dengan bangga.


Mata mereka bertiga terbelalak. Lalu mereka mencoba untuk mencium Danny-kun, namun semua itu ku tangkis.


"Maaf saja ya.. properti Danny-kun hanya untukku... Kalau kalian berani mengambilnya..." ucapku.


Kemudian aku melakukan pose seperti seorang petinju yang memukul angin.


"Akan aku tinju kalian satu per satu..." ucapku dengan mengancam.


"Memangnya kami takut..." ucap mereka bertiga dengan serentak.


Aku memegang tangan Danny-kun.


"Ayo kita pergi, Danny-kun..." ucapku.


Lalu aku menarik tangan Danny-kun sambil berlari.


"Tungguuuuu....." teriak mereka bertiga sambil mengejar kami.


CHAPTER 34 - THE WONDERFUL WHITE DAY


End