
"Hmmm... Hmmmm... Hmmmm... Hmmm.." ucapku sambil bersenandung.
Aku sedang memasak makanan untuk malam ini. Dikarenakan Danny-kun akan menginap hari ini dirumahku. Aku berkhayal apa yang akan terjadi nanti malam.
"Aku tidak sabar menunggu nanti malam..." ucapku.
Malam ini aku ingin memasak kari ayam dan kroket, karena Danny-kun menyukai kari ayam dan kroket. Disamping itu, aku membuat kari ayam spesial untuk 4 gadis hama, yaitu kari ayam super pedas yang terpisah dari kari ayam yang kubuat. Aku melihat jam dinding menunjukkan pukul 3 sore.
"Akhirnya kari ayam sudah jadi..." ucapku.
Aku mencicipinya sedikit dan rasanya sudah pas.
"Mudah-mudahan Danny-kun menyukainya..." ucapku sambil tersenyum manis.
Aku juga mengaduk kari ayam super pedas untuk keempat gadis hama itu, namun aku tidak mencicipinya.
"Mudah-mudahan mereka berempat menyukainya..." ucapku sambil tersenyum dengan aura yang menyeramkan.
Satu persatu dari teman sekelasku sudah datang termasuk Nozomi, lalu disusul oleh teman sekelas Danny-kun, yang terakhir tentu saja 3 gadis hama lainnya.
"Karasu-kun, dimana Danny-kun???" tanyaku.
"Dia agak lama datangnya, Kanaya-san... Kelihatannya dia perlu membeli sesuatu..." jawab Karasu.
"Apa dia tidak berkata apa-apa padamu???" tanyaku lagi.
"Tidak... Tapi jangan khawatir, Kanaya-san... Danny-san tidak sedang diculik kok..." jawab Karasu untuk menenangkanku.
Aku menunggu Danny-kun dengan sabar. Karena acara tidak bisa dimulai tanpa kehadiran Danny-kun. Aku menyuruh mereka untuk menunggu sebentar dan mereka menyetujuinya. Namun setelah hampir mencapai malam, Danny-kun belum kunjung datang.
"Kanaya-san, kelihatannya kita mulai saja...." ucap Karasu.
"Tapi... Danny-kun belum datang..." ucapku.
"Maksudnya, langsung makan malam saja... Nanti karinya dingin..." ucap Karasu.
Aku pun menyetujuinya. Acara pun dimulai tanpa kehadiran Danny-kun. Mereka mulai memakan kari ayam buatanku, dan mereka menyukainya sambil memujiku. Lalu aku memberikan kari ayam spesial kepada 4 gadis hama dengan wajah tersenyum. Mereka berempat memakannya dan hasilnya mereka kepedasan.
"Apa maksudnya ini kucing bau?? Kamu mau mengajakku berkelahi??" tanya Hinada dengan kesal.
"Aku ingin menantang kalian berempat..." jawabku.
"Jangan khawatir, kalau salah satu dari kalian berhasil menyelesaikan tantangan ini, boleh mencium pipi Danny-kun hari ini..." ucapku sambil tersenyum.
Mereka semua terkejut.
"Apa tidak apa-apa, Kanaya-san??" tanya Canis kaget.
"Tidak apa-apa... asalkan tidak boleh lebih dari 1 detik..." jawabku sambil tersenyum.
"Ciuman macam apa itu.... Aku inginnya mencium Da-kun selama satu jam..." ucap Hinada.
"Boleh... Tapi kamu harus mencium tinjuku selama 10 tahun..." ucapku sambil tersenyum kedut.
"Kalau aku mau mencium Da-kun seumur hidup???" tanya Hinada dengan menantangku.
"Kalau begitu, aku akan mengulitimu lalu aku akan menguburmu hidup-hidup..." jawabku dengan aura yang menyeramkan sambil menodongkan tinjuku ke wajahnya.
"Hadiahnya tidak menarik kalau hanya boleh mencium Da-kun sedetik..." ucap Hinada dengan mengeluh.
"Kalau begitu, hadiahnya tidak jadi..." ucapku sambil tersenyum.
"Kamu ini bagaimana sih... Tadi katanya mau memberikan hadiahnya kalau berhasil..." ucap Hinada.
"Dasar gadis aneh..." lanjut Hinada.
Aku meninju pipinya dan Hinada pun membalasnya. Kami pun berkelahi dan orang-orang langsung melerai kami. Lalu tiba-tiba, terdengar suara bel di pintu masuk, lalu aku langsung menuju pintu masuk dan aku pun membuka pintu yang ternyata adalah Danny-kun.
"Selamat datang kembali, Danny-kun...." ucapku sambil tersenyum.
"Apa teman-teman kita sudah didalam???" tanya Danny-kun.
"Sudah.... Kecuali Nozomi-san, Hinada-san, Hatsuki-san, dan Mimi-san..." jawabku sambil tersenyum.
"Mereka berempat tidak datang??" tanya Danny-kun lagi.
"Entah, mungkin mereka sudah mati.." jawabku sambil tersenyum.
"Jangan begitu, Mei... Itu tidak baik..." ucap Danny-kun.
Aku pun langsung cemberut dengan menggembungkan pipiku. Aku pun masuk ke dalam bersama Danny-kun ke ruang tamu. Disana 4 gadis hama langsung mencoba memeluk Danny-kun, namun aku menahan mereka.
"Da-kun... Tadi si kucing bau mengatakan kalau aku boleh menciummu jika berhasil menyelesaikan tantangan..." ucap Hinada dengan nada manja.
"Tantangan apa???" tanya Danny-kun penasaran.
"Menghabiskan kari ayam super pedas ini..." jawab Hinada sambil menunjuk ke arah piring Hinada.
"Mei...." ucap Danny-kun dengan menatapku.
"Kalau begitu, aku akan menghabiskan kari ayam super pedas ini..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.
Mendengar hal itu, aku terkejut, begitu pula dengan orang-orang yang berkumpul.
"Kalau begitu, aku juga akan memakannya..." ucapku dengan nada kasihan.
"Tidak... Biar aku saja yang menghabiskannya..." ucap Danny-kun.
"Kalau begitu, aku menantangmu Danny-kun untuk menghabiskan kari ayam super pedas ini..." ucapku.
"Kalau kamu berhasil, aku akan memakai kostum maid hingga acara ini selesai..." lanjutku dengan semangat.
"Tapi apa kamu punya???" tanya Danny-kun.
"Tentu saja... Aku sudah membelinya 4 bulan yang lalu sebagai persiapan kalau Danny-kun datang..." ucapku dengan bangga.
Danny-kun duduk di kursi setelah meletakkan barang yang dibawanya.
"Kalau aku, aku akan memakai kostum gadis kelinci.." ucap Hinada dengan semangat.
"Apa maksudmu itu, rubah betina??" tanyaku kesal.
"Karena aku tidak mau kalah.." jawab Hinada dengan mantap.
Aku dan Hinada saling bertatapan sehingga memunculkan aliran listrik dan gemuruh.
"Baiklah kalau begitu, aku akan memulainya.." ucap Danny-kun dengan semangat.
Danny-kun mulai memakan kari ayam super pedas itu dengan lahap. Aku pun deg-degan apakah Danny-kun tidak bisa menghabiskan kari ayam super pedas buatanku. Dan hasilnya adalah Danny-kun berhasil menghabiskannya, bahkan hingga 3 piring. Lalu aku menuangkan air ke gelasnya Danny-kun sambil tersenyum dan memeluknya karena ia berhasil.
"Sebagai hadiahnya, aku akan memakai kostum maid untukmu..." ucapku sambil memeluk Danny-kun.
"Aku juga..." ucap Hinada.
Sebelum Hinada menyelesaikan kalimatnya, aku segera mendorongnya sehingga ia terjatuh ke lantai.
"Hei... Apa yang kamu lakukan, kucing bau??" tanya Hinada dengan kesal.
"Maaf ya... Orang luar tidak boleh mengganggu hubungan suami istri..." jawabku sambil tersenyum.
"Mei... Kostum maidmu simpan saja... Aku masih belum ingin melihatnya..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.
"Mengapa?? Aku hanya ingin menunjukkan sisi keimutanku..." ucapku.
"Aku hanya ingin keimutanmu hanya ditujukan padaku saja..." ucap Danny-kun sambil tersipu malu.
"Danny-kun..." ucapku sambil tersenyum memerah.
Aku hendak mencium Danny-kun, lalu suara berdehem dari teman-teman sekelasku dan teman-teman sekelas Danny-kun membuatku tidak melanjutkannya. Namun, Hatsuki, Mimi, Nozomi, dan Hinada menarikku ke halaman belakang rumahku dengan wajah yang tersenyum tapi dengan raut wajah yang marah, lalu mereka menghajarku disana.
Epilog
Saat malam hari setelah semuanya pulang, aku sedang duduk di teras sambil memegang wajahku yang babak belur sehabis ditinju oleh mereka berempat. Dan untungnya juga, aku berhasil meninju wajah mereka juga.
"Sebenarnya apa yang terjadi tadi dibelakang??" tanya Danny-kun sambil mengobati lukaku.
"Tidak apa-apa kok, Danny-kun... Hanya urusan 5 orang gadis yang tidak mau kalah..." jawabku sambil tersenyum.
Aku meringis kesakitan walaupun diobati dengan pelan oleh Danny-kun. Setelah selesai diobati, Danny-kun mengembalikan kotak obat ke tempatnya semula, lalu duduk di sebelahku.
"Mengapa Danny-kun telat tadi??" tanyaku membuka pembicaraan.
"Karena aku membeli sesuatu..." jawab Danny-kun.
"Memangnya apa yang kamu beli???" tanyaku lagi.
"Sebatang bambu dan kertas..." jawab Danny-kun.
"Untuk apa???" tanyaku.
"Bukankah ini hari Tanabata???" ucap Danny-kun.
Aku teringat dan memang benar hari ini adalah hari Tanabata dan setiap tahun, biasanya aku pergi ke festival bersama Danny-kun, namun hari ini aku tidak melakukannya karena teman-teman sekelasku datang ke rumahku. Aku merasa bersalah hari ini karena tidak merayakannya bersama Danny-kun. Untuk menebus kesalahanku, aku mengambil spidol berwarna hitam untuk menulis keinginanku di kertas yang sudah dibeli oleh Danny-kun. Aku dan Danny-kun menulis keinginan kami untuk tahun ini. Setelah selesai menulis, aku dan Danny-kun mengikatnya di ranting bambu.
"Apa keinginanmu Mei???" tanya Danny-kun.
"Aku ingin impian Danny-kun bisa tercapai..." jawabku sambil tersenyum.
"Kalau kamu??" tanyaku.
"Aku ingin agar kita berdua selalu sehat..." jawab Danny-kun sambil tersenyum.
Aku merangkul tangan Danny-kun dan bahuku bersandar di pundaknya.
CHAPTER 61 - MISTLETOE IN TANABATA
End