Kanaya Meissa (Ultimate Kagura Dancer) ~Eternal Love~

Kanaya Meissa (Ultimate Kagura Dancer) ~Eternal Love~
CHAPTER 77 - THE HELL'S DAY



Di suatu pagi


"Da-kun... Hari ini kita akan sarapan apa???" tanya Hinada dengan manja.


"Danny-san... Sini aku bantu jemur pakaiannya..." ucap Hatsuki sambil tersenyum.


"Danny onii-chan... Dimanakah letak shampoonya???" tanya Mimi.


"Danny senpai... Tolong ajari aku memasak ya..." ucap Nozomi sambil tersenyum.


Begitu terus hampir setiap hari yang membuatku kesal. Dan aku tidak akan membiarkan ini terjadi begitu saja, karena aku tidak ingin mereka berempat mendekati Danny-kun. Lalu 3 hari kemudian, Danny-kun pergi keluar bersama editornya untuk membahas buku puisinya. Dan ini adalah kesempatanku untuk membicarakan hal paling penting kepada mereka berempat.


"Aku ingin bicara kepada kalian berempat..." ucapku.


"Mengapa aku harus bicara denganmu?? Itu tidak penting tahu..." ucap Hinada.


"Kalau ingin bicara denganku, lebih baik menunggu Danny-san pulang dulu..." ucap Hatsuki.


"Tidak bisa... Aku tidak bisa membiarkan kalian berempat berbuat seenaknya dirumahku ini..." ucapku.


"Bukankah ini rumahnya Danny onii-chan??" tanya Mimi.


"Ini bukan rumah Danny-kun, rumah Danny-kun jauh disana..." jawabku.


"Kalau boleh tahu, dimana rumah Danny senpai??" tanya Nozomi.


"Kalau itu, aku sudah lupa dimana tempatnya..." jawabku.


"Bukankah itu berarti kalau kamu tidak mencintai Da-kun??" tanya Hinada sambil menyindir.


"Huh??? Siapa yang bilang kalau aku tidak mencintai Danny-kun??" jawabku sambil tersenyum kedut.


Aku dan Hinada saling menatap tajam. Selama 2 jam, kami saling berdebat apa saja yang harus kami lakukan agar Danny-kun tidak kerepotan. Dan hasil akhirnya adalah 4 keputusan.


"Keputusan kita bersama adalah:



Setiap pekerjaan rumah diselesaikan masing-masing


Tidak boleh merepotkan Danny-kun


Setiap kegiatan yang tidak ada dijadwal sekolah harus cepat pulang dikarenakan bakalan ada serigala betina yang akan mengambil kesempatan bersama Danny-kun


Barangsiapa yang melanggar peraturan diatas, maka hukumannya tidak mendapatkan makan malam." ucapku.


"Okey, kami setuju..." ucap mereka berempat serentak.


"5. Hanya pemilik rumah ini yang boleh mencium Danny-kun." ucapku sambil tersenyum.


"Huh???" ucap mereka berempat dengan kaget.


"Kalau begitu, aku akan membeli rumah ini..." ucap Hinada dengan sombongnya.


"Silahkan... Tapi Danny-kun tidak dijual ya...." ucapku sambil tersenyum.


"Lho, mengapa bisa begitu?? Kalau misalkan rumah ini dijual kepadaku, berarti Da-kun termasuk juga dong..." ucap Hinada.


"Tentu saja tidak bisa, rubah betina... Karena Danny-kun itu bukan sesuatu yang bisa kamu beli dengan uangmu..." ucapku sambil tersenyum.


"Kalau begitu, berapa kamu jual rumah ini??" tanya Hinada.


"20 Miliar Yen..." jawabku.


"Itu sudah termasuk Danny-kun juga??" tanya Hinada lagi.


"Tentu saja tidak, rubah betina..." jawabku sambil tersenyum kedut.


"Kamu ini bagaimana sih... Kan kamu jual rumah ini 20 Miliar Yen... Berarti itu termasuk Da-kun juga dong..." ucap Hinada sambil tersenyum kedut.


"Sudah aku katakan, 20 Miliar Yen itu hanya rumah ini, Danny-kun tidak dijual..." ucapku sambil tersenyum kedut.


"Kalau begitu, berapa harga yang kamu berikan untuk memberikan Danny-kun padaku??" tanya Hinada sambil tersenyum.


Aku dan Hinada saling menatap tajam sambil tersenyum kedut lalu muncul aliran listrik dari tatapan kami berdua. Kami berlima berdebat selama 3 jam untuk membahas peraturan nomor 5 dikarenakan hanya peraturan ini yang menguntungkan pihak yang punya rumah. Lalu pada akhirnya, kami pun menyetujuinya asalkan aku menyium Danny-kun didepan mereka berempat. Lalu aku tersenyum senang dikarenakan aku memenangkan pertarungan ini.


"Kamu pikir, kamu sudah menang??" gumam mereka berempat.


Lalu setelah selesai berdebat dengan mereka berempat, aku pun mulai kembali seperti biasa karena aku masih harus meningkatkan kualitas tarian Kaguraku. Saat sore hari, Danny-kun pulang, dan kami berlima menyambutnya dengan tersenyum. Kami berlima telah sepakat bahwasanya tidak boleh merepotkan Danny-kun lagi, kecuali memang penting. Lalu saat itu, aku pergi untuk membeli bahan-bahan untuk makan malam, sedangkan Danny-kun dibiarkan istirahat di ruang tamu dikarenakan Danny-kun lelah setelah seharian bekerja. Aku pun segera membeli bahan untuk makan malam ke pasar. Ketika aku membuka pintu depan, aku tersenyum karena kemungkinan besar mereka berempat akan mencium bibir Danny-kun ketika aku tidak melihatnya. Setelah selesai berbelanja untuk makan malam, aku pun kembali pulang. Ketika aku membuka pintu, aku melihat sesuatu yang tidak biasanya. Yaitu bahwa mereka berempat berkumpul di satu tempat yang sama, yaitu mereka berempat berada di dapur bersama-sama. Dan aku melihat mereka berempat tersenyum, padahal tidak ada yang terlihat menyenangkan hari ini.


"Makan malam ini apa, Meigomi??" tanya Nozomi.


"Terserah aku mau masak apa..." jawabku dengan ketus.


"Kalau begitu, masak ikan saja..." ucap Hatsuki.


"Kan sudah kukatakan mau masak apa itu terserah aku..." ucapku lagi dengan ketus.


"Kalau begitu, apa rekomendasimu untuk makan malam ini??" tanya Danny-kun.


"Malam ini kita akan makan ramen, Danny-kun..." jawabku sambil tersenyum.


"Kelihatannya enak..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.


"Benarkah??" tanyaku sambil tersenyum.


Danny-kun mengangguk.


"Biasa saja sih..." ucap Mimi sambil tersenyum.


"Aku tidak butuh komentar darimu..." ucapku sambil tersenyum.


Setelah selesai membuat ramen, aku pun menghidangkannya di atas meja. 2 mangkuk ramen, sisanya hanya kuah ramen yang dicampur dengan nasi putih untuk mereka berempat.


"Hei... Apa maksudnya ini..." ucap Hinada dengan kesal.


"Kalau kamu tidak mau, tidak apa-apa kok... Kamu bisa membuangnya kalau kamu mau..." ucapku sambil tersenyum.


Hanya Hatsuki saja yang menikmati masakanku dengan menambahkan makanan lain yang ada didapur. Sisanya hanya mengeluh, mencibirku, bahkan ada yang mengutukku. Setelah selesai makan, mereka berempat pun pergi ke kamar masing-masing. Hanya tinggal aku dan Danny-kun yang mencuci piring.


"Oya Danny-kun, tadi sore ada sesuatu yang terjadi padamu tidak??" tanyaku.


"Kurasa tidak ada... Karena aku tidur nyenyak sekali..." jawab Danny-kun.


"Tapi sempat juga aku mencium aroma buah yang manis... Tapi mungkin saja aku sedang bermimpi..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.


"Aroma manisnya seperti apa??" tanyaku sambil tersenyum.


"Seperti buah lemon.." jawab Danny-kun.


"Owh, begitu..." gumamku.


Aku pun berdiri lalu pergi mencari gadis di rumah ini yang memiliki bau lemon.


"Apakah kamu ingin istirahat, Mei??" tanya Danny-kun.


Aku mengangguk sambil tersenyum. Lalu aku pun pergi menuju kamar para gadis hama itu dengan masuk ke kamar mereka satu persatu tanpa bersuara dengan membawa sebuah lakban yang aku beli tadi saat membeli bahan-bahan untuk makan malam. Dimulai dari kamar Hinada, aku pun mencoba mencari bau lemon yang menempel ditubuhnya, namun tidak kutemukan. Lalu aku ke kamar Nozomi, namun aku juga tidak menemukannya. Kemudian aku ke kamar Mimi, dan aku juga tidak menemukannya. Saat aku ke kamar Hatsuki, aku menemukan bau lemon di tubuhnya sehingga membuatku tersenyum kedut dan ingin segera membunuhnya. Aku merekatkan lakban di mulut Hatsuki agar dia tidak mengeluarkan suara, lalu aku meninju matanya masing-masing 20 kali. Lalu setelah itu, aku meninju pipi Hatsuki secara bergantian hingga aku puas dan itu membuat Hatsuki menjadi pingsan hingga esok pagi.



Epilog


Pagi hari


"Hatsuki-san, apa yang terjadi pada wajahmu??" tanya Danny-kun.


"Aku tidak tahu, Danny-san... Sepertinya ada seseorang yang memukul wajahku tadi malam..." jawab Hatsuki sambil menahan rasa sakit.


"Sini, biar aku obati..." ucap Danny-kun.


Lalu Danny-kun mengambil kotak obat untuk mengobati Hatsuki yang wajahnya babak belur karena ditinju olehku tadi malam.


CHAPTER 77 - THE HELL'S DAY


End