
"Danny-kun.... Kamu dimana???" teriakku sambil mencari Danny-kun.
"Da-kuunnnn..." teriak Hinada.
"Danny senpaaaii.." teriak Nozomi.
"Danny-saaann..." teriak Hatsuki.
Setelah hasilnya nihil, kami kembali ke taman.
"Bagaimana hasilnya??? Apakah kalian sudah menemukan Danny-kun??" tanyaku sambil kelelahan mencari.
"Aku tidak menemukan Danny-san dimanapun, Kanaya-san..." jawab Hatsuki sambil mengatur nafas.
"Aku juga sama...." jawab Hinada.
"Aku juga sama, aku tidak menemukan Danny senpai dimanapun..." jawab Nozomi.
"Kamu dimana, Danny-kun..." ucapku sambil bersedih.
Hatsuki mengelus punggungku.
"Aku yakin kalau Danny-san tidak apa-apa..." ucap Hatsuki untuk menghiburku.
Namun tiba-tiba, smartphone Hinada berdering yang nama yang muncul adalah nama Danny-kun, namun yang muncul di layar smartphone Hinada adalah sebuah foto Danny-kun sedang diculik.
"Da-kun..." ucap Hinada dengan kaget.
Ketika mendengar Hinada mengatakan kata Danny-kun, aku segera menuju Hinada.
"Ada apa?? Apa ada kabar dari Danny-kun???" tanyaku sambil mengusap air mataku.
Ketika aku melihat smartphone Hinada, aku melihat Danny-kun sedang disekap disebuah ruangan terkunci sehingga membuatku kaget bukan main.
"Danny-kun..." ucapku sambil mengambil smartphone tersebut dari Hinada.
"Kamu tak apa-apa kan, Danny-kun???" ucapku dengan khawatir.
Tiba-tiba muncul 2 orang gadis berpakaian seksi dan memakai telinga kelinci.
"Hai...hai... Apa kabar, Hina-chan???" ucap seorang gadis bertelinga kelinci berpakaian warna hitam.
"Apa maumu???" tanya Hinada dengan kesal.
"Woa...woa... Jangan kesal begitu dong, Hina-chan..." jawab gadis berpakaian hitam itu.
"Lepaskan Danny-kun sekarang juga..." ucapku dengan marah.
"Hoo... Jadi namanya Danny-kun ya??? Pria yang tampan... Mungkin aku akan bertukar air liur dengannya atau bahkan aku bisa memintanya menaburkan benihnya padaku..." ucap teman wanita dari gadis itu yang memakai baju warna putih.
Mendengar kalimat itu, pikiranku mulai kalap.
"Tenang dulu, Kanaya-san...." ucap Hatsuki menenangkanku.
Aku mengacuhkan kata Hatsuki dikarenakan didalam kepalaku aku hanya ingin memukul gadis yang memakai baju warna putih itu.
"Bagaimana kalau begini saja, serahkan uang senilai 50 juta yen kepada kami.. dan tentu saja kami akan melepaskannya... Dan jangan lupa untuk tidak melaporkan kepada polisi dan yang terakhir, tolong sediakan uang tersebut hingga esok hari..." ucap gadis berpakaian hitam itu dengan mengancam.
Tiba-tiba smartphone Hinada ditutup oleh penculik itu.
"Aku akan kesana untuk mencari Danny-kun..." ucapku sambil mengusap air mataku.
"Jangan Kanaya-san... Berbahaya kalau kamu sendirian kesana..." ucap Hatsuki.
Aku berhenti sejenak untuk berpikir.
"Kanaya-san, aku yakin kalau Danny-san tidak apa-apa..." lanjut Hatsuki.
Aku mulai tenang.
"Sekarang, apa yang harus kita lakukan, Hinada-san???" tanya Nozomi.
"Tentu saja akan kita selamatkan Da-kun..." jawab Hinada dengan mantap.
"Tetapi, uang 50 juta yen itu banyak loh..." ucap Hatsuki.
"Tenang saja, aku punya ide..." ucap Hinada.
Kami berempat mulai merencanakan sesuatu untuk menyelamatkan Danny-kun. Dan akhirnya setelah kami berdiskusi lumayan lama, kami memutuskan untuk merencanakan penyelamatan tersebut yang dinilai mempunyai resiko yang minim.
"Ingat ya, gadis yang berbaju putih itu bagianku... Yang satunya lagi, terserah kalian saja..." ucapku.
Esoknya
Kami menunggu kabar dari sang penculik agar kami bisa menemui Danny-kun. Si penculik itu memberitahukan dimana lokasi peletakan uang 50 juta yen tersebut. Hinada langsung meletakkan koper tersebut dan pergi sesuai instruksi dari penculik.
Setelah itu, kami bertiga bersembunyi ditempat yang tidak terlihat oleh penculik. Tak lama berselang, muncul seorang gadis yang kulihat di smartphone Hinada kemarin yang memakai pakaian warna putih.
"Itu dia...." gumamku.
Setelah gadis itu melirik kiri dan kanan, ia membawa koper tersebut dan pergi. Aku pun juga mengikutinya secara diam-diam. Setelah sampai di sebuah gedung yang terbengkalai, aku melihat gadis berpakaian putih itu masuk ke dalam sambil membawa koper yang berisi uang tersebut. Aku pun juga masuk mengikutinya. Mungkin ia menyadari kalau dirinya diikuti, namun karena ia berpikir kalau yang diikutinya hanyalah seorang gadis biasa sepertiku, hanya membuatnya buang-buang waktu. Namun disitulah kesempatanku untuk mencari tahu dimana Danny-kun berada. Dan untungnya sebelum aku kemari, aku sudah menyalakan GPS agar mereka tahu dimana keberadaan Danny-kun melalui aku.
Disini kami tidak pernah berpikir untuk saling bersaing, namun yang kami pikirkan adalah bagaimana caranya agar Danny-kun selamat. Ketika gadis berbaju putih itu memutar ke arah kiri, aku mengikutinya dan entah mengapa gadis berbaju putih itu menghilang dalam sekejap seakan dirinya adalah penyihir. Aku kaget dan mulai melihat ke segala arah, namun tiba-tiba aku dipukul pingsan. Gadis berbaju putih itu membawaku ke sebuah ruangan yang kosong dan ia melemparku dan menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
Gadis berbaju putih itu menungguku untuk bangun dan setelah bangun, gadis itu tersenyum padaku namun tersirat ejekan.
"Ternyata kamu sudah bangun ya?? Dan kamu berani juga ya datang sendiri ke tempat ini..." ucap gadis berpakaian putih itu dengan memuji.
"Dimana Danny-kun?!?!?!" ucapku dengan marah.
"Mengapa kamu ingin tahu dimana pria tampan itu???" tanya gadis berpakaian putih itu.
"Itu bukan urusanmu.... Sekarang katakan dimana Danny-kun?!?!?" ucapku dengan mengancam.
"Hooo... Ternyata si kucing sudah menjadi macan ya?!?!" ucap gadis berpakaian putih itu dengan mengejek.
Tiba-tiba telepon gadis berpakaian putih itu berdering dan dia segera mengangkatnya. Dan dia mengatakan kalau segera membereskan aku.
"Nah, kelihatannya teman-temanmu sudah tertangkap oleh kakak perempuanku... Sekarang, apa yang bisa aku lakukan padamu??? Apakah aku harus menghabisimu juga???" ucap gadis berpakaian putih itu.
Gadis berpakaian putih itu mendekat padaku lalu menendang pipi kananku yang membuatku terkejut dan terjatuh.
"Ternyata kamu lemah sekali ya... Mengapa pria tampan yang bernama Danny-kun itu suka padamu sih??" ucap gadis berpakaian putih itu dengan mengejek.
"Itu bukan urusanmu...." ucapku sambil berusaha berdiri.
"Bammmmm!!!!" Gadis berpakaian putih itu meninju perutku.
"Uhuk!!!!" ucapku ketika perutku ditinju.
"Hahahahahaha.... Dasar lemah...." ucap gadis berpakaian putih itu sambil tertawa.
"Bammmmmm!!!!!" Daguku ditinju.
"SELAMAT TIDUR!!!!!" ucap gadis berpakaian putih itu sambil mengejekku.
Aku terjatuh dengan kepala mengarah ke atas.
"Nah sekarang... Aku bisa bertukar air liur dan membuatnya menaburkan benihnya padaku...." ucap gadis berpakaian putih itu dengan pikiran mesum yang berjalan mengarah ke pintu keluar.
Aku terbangun dan tanpa gadis berpakaian putih itu sadari tiba-tiba aku menepuk pundaknya dan dia terkejut lalu hendak meninjuku sekali lagi, namun aku berhasil menangkap tinjunya.
"Bammmmmm!!!!!!!" Aku meninju hidungnya.
"Hei, itu sa...." ucap gadis berpakaian putih itu.
"Bammmmmmm!!!!!" Aku meninju mata kanannya.
"Maaf... Aku tidak bisa mendengar kalimat terakhirmu..." ucapku sambil tersenyum kedut.
"Apa katamu tadi?!?!? Bertukar air liur?!?!? Menaburkan benih Danny-kun padamu?!?!?" lanjutku sambil menatap dingin gadis berpakaian putih itu.
"Bammmmm!!!!!" Aku meninju mata kirinya.
"Bammmmmm!!!!!" Aku meninjunya lagi.
"Bammmm!!!! Bammmmm!!!!! Bammmmmm!!!! Bammmmmmm!!!!" Aku meninjunya lagi dan lagi.
Setelah aku melihatnya berdiri namun tidak berdaya lagi, aku melakukan uppercut ke dagunya.
"MATILAH!!!!!!!" ucapku dengan tersenyum.
"Bammmmmmmmmmm!!!!!!!!!!!" Aku meninju dagunya dengan kuat.
Setelah gadis berpakaian putih itu jatuh pingsan, aku segera keluar dari ruangan itu dan aku mulai mencari Danny-kun. Aku mencari Danny-kun ruangan demi ruangan dengan seksama. Dan akhirnya aku menemukan Danny-kun di ruangan paling ujung dan aku langsung melepaskan ikatannya dan aku langsung memeluknya sambil menangis tersedu-sedu.
"Mei??? Wajahmu kenapa???" tanya Danny-kun setelah melihat wajahku terluka.
"Biasa... Urusan wanita...." jawabku dengan tersenyum sambil menghapus air mataku.
"Setelah pulang dari sini aku obati dulu ya lukamu..." ucap Danny-kun sambil khawatir.
Aku mengangguk sekali.
Kami berdua pun keluar secara perlahan-lahan dikarenakan perutku masih sedikit sakit karena dipukul oleh gadis berpakaian putih itu.
Kami hampir tiba di pintu keluar, namun gadis berpakaian putih itu menusuk jantung Danny-kun dengan pisau sehingga membuat Danny-kun kaget dan terjatuh pingsan. Melihat itu, aku langsung kalap sehingga aku menarik rambut gadis berpakaian putih itu dan meninju mata kirinya bertubi-tubi. Namun tak lama kemudian, Hatsuki menghentikan tanganku.
"Sudah cukup, Kanaya-san...." ucap Hatsuki menenangkanku.
"Danny-kun... Danny-kun..." ucapku sambil menangis.
"Da-kun tak apa kok... Dia cuma pingsan... Dan lagipula sepertinya dia selamat..." ucap Hinada sambil sebuah kotak dari balik saku Danny-kun.
Aku melihat ke arah jantung Danny-kun yang ternyata tidak keluar darah sama sekali.
Aku segera mendekati Danny-kun dan memeluknya.
"Kelihatannya, kotak ini menyelamatkanku...." ucap Danny-kun.
"Ngomong-ngomong, kotak apa ini Danny senpai???" tanya Nozomi.
"Itu kotak yang diberikan oleh penjaga toko yang ku datangi kemarin. Karena dia berterima kasih kepadaku karena membantu anaknya belajar..." jawab Danny-kun sambil berusaha untuk duduk dibantu olehku.
"Untunglah.....untunglah....." ucapku sambil menangis.
Danny-kun mengusap rambutku.
"Kalau kotak ini hanya kotak kosong, untuk apa kamu masih menyimpannya, Da-kun???" tanya Hinada.
"Aku harap kalian tidak tertawa ya..." jawab Danny-kun.
Mereka bertiga mengangguk.
"Sebenarnya aku masih menyimpan kotak itu untuk aku letakkan cincin nantinya..." ucap Danny-kun sambil menggaruk pipinya dengan pelan.
Mereka bertiga tampak bingung termasuk aku.
"Apa maksudnya Danny-san?? Aku tidak mengerti sama sekali..." tanya Hatsuki.
"Kalian semua tahu kan kalau aku dan Mei bertunangan???" jawab Danny-kun.
Mereka bertiga mengangguk.
"Nah, aku ingin membuktikannya kalau pertunangan kami ini tidak direkayasa..." lanjut Danny-kun.
Aku memukul dada Danny-kun.
"Danny-kun no baka...." ucapku.
"Maaf ya Mei.. aku juga minta maaf untuk kalian bertiga yang sudah berusaha untuk menyelamatkan aku..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.
Aku menatap wajah Danny-kun.
"Aku tidak butuh cincin... Yang kubutuhkan hanya kamu saja, Danny-kun... Kamu tahu seberapa khawatirnya aku saat kamu diculik kemarin??? Kamu tahu apa hukumannya karena sudah buat aku khawatir??" ucapku dengan panjang lebar.
"Aku terima apapun hukumannya, Mei..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.
Aku mencium bibir Danny-kun dengan lembut.
"He...." ucap Hinada.
Hatsuki menepuk pundak Hinada kemudian ia menggelengkan kepalanya dengan maksud agar tidak menggangu kami berdua sementara ini saja.
Epilog
"Ini sudah 5 menit loh... Kok ciuman mereka belum selesai???" tanya Hinada.
Hinada lalu menepuk pundakku. Kemudian aku menyerahkan secarik kertas kepada Hinada yang bertuliskan, "TUNGGU SATU JAM LAGI, JANGAN MENGGANGGU CIUMAN MESRA KAMI YA, RUBAH BETINA!!!!". Membaca kertas tersebut, bukannya menjauh malah Hinada menarikku untuk berhenti dan melepaskan Danny-kun.
"Apaan sih rubah betina!?!?!?! Menggangu saja?!?!?!" ucapku kesal.
"Ini sudah berlebihan tahu... Kalian boleh saling berciuman lama kalau kalian sudah menikah..." ucap Hinada.
"Anggap saja ini adalah latihan..." ucapku dengan bangga.
"Latihan apaan?!?!?!" ucap Hinada dengan kesal.
Aku dan Hinada adu mulut.
"Danny senpaaaiiiii... Cium bibir aku juga dong...." teriak Nozomi sambil meluncur ke arah Danny-kun.
Mendengar hal itu, aku dan Hinada meninju pipi Nozomi dari depan dan Nozomi melayang ke belakang dan terjatuh. Danny-kun dan Hatsuki menjadi sweatdrop.
"Terimakasih, Hatsuki-san... Sudah menolongku..." ucap Danny-kun sambil tersenyum ke arah Hatsuki.
"Iya sama-sama... Lagipula kamu ini juga penting bagiku..." balas Hatsuki sambil tersenyum.
"Hatsuki-san...!?!?!" ucapku dan Hinada serentak.
"Bisakah kamu berhenti menggoda Danny-kun?!?!?!" ucapku dengan kesal.
"Ya ampun... Kanaya-san... Apakah tidak boleh aku menyukai Danny-san???" tanya Hatsuki.
"TIDAK!?!?!?!" jawabku dengan kesal.
CHAPTER 33 - Danny-kun Been Kidnapped
End