
Hari ini adalah pertandingan tinju penting bagiku. Karena pemenang kali ini akan mendapat gelar gadis terimut di seluruh kota. Namun aku tak menginginkannya dikarenakan aku hanya ingin menjadi gadis terimut di mata Danny-kun. Ketika aku sedang berlatih memukul samsak, Danny-kun mendapatkan sebuah surat dari seseorang. Aku melihatnya membuka surat tersebut, lalu aku melihat Danny-kun keheranan.
"Surat dari siapa, Danny-kun???" tanyaku.
"Surat dari seseorang yang bernama Silvie..." jawab Danny-kun.
"Apakah dia itu seorang perempuan??" tanyaku lagi.
"Aku tidak tahu... Karena yang namanya Silvie itu bisa laki-laki, bisa pula perempuan..." jawab Danny-kun.
"Apa isinya??" tanyaku lagi.
"Ajakan untuk minum teh..." jawab Danny-kun.
"Coba aku lihat..." ucapku.
Danny-kun menyerahkan surat tersebut padaku, lalu aku membacanya.
"Danny-kun, lebih baik kamu tolak saja undangan ini..." ucapku.
"Memangnya kenapa??" tanya Danny-kun.
"Karena orang yang mengirimkan surat ini bukan orang yang baik-baik..." jawabku.
Danny-kun terdiam sebentar, lalu ia pun berkata.
"Benar juga katamu, Mei... Kalau ia orang yang bernama Silvie ini ingin mengajakku, dia harus datang kepadaku..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.
Aku tersenyum mendengarnya.
"Danny-kun, surat ini aku simpan saja ya..." ucapku sambil tersenyum.
Danny-kun mengangguk.
Aku pun segera menyimpan surat tersebut di lokerku dan melanjutkan latihanku memukul samsak. Setelah sore, kami berdua pun pulang ke rumah masing-masing. Namun sebelum aku pulang, aku mengikuti Danny-kun hingga ia dengan aman sampai ke rumahnya. Namun di tengah jalan, ada 2 orang maid yang menghampiri Danny-kun sehingga membuatku berlari menghampiri Danny-kun.
"Ada perlu apa kalian menghampiri Danny-kun??" tanyaku sambil mengancam.
"Kami kemari hanya untuk mengantar pria ini ke nyonya kami..." jawab salah satu maid.
"Siapa nama majikan kalian??" tanya Danny-kun dengan ramah.
"Namanya Nyonya Silvie..." jawab maid yang satunya lagi.
"Kalau begitu, aku ikut..." ucapku.
Aku dan Danny-kun pergi bersama kedua maid suruhan orang yang bernama Silvie. Karena aku tidak mau terjadi apa-apa dengan Danny-kun dikarenakan aku tidak tahu seperti apa seseorang yang bernama Sora ini. Terlebih lagi, aku juga ingin tahu apakah seseorang yang bernama Silvie ini laki-laki atau perempuan. Tibalah kami di sebuah kafe pribadi dekat stasiun kereta api bawah tanah. Aku takjub melihat isi kafe tersebut, namun aku tidak pernah memasukinya dikarenakan uangku tidak cukup untuk makan disini. Kedua maid tersebut, membawa kami berdua masuk ke ruangan khusus dimana ada seseorang yang bernama Silvie disana. Setelah sampai di sebuah ruangan, aku melihat seorang gadis disana. Gadis itu panjang rambutnya sebahu, tubuhnya ramping, matanya juga sayu sepertiku, dan yang paling aku tidak suka, dadanya lebih besar dariku. Gadis itu mempersilahkan kami berdua masuk dan duduk didepannya.
"Perkenalkan, namaku Silvie... Salam kenal..." ucap gadis itu menyambut kami berdua.
"Apa yang membuatmu mengundangku kesini??" tanya Danny-kun.
"Aku akan langsung ke intinya saja... Bisakah kamu meninggalkan tempat gym murahan itu sekarang??" ucap Silvie sambil tersenyum.
"Apa maksud perkataanmu itu??" tanyaku sambil tersenyum.
"Siapa kamu??" tanya Silvie sambil tersenyum padaku.
"Aku ini pacarnya..." jawabku sambil tersenyum.
"Ada urusan apa denganku??" tanya Silvie sambil tersenyum.
"Tidak ada... Aku hanya menemani pacarku saja..." jawabku sambil tersenyum pula.
"Tenanglah Mei..." ucap Danny-kun.
Kekesalanku pun mereda lalu aku duduk kembali di sebelah Danny-kun.
"Aku rasa, dia orangnya..." gumam Silvie.
"Baiklah kalau begitu, aku tidak jadi menyuruhmu untuk keluar dari gym itu... Akan tetapi.." ucap Silvie sambil tersenyum.
Silvie memegang tangan Danny-kun.
"Aku ingin menjadikanmu suamiku..." ucap Silvie sambil tersenyum.
"APAAAAAAAAAAA!!!!" teriakku.
"A... Apa maksudnya itu Silvie-san?? Aku tidak mengerti apa maksudmu..." ucap Danny-kun.
"Bukankah sudah jelas kukatakan, kalau aku ingin menjadikanmu suamiku... Kalau begitu, segera putuskan gadis kampung ini..." ucap Silvie sambil tersenyum.
Akibat kemarahanku memuncak, aku menarik kerah baju Silvie sehingga menimbulkan keributan. Untung saja Danny-kun menenangkanku dan akhirnya aku duduk kembali.
"Maaf Silvie-san... Aku tidak bisa menerima permintaanmu itu..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.
Karena Silvie tidak berhasil mempengaruhi Danny-kun, Silvie menatapku dengan mata sayunya.
"Jadi seperti ini tipe gadis yang kamu sukai?? Tapi bukankah aku jauh lebih baik darinya..." ucap Silvie.
Lalu Silvie melihat dadaku.
"Bukankah punyaku jauh lebih baik.." ucap Silvie sambil tersenyum mengejekku.
"Apa iya??" balasku sambil tersenyum kedut.
Kami pun bertatapan dengan tersenyum sambil mengalirkan listrik.
"Danny-kun, ayo kita pulang... Aku sudah tidak tahan untuk menghajar gadis yang tidak tahu malu ini..." ucapku sambil tersenyum ke arah Silvie.
"Kenapa tidak kamu sendiri saja yang pulang?? Biarkan saja dia disini lebih lama..." ucap Silvie sambil tersenyum ke arahku.
"Tidak bisa... Karena Danny-kun butuh istirahat karena sudah lelah menemaniku latihan..." ucapku sambil tersenyum.
Akhirnya Silvie mengizinkan aku dan Danny-kun pulang. Setelah kami berdua pulang, Silvie mengobrol dengan salah satu maidnya.
"Apakah kamu sudah mendapatkan datanya??" tanya Silvie.
"Sudah Nyonya Silvie... Lawanmu adalah gadis yang anda temui tadi..." jawab maid itu.
"Bagaimana kalau peraturannya kita ubah sedikit agar lebih menarik??" tanya Silvie sambil tersenyum.
"Siap, Nyonya Silvie.." jawab maid itu.
Hari pertandingan tinju pun tiba, di lokerku terdapat sebuah bikini yang berwarna biru muda.
"Danny-kun, apa maksudnya ini??" tanyaku heran.
"Aku tidak tahu..." jawab Danny-kun sambil keheranan pula.
Lalu tak lama kemudian, Silvie masuk ke ruangan lokerku dengan memakai bikini berwarna merah.
"Sepertinya kamu tidak ingin terlihat gemuk ya??" tanya Silvie sambil tersenyum mengejek.
Aku pun langsung menoleh ke arahnya dengan tatapan kesal.
"Apa maksudnya memakai bikini??? Aku tidak suka..." jawabku dengan kesal.
"Kalau kamu tidak memakainya, kamu akan didiskualifikasi..." ucap Silvie sambil tersenyum.
"Hei... Sejak kapan peraturannya diubah..." ucapku yang masih kesal.
"Aku sendiri yang mengubahnya..." ucap Silvie sambil tersenyum.
Aku pun semakin bertambah geram padanya sehingga membuatku cepat-cepat ingin meninjunya.
"Aku tunggu di ring ya..." ucap Silvie sambil tertawa.
Silvie pun pergi.
"Danny-kun, bagaimana ini???" tanyaku sambil khawatir.
"Tidak apa... Lagipula, bukankah dia sendiri yang mengubah peraturannya... Dan lagipula, mungkin dia hanya ingin membuat pertandingan ini menarik..." jawab Danny-kun.
"Maaf ya Danny-kun kalau punyaku lebih kecil darinya..." ucapku dengan nada sedih.
"Tidak apa-apa kok... Lagipula, itu bukan salah kita..." ucap Danny-kun sambil tersenyum sambil mengusap rambutku.
Aku pun menjadi tenang. Dan aku segera memakai bikini tersebut serta sarung tinju berwarna biru, lalu aku segera menuju ke ring.
"Disudut biru, dengan tinggi badan 158 cm, ukuran 84, 59, 86, berat badan 50 kg... Kanaya Meissa...." ucap sang MC tinju.
"Mengapa detail sekali ukurannya... Dan apa-apaan berat badan itu..." gumamku dengan kesal sambil masuk ke dalam ring yang ternyata lantai ring tersebut permukaannya berpasir.
"Disudut merah, dengan tinggi badan 158 cm, ukuran 90, 57, 83, berat badan 48 kg... Silvie Madelline..." ucap MC tinju.
"Silvie Madelline.." ucap Danny-kun kaget.
"Apa kamu kenal dia, Danny-kun??" tanyaku.
"Dia itu seorang idol yang sedang digandrungi anak remaja sekarang... Tapi aku tidak tahu kalau dia bisa bertinju.." jawab Danny-kun.
Dan disitu, ada pula penonton yang bertaruh untuk kami berdua, walaupun lebih banyak yang bertaruh untuk Silvie. Silvie pun juga masuk ke dalam ring sambil tersenyum kepada semua penonton termasuk ke arah Danny-kun. Wasit pun menyuruh kami ke tengah ring untuk memberitahukan peraturannya kepada kami berdua, lalu setelah selesai kami berdua pun kembali ke sudut ring. Dan bel ronde pertama pun dimulai. Aku dan Silvie ke tengah ring, kami saling bertukar pukulan yang mengenai wajah dan perut kami. Dan sebagian ada yang kami hindari ataupun kami tangkis. Setelah ronde pertama berakhir, kami ke sudut ring untuk beristirahat. Wajahku dan wajahnya banyak bekas pukulan namun bekas pukulannya di wajahku lebih banyak. Bel tanda ronde kedua pun dibunyikan, kami berdua kembali ke tengah ring. Seperti ronde pertama, kami pun saling melancarkan pukulan. Namun di tengah ronde kedua, aku terkena pukulan telak mengenai mata kiriku lalu Silvie meninju wajahku bertubi-tubi dan diakhiri dengan uppercut ke mata kiriku yang membengkak, sehingga aku pun terjatuh dan wasit pun mulai menghitungnya.
"Satu..." ucap wasit.
"Dua..." ucap wasit lagi.
"Tiga..." ucap wasit lagi.
"Empat..." ucap wasit lagi.
"Lima..." ucap wasit lagi.
"Enam..." ucap wasit lagi.
"Tujuh..." ucap wasit lagi.
"Delapan..." ucap wasit lagi.
"Sembilan..." ucap wasit lagi.
Aku pun bangkit dan ronde kedua pun berakhir. Danny-kun memeriksa mataku yang bengkak akibat pukulan dari Silvie, namun Danny-kun menganggap bahwasanya aku masih bisa bertanding. Aku mengatur ulang nafasku yang tersengal-sengal karena ditinju oleh Silvie bertubi-tubi. Dan ronde ketiga pun dimulai.
Di ronde ini, seperti halnya di ronde pertama dan kedua, namun aku terkena lebih banyak pukulan sehingga membuat wajah dan perutku sakit. Namun aku teringat bahwasanya aku tidak boleh kalah dikarenakan jika aku kalah, maka aku tidak bisa melihat Danny-kun lagi untuk selamanya. Lalu aku pun juga melancarkan serangan dan berhasil mengenainya. Dan pada saat Silvie melancarkan serangan langsung ke arah wajahku seperti ronde kedua, aku berhasil menghindarinya lalu aku melancarkan uppercut ke dagunya disusul dengan jab ke mata kirinya lalu hook ke pipi kanannya sehingga membuatnya berkunang-kunang lalu terjatuh dengan telentang dan mouthpiece nya terlepas. Wasit pun mulai menghitung.
"Satu..." ucap wasit.
"Dua..." ucap wasit lagi.
"Tiga..." ucap wasit lagi.
"Empat..." ucap wasit lagi.
"Lima..." ucap wasit lagi.
"Enam..." ucap wasit lagi.
"Tujuh..." ucap wasit lagi.
"Delapan..." ucap wasit lagi.
"Sembilan..." ucap wasit lagi.
"Sepuluh..." ucap wasit lagi.
Bel tanda pertandingan berakhir pun dibunyikan. Aku melakukan pose kemenanganku sambil meletakkan kaki kiriku di perutnya. Dan para penonton melempar tomat ke arah Silvie dikarenakan mereka kalah taruhan.
Epilog
Sebulan setelah pertandingan itu, aku berlatih seperti biasa bersama Danny-kun di gym. Namun disaat aku memukul samsak, tiba-tiba Silvie datang memeluk Danny-kun dari belakang.
"Hei.... Apa yang kamu lakukan..." ucapku dengan kesal memakai nada tinggi.
"Bagaimana rasanya semangka dariku???" tanya Silvie sambil menempelkan dadanya ke punggung Danny-kun.
"Hentikan itu Silvie-san... Aku merasa tidak nyaman..." jawab Danny-kun dengan gugup.
Karena aku kesal Silvie ada disini, aku pun melemparkan sepasang sarung tinju ke wajah Silvie untuk menantangnya. Dan Silvie pun mengambilnya dan memakainya, lalu kami berdua naik ke atas ring di gym untuk bertarung.
CHAPTER 70 - LOSER WILD DREAM
End