
Hari ini aku sedang membuat pangsit ayam untuk makan siang. Aku membuatnya sambil memikirkan Danny-kun ketika memakannya. Aku membuat pangsit ayam tersebut dengan hati-hati agar tidak ada yang berantakan. Setelah selesai membuatnya, aku pun meletakkannya di atas meja bersama dengan semangkuk nasi putih.
"Itadakimasu...." ucapku.
Aku pun memakan pangsit ayam tersebut sambil menghayati kalau Danny-kun ada disebelahku sambil memakan pangsit ayam buatanku. Lalu tiba-tiba terdengar suara pesan masuk dari smartphone yang kuletakkan didekat mangkukku yang ternyata pesan tersebut dari MINE Danny-kun. Aku pun membukanya dan membacanya, lalu tiba-tiba aku terkejut karena Danny-kun kecelakaan ditabrak oleh mobil saat Danny-kun hendak pulang ke apartemennya. Sumpit yang kupegang pun terjatuh dan sontak aku langsung meminta alamat rumah sakit tempat Danny-kun dirawat. Setelah pemberitahuan dari MINE tersebut, aku pun langsung berangkat menuju rumah sakit dan pangsit ayam yang kubuat tadi, aku simpan di dalam kulkas agar bisa ku makan kembali nanti setelah Danny-kun dinyatakan bisa pulang. Aku pun tanpa berganti pakaian, langsung menuju rumah sakit tersebut dan aku melihat disana ada editor Danny-kun, tetangga Danny-kun yang bernama Megumi-san, lalu tentu saja ada 4 gadis hama, Grace, Shimizu, Karasu, dan Suiji yang merupakan teman sekelas Danny-kun.
"Bagaimana keadaan Danny-kun???" tanyaku dengan khawatir.
"Sekarang sedang ditangani oleh dokter..." jawab Suiji.
Aku pun duduk di ruang tunggu.
"Bagaimana ini bisa terjadi???" tanyaku.
Editor Danny-kun menceritakannya padaku apa yang terjadi kepada Danny-kun. Dan betapa terkejutnya aku bahwa yang menyebabkan Danny-kun kecelakaan adalah kendaraan yang dinaiki oleh Hinada. Sontak aku langsung melabraknya dan mencekiknya.
"Kalau kamu ingin mencari masalah denganku, datang padaku... Bukan membuat Danny-kun kecelakaan!!!" ucapku dengan marah sambil mencekik Hinada.
"Ma....maafkan aku..." ucap Hinada dengan lirih.
"Apa kamu bilang?? Maaf... Segitu mudahnya kamu minta maaf..." ucapku sambil menguatkan cekikanku.
Orang-orang yang ada disana meleraiku dan aku pun melepaskan cekikanku dan Hinada pun batuk-batuk.
"Kalau terjadi sesuatu kepada Danny-kun lebih dari ini, aku akan membunuhmu..." ucapku dengan nada mengancam Hinada.
Aku pun kembali duduk di ruang tunggu hingga kemarahanku mereda. Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain agar aku tidak melihat wajah Hinada dikarenakan apabila aku melihat wajahnya, kemarahanku akan muncul kembali. Aku duduk sambil berdoa agar Danny-kun tidak apa-apa. Selama satu jam kami menunggu, dan akhirnya dokter yang menangani Danny-kun selesai pemeriksaan. Dokter tersebut mengatakan bahwasanya Danny-kun tidak ada yang terluka parah, hanya keserempet saja. Aku pun merasa lega, namun dokter tersebut mengatakan agar Danny-kun dibiarkan beristirahat dan bisa dikunjungi kembali esok hari. Dan kami semua pulang ke rumah masing-masing.
Sesampainya di rumah, aku teringat pangsit ayam yang kubuat tadi siang. Dan aku mengeluarkannya dari kulkas lalu aku menghangatkannya kembali untuk dimakan malam ini.
"Rubah betina sialan... Kalau kamu mau mencari masalah denganku, jangan kamu mencelakakan Danny-kun..." gumamku lagi.
Namun sedikit demi sedikit, pangsit ayam yang kubuat habis dan bersih. Setelah selesai makan malam, aku pun mandi lalu tidur. Esoknya aku bersiap untuk mengunjungi Danny-kun di rumah sakit. Sesampainya di lobi rumah sakit, aku segera menuju ke kamar dimana Danny-kun dirawat. Disana aku melihat Hinada sedang duduk didekat tempat tidur Danny-kun sebelah kiri. Aku pun langsung duduk didekat tempat tidur Danny-kun di sebelah kanan sambil menatap Hinada dengan tatapan tidak suka. Hinada mengacuhkannya sehingga membuatku semakin marah. Lalu aku segera menariknya keluar kamar dan membiarkannya diluar saja agar dia langsung pulang saja dan disamping itu pula, dia hanya mengganggu kemesraanku dengan Danny-kun. Aku kembali duduk di sebelah kanan tempat tidur Danny-kun lalu membelai rambutnya dengan lembut. Lalu aku duduk bersandar ke tempat tidur agar bisa menjaga Danny-kun dari dekat. Namun saat siang hari, saat pemeriksaan Danny-kun yang selanjutnya, aku duduk di lorong depan kamar Danny-kun dan menunggu disana dengan duduk manis. Lalu tak lama kemudian, teman-teman Danny-kun datang, lalu editor Danny-kun datang, ketiga gadis hama pun datang minus Hinada karena Hinada sudah kusuruh pulang. Mereka bertanya padaku bagaimana keadaan Danny-kun hari ini, aku menjawab bahwa dokter sedang memeriksa keadaan Danny-kun.
Setelah dokter selesai memeriksa keadaan Danny-kun, aku bertanya padanya bagaimana keadaan Danny-kun. Dokter tersebut menjawab bahwa Danny-kun sudah sadar sehingga membuatku senang bukan main. Dan yang membuatku lebih menggembirakan lagi adalah bahwasanya besok Danny-kun sudah bisa pulang. Setelah dokter tersebut selesai memberikan jawabannya, kami pun masuk kembali ke kamar Danny-kun. Aku duduk di sebelah Danny-kun sambil memegang pergelangan tangannya dan mengeluarkan air mata bahagia. Danny-kun lalu mengusap rambutku dengan maksud mengatakan bahwa ia tidak apa-apa. Ia juga tersenyum melihat orang-orang di sekitarnya masih menyayanginya dan ia tersenyum bahagia.
Saat siang, Danny-kun ingin makan. Namun karena dirinya belum boleh banyak bergerak, aku dan ketiga gadis hama mengambil kesempatan ini untuk menyuapi Danny-kun. Kami berempat saling sikut menyikut dikarenakan tidak ada yang mau mengalah. Danny-kun tersenyum melihat tingkah laku kami, namun senyuman Danny-kun bukanlah senyum karena tingkah kami yang lucu, namun Danny-kun tersenyum dengan maksud agar kami berhenti berkelahi. Dan akhirnya yang menyuapi Danny-kun adalah Hinada sehingga membuat kami berempat ingin meninjunya 100x. Disamping itu, Hinada terus-menerus meminta maaf kepada Danny-kun dan Danny-kun memaafkannya lalu ia memeluk Danny-kun sehingga membuat kami berempat menariknya agar tidak memeluk Danny-kun terlalu lama.
Esoknya setelah Danny-kun diperbolehkan pulang, aku dan editor Danny-kun mengantarnya pulang setelah membayar biaya administrasi di rumah sakit tersebut. Setelah tiba di apartemen Danny-kun, aku segera membuatkan makan siang untuknya.
"Maaf merepotkanmu, Mei..." ucap Danny-kun.
"Tidak apa-apa kok, Danny-kun... Sudah tugas seorang istri untuk menyiapkan makanan untuk suaminya..." ucapku sambil tersenyum manis.
Danny-kun tersipu malu mendengarnya. Aku membuat pangsit ayam dengan kuah kari. Setelah selesai, aku menghidangkannya di meja lalu kami makan bersama-sama.
"Apa Danny-kun mau aku suapi??" tanyaku sambil tersenyum.
"Tidak usah... Aku bisa makan sendiri kok... Karena kamu menyajikannya dengan sendok, bukan dengan sumpit..." jawab Danny-kun sambil tersenyum pula.
"Mungkin kalau kamu menyajikannya dengan sumpit, aku bisa meminta bantuanmu..." lanjut Danny-kun.
Aku pun telah membuang kesempatanku untuk menyuapi Danny-kun. Namun aku tetap senang membuat makan siang untuknya, dan terlebih lagi Danny-kun mengatakan kalau masakanku enak.
CHAPTER 69 - DANNY-KUN IN THE HOSPITAL
End