Kanaya Meissa (Ultimate Kagura Dancer) ~Eternal Love~

Kanaya Meissa (Ultimate Kagura Dancer) ~Eternal Love~
CHAPTER 37 - BELAJAR BERSAMA



Saat masih SMP tahun kedua, aku dan Danny-kun pernah belajar bersama.


"Danny-kun.. soal ini bagaimana cara menyelesaikannya??" tanyaku mengenai soal Matematika.


"Soal ini?? Kamu harus selesaikan persamaan ini dengan cara nilai x yang ditambah dan nilai konstanta yang dikalikan.." jawab Danny-kun.


Danny-kun begitu dekat denganku sehingga membuat wajahku memerah.


"Ada apa Mei?? Apa kamu sakit???" tanya Danny-kun.


Danny-kun meletakkan telapak tangannya di keningku.


*blush* aku tersipu malu.


"Tidak sakit kok.. tapi kenapa wajahmu memerah???" tanya Danny-kun lagi dengan polosnya.


"Apa kita istirahat dulu saja???" Tanya Danny-kun lagi setelah melepaskan telapak tangannya dari keningku.


"Kelihatannya begitu..." jawabku dengan pelan dengan wajah yang masih memerah.


"Oya Mei, tadi aku lihat ada kue di toko sebelah supermarket, rasanya enak.. bahkan tadi sore aku membelinya..." ucap Danny-kun.


"Bukankah banyak kue sekarang ini harganya mahal???" tanyaku.


"Tidak, kue yang kubeli ini harganya terjangkau.. dan juga setidaknya kita pernah makan kue ini satu kali..." jawab Danny-kun.


"Mana kuenya?? Aku mau coba..." ucapku.


"Tunggu sebentar ya..." ucap Danny-kun.


Danny-kun segera mengambil sekotak kue tersebut. Dan ia pun segera membuka kotak tersebut.


"Kelihatannya enak..." ucapku dengan mata sampai berbinar-binar.


"Ayo kita makan kuenya..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.


Aku mengangguk.


Kami memakan kue itu bersama. Aku begitu menikmati kue tersebut dengan senyum yang paling manis.


"Bagaimana rasa kuenya Mei??? Enak???" tanya Danny-kun.


"Enak sekali... Kue ini termasuk kue yang paling enak yang pernah aku makan..." jawabku dengan perasaan senang.


Kami menghabiskan kue tersebut bersama-sama sambil mengobrol dan tak lupa pula dengan secangkir teh hangat.


"Oya Danny-kun, apa ada gadis yang kamu suka???" tanyaku.


Tanpa sengaja Danny-kun menyemburkan tehnya dari mulutnya.


"Danny-kuuunnn..." ucapku dengan merajuk.


"Maaf...maaf Mei, aku tidak sengaja..." ucap Danny-kun sambil membersihkan wajahku dengan tisu.


"Mengapa kamu bertanya begitu??" tanya Danny-kun lagi.


"Karena aku ingin tahu saja..." jawabku dengan datar namun penasaran.


"Gadis yang kusukai ya??? Kelihatannya belum ada..." jawab Danny-kun.


"Namun kalau ada.." lanjut Danny-kun.


Aku memperhatikan dengan seksama.


"Mungkin, Kaori senpai..." ucap Danny-kun.


"Heeeee...." ucapku dengan merajuk.


Aku segera merapikan bukuku dan kembali ke kamarku tanpa sepatah katapun.


"Dia kenapa sih???" gumam Danny-kun.


Dikamarku, aku langsung merebahkan tubuhku dan mengeluh.


"Kelihatannya, Danny-kun suka dengan gadis yang lebih tua..." ucapku dengan mengeluh.


Tiba-tiba Danny-kun mengetuk pintu.


"Mei, apa kamu didalam???" tanya Danny-kun.


Aku hanya diam saja.


"Mei, bolehkah aku memberitahumu sesuatu??" tanya Danny-kun lagi.


Aku masih diam saja.


"Kalau kamu merasa kalau aku suka dengan Kaori senpai, kamu sudah salah paham... Karena Kaori senpai itu sudah punya kekasih..." ucap Danny-kun.


"Aku tak percaya..." jawabku.


"Kalau kamu tak percaya, tak apa.. namun, aku suka kepada Kaori senpai hanya sebatas mengagumi saja, tidak lebih dari itu..." lanjut Danny-kun.


"Benarkah??" tanyaku.


"Benar.. lagipula Kaori senpai dan aku hanya sebatas teman sesama klub saja..." jawab Danny-kun.


Aku pun membuka pintu, namun dengan wajah yang masih sedikit sedih.


"Jangan bersedih begitu, Mei.. bagaimana kalau kita lanjutkan belajar kita???" saran Danny-kun.


Aku mengangguk.


Aku dan Danny-kun mulai belajar bersama kembali setelah kami beristirahat. Namun terdengar suara bel berbunyi, aku pun segera membuka pintu. Dan aku melihat Hatsuki di depan pintu, sehingga aku tidak jadi membukanya. Kemudian aku kembali lagi belajar bersama Danny-kun.


"Siapa yang datang, Mei???" tanya Danny-kun.


"Tidak ada... Hanya tamu yang datang ke rumah tetangga..." jawabku.


Namun suara bel itu terdengar lagi.


"Kalau bel tersebut untuk pintu rumah tetangga, mengapa terdengar bel tersebut sama seperti bel rumah kita???" tanya Danny-kun.


"Guh..." gumamku.


Danny-kun bangkit untuk melihat apakah benar bel tersebut untuk tetangga atau rumahku. Aku menahan Danny-kun agar tidak membuka pintu karena aku tidak mau Hatsuki masuk ke rumahku. Berbagai alasan aku katakan agar Danny-kun tidak membuka pintu. Namun Danny-kun berhasil menemukan alasannya, yaitu ingin membeli cemilan di konbini. Lalu aku mengizinkan dengan catatan membeli keripik kentang dan stik ikan. Lalu Danny-kun keluar dan aku teringat kalau Hatsuki belum pulang, aku segera mengejar Danny-kun sebelum ia membuka pintu gerbang.


"Danny-kun tu..." ucapku.


"Owh, ada surat untukku??" tanya Danny-kun.


"Silahkan tanda tangan disini..." jawab tukang pos.


Danny-kun menandatangani penerimaan itu dan tak lupa pula Danny-kun mengucapkan terimakasih kepada tukang pos tersebut, kemudian tukang pos tersebut pergi. Mungkin aku khawatir kalau Danny-kun bertemu dengan Hatsuki, namun setelah itu Danny-kun segera pergi ke konbini.


Aku menunggu selama 30 menit dan Danny-kun belum kembali juga.


"Danny-kun kok lama sekali ke konbini.. bukankah tempatnya tidak begitu jauh??" gumamku.


"Aku pulang...." ucap Danny-kun.


"Selamat datang..." jawabku.


"Permisi..." ucap Hatsuki sambil tersenyum.


"Guh..." ucapku terkejut.


Aku langsung memasang wajah cemberut.


"Silahkan masuk, Hatsuki-san..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.


"Terimakasih, Danny-san..." jawab Hatsuki.


Hatsuki meletakkan sandalnya dan masuk, ia melihat ke arahku lalu tersenyum seakan menyiratkan "Aku Menang" padaku. Danny-kun dan Hatsuki meletakkan belanjaan dari konbini di dekat meja tempat aku dan Danny-kun belajar bersama.


"Kamu sedang apa, Danny-san??" tanya Hatsuki.


"Aku sedang belajar bersama Mei..." jawab Danny-kun.


"Apa ada yang sulit materinya??" tanya Hatsuki lagi.


"Ada sih beberapa, namun sebentar lagi selesai..." jawab Danny-kun.


Danny-kun dan Hatsuki duduk bersebelahan, sedangkan aku duduk di sebelah Danny-kun. Aku dan Danny-kun kembali mengerjakan PR sedangkan Hatsuki hanya melihatnya saja.


"Kalau soal yang ini, begini cara menyelesaikannya..." ucap Hatsuki.


"Owh, begitu.. namun bukankah lebih mudah kalau menyelesaikan seperti ini??" jawab Danny-kun.


Danny-kun dan Hatsuki mengerjakan soal tersebut bersama-sama membuat hati ini menjadi panas dan membuat wajahku cemberut setengah mati. Aku semakin duduk mendekati Danny-kun karena aku tak ingin Danny-kun memperhatikan Hatsuki terus-menerus.


"Ada apa Mei?? Kita sudah istirahat kan tadi..." ucap Danny-kun.


"Hari ini sepertinya panas sekali..." ucapku sambil mengipas baju santaiku.


"Bagaimana kalau kamu mandi dulu, Kanaya-san???" saran Hatsuki.


"Agar kamu jauh untuk sementara dari Danny-san..." gumam Hatsuki sambil tersenyum.


"Tadi pagi aku sudah mandi, Hatsuki-san..." jawabku.


"Kamu mau dekat-dekat dengan Danny-kun, bukan?? Tidak akan kubiarkan itu terjadi..." gumamku sambil tersenyum pula.


"Oya Mei, sudah sampai mana PR Matematika yang kamu kerjakan???" tanya Danny-kun.


"Sudah sampai bagian yang ini..." jawabku sambil menunjukkan kepada Danny-kun.


Aku dan Danny-kun semakin dekat sehingga tangan kami bersentuhan.


"Owh, soal yang ini... Kalau yang ini, begini cara menyelesaikannya..." ucap Hatsuki.


Tangan Hatsuki pun juga bersentuhan dengan tangan Danny-kun sambil menjelaskan jawaban padaku.


"Aku tidak akan kalah loh, Kanaya-san..." gumam Hatsuki sambil tersenyum.


"Mengapa kamu tidak pulang saja, Hatsuki-san??? Aku tidak suka kalau kamu mengganggu belajar kami berdua..." gumamku sambil tersenyum pula.


"Hatsuki, ternyata kamu pintar juga mengenai soal Matematika..." puji Danny-kun.


"Biasa saja kok, Danny-san... Asalkan sudah mengerti rumusnya, selanjutnya mudah saja untuk menyelesaikannya..." ucap Hatsuki merendah.


"Dasar kamu buaya, Hatsuki-san..." gumamku sambil cemberut.


"Mengapa kamu cemberut begitu, Mei?? Apakah ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan???" tanya Danny-kun.


"Ada..." jawabku sambil tersenyum.


"Apa itu??" tanya Danny-kun lagi.


"Bisakah orang ini pulang saja???" jawabku sambil menunjuk ke arah Hatsuki dengan tersenyum.


"Mei... Itu tidak baik.. Hatsuki-san membantu kita belajar hari ini.. seharusnya kita bersyukur..." ucap Danny-kun.


"Baiklah kalau begitu, dia boleh tetap disini asalkan dia bisa menjawab soal Matematika yang kubuat..." ucapku.


"Okey.. aku terima tantangan kamu, Kanaya-san..." balas Hatsuki.


Aku membuat soal Matematika yang sangat berat untuk dikerjakan anak SMP agar Danny-kun tahu bahwasanya Hatsuki ternyata tidak terlalu pintar. Tak lama kemudian, aku sudah selesai membuat soalnya.


"Ini soalnya.." ucapku sambil menyerahkan soal Matematika.


"Owh, soal yang ini..." ucap Hatsuki.


"Bagaimana?? Apakah kamu mau menyerah, Hatsuki-san!?" tanyaku dengan tersenyum.


"Bisa kok... Tapi ada syaratnya..." jawab Hatsuki.


"Apa itu?!?" tanyaku lagi sambil tersenyum.


"Kalau aku berhasil, besok kita kencan di taman dekat SD kita dulu ya, Danny-san..." jawab Hatsuki sambil tersenyum.


"Kamu mau aku letakkan kuburanmu dimana, ayam rabun?!?!?" tanyaku dengan tersenyum kedut.


"Mei... Itu tidak baik mengatakan kalau Hatsuki-san seperti itu..." jawab Danny-kun.


"Bagaimana kalau itu aku buat sebagai kuburanmu saja, kucing bucin?!?!?" balas Hatsuki sambil tersenyum.


Tiba-tiba terdengar suara backsound petir yang menyambar dan aliran listrik muncul saat aku dan Hatsuki saling bertatapan.


"Ayo kita selesaikan di luar!!" ucapku sambil tersenyum kedut.


"Ayo!!" ucap Hatsuki sambil tersenyum juga.


Kami berdua meninggalkan ruangan itu dan meninggalkan Danny-kun sendirian. Setelah kami berdua menutup pintu, tiba-tiba Danny-kun mendengar suara kucing lagi berkelahi. Kemudian disusul dengan suara hantaman pintu, lalu terdengar suara "nyaaaaaaaaaaaaaaa". Setelah suara terakhir berakhir, Danny-kun membuka pintu secara perlahan-lahan dan ia mengecek keadaan sekitar. Setelah merasa aman, Danny-kun melihatku pingsan dengan wajah penuh coretan bergaris. Di dahiku tertulis "KUCING BUCIN" dengan huruf besar.


"Mei... Apa kamu tak apa-apa???" tanya Danny-kun sambil menepuk pipiku.


Namun aku belum sadar. Kemudian Danny-kun menggendongku seperti seorang putri dan membawaku ke ruang belajar tadi. Kemudian Danny-kun meletakkan kepalaku di pangkuannya.


Epilog


Tak lama kemudian, aku membuka kedua mataku secara perlahan dan melihat Danny-kun tertidur menungguku bangun.


"Kelihatannya Danny-kun lelah sekali menungguku.." gumamku sambil tersenyum.


Aku segera bangkit dari pingsanku lalu membaringkan Danny-kun pelan-pelan agar ia tidak terbangun lalu aku menyelimutinya dengan selimut. Setelah itu, karena sudah hampir waktunya menyiapkan makan malam, aku pun segera ke dapur. Ketika sampai di wastafel, aku melihat banyak coretan di wajahku.


"Ayam rabun sialan... Awas kamu ya!!!" gumamku.


CHAPTER 37 - BELAJAR BERSAMA


End