Kanaya Meissa (Ultimate Kagura Dancer) ~Eternal Love~

Kanaya Meissa (Ultimate Kagura Dancer) ~Eternal Love~
CHAPTER 10 - Finally I Can Reach Your Hand



Aku terus berlatih untuk menari Kagura yang sudah lama mendarah daging di tubuhku. Tak pernah kuperdulikan ocehan orang-orang di sekitarku karena belum tentu mereka mau melakukannya.


Tapi aku tak memaksakan diriku karena Danny-kun akan marah padaku jika aku memaksakan diri. Karena baginya, yang penting sudah mencoba dan tahun berikutnya adalah kesempatan terakhirku untuk mengikuti ujian masuk atau lewat jalur undangan. Aku berharap hanya bisa lewat jalur undangan dikarenakan aku tak memiliki banyak uang untuk membayar ujian masuk, namun apabila hanya lewat ujian masuk Danny-kun akan membantuku membayar biaya ujian masuknya. Namun aku tersadar kalau ada cara lain untuk mendapatkan undangan tersebut, yaitu dengan film atau video ketika kita melakukan bakat kita. Namun siapa yang mau memfilmkan ketika aku lagi menari? Tidak mungkin Danny-kun yang melakukannya karena dia sudah ada kesibukan, sedangkan Karasu tidak tahu dia berada dimana setelah terakhir kudengar kabar kalau dia juga masuk ke Hope Peak's Academy. Satu-satunya cara adalah dengan meminta tolong pada gadis "itu", namun aku terpaksa memintanya dikarenakan hanya dia yang bisa membantuku.


"Selamat siang, Kanaya-san..." sapa Hatsuki.


"Selamat siang..." jawabku datar.


"Masih dingin seperti biasa ya Kanaya-san... Ada perlu apa nih kamu memanggilku???" tanya Hatsuki.


"Aku minta kamu mendokumentasikan tarianku untuk aku kirim ke Hope Peak's Academy..." jawabku.


"Kenapa kamu mau melakukan itu??? Padahal kan kamu jago menari Kagura..." tanya Hatsuki penasaran.


"Agar aku bisa melanjutkan sekolahku dan bisa bersama Danny-kun juga..." jawabku.


"Memangnya Danny-san sekolah di Hope Peak's Academy??? Wah, sepertinya aku mesti ikut ujian masuk juga..." ucap Hatsuki.


"Ngapain kamu ikutan juga??? Yang ada malah tambah buruk hidupku setiap hari..." ketusku.


"Hahahahahaha... Bercanda kok Kanaya-san... Tapi kalau kamu mau aku membantumu, aku akan membantumu..." ucap Hatsuki tersenyum.


"Terima kasih..." balasku dengan cuek.


"Jadi apa yang harus aku lakukan???" tanya Hatsuki.


Aku pun menjelaskan bagaimana cara mendokumentasikan video yang aku inginkan. Tentu saja sebelumnya aku mencari tahu cara mendokumentasikan sebuah video yang bagus. Dan aku lihat, Hatsuki cepat juga belajar cara mendokumentasikan video. Padahal aku butuh waktu 3 hari untuk belajar cara mendokumentasikan video tersebut. Dan akhirnya selesai juga video tersebut dan akan aku kirimkan video tersebut besok dikarenakan sudah sore.


"Kalau begitu, aku pulang duluan ya Kanaya-san..." ucap Hatsuki tersenyum.


"Iya..." jawabku membalas senyumannya.


"Oya, Kanaya-san... Sampai sekarang aku tetap masih menyukai Danny-san walaupun dia telah menolakku dan aku akan menyampaikan perasaanku ini hingga kamu dan dia berpisah..." ucap Hatsuki.


"Kenapa kamu tidak menyerah saja??? Aku tidak akan pernah berpisah dengan Danny-kun karena hanya dia alasanku untuk terus tersenyum..." jawabku.


"Kalau saja dulu aku duluan yang bertemu dengannya, mungkin saat ini aku sudah berpacaran dengannya..." ucap Hatsuki.


"Dalam mimpimu..." ketusku.


"Kalau kamu putus dengan Danny-san, bilang ya agar aku bisa menggantikan posisi kamu..." goda Hatsuki.


"Kamu mau aku kirim ke rumah sakit???" ucapku sambil tersenyum dengan kepala berkedut.


"Hanya bercanda kok..." jawab Hatsuki.


Hatsuki pun pulang ke rumahnya sambil melambaikan tangannya dan aku pun membalas lambaian tangannya karena dia sudah membantuku dan akhirnya aku pun menutup pintu.


Esok harinya


Aku menunggu jawaban mereka selama hampir setahun penuh dikarenakan bukan hanya aku saja yang ingin masuk ke Hope Peak's Academy tahun depan. Selama hampir setahun penuh aku belum mendapatkan jawaban dari mereka sehingga aku pun menjadi cemas. Hingga pada akhirnya, ada kiriman pos yang datang ke rumahku dan yang mengantar undangan tersebut adalah Danny-kun.


"Selamat pagi, Mei..." sapa Danny-kun sambil tersenyum.


"Selamat pagi, Danny-kun..." balasku dengan sedikit terkejut.


"Mengapa wajahmu seperti itu??? Seperti melihat orang asing saja..." ucap Danny-kun dengan tersenyum.


"Soalnya aku pikir tukang pos yang datang atau pihak sekolah yang datang mengantarkan undangan untuk menjadi siswa di Hope Peak's Academy..." ucapku.


"Pihak sekolah menyuruhku untuk memberikan undangan ini padamu, karena mereka terlalu sibuk dan aku mengenalmu, sekalian saja aku mengirimkan undangannya padamu." lanjut Danny-kun.


Danny-kun pun memberikan undangan tersebut padaku dan aku membuka undangan tersebut dengan jantung yang berdegup kencang. Dag... Dig.. Dug... Begitulah suara jantungku ketika membuka amplop tersebut. Dan akupun melihat isinya yang ternyata adalah bahwa aku di terima di Hope Peak's Academy angkatan 81. Tak terasa akhirnya usahaku tak sia-sia karena ketika aku berusaha keras aku berpikir untuk lulus dan ternyata itu terwujud. Dan aku langsung memeluk Danny-kun dan air mata bahagiaku pun terjatuh.


"Selamat ya, Mei... Akhirnya usaha kamu tak sia-sia..." ucap Danny-kun sambil tersenyum padaku.


Aku mengangguk.


"Akhirnya kita bertiga bisa bersama lagi di bangku SMA..." lanjut Danny-kun.


"Danny-kun, aku masih ingat kata-katamu di cafe waktu itu..." ucapku.


"Oya??? Apa itu???" tanya Danny-kun.


"Kalau Hope Peak's Academy tidak menjanjikan apapun selain diri sendiri..." jawabku.


"Owh begitu, tetapi yang paling penting adalah kita bertiga bisa bersama lagi..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.


Aku mengangguk dan tersenyum.


"Oya Danny-kun, malam ini kamu menginap saja... Soalnya banyak yang ingin aku bicarakan padamu..." ucapku.


"Maaf ya Mei, aku tidak bisa... Mungkin lain kali saja ya... Soalnya banyak sekali penerbit yang ingin mempublikasikan kumpulan puisiku..." jawab Danny-kun sambil tersenyum.


"Yasudah, tak apa... Yang penting kamu sudah mau mampir saja aku sudah senang..." lanjutku.


Dan aku langsung menaruh kepalaku di bahu Danny-kun dan Danny-kun mengusap kepalaku dengan lembut.


"Akhirnya aku bisa menggapai tanganmu... Dan hingga saatnya tiba nanti aku bisa mencium bibirmu..." gumamku.


 


 


CHAPTER 10 - Finally I Can Reach Your Hand


End