Kanaya Meissa (Ultimate Kagura Dancer) ~Eternal Love~

Kanaya Meissa (Ultimate Kagura Dancer) ~Eternal Love~
CHAPTER 63 - INDIRECT DATE



Akhir Minggu ini, Danny-kun ingin meminta bantuanku untuk mencari inspirasi untuk puisinya nanti. Karena tidak sabar untuk menanti Minggu ini, aku mencari pakaian yang akan aku pakai nanti. Aku memilah dan memilih sesuatu yang membuatku kelihatan cantik di mata Danny-kun.


"Pakaian yang mana yang harus kupilih?? Karena aku ingin terlihat cantik dimata Danny-kun..." ucapku ketika aku mencoba beberapa pakaian.


Setelah aku selesai memilih pakaian, aku segera membuat biskuit untuk dimakan bersama Danny-kun nanti. Aku membuat biskuit yang ringan dan cocok dengan teh hitam. Aku membuatnya dengan sempurna dan rasa yang nikmat untuk dinikmati.


"Hmmm...hmmmm...hmmmmm..." ucapku dengan bersenandung sambil membuat biskuit.


"Aku harap tidak ada yang mengganggu kami nanti..." ucapku.


"Karena aku tidak suka kalau 4 gadis hama itu datang dan merusak rencanaku..." lanjutku.


"Terutama si rubah betina itu..." lanjutku lagi dengan kesal.


"Apa tidak bosan mengganggu kami berdua??" lanjutku lagi yang masih kesal.


Aku menghela nafasku agar aku tenang dan membuang pikiran tadi jauh-jauh. Tak lama kemudian, biskuit yang kubuat pun telah jadi, lalu aku pun mencicipinya 1 keping biskuit, dan rasanya pun sudah sempurna.


"Akhirnya selesai juga..." ucapku sambil tersenyum senang.


Tibalah saat hari Sabtu, aku menunggu Danny-kun di depan apartemennya.


"Ayo kita berangkat..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.


Aku pun mengangguk sambil tersenyum. Lalu, aku dan Danny-kun mulai pergi ke tempat dimana Danny-kun bisa menemukan inspirasinya dengan menggunakan bus. Dan ternyata tempat itu berada di pinggiran kota seperti yang kami kunjungi waktu itu. Danny-kun menggelar tikar untuk kami duduk dan aku pun membantu Danny-kun. Setelah itu, kami pun duduk disitu sambil menikmati keindahan pinggiran kota yang sepi.


"Mei... Apa kamu membuat biskuit???" tanya Danny-kun.


"Kok Danny-kun tahu???" tanyaku lagi.


"Karena harumnya tercium sampai ke hidungku..." jawab Danny-kun.


"Aku memang membuat biskuit untuk kita nikmati..." ucapku sambil tersenyum.


Aku pun mengeluarkan kotak makanan yang berisi biskuit yang kubuat 2 hari yang lalu.


"Kelihatannya enak..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.


"Silahkan, Danny-kun..." ucapku sambil tersenyum manis.


Danny-kun mencoba biskuit yang kubuat, dan ia bilang rasanya enak. Aku pun senang karena kerja kerasku terbayar.


"Jadi... Hanya biskuit saja, huh..." ucap seorang gadis yang baru muncul di belakangku.


Aku pun menoleh dan ternyata Hinada sudah berada di belakangku.


"Ngapain kamu disini???" ucapku kesal.


"Aku kesini untuk mengajakmu kencan, Da-kun..." ucap Hinada dengan nada manis ke arah Danny-kun.


"Hei... Aku yang bertanya padamu..." ucapku yang bertambah kesal.


"Oya, Da-kun... boleh aku duduk didekatmu??" tanya Hinada dengan tersenyum.


"Boleh... Silahkan duduk..." jawab Danny-kun dengan tersenyum pula.


Lalu kemudian, Hinada duduk diantara aku dan Danny-kun.


"Hei, kamu jangan duduk disini..." ucapku dengan kesal.


"Oya Da-kun... Apa yang kamu lakukan disini???" tanya Hinada.


Karena aku semakin bertambah kesal, aku pun menariknya ke belakang agar menjauh dari Danny-kun. Namun seberapa kuat pun aku menariknya, tak bergerak sedikitpun.


"Mengapa sulit sekali menariknya??" gumamku sambil menarik Hinada.


"Apa jangan-jangan??" lanjutku bergumam.


"Apa kamu bertambah gemuk, rubah betina??" tanyaku.


Hinada pun berbalik menatapku dan berdiri di depanku.


"Apa maksud perkataanmu tadi, kucing bau???" tanya Hinada dengan nada kesal.


"Apa kamu bertambah gemuk???" ucapku dengan nada mengejek.


Hinada menarik kerah bajuku dan bersiap untuk memukulku.


"Coba kamu katakan sekali lagi, kucing bau..." ucap Hinada dengan wajah tersenyum namun berkedut.


"Hinada-san... Aku tidak ingin ada perkelahian disini.." ucap Danny-kun sambil tersenyum ke arah Hinada.


Lalu Hinada pun melepaskanku. Kemudian Hinada mendorongku ke samping dan aku pun terjatuh, lalu Hinada duduk di sebelah Danny-kun sambil tersenyum manis. Aku pun langsung berdiri lalu duduk di sisi Danny-kun yang lain.


"Da-kun sedang melakukan apa??" tanya Hinada.


"Aku sedang menulis puisi..." jawab Danny-kun.


"Kalau sudah selesai, boleh aku membacanya??" tanya Hinada lagi.


"Boleh kok..." jawab Danny-kun sambil tersenyum.


"Mei... Apakah kamu memakai shampo yang berbeda hari ini???" tanya Danny-kun.


"Bagaimana Danny-kun tahu???" tanyaku kaget.


"Karena biasanya, shampo yang biasa kamu gunakan menggunakan wangi jahe... Sedangkan kali ini, menggunakan wangi lemon..." jawab Danny-kun.


"Bagaimana kamu tahu semua itu, Da-kun???" tanya Hinada dengan sedikit kesal.


"Karena aku sudah bersama Mei semenjak kecil..." jawab Danny-kun sambil tersenyum.


"Menurutmu hari ini aku sedang memakai shampo wangi apa???" tanya Hinada yang ingin bersandar di pundak Danny-kun.


Sebelum Hinada bersandar di pundak Danny-kun, aku mencegahnya dengan tanganku yang kujulurkan dari punggung Danny-kun.


"Lepaskan tangan kotormu dari rambutku, kucing bau...." gumam Hinada dengan kepala berkedut.


"Karena aku tidak mau Danny-kun menghirup polusi karenamu, rubah betina..." gumamku sambil tersenyum.


"Jadi kamu mau ajak berkelahi?? Oke, maju sini..." gumam Hinada.


Hinada menarik rambutku dari punggung Danny-kun, lalu aku pun juga menarik rambut Hinada.


"Sini, aku celupkan rambutmu ke dalam lumpur biar rambutmu menjadi lurus..." gumam Hinada sambil tersenyum kedut.


"Seharusnya, rambutmu yang harus diaduk dengan kotoran lalu Danny-kun akan menjauh darimu...." balasku dengan bergumam sambil tersenyum kedut.


Kami berdua pun saling tarik-menarik rambut hingga Danny-kun menyadari apa yang terjadi. Karena aku tidak ingin dimarahi oleh Danny-kun, aku pun melepaskannya. Sedangkan Hinada masih melanjutkannya.


"Apa kamu tidak apa-apa, Mei???" tanya Danny-kun dengan khawatir.


"Awww...awww...awww..." ucapku sambil meringis kesakitan saat rambutku ditarik oleh Hinada.


"Hinada, apa yang kamu lakukan???" tanya Danny-kun ke arah Hinada untuk mencegahnya.


Hinada menyadari bahwa aku tidak lagi menarik rambutnya. Lalu akhirnya Hinada pun berhenti menarik rambutku.


"Mengapa kamu melakukan itu, Hinada-san??" tanya Danny-kun.


"Karena si kucing bau yang mulai duluan..." jawab Hinada.


"Tidak kok... Kan Danny-kun tahu kalau aku sedang menyandarkan kepalaku di bahumu..." sanggahku.


Danny-kun berpikir sejenak dan mengambil kesimpulan bahwasanya ia harus menghentikan pertengkaran kami berdua. Danny-kun mempunyai ide yang lebih baik, yaitu ia memberikan masing-masing dari kami sebuah puisi yang ditulis olehnya ketika kami masih sibuk berkelahi.


"Apa ini, Da-kun???" tanya Hinada.


"Ini sebuah puisi yang aku berikan untuk kalian berdua..." jawab Danny-kun.


Aku dan Hinada senang sekali ketika Danny-kun memberikan puisi buatannya sendiri kepada kami berdua.


"Kalau puisi yang itu, bolehkah aku membacanya???" tanyaku.


"Kalau yang ini, belum boleh... Karena masih dirahasiakan untuk bukuku nanti..." jawab Danny-kun sambil tersenyum.


Aku menggembungkan pipiku karena tidak diizinkan untuk membacanya, namun Danny-kun hanya menanggapinya dengan tersenyum saja.


"Mei... Aku ingin mencoba biskuit buatanmu..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.


"Silahkan Danny-kun..." ucapku sambil memberikan kotak biskuitnya.


"Da-kun... Aku juga membuat donat untukmu..." ucap Hinada dengan tersenyum.


"Aku juga ingin mencobanya..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.


Hinada pun memberikan donat buatannya ke Danny-kun, namun aku mengambil donat yang dipegang oleh Hinada dan memakannya.


"Rasanya biasa saja... Lebih enak donat buatanku ketika aku masih SD..." ucapku dengan menyindir Hinada.


Karena Hinada merasa tersindir, ia pun mengambil biskuit buatanku dan memakannya.


"Rasanya juga biasa saja... Lebih enak biskuit buatanku ketika aku masih TK..." balas Hinada dengan menyindirku balik.


Mendengar ucapan itu pun, telingaku menjadi panas dan berdenyut.


"Jadi donat buatanmu lebih enak dari biskuit buatanku???" ucapku sambil tersenyum kedut.


"Tentu saja... Da-kun sudah tahu buatan siapa yang terbaik..." ucap Hinada sambil tersenyum ejek.


Aku dan Hinada menoleh ke arah Danny-kun untuk mengetahui makanan buatan siapa yang lebih enak.


"Mungkin aku akan mencoba kedua-duanya..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.


Dengan cekatan, aku menyuapkan biskuit dengan menggunakan mulutku, begitu juga dengan Hinada yang menyuapkan setengah bagian donat ke mulut Danny-kun dengan menggunakan mulutnya.


CHAPTER 63 - INDIRECT DATE


End