Kanaya Meissa (Ultimate Kagura Dancer) ~Eternal Love~

Kanaya Meissa (Ultimate Kagura Dancer) ~Eternal Love~
CHAPTER 29 - CUTE WILD DREAM



"Disudut biru, dengan tinggi 155 cm, dialah Kanaya "the cat" Meissaaaa-san...." ucap MC tinju.


"Aku akan berusaha, nyaaaa" ucapku.


Para penonton bertepuk tangan.


"Disudut merah, dengan tinggi 146 cm, dialah Mimi"the rabbit" AR-saan..." ucap MC tinju lagi.


"Aku akan berusaha, pyon..." ucapnya.


"Baiklah kalau begitu, kedua petinju silahkan ke tengah ring karena wasit akan menyampaikan sesuatu..." ucap MC itu.


Aku dan Mimi menuju ke tengah ring dan saling bertatapan.


"Baiklah, ada yang ingin aku sampaikan... Aku ingin pertarungan yang bersih, tidak boleh menyundul, tidak boleh menyikut, dan tidak boleh menendang..." ucap wasit tersebut.


"Bagaimana?? Apa kalian berdua sudah paham??" tanya wasit tersebut.


Kami berdua mengangguk.


"Apa yang ingin anda berdua katakan kepada lawan anda sebelum memulai pertandingannya???" tanya wasit tersebut kembali.


"BROCON nyaa!!??!!" ucapku dengan mengejek sambil tersenyum.


"DOROBOU NEKO pyoon!!!!" ucapnya dengan mengejek sambil tersenyum pula.


"Baiklah, kalau begitu silahkan kembali ke sudut masing-masing..." ucap wasit tersebut.


DING!! Suara bel tanda pertandingan dimulai. Kami maju ke tengah ring untuk memulai pertarungan kami. Awalnya kami hanya saling bertatapan, namun dia mulai menyerangku terlebih dahulu dan tentu saja aku menghindari serangannya dan juga aku membalas serangannya, namun juga dia bisa menghindarinya. Namun entah darimana, dirinya berhasil memukul perutku.


"Nyaaa" ucapku saat perutku dipukul.


"Itu salam dariku, dorobou neko... Tolong jauhi onii-chan ku segera..." ucap Mimi mengancam.


Aku meninju pipinya dengan hook kanan.


"Pyoon" ucapnya saat pipinya dipukul.


"Itu juga salam dariku, brocon... Berhentilah bermimpi untuk menikahi Danny-kun nyaa..." ucapku mengancam balik.


Mimi membalasnya dengan meninju perutku karena jangkauan serangannya tidak mencapai wajahku. Namun aku berhasil menghindarinya.


"Ternyata selain kamu brocon, kamu juga pendek ya... Aku tak tahu kalau Danny-kun punya adik pendek sepertimu nyaa..." ucapku dengan mengejek.


Mimi merasa kesal dan marah, dia pun melangkah maju mendekatiku dan meninju perutku sehingga membuatku membungkuk, kemudian dia melakukan uppercut ke daguku sehingga membuat kepalaku mengarah ke atas. Aku membalas pukulannya dengan langsung mengarah ke hidungnya sehingga membuatnya mundur lumayan jauh.


Mimi melihat hidungnya mimisan lewat telapak sarung tinjunya. Matanya terbelalak dan melihatku dengan tatapan marah, dan langsung menyerang perutku bertubi-tubi.


Mataku berkunang-kunang dan akhirnya, Mimi melakukan uppercut ke daguku sehingga aku terjatuh. Para penonton pun bersorak-sorai.


"1" ucap wasit menghitung.


"2" ucap wasit menghitung lagi.


"3" ucap wasit menghitung lagi.


"4" ucap wasit menghitung lagi.


"5" ucap wasit menghitung lagi.


"7..." ucap wasit menghitung lagi.


Saat hitungan ketujuh, aku berdiri dan penonton pun bersorak sorai kembali. Dan bel tanda ronde pertama berakhir.


Aku dan Mimi duduk di sudut ring dan saling bertatapan dengan tatapan saling mengejek.


"Kepalaku masih sedikit pusing... Awas kamu ya, brocon... Aku akan menghajarmu lebih sakit dari ini nyaa.." gumamku.


"Bagaimana rasanya tinju cintaku untuk onii-chan, dorobou neko?!?!?! Itu belum seberapa... karena setelah ini, tinjuku akan selalu melayang ke arah wajahmu yang sok imut itu pyoon..." gumamnya.


Tak lama kemudian, bel tanda ronde kedua dimulai. Aku dan Mimi berdiri dan menuju ke tengah ring. Lalu kami saling bertukar pukulan kembali, setiap pukulan yang masing-masing kami terima, ada yang mengenai wajah dan perut kami, ada yang berhasil kami elak ataupun kami tangkis. Namun selama semenit kami bertukar serangan, aku belum berhasil menjatuhkannya.


"Kau tahu, tiga hari yang lalu onii-chan dan aku mandi bersama di pemandian air panas pyon..." ucap Mimi sambil tersenyum mengejekku.


Mendengar kalimat itu, konsentrasiku terpecah.


"Sekarang pyon!?!?!!!!" gumam Mimi.


Mimi meninju perutku bertubi-tubi.


"Nyanyanyanyanyanyanyanyanyanyanyanya...." ucapku meringis kesakitan saat perutku ditinju.


Setelah 30 detik perutku ditinju, aku membungkuk sambil melingkarkan tanganku ke perutku menahan rasa sakit.


"Terima ini.... Love...love... Usagi.." ucap Mimi mengambil ancang-ancang.


"Puuuuunnnnnnccchhhh" ucap Mimi kemudian meninju daguku dengan hook kiri.


Kepalaku mengarah ke kanan ketika dagu kiriku ditinju dan mouth piece ku terlepas. Mataku berkunang-kunang, kemudian Mimi menarik rambutku.


"Kamu tahu, dorobou neko... Aku sudah bersama onii-chan selama 14 tahun... Sedangkan onii-chan baru berpacaran denganmu selama sebulan... Dan kamu sudah merasa mengenalnya jauh dariku?!?!? Apa menurutmu aku ini bodoh, huh?!?!?" ucap Mimi dengan ekspresi marah.


Mimi menarik tinjunya ke belakang bersiap untuk meninju mata kiriku.


"Kalau kamu mau mengambil onii-chan dari sisiku pyon..." ucap Mimi.


Kemudian Mimi meninju mata kiriku dan aku terjatuh.


"Tunggulah 14 tahun lagi... Itupun kalau aku bisa menerimamu pyon..." lanjut Mimi berjalan ke sudut ring.


"1" ucap wasit mulai menghitung.


"2" ucap wasit menghitung lagi.


"3" ucap wasit menghitung lagi.


"4" ucap wasit menghitung lagi.


"5" ucap wasit menghitung lagi.


"7" ucap wasit menghitung lagi.


"8" ucap wasit menghitung lagi.


"9....." ucap wasit menghitung lagi.


Aku bangkit dari jatuhku.


"Menunggu 14 tahun lagi?!?! Jangan bercanda nyaa..." ucapku dengan nafas yang belum teratur.


"Hooo, aku pikir kamu sudah masuk ke dunia mimpi, pyon..." ucap Mimi.


"Aku tidak akan mau bermimpi kalau Danny-kun tidak ada disana, nyaa..." ucapku yang masih mengatur nafasku.


Tak lama berselang, aku sudah bisa mengatur nafasku kembali.


"Kalau begitu, aku akan segera menghapus onii-chan dalam mimpimu agar kamu tidak bisa mengingat onii-chan lagi, pyon..." ucap Mimi dengan kesal.


"Silahkan saja kalau kamu mampu, nyaa..." balasku.


Mimi segera mendekatiku untuk meninjuku kembali, namun aku berhasil meninju mata kirinya terlebih dahulu dikarenakan jangkauan tanganku lebih panjang, sehingga mata Mimi mulai berkunang-kunang.


"Ini adalah kesempatanku, nyaa..." gumamku.


"Terima ini, ultimate... Nekooooo..." ucapkku sambil mengambil ancang-ancang.


"Hurricaaaanneee" ucapku sambil melakukan uppercut ke dagu Mimi.


Ketika uppercut ku mengenai dagu Mimi, mouth piece nya terjatuh dan Mimi pun tumbang.


"1" ucap wasit mulai menghitung.


"2" ucap wasit menghitung lagi.


"3" ucap wasit menghitung lagi.


"4" ucap wasit menghitung lagi.


"5" ucap wasit menghitung lagi.


"7" ucap wasit menghitung lagi.


"8" ucap wasit menghitung lagi.


"9" ucap wasit menghitung lagi.


"10" ucap wasit menghitung lagi.


Bel tanda pertandingan pun berakhir, penonton pun bersorak sorai dan bertepuk tangan.


Tiba-tiba aku terjatuh dari tempat tidurku.


"Sakitnyaaaa" ucapku meringis kesakitan.


Kemudian aku bangkit dari tidurku dan aku menuju dapur untuk memasak sarapanku dan Danny-kun. Namun Danny-kun ternyata sudah bangun terlebih dahulu.


"Selamat pagi, Mei..." sapa Danny-kun dengan tersenyum.


"Selamat pagi...." sapaku sambil menguap.


Aku membantu Danny-kun menyiapkan sarapan.


"Oya Danny-kun, apa kamu mengenal seseorang yang bernama Mimi??" tanyaku.


"Mimi??? Siapa itu??? Terdengar asing ditelingaku...." jawab Danny-kun.


"Karena didalam mimpiku, dia mengatakan kalau dia adalah adik perempuanmu..." lanjutku.


Mendengar kalimat itu, Danny-kun tersenyum.


"Mei, bukankah kita saling mengenal sejak kecil???" tanya Danny-kun.


"Ya...." jawabku.


"Apakah aku pernah menyebut nama Mimi sebelumnya???" tanya Danny-kun lagi.


"Tidak..." jawabku lagi.


"Kalau begitu, jangan dipikirkan lagi... Karena itu hanyalah mimpimu..." lanjut Danny-kun.


"Tapi...." ucapku.


Danny-kun meletakkan kedua jarinya di bibirku sambil tersenyum. Aku terdiam sambil mengadah wajahku sedikit naik dengan maksud agar aku dapat ciuman selamat pagi.


"Sarapannya sudah selesai, Mei... Mari kita sarapan..." ucap Danny-kun menyadarkan lamunanku.


"Ciuman selamat paginya mana??" ucapku manja.


"Kita masih belum boleh melakukan itu... Karena kita bukan pasangan suami istri...." ucap Danny-kun dengan menolak secara halus.


Aku merajuk.


"Aku bilang masih belum boleh loh..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.


Aku kembali tersenyum dan kami menikmati sarapan pagi kami.


Chapter 29 - Cute Wild Dream


End