Kanaya Meissa (Ultimate Kagura Dancer) ~Eternal Love~

Kanaya Meissa (Ultimate Kagura Dancer) ~Eternal Love~
CHAPTER 76 - THE CHAMP LOSING WILD DREAM



Sebulan yang lalu


BAK!!! (meninju perut Silphie)


BUK!!! (melakukan hook ke pipi Silphie)


BAK!!! (meninju perut Silphie kembali)


BUK!!! (meninju mata kiri Silphie)


"Kanaya sedang memukul Silphie secara beruntun... Dan Silphie tidak memiliki kesempatan untuk membalas..." ucap salah satu komentator.


"Sekarang!!!" gumamku.


BAK!!! (melakukan hook ke pipi Silphie)


BUK!!! (meninju hidung Silphie)


BAM!!! (uppercut ke dagu Silphie)


Silphie pun terjatuh dan pingsan, sehingga wasit pun mulai menghitungnya.


"1..." ucap wasit.


"2..." ucap wasit lagi.


"3..." ucap wasit lagi.


"4..." ucap wasit lagi.


"5..." ucap wasit lagi.


"6..." ucap wasit lagi.


"7..." ucap wasit lagi.


"8..." ucap wasit lagi.


"9..." ucap wasit lagi.


"10...." ucap wasit lagi.


"Knock-out..." ucap wasit lagi.


Wasit pun mengangkat tanganku sebagai tanda bahwa aku yang menang dan berhasil mendapatkan gelar yang sebelumnya dipegang oleh Silphie. Salah satu kakiku berada di atas perut Silphie yang pingsan.


Saat ini, aku sering mendapatkan tantangan dari para gadis untuk mempertahankan gelarku. Lawan yang kuhadapi bermacam-macam. Ada gadis yang lebih pendek dariku, ada gadis lebih tinggi dariku, ada gadis lebih gemuk dariku, bahkan ada gadis yang lebih kurus dariku. Mereka semua bisa kukalahkan dengan kemenangan K.O. Beberapa diantara mereka ada yang terkena mental, masuk rumah sakit, bahkan mengundurkan diri setelah dikalahkan olehku. Selama 5 bulan aku memegang gelar itu, belum ada satupun yang bisa mengalahkanku. Karena aku merasa bahwa tidak ada gadis yang bisa menandingiku, aku pun menjadi malas latihan.


"Mei.... Mengapa kamu bermalas-malasan??" tanya Danny-kun sambil bersikap tegas padaku.


"Habisnya, belum ada satu gadis pun yang mampu mengalahkanku..." jawabku.


"Walaupun begitu, setidaknya gerakkan badanmu biar tidak kaku..." ucap Danny-kun.


"Iya...iya..." ucapku.


Aku pun menggerakkan tubuhku, namun tanpa semangat seakan tidak ada gairah hidup. Danny-kun menghela nafasnya ketika melihatku melakukannya tanpa semangat.


"Apa aku harus memberinya motivasi agar semangat lagi??" gumam Danny-kun.


Lalu ada seorang gadis yang datang.


"Permisi... Apakah disini ada yang bernama Danny-san???" tanya seorang gadis tersebut.


"Ya, saya sendiri... Ada apa???" jawab Danny-kun.


"To... Tolong terima ini..." ucap gadis tersebut dengan gugup.


Danny-kun lalu menerima sesuatu dari tangan gadis tersebut lalu dilihatnya yang ternyata adalah sebuah surat cinta. Aku pun langsung mengambil surat cinta tersebut lalu merobeknya lalu aku melemparnya ke wajah gadis itu.


"Hei... Apa yang kamu lakukan??" ucap gadis itu dengan kesal.


"Ternyata kamu ini gadis yang tidak punya sopan santun ya..." jawabku dengan kesal pula.


"Tunggu... Aku mengenalmu... Apakah kamu sang juara bertahan itu??" tanya gadis itu.


"Memangnya apa urusanmu??" tanyaku.


"Kalau dilihat dari dekat, ternyata kamu sangat menyebalkan ya.." ucap gadis itu.


"Bukankah kamu juga sama.." balasku.


Lalu gadis itu berdiri didepanku sambil menatap mataku dengan wajah menantang. Karena tinggi kami sama, aku pun mudah membalas tatapannya. Gadis itu pun juga menempelkan dadanya dengan dadaku sambil tersenyum.


"Ternyata asetmu lebih kecil dari punyaku..." ucap gadis itu sambil mengejekku.


"Apa kamu ingin berkelahi denganku, huh??" ucapku sambil tersenyum kedut.


Lalu gadis itu pun pergi, namun sebelum ia pergi ia main mata dengan Danny-kun sehingga membuatku semakin marah padanya.


"Oya, namaku May... Sharashiki May... salam kenal ya.." ucap gadis itu kepada Danny-kun sambil tersenyum.


"Mei... Mengapa sampai kotor begini??" tanya Danny-kun.


Aku hanya diam saja sambil menahan kekesalanku.


"Apa kamu kesal karena gadis tadi menggodaku??" tanya Danny-kun lagi.


"Kalau sudah tahu, mengapa bertanya..." gumamku kesal.


Dua minggu setelah kedatangan gadis itu, tiba-tiba saja surat kabar memberitahukan bahwasanya gadis itu menantangku untuk bertarung. Dan tentu saja aku menyanggupinya dikarenakan rasa kesalku akibat dia telah menggoda Danny-kun. Pertandingan tersebut diadakan saat hari Sabtu malam, sehingga membuatku membuat persiapan yang matang sebelum aku menghajarnya hingga babak belur. Lalu tibalah saatnya hari yang telah ditentukan, yaitu pada hari Sabtu malam. Pertandingan pada hari itu ada 3 pertandingan tinju wanita, dan pertandingan ku berada pada pertandingan puncak. Setelah 2 pertandingan berakhir, tibalah bagiku untuk bertanding karena aku akan menghancurkannya hidup-hidup.


Kami berdua pun dipanggil oleh MC tinju, lalu kami berdua pun naik ke atas ring untuk berdiri di tengah ring.


"Tunggu sebentar... Aku tidak tahu kalau kamu sudah punya gelar juara.." ucapku.


"Memang benar..." ucap May.


"Bukankah tidak boleh memiliki gelar juara lebih dari 1..." ucapku.


"Memang benar..." ucap May lagi.


"Lalu apa tujuanmu??" tanyaku.


"Aku ingin piala yang lain..." jawab May sambil tersenyum.


May lalu melirik ke arah Danny-kun dan mengedipkan sebelah matanya sehingga membuatku marah dan mendorongnya. May pun menatapku sambil tersenyum mengejekku dan aku pun membalas tatapannya. Lalu kami pun berjalan ke pinggir ring.


"Baiklah, disini Sharashiki May membuat peraturan khusus... Yaitu petinju akan dinyatakan kalah ketika dia sudah 5 kali jatuh dan bel pertandingan akan berakhir setiap berhasil membuat lawannya terjatuh. Dan hanya boleh beristirahat selama 2 menit saja..." ucap salah satu juri.


"Aku tidak tahu apa yang menjadi tujuanmu dengan peraturan ini, tapi aku tidak akan pernah menyerahkan Danny-kun padamu..." gumamku.


"Aku akan membuatmu menari dengan tanganku ini... Karena kamu itu hanya badut pertunjukan saja..." gumam May sambil tersenyum.


Lalu muncul sebuah monitor sebagai papan skor untuk pertandingan ini  dan bel tanda pertandingan tinju pun dimulai. Aku dan May berjalan ke tengah ring, lalu ia mulai menyerang wajahku namun aku berhasil menepisnya lalu dengan serangan cepat, May meninju perutku dan aku meringis sakit. Lalu pukulan bertubi-tubi mengenai perutku. Aku berusaha menahan rasa sakit yang datang ke arah perutku dan secara cepat, May meninju hidungku sehingga membuat hidungku sedikit mengeluarkan darah. Dan ia pun melakukan hook sehingga membuatku berkunang-kunang, lalu ia melakukan uppercut ke daguku sehingga aku terdorong ke arah tali ring. Lalu tangan kiri May memegang kepala belakangku sedangkan yang satunya lagi mulai meninju mataku hingga membentuk benjolan. Lalu May membuatku berdiri di tengah ring, lalu melakukan uppercut ke daguku dan aku pun terjatuh. Tanda bel pertandingan pun berakhir dengan skor 1-0.


May kembali berjalan ke sudut ring sedangkan aku dipapah oleh Danny-kun untuk membantuku ke sudut ring. Kami berdua memulihkan diri selama 2 menit. Lalu setelah itu, bel dibunyikan kembali. Aku bernafas perlahan-lahan sambil menahan rasa sakit, Danny-kun memijat bahuku dan tanganku hingga aku merasa tidak kaku lagi. Lalu tak lama kemudian, bel berbunyi kembali. Aku dan May berjalan ke tengah ring, dan terjadi lagi seperti kejadian yang pertama tadi. Namun diakhiri dengan pukulan hook kiri dan aku pun terjatuh lagi, sehingga membuat skor menjadi 2-0. May kembali berjalan ke sudut ring sedangkan aku dipapah oleh Danny-kun untuk membantuku ke sudut ring. Kami berdua memulihkan diri selama 2 menit. Lalu setelah itu, bel dibunyikan kembali. Aku bernafas perlahan-lahan sambil menahan rasa sakit, Danny-kun memijat bahuku dan tanganku hingga aku merasa tidak kaku lagi. Lalu tak lama kemudian, bel berbunyi kembali. Aku dan May berjalan ke tengah ring, dan terjadi lagi seperti kejadian yang pertama dan kedua tadi. Namun diakhiri dengan pukulan hook kanan dan aku pun terjatuh lagi, sehingga membuat skor menjadi 3-0.  May kembali berjalan ke sudut ring sedangkan aku dipapah oleh Danny-kun untuk membantuku ke sudut ring. Kami berdua memulihkan diri selama 2 menit. Lalu setelah itu, bel dibunyikan kembali. Aku bernafas perlahan-lahan sambil menahan rasa sakit, Danny-kun memijat bahuku dan tanganku hingga aku merasa tidak kaku lagi. Lalu tak lama kemudian, bel berbunyi kembali. Aku dan May berjalan ke tengah ring, dan terjadi lagi seperti kejadian yang pertama, kedua, dan ketiga tadi. Namun diakhiri dengan pukulan langsung ke arah benjolan yang ia buat sebelumnya dan aku pun terjatuh lagi, sehingga membuat skor menjadi 4-0.


Danny-kun mulai berpikir disaat ia memijatku, lalu kemudian terbesit sebuah ide.


"Mei... Sepertinya aku tidak menemukan cara lain..." ucap Danny-kun.


"Mengapa begitu??" tanyaku.


"Ada satu-satunya jalan, hanya saja aku tidak tahu apakah ini berhasil atau tidak..." jawab Danny-kun.


"Apa itu??" tanyaku lagi.


Danny-kun lalu membisikkan sesuatu di telingaku.


"Jika kamu menang dalam pertandingan ini, aku akan menikahimu..." ucap Danny-kun.


Ketika aku mendengar ungkapan itu, entah mengapa rasa sakit yang kuterima karena ditinju oleh May menjadi hilang seketika. Lalu bel pun berbunyi kembali. Aku dan May kembali ke tengah ring.


"Bagaimana, apakah kamu sudah siap untuk kalah???" tanya May dengan mengejekku.


"Pertarungan ini baru saja dimulai, tahu.." jawabku sambil tersenyum.


May pun melancarkan pukulan langsung ke wajahku, namun aku berhasil menghindarinya dan aku pun melancarkan hook kanan yang menjadi serangan andalanku dan mengenai pipi May. May pun terkejut lalu tanpa basa-basi lagi, aku melanjutkan pukulanku ke arah matanya hingga membuat mata May berkunang-kunang.


"Ini adalah kesempatanku..." gumamku.


Aku pun meninju wajahnya bertubi-tubi hingga May berdiri di tengah ring, lalu aku melakukan uppercut ke dagunya dan ia pun terjatuh. Tanda bel pertandingan pun berakhir dengan skor 4-1.


Aku kembali berjalan ke sudut ring sedangkan May dipapah oleh pelatihnya untuk membantunya ke sudut ring. Kami berdua memulihkan diri selama 2 menit. Lalu setelah itu, bel dibunyikan kembali. Aku bernafas perlahan-lahan sambil menahan rasa sakit, Danny-kun memijat bahuku dan tanganku hingga aku merasa tidak kaku lagi. Lalu tak lama kemudian, bel berbunyi kembali. Aku dan May berjalan ke tengah ring, dan terjadi lagi seperti kejadian yang pertama tadi. Namun diakhiri dengan pukulan hook kiri dan May pun terjatuh lagi, sehingga membuat skor menjadi 4-2. Aku kembali berjalan ke sudut ring sedangkan May dipapah oleh pelatihnya untuk membantunya ke sudut ring. Kami berdua memulihkan diri selama 2 menit. Lalu setelah itu, bel dibunyikan kembali. May bernafas perlahan-lahan sambil menahan rasa sakit, pelatihnya memijat bahu May dan tangan May hingga May merasa tidak kaku lagi. Lalu tak lama kemudian, bel berbunyi kembali. Aku dan May berjalan ke tengah ring, dan terjadi lagi seperti kejadian yang pertama dan kedua tadi. Namun diakhiri dengan pukulan hook kanan dan May pun terjatuh lagi, sehingga membuat skor menjadi 4-3. Aku kembali berjalan ke sudut ring sedangkan May dipapah oleh pelatihnya untuk membantunya ke sudut ring. Kami berdua memulihkan diri selama 2 menit. Lalu setelah itu, bel dibunyikan kembali. May bernafas perlahan-lahan sambil menahan rasa sakit, pelatihnya memijat bahu May dan tangan May hingga May merasa tidak kaku lagi. Lalu tak lama kemudian, bel berbunyi kembali. Aku dan May berjalan ke tengah ring, dan terjadi lagi seperti kejadian yang pertama, kedua, dan ketiga tadi. Namun diakhiri dengan pukulan langsung ke arah benjolan yang ku buat sebelumnya dan May pun terjatuh lagi, sehingga membuat skor menjadi 4-4. Aku kembali berjalan ke sudut ring sedangkan May dipapah oleh pelatihnya untuk membantunya ke sudut ring. Kami berdua memulihkan diri selama 2 menit.


"Kenapa menjadi seperti ini??" gumam May sambil menghela nafasnya satu persatu.


"Tinggal sedikit lagi... Aku bisa menikahi Danny-kun..." gumamku.


Bel terakhir pun dibunyikan, aku dan May berjalan ke tengah ring. Kami saling memberikan pukulan ke lawan kami karena tidak ada satupun dari kami berdua yang mau mengalah. Kalau May menang, maka hubunganku dengan Danny-kun berakhir. Sedangkan kalau aku yang menang, maka aku akan menikah dengan Danny-kun. Aku tidak masalah kalau gelarku diambil oleh orang lain, tapi kalau Danny-kun, aku tidak akan pernah rela. Banyak pukulan yang masuk kepadaku, begitu juga kepadanya. Lalu disaat kami saling memberikan pukulan pamungkas.


Epilog


"Bangun Mei... Sudah pagi..." ucap Danny-kun sambil menepuk pundakku.


Aku pun membuka mataku secara perlahan, lalu ketika aku melihat Danny-kun di depan mataku dengan setengah sadar aku pun memegang pipi Danny-kun kemudian mencium bibirnya dengan lembut.


"Da-kun... Apakah sarapannya sudah siap??" tanya Hinada.


Ketika Hinada membuka pintu kamarku, ia terkejut dan matanya terbelalak.


"Danny onii-chan... Apakah sarapannya sudah siap??" tanya Mimi.


Mimi pun juga terkejut seperti Hinada, lalu mereka berdua mendekatiku dan Danny-kun. Hinada menarik Danny-kun lalu kemudian Mimi meninju perutku dan mata kananku sehingga membuatku pusing lalu pingsan.


CHAPTER 76 - THE CHAMP LOSING WILD DREAM


End