Kanaya Meissa (Ultimate Kagura Dancer) ~Eternal Love~

Kanaya Meissa (Ultimate Kagura Dancer) ~Eternal Love~
CHAPTER 22 - MY NEW LOVE RIVAL, HINADA-SAN



"Mei..." ucap seorang lelaki didekat pintu.


Aku menoleh ke belakang. Dan aku melihat Danny-kun disitu.


"Apa yang kamu lakukan disini, Mei??" tanya Danny-kun.


"Aku sedang mencari seorang gadis yang menggodamu..." jawabku dengan menoleh ke arah gadis itu dengan wajah merendahkan.


"Siapa yang menggodaku???" tanya Danny-kun.


"Da-kun..." ucap gadis itu.


"Hinada-san???" ucap Danny-kun.


Danny-kun menolong gadis itu untuk berdiri, namun aku tidak menyukainya.


"Apa yang sebenarnya terjadi disini???" tanya Danny-kun.


"Sebenarnya..." jawabku.


"Da-kun... Perutku sakit... Bisa kamu gendong aku???" ucap Hinada dengan menggoda.


"Hinada-san... Bukankah lebih baik aku bantu kamu duduk dulu???" tanya Danny-kun.


"Hi...na..chan..." ucap Hinada.


Mendengar kata menjijikkan itu, aku mengepalkan tanganku agar aku bisa meninjunya sekali lagi.


"Hinada-san... Bukankah nama panggilan itu kalau kita sudah dekat???" ucap Danny-kun sweatdrop.


Hinada merasa sedih dan air matanya keluar, namun aku tidak akan mudah percaya karena air matanya adalah air mata buaya.


"Oya Danny-kun... Darimana kamu kenal rubah wanita ini???" tanyaku.


"Kalau tidak salah waktu festival kebudayaan di sekolah ini waktu aku di tahun pertama..." jawab Danny-kun.


"Tidak loh, Da-kun... Kita sudah pernah bertemu sebelum festival kebudayaan..." lanjut Hinada.


"Kapan itu???" tanya Danny-kun.


"Sejak kita dilahirkan ke dunia ini..." ucap Hinada dengan tersenyum.


"Danny-kun, boleh aku meninjunya?? Karena dia sudah sangat keterlaluan sekali..." ucapku kesal dengan kepala yang berkedut.


"Jangan Mei, Hinada-san hanya bercanda..." ucap Danny-kun untuk menenangkanku.


"Aku tidak bercanda Da-kun.. aku serius mengatakannya..." ucap Hinada yang masih tetap tersenyum.


"Oke, kalau begitu aku akan mengirimmu ke neraka..." balasku sambil tersenyum dengan kepala yang berkedut.


"Kamu saja yang duluan ke neraka.. aku disini saja menunggumu kembali ketika Da-kun menjadi milikku..." balas Hinada sambil tersenyum pula.


"Ternyata Rubah Betina ini sudah berani sekali melangkahi aku yang manis ini..." balasku lagi sambil senyum juga.


"Selain kamu bau, ternyata omonganmu sungguh tidak beradab ya..." ucap Hinada sambil tersenyum.


Aku memegang bibirku yang keluar darah. Kemudian aku membalasnya dengan meninju bibir Hinada juga dan akhirnya kami berdua berkelahi. Berbagai macam serangan kami lakukan, pukulan, tendangan, menarik rambut, dan lain-lain. Hingga akhirnya sampai dimana kesabaran Danny-kun sudah habis.


Danny-kun mencoba melerai kami, namun sungguh disayangkan, pipi Danny-kun terkena pukulan Hinada. Melihat Danny-kun dipukul, aku membalas memukul mata kanan Hinada sehingga mata kanannya memerah. Dan pada saat aku mencoba untuk meninju mata kirinya Hinada, tiba-tiba tanganku dipegang oleh Danny-kun. Aku menoleh ke belakang dan Danny-kun sedang dalam mood yang buruk.


"Meissa-san... Seiza...." ucap Danny-kun dengan dingin.


"Tapi Danny-kun...." ucapku dengan rasa takut.


"Sei...za.." ucap Danny-kun tanpa menghiraukan aku.


Aku pun segera melakukan seiza karena aku takut Danny-kun akan lebih marah lagi.


"Rasakan itu kucing bau... Memang enak dimarahi Da-kun...." ucap Hinada dengan mengejek.


Dan Danny-kun juga menatap Hinada dan berkata.


"Hinada-san... Seiza..." ucap Danny-kun datar.


"Hi..na..chan..." ucap Hinada dengan wajah merajuk.


"Hinada-san... Se..i..za.." ucap Danny-kun datar.


"Hei, rubah betina.. lebih baik kamu turuti saja apa kata Danny-kun.." ucapku.


"Siapa yang menyuruhmu bicara, Kanaya-san??" ucap Danny-kun sambil tersenyum seram.


Melihat Danny-kun seperti itu, akhirnya Hinada juga ikutan melakukan seiza. Danny-kun menceramahi kami selama 2 jam, sesekali aku menatap Hinada dan Hinada juga sesekali menatapku dan ketika kami saling bertukar pandang, muncul dalam benak kami bagaimana caranya untuk saling mengalahkan. Setelah Danny-kun selesai menceramahi kami, Danny-kun berbalik badan untuk menerima telepon. Ketika Danny-kun sedang menerima telepon, Hinada langsung menyerangku dengan mencubit pahaku, lalu aku membalasnya dengan mencubit lengannya, akhirnya kami saling mencubit satu sama lain.


Makin lama, kami saling mencubit dengan kuat. Karena aku tak bisa menahan rasa sakit, aku meninju mata kirinya sehingga mata kirinya membiru lalu kepala Hinada terbentur meja lalu pingsan dan terdengar suara. Danny-kun mendengar suara itu dan menoleh ke belakang dan melihat aku dan Hinada berkelahi kembali. Dan yang paling aku terkejut adalah Danny-kun menatapku dengan tajam dan kulihat dibelakang Danny-kun muncul sebuah topeng setan.


"Mei, mulai hari ini hingga Minggu depan, kamu tidak boleh datang ke apartemenku ataupun menyapaku disekolah..." ucap Danny-kun kesal dan muncul sebuah topeng setan dibelakang Danny-kun.


"Ta...tapi Danny-kun..." ucapku gugup.


Namun bukannya mendengarkanku, dibelakang Danny-kun muncul setan sempurna yang memakai topeng yang kulihat. Ini berarti, Danny-kun marah besar padaku sedangkan aku hanya bisa duduk terdiam membisu. Tak lama kemudian, Danny-kun memapah Hinada ke UKS dan pergi begitu saja.


Setelah Danny-kun keluar memapah Hinada, aku langsung pulang sambil merasa sedih karena Danny-kun tidak menyayangiku lagi. Sesampainya dirumahku, aku merebahkan wajahku ke bantal dan mulai menangis karena tak sanggup lagi kutahan dari sekolahnya Hinada sampai ke rumahku.


"Semua ini karena rubah wanita itu... Karena dia aku jadi dibenci sama Danny-kun..." ucapku dengan tangis.


Hari yang melelahkan dan sedih untukku karena Danny-kun tidak pernah semarah itu padaku, kalau cuma marah hanya sampai sehari, paling lama dua hari. Kalau sampai seminggu, itu artinya lampu kuning hubungan kami.


"Aku tidak mau...." gumamku sambil menangis.


Akhirnya aku pun tertidur.


Chapter 22 - My New Love Rival, Hinada-san


end