Kanaya Meissa (Ultimate Kagura Dancer) ~Eternal Love~

Kanaya Meissa (Ultimate Kagura Dancer) ~Eternal Love~
CHAPTER 57 - WELCOME BACK, DARLING



Aku, Nozomi, Hinada, Hatsuki, dan Mimi sedang menunggu Danny-kun kembali di stasiun kereta api.


"Ngapain kalian berempat disini?? Merusak pemandangan saja..." ucapku dengan kesal.


"Terserah aku dong... Lagipula, tidak ada yang melarang kan.." ucap Nozomi.


"Dih... Mengapa aku harus minta izin darimu, kucing bau..." ucap Hinada.


"Aku tidak akan membiarkanmu menyambut Danny onii-chan duluan.." ucap Mimi.


"Sudahlah... Lagipula, akulah yang akan disambut duluan oleh Danny-san..." ucap Hatsuki dengan tersenyum.


"Haaaaahhhh..." ucap kami berempat dengan serentak kepada Hatsuki.


Kami berlima bertengkar hebat, dan untungnya saat itu stasiun kereta tidak begitu ramai dikarenakan banyak yang sudah pulang. Sehingga kami bisa meluapkan kekesalan kami satu sama lain dikarenakan kami tidak ada yang mau mengalah. Tak lama kemudian, kereta yang dinaiki Danny-kun pun tiba, dan kami berlima tiba-tiba berhenti bertengkar lalu merapikan rambut dan pakaian kami agar kelihatan imut dimata Danny-kun. Danny-kun keluar dari kereta tersebut sambil membawa tasnya. Mata kami berlima langsung cerah melihat Danny-kun telah tiba. Ketika kami berlima hendak memeluk Danny-kun, tiba-tiba dibelakangnya muncul seorang gadis yang kukenal ketika aku, Aelri, dan Mihoshi mengunjungi tempat Danny-kun mengajar.


"Danny-kun... Apa maksudnya ini??" tanyaku.


"Lho??? Mengapa kamu ada disini??" tanya Danny-kun keheranan.


"Aku hanya mengikutimu saja kok, senpai..." ucap gadis itu.


Empat orang disebelahku tiba-tiba mengeluarkan aura yang tidak menyenangkan dikarenakan Danny-kun membawa gadis lain.


"Lalu, apakah kamu sudah minta izin kepada orang tuamu???" tanya Danny-kun.


"Aku... Sudah tidak punya orang tua... senpai..." jawab gadis itu dengan sedih.


"Bagaimana dengan walimu???" tanya Danny-kun lagi.


"Aku hanya hidup sendirian di Okinawa..." jawab gadis itu.


"Gendut..." ucapku.


"Siapa yang memanggil aku gendut??" tanya gadis itu sambil tersenyum.


"Aku... Kenapa?? Tidak suka??" jawabku dengan menantangnya.


"Kita bertemu lagi, senpai pendek..." ucap gadis itu dengan mengejekku.


Aku mengepalkan tanganku untuk meninjunya, namun karena ada Danny-kun, aku mengurungkan niatku dan hanya bisa senyum dengan kepalaku yang berkedut.


"Kalau aku perhatikan, sepertinya sekumpulan hewan di kebun binatang berada disini..." ucap gadis itu.


Mendengar ucapan itu, kami berlima tersinggung dan itu sudah keterlaluan.


"Charlotte-san... Bisakah kamu tidak berkata seperti itu??" ucap Danny-kun sambil tersenyum.


"Char-chan..." ucap Charlotte sambil merajuk ke Danny-kun dengan menggembungkan pipinya.


"Kenapa, pendek... Apa kamu cemburu???" ucap Charlotte dengan mengejekku.


"Tentu saja tidak... Lagipula, aku tahu kalau Danny-kun tidak akan selingkuh dariku... walaupun ada seribu gadis sepertimu, Danny-kun tidak akan berpaling dariku..." balasku sambil merangkul tangan Danny-kun dengan tersenyum.


Lalu aku mencium bibir Danny-kun sehingga membuat Charlotte kaget dan memancing kemarahan dari Hinada, Hatsuki, Nozomi, dan Mimi. Dan tiba-tiba saja, 4 buah tinju datang ke arah wajahku sehingga membuatku terpental ke belakang mengenai tiang di stasiun dan mataku berkunang-kunang.


"Ayo Da-kun... Kita tinggalkan saja kucing bau itu disini..." ucap Hinada sambil tersenyum.


"Ayo Danny-san..." ucap Hatsuki sambil tersenyum.


"Ayo Danny senpai..." ucap Nozomi sambil tersenyum.


"Ayo Danny onii-chan..." ucap Mimi sambil tersenyum.


Mereka berempat pergi bersama Danny-kun dan Charlotte ke apartemen Danny-kun meninggalkan aku yang sedang pingsan. 10 menit kemudian, aku tersadar dari pingsanku dan aku melihat sekeliling apakah Danny-kun sudah pulang ke apartemennya. Dan aku bersedih, karena Danny-kun meninggalkanku selagi aku pingsan. Dan tak lama kemudian, Danny-kun muncul.


"Kamu tidak apa-apa kan, Mei??" tanya Danny-kun dengan khawatir.


"Aku hanya sedikit pusing..." ucapku sambil tersenyum manis.


Danny-kun lalu jongkok membelakangiku.


"Sini aku bantu..." ucap Danny-kun.


"Apa ini yang namanya kesempatan yang tidak datang 2x??" gumamku.


Aku pun naik ke punggung Danny-kun dengan tersenyum. Danny-kun menggendongku hingga sampai dimana Hinada, Hatsuki, Nozomi, Mimi, dan Charlotte menunggu. Dan mereka terkejut melihatku digendong oleh Danny-kun.


"Enak sekali dirimu digendong..." gumam mereka berlima serentak dengan protes.


Aku melihat mereka berlima, lalu menjulurkan lidahku ke arah mereka untuk mengejek. Dan kepala mereka pun berkedut.


"Awas saja kamu nanti...." gumam mereka berlima dengan serentak.


"Mei... Apa kamu masih pusing???" tanya Danny-kun.


"Masih... Kelihatannya akan lama sembuhnya..." ucapku sambil tersenyum manis.


"Dasar pembohong..." gumam mereka berlima dengan serentak.


Danny-kun menurunkan aku.


"Bagian mana yang sakit??" tanya Danny-kun.


"Di bagian belakang kepalaku..." jawabku.


Danny-kun langsung mengusapnya pelan-pelan dan itu membuatku tenang.


Danny-kun lalu mengusap pipiku sehingga membuat mereka berlima bertambah panas.


"Bunuh!!!!" gumam Hinada.


"Bunuh!!!!" gumam Hatsuki.


"Bunuh!!!!" gumam Nozomi.


"Bunuh!!!!" gumam Mimi.


Begitu terus hingga Danny-kun selesai mengusap pipiku. Selama Danny-kun mengusap pipiku, aku merasa seperti berada di surga yang paling indah. Namun, lamunanku buyar ketika Danny-kun mendengar suara perutku keroncongan.


"Mengapa disaat seperti ini cacing di perutku malah protes..." gumamku kesal.


"Bagaimana kalau kita makan dulu, Mei... Di dekat sini ada restoran cepat saji..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.


Aku mengangguk.


"Apa kalian juga lapar??" tanya Danny-kun kepada mereka berlima.


Mereka mengangguk.


"Kalau begitu, kita makan dulu... Aku juga belum makan malam..." ucap Danny-kun.


Kami pun menuju McD di dekat stasiun ini. Sesampainya disana, kami memesan burger, kentang goreng, cola zero, pie, float, dan beberapa saus manis serta saus pedas. Setelah selesai memesan, kami duduk di dekat jendela. Danny-kun duduk diujung dekat jendela, aku disebelah Danny-kun, Charlotte disebelahku, dan sisanya duduk di depanku. Aku sungguh menikmati saat ini bersama Danny-kun. Aku memakan makanan yang ku pesan dengan lahap.


"Mei... Ada saus di wajahmu..." ucap Danny-kun.


Lalu Danny-kun mencolek di bibir sebelah kananku dengan jempol kanannya lalu Danny-kun memasukkannya ke mulut. Sontak aku merasa gugup namun dalam pikiranku aku terbang tinggi ke langit ketujuh. Karena itu berarti adalah ciuman tidak langsung. Hinada, Hatsuki, Nozomi, dan Mimi terkejut melihat Danny-kun melakukan itu padaku sehingga membuat pandangan mereka semakin marah padaku.


"Danny-kun... Ada saus juga dipipimu..." ucapku.


Lalu aku mematuk pipi Danny-kun sehingga membuat mereka berempat yang melihatku menjadi semakin gerah. Setelah selesai makan, Danny-kun pergi ke toilet untuk buang air. Begitu juga dengan Nozomi, Hatsuki, Mimi, dan Charlotte. Hanya tinggal aku dan Hinada yang tetap di meja kami. Hinada menatapku dengan tajam atas apa yang aku lakukan tadi.


"Heeeee.... Kelihatannya kamu sudah mulai berani ya melakukan itu ke Da-kun..." ucap Hinada dengan nada jengkel.


"Tentu saja... Karena aku ini tunangannya..." ucapku sambil tersenyum.


"Bukankah itu terlalu berlebihan huh, kucing bau..." ucap Hinada dengan nada yang masih jengkel.


Kemudian, Hinada menendang tulang keringku.


"Apa kamu ingin mengajakku berkelahi, rubah betina???" tanyaku sambil tersenyum kedut.


Aku pun membalas dengan cara yang sama.


"Ayo kita selesaikan dibawah meja, kucing bau...." ucap Hinada dengan tersenyum kedut.


"Ayo... Siapa takut, rubah betina..." ucapku dengan tersenyum kedut.


Kami berdua menuju ke bawah meja kami, dan begitu mata kami berdua bertemu, disitulah perkelahian kami dimulai. Dikarenakan kami tidak bisa menendang, maka kami hanya bisa memukul dan menarik rambut lawan kami. Kami berkelahi dengan sengit, lalu tidak lama kemudian Danny-kun beserta 4 gadis yang lainnya kembali.


"Apa kalian tidak melihat Mei dan Hinada-san???" tanya Danny-kun.


"Tidak... kami tidak melihat mereka berdua..." jawab Hatsuki.


Ketika aku mendengar suara Danny-kun, aku segera menyekap mulut Hinada dan aku membenturkan kepala Hinada ke lantai. Sambil menahan rasa sakit, Hinada melakukan uppercut ke daguku sehingga kepalaku membentur bawah meja. Danny-kun dan 4 gadis lainnya terkejut mendengar suara tersebut, lalu Danny-kun mengecek ada apa dibawah meja dan ternyata ia melihatku dan Hinada sedang memegang kepala kami yang kesakitan karena terbentur.


"Apa yang kalian berdua lakukan??" tanya Danny-kun.


"Dia duluan yang mengajakku berkelahi..." jawabku sambil memegang kepalaku.


"Hei... Jangan sembarangan bicara... Kamu duluan yang mengajakku berkelahi..." lanjut Hinada sambil memegang kepalanya.


"Jadi kalian tadi lagi berkelahi ya?!?!" ucap Danny-kun sambil tersenyum.


Aku dan Hinada merasakan ketakutan ketika Danny-kun tersenyum bukan karena senang. Dan langsung saja aku dan Hinada melakukan seiza di depan meja Danny-kun.


"Mengapa kalian berdua melakukan seiza?!?" tanya Danny-kun sambil tersenyum.


"So... soalnya kalau Danny-kun tersenyum seperti itu, aku refleks melakukannya..." jawabku sambil melihat kebawah karena takut.


"Aku lagi tidak ingin menyuruh kalian melakukan seiza..!" ucap Danny-kun sambil tersenyum.


"Aku cuma berpikir, apakah aku harus membelikan kalian berdua sepasang sarung tinju agar kalian bisa lanjut berkelahi...!!" ucap Danny-kun dengan tenang sambil tersenyum.


Aku dan Hinada langsung memeluk kaki Danny-kun agar Danny-kun mengurungkan niatnya.


"Aku mau pulang saja..." ucap Danny-kun.


Kemudian, Danny-kun pergi dari tempat itu dan aku langsung mengejarnya. Di perjalanan pulang, aku memanggil Danny-kun.


"Danny-kun... Tunggu...." ucapku sambil berlari.


Danny-kun tidak menoleh. Namun akhirnya aku sampai di sebelah Danny-kun yang berjalan. Aku berjalan disampingnya dan memegang tangannya, namun ia tidak menoleh sedikitpun ke arahku dan hanya berjalan saja sampai ke apartemennya.


Epilog


Sesampainya di apartemen Danny-kun, ia mencari kunci, memasukkan kunci, memutar kenop pintu, lalu masuk dan menutup pintunya tanpa sekalipun berkata apa-apa.


"Selamat datang kembali... Sayang..." ucapku pelan sambil menangis.


CHAPTER 57 - WELCOME BACK, DARLING


End