
Suatu malam di sebuah gudang dekat rumah pantai kepunyaan Hinada, aku dalam kondisi terikat tali.
"Baiklah, kita mulai sidang ini dengan terdakwa Kucing Bau." ucap Hinada sambil mengetuk palu.
"Apa-apaan suasana ini." gumamku.
"Terdakwa telah melakukan tindakan terlarang sore tadi, yaitu dengan berusaha untuk mencium bibir Danny-san." ucap Hatsuki seperti Jaksa Penuntut Umum.
"Kami berharap anda bisa membuat keputusan secepatnya." ucap Mimi.
"Bisakah aku mendapatkan pembelaan?" tanyaku.
"TIDAK!!!???!!!" jawab mereka berempat serentak.
"Mengapa begitu??? Bukankah tidak adil namanya kalau aku tidak punya hak untuk membela diriku sendiri?" tanyaku dengan kesal.
"Bagaimana dengan perasaan kami yang tidak terasa adil bagi kami." keluh Nozomi.
"Kalau itu, aku tidak perduli... Kan aku ini tunangannya Danny-kun." ucapku dengan cuek.
Mereka menampar pipiku secara bergantian ke pipi sebelah kiriku dan pipi sebelah kananku sehingga membuat pipiku semerah tomat. Dan kemudian, Mimi meninju bibirku sehingga bibirku bengkak lalu aku terjatuh dan muncul suara kicauan burung di atas kepalaku hingga akhirnya aku pingsan.
"Hatsuki-san, tolong bawakan botol saus kesini... Karena kita akan membuat kesempatan ini berhasil." ucap Hinada.
Hatsuki mengambil botol saus di dapur dan memberikannya kepada Hinada. Kemudian, Hinada mengoleskan saus tersebut di sekitar bibirku dan hidungku. Lalu menaburkan saus tersebut ke meja di dekatku.
"Ayo, bantu aku untuk mengikatnya dekat tiang itu." ucap Hinada.
Mereka berempat mengikatku di tiang tersebut agar terlihat seperti aku sedang diculik oleh seseorang.
"Lalu setelah itu." ucap Hinada.
Hinada menulis di keningku yang bertuliskan "bitchi".
"Nah, sudah selesai." ucap Hinada dengan menepuk kedua tangannya sendiri.
"Mari kita tinggalkan si Kucing Bau ini sendiri." ucap Hinada.
Mereka bertiga mengangguk, lalu mereka keluar dari gudang itu dan mengunci pintunya. Aku masih belum bangun dari pingsanku.
Di rumah pantai
"Apakah kalian berempat melihat Mei?" tanya Danny-kun.
"Aku tidak melihatnya, Da-kun." jawab Hinada.
"Aku juga." jawab Hatsuki.
"Sama." jawab Nozomi.
"Memangnya kapan terakhir kali kamu melihatnya, onii-chan?" tanya Mimi.
"Tadi sore." jawab Danny-kun.
Danny-kun merasa khawatir ketika ia tidak melihatku.
"Tenang saja, Da-kun... Dia kalau lapar akan pulang kok." ucap Hinada sambil tersenyum.
"Hinada-san... Mei itu bukan kucing liar... Dia itu tunanganku." ucap Danny-kun dengan nada kesal.
"Maksud Hinada-san bukan begitu, Danny-san... Kita tunggu saja dulu.. siapa tahu sebentar lagi pulang." ucap Hatsuki.
"Okey... Aku akan menunggunya." ucap Danny-kun yang sudah tenang.
Danny-kun menungguku kembali selama satu jam, namun aku belum juga pulang.
"Bagaimana kalau kita makan dahulu?" saran Hinada.
"Kalian makan duluan saja, aku masih belum lapar." ucap Danny-kun sambil tersenyum.
Danny-kun terus menungguku hingga satu jam lamanya.
"Da-kun, lebih baik kamu makan dahulu... Nanti kamu sakit..." ucap Hinada sambil tersenyum.
Danny-kun sebenarnya ingin menungguku agar kami semua bisa makan bersama-sama. Namun karena rasa lapar yang tidak tertahan, akhirnya Danny-kun makan tanpaku. Disepanjang Danny-kun melahap makanan, tak sedetikpun ia tersenyum dikarenakan ia khawatir padaku.
"Setelah selesai makan, aku akan mencarinya..." ucap Danny-kun.
Mereka berempat terkejut mendengarnya dan hal itu sungguh tidak terduga.
"Tidak apa-apa kok, Da-kun... Nanti Kanaya-san pasti kembali..." ucap Hinada sambil tersenyum agar tidak terlihat mencurigakan.
"Apa ada sesuatu yang kalian sembunyikan dariku???" tanya Danny-kun.
"Ti..tidak ada kok..." ucap Hatsuki dengan sedikit gugup.
Danny-kun melihat mereka berempat seakan mereka tahu dimana aku berada.
"Mencurigakan..." gumam Danny-kun.
Setelah selesai makan, Danny-kun pun keluar untuk mencariku bersama dengan mereka berempat. Danny-kun mencari disetiap tempat yang didatangi, walaupun hasilnya nihil. Disetiap tempat yang dikunjungi oleh Danny-kun, mereka berempat merasa cemas dan gelisah. Setelah Danny-kun selesai mencari ke segala tempat, ternyata hasilnya memang nihil. Namun Danny-kun tidak berputus asa, ia mencoba berpikir kembali dimana tempat yang belum ia cari. Tiba-tiba ia teringat sebuah tempat yang dicari, yaitu gudang dekat rumah pantai tempat kami menginap.
Danny-kun langsung menuju kesana untuk mengecek apakah aku ada disana atau tidak. Melihat Danny-kun berlari ke gudang dekat rumah pantai, mereka berempat pun mulai berkeringat dingin dikarenakan kemungkinan besar Danny-kun akan menemukanku. Sesampainya disana, Danny-kun mengecek gudang tersebut dan memang ada jendela, hanya saja terlalu tinggi untuk digapai. Danny-kun mencoba untuk membuka pintu, namun pintu tersebut dikunci oleh mereka berempat yang sebelumnya mengurungku. Danny-kun mengetuk pintu terlebih dahulu untuk memastikan apakah ada seseorang disitu. Ketukan pintu itu membuatku terbangun, lalu aku berusaha mencari sesuatu yang bisa menghasilkan suara menggema. Aku melihat sekumpulan besi yang berjejer dan aku langsung menendangnya. Besi tersebut jatuh sehingga menghasilkan gema sampai ke depan pintu gudang.
"Hinada-san, apakah kamu mendengar suara itu???" tanya Danny-kun.
"A..aku tidak mendengar apapun..." jawab Hinada dengan gugupnya.
Danny-kun mendobrak pintu tersebut, namun pintu tersebut tidak terbuka.
"Hinada-san, apakah kamu mempunyai kunci gudang ini???" tanya Danny-kun.
"Danny-kun..." ucapku sambil berteriak.
Danny-kun sontak terkejut lalu mencoba untuk mendobrak sekuat tenaga meskipun tanpa kunci gudang.
BRAK!!!
Pintu gudang pun terbuka, dan Danny-kun melihatku terikat tak berdaya. Danny-kun terkejut dan langsung menuju ke arahku dan melepaskan ikatanku.
"Mei... Apa yang terjadi padamu???" tanya Danny-kun khawatir.
"Dimana para gadis menyebalkan itu???" tanyaku.
"Mereka ada diluar..." jawab Danny-kun.
Setelah selesai melepaskan ikatanku, Danny-kun memelukku.
"Untunglah kamu tidak apa-apa, Mei..." ucap Danny-kun.
"Maaf ya Danny-kun, sudah membuatmu khawatir..." balasku sambil tersenyum.
"Apa yang terjadi padamu???" tanya Danny-kun.
Aku menjelaskan semuanya dari awal hingga akhir. Lalu muncul aura menyeramkan dari Danny-kun yang membuat bulu kudukku berdiri. Namun hal ini tidak akan aku sia-siakan begitu saja, karena aku akan membalas berkali-kali lipat dari apa yang mereka lakukan terhadapku.
"Danny-kun, aku punya ide... Bagaimana kalau begini.." ucapku.
Aku membisikkan sesuatu ke telinga Danny-kun. Lalu Danny-kun setuju asalkan aku tidak berlebihan melakukannya. Danny-kun berpura-pura mengikatku kembali, lalu keluar dari gudang tersebut.
"Bagaimana, apakah kamu sudah menemukan Kanaya-san, Da-kun???" tanya Hinada penasaran.
"Aku tidak menemukan apapun..." jawab Danny-kun sedih.
"Tenang saja Da-kun, pasti dia akan ditemukan secepatnya..." ucap Hinada dengan tersenyum.
"Terimakasih, Hinada-san..." ucap Danny-kun sambil membalas senyumannya.
"Kalau begitu, kita istirahat saja... Besok kita cari lagi..." ucap Nozomi.
"Tapi sebelum istirahat, bisakah kalian membantuku untuk mencuci piring dan wajan yang kita pakai tadi??" tanya Danny-kun.
Mereka bertiga mengangguk kecuali Hinada.
"Apakah kamu kelelahan, Hinada-san?? Kalau kamu kelelahan, lebih baik kamu beristirahat saja... Biar kami berempat saja yang mencuci piring dan wajannya..." ucap Danny-kun.
"Tidak kok Da-kun... Kalian duluan saja... Aku masih ingin diluar dulu menikmati udara yang sejuk ini..." ucap Hinada sambil tersenyum.
"Baiklah kalau begitu.." ucap Danny-kun.
Danny-kun, Hatsuki, Nozomi, dan Mimi pergi ke rumah pantai. Setelah Hinada memeriksa keadaan, ia masuk ke gudang tempatku disekap.
"Ara...ara... Kasihan sekali dirimu, Kucing Bau... Kelihatannya Da-kun meninggalkanmu..." ucap Hinada dengan mengejek.
Aku hanya pura-pura pingsan. Karena tidak ada respon dariku, Hinada mendekatiku. Lalu, aku melepaskan ikatanku sambil berpura-pura pingsan. Setelah Hinada berdiri didekatku, Hinada menjambak rambutku.
"Kamu tahu, Da-kun sudah meninggalkanmu disini loh... Apa kamu tidak sadar kalau Da-kun sudah tidak mencintaimu lagi..." ucap Hinada sambil tersenyum saat menjambak rambutku.
Hinada lalu membenturkan keningku ke lantai lalu ia berdiri dan berbalik sebentar. Ketika Hinada berbalik, disitulah aku berusaha berdiri.
"Huh??? Maaf ya, aku tidak mendengar apa yang kamu katakan barusan..." ucapku.
Hinada terkejut. Lalu saat ia membalikkan tubuhnya, disaat itulah aku meninju tepat di mata sebelah kirinya. Hinada terjatuh dan aku langsung duduk di atas perutnya.
"Arere... Apa yang terjadi padamu, Rubah Betina???" tanyaku dengan maksud mengejek.
"Hei... Lepaskan aku..." ucap Hinada sambil meronta.
"Lepaskan ya..." ucapku sambil tersenyum.
Lalu aku meninju mata Hinada yang sama. Lalu aku meninju mata Hinada di tempat yang sama berulang kali sambil tersenyum. Setelah aku merasa capek dan Hinada jatuh pingsan, aku segera berdiri dan mengikat Hinada seperti yang ia lakukan padaku sebelumnya. Lalu aku keluar dari gudang tersebut.
"Capeknya.... Sudah lama aku tidak berkeringat..." ucap sambil meregangkan tubuhku.
Dan terdengar suara di perutku.
"Kelihatannya aku belum makan... Kalau begitu, aku akan makan dulu..." ucapku sambil tersenyum.
Aku kembali ke rumah pantai untuk makan malam.
Epilog
"Aku pulang..." ucapku dengan tersenyum.
"Selamat datang, Mei..." ucap Danny-kun sambil tersenyum pula.
"Apa kamu belum makan malam???" tanya Danny-kun.
"Belum..." jawabku sambil tersenyum.
"Kalau begitu, akan aku panaskan nasi kari yang aku buat tadi..." ucap Danny-kun.
"Asyiiikkk..." ucapku dengan riang.
Aku menunggu nasi kari tersebut dihangatkan, lalu setelah hangat aku pun menyantapnya.
CHAPTER 50 - LADY'S COURT
end