
Saat ini, aku sedang bertanding tinju melawan 3 orang gadis yang pernah kukalahkan. Mereka adalah Nozomi, Hinada, dan si brocon Mimi.
"Baiklah kita mulai pertandingan tidak seimbang ini.." ucap MC tinju.
"Peraturannya adalah.. untuk ketiga petinju, kalian akan dinyatakan kalah ketika kalian jatuh... Sedangkan untuk petinju yang sendirian, kamu akan kalah ketika hitungan sampai sepuluh... Dan kamu bisa memenangkan pertandingan ini ketika ketiga lawanmu tidak bisa berdiri hingga hitungan ke sepuluh.." lanjut MC tinju lagi.
"1 vs 3 ya??? Kelihatannya tidak seimbang... Aku harus berhati-hati..." gumamku.
"Awas ya, kamu Meissampah... Aku akan balas 3x lipat..." gumam Nozomi.
"Lihat saja, aku akan membuatmu babak belur dan Da-kun akan menjadi milikku..." gumam Hinada.
"Onii-chan tidak akan aku serahkan padamu, dorobou neko.." gumam Mimi.
DING
Pertandingan pun dimulai. Mereka bertiga langsung mengepungku. Lalu kemudian, Hinada mendorongku ke tali ring. Setelah itu, Nozomi melilit tanganku dengan tali ring sehingga aku sulit bergerak.
"BAMMM!!!!" Hinada meninju pipi kananku.
"BAMMMM!!!!" Nozomi meninju rahang kiriku.
"BAMMM!!!! "Mimi meninju perutku.
Mereka melakukan itu padaku selama dua menit.
"BAMMMM!!!!" Hinada meninju mata kananku.
"BAMMMM!!!" Nozomi meninju mata kiriku.
"BAMMMMM!!!!" Mimi meninju mulutku.
Lilitan tali ring mulai melonggar sehingga membuatku terjatuh ke depan. Namun Hinada menangkapku dan memosisikan aku di tengah ring.
"Ara...ara... Cepat sekali kamu pingsan... Kasihan sekali kamu ini... Makanya, lebih baik berikan saja Da-kun padaku..." ucap Hinada dengan mengejek.
"Apa maksudmu??? Kamu mau mengambil onii-chan dariku???" tanya Mimi sambil menatap tajam Hinada.
"Tenang saja... Aku tidak akan mengambil onii-chan mu sepenuhnya..." ucap Hinada sambil tersenyum.
"Baiklah kalau begitu..." ucap Mimi membalas senyuman Hinada.
"Sekarang, mari kita tinju bersama Kucing betina ini..." ucap Hinada sambil tersenyum.
Nozomi dan Mimi mengangguk.
"BAMMMMM!!!!" Hinada meninju mata kiriku.
"BAMMMMM!!!" Nozomi meninju mata Kananku.
"BAMMMMMM!!!" Mimi meninju mulutku.
"BAMMMMM!!!!" Hinada dan Nozomi meninju perutku secara bersamaan.
"BAMMMMMMMMMMMMMM!!!!!!! Mimi melakukan uppercut ke daguku dengan kuat.
Aku pun sempoyongan dan terjatuh dengan telentang. Hinada, Nozomi, dan Mimi menjauh ke sisi yang lain. Kemudian diatas ring sebuah layar yang mulai menghitung.
1...
2...
3...
4...
5...
6...
7...
8...
9...
Aku bangkit dan kembali mempertahankan kuda-kudaku.
"Baiklah Mimi-chan... Serang dia dengan sekuat tenagamu..." ucap Hinada.
"Baiklah onee-chan..." jawab Mimi.
Mendengar kalimat itu, aku langsung memasang tatapan marah padanya. Karena panggilan onee-chan adalah nama yang dikhususkan untuk seorang gadis yang berpacaran dengan kakak laki-lakinya.
"Ada apa dorobou neko??? Apa kamu ingin ditinju lagi???" ucap Mimi dengan mengancam.
Aku hanya diam menatapnya dengan amarah.
Mimi mendekatiku dengan berlari ke arahku. Kemudian Mimi berusaha untuk meninju hidungku. Namun dengan cepat aku membalas pukulannya dengan meninju hidungnya sehingga membuatnya terpental hingga ke sudut ring. Dan itu membuatnya berkunang-kunang namun tidak jatuh.
"Apaaaa...." gumam Nozomi dan Hinada.
"Sekarang, siapa yang mau lagi???" ucapku dengan mengancam berekspresi dingin.
Kini yang maju adalah Nozomi. Berbagai serangan dikeluarkan oleh Nozomi, aku berhasil menghindarinya dikarenakan aku sudah hapal irama dari Nozomi. Hampir satu setengah menit saja, Nozomi sudah kelelahan. Dan aku langsung melakukan hook ke dagu sebelah kanan Nozomi. Kemudian aku lanjutkan dengan melakukan uppercut ke dagunya dan Nozomi pun terjatuh dan pingsan.
"Nah... sekarang tinggal kamu, Hina-onee chan..." ucapku sambil tersenyum namun marah.
"Akhirnya kamu menyadari kalau akulah yang pantas bersama Da-kun..." ucap Hinada dengan sombongnya.
"Benarkah??? Apa aku perlu membangunkanmu dari tidur???" ucapku sambil tersenyum namun lebih marah.
"Bagaimana kalau sekarang kita buktikan siapa yang paling pantas bersama Da-kun...." ucap Hinada dengan sombongnya.
Setelah mendengar kalimat itu, aku langsung meninju mulutnya sehingga membuat bibirnya berdarah. Kemudian aku langsung memukul wajah dan perutnya yang membuat Hinada mundur hingga ke sudut ring. Setelah itu, aku meninju bertubi-tubi dengan kuat sehingga membuat Hinada berkunang-kunang.
"Nah, sekarang siapa yang pantas bersama dengan Danny-kun, huh?!?!?!" tanyaku dengan sombongnya.
"Tentu saja aku, dasar kucing bau..." jawab Hinada dengan marah.
Kemudian aku melakukan uppercut ke dagunya sehingga membuat Hinada semakin bertambah pusing. Sebelum Hinada terjatuh, aku segera memosisikan Hinada ke tengah ring yang sudah ada Nozomi sebelumnya. Lalu aku mengambil ancang-ancang untuk melakukan pukulan langsung mengenai mata kirinya.
"BAMMMMMMMM!!! aku meninju mata kirinya dengan kuat.
Hinada pun terjatuh sehingga menindih Nozomi yang ada dibawahnya. Kemudian aku menoleh ke arah Mimi yang masih berdiri namun pingsan, lalu aku memosisikannya seperti yang kulakukan pada Hinada. Tak lama kemudian, Mimi menyadari kalau didepannya sudah ada aku.
"Nah, siapa yang pantas menjadi onee-chan kamu Mimi-chan???" tanyaku dengan senyum sambil menarik rambut Mimi.
"Yang pantas menjadi onee-chan ku adalah Hina onee-chan..." jawab Mimi dengan wajah marah.
"BAMMMMMM!!!!" aku meninju mata kanannya.
"Sekarang, siapa yang pantas menjadi onee-chan kamu Mimi-chan???" tanyaku dengan senyum sambil menarik rambut Mimi kembali.
"Sudah kukatakan, Yang pantas menjadi onee-chan ku adalah Hina onee-chan..." jawab Mimi dengan wajah marah juga.
"BAMMMMMM!!!!" Aku kembali meninju mata kanannya.
Begitu terus selama 10 menit. Akibatnya, mata kanan Mimi membengkak semakin besar.
"Sekarang, siapa yang pantas menjadi onee-chan mu???" tanyaku sambil tersenyum lagi.
"Mei onee-chan...." jawab Mimi.
"Terimakasih Mimi-chan..." ucapku sambil tersenyum.
"BAMMMMMMMMMM!!!!!!" aku melakukan uppercut ke dagunya sehingga menimpa Nozomi dan Hinada.
Kemudian layar diatas ring mulai menghitung.
1...
2...
3...
4...
5...
6...
7...
8...
9.....
10.
DING DING DING
Aku melakukan pose kemenangan dengan kaki kiriku menginjak mereka dan aku juga berpose seperti orang yang menunjukkan kedua ototnya.
Kemudian aku terbangun. Ternyata sehari setelah tahun baru yang kejadiannya menyenangkan dan juga menyebalkan mulai membuatku tidur nyenyak. Banyak teman-teman Danny-kun, teman-temanku, Hinada, dan Hatsuki sudah bangun terlebih dahulu. Aku bangun pukul 07.30 pagi. Ketika aku berjalan ke wastafel dapur, banyak dari mereka yang tertawa padaku. Apakah ada sesuatu yang aneh diwajahku?
Aku melihat wajahku dicorat-coret pakai spidol warna hitam dan ada bertuliskan "MEIGOMI" dan ada juga yang bertuliskan "KUCING BAU". Tanpa sengaja aku menjatuhkan sikat gigiku, lalu aku segera membersihkan wajahku hingga berkilau dan aku menggosok gigiku. Setelah selesai, aku segera ke ruang tamu untuk mencari mereka berdua. Setelah aku menemukannya, aku menarik baju mereka berdua hingga ke luar pintu pagar. Kemudian aku lempar mereka berdua keluar dan pintu pagar tersebut aku kunci agar mereka tidak bisa masuk kembali.
CHAPTER 35 - IMPOSSIBLE DREAM
End