
Di suatu ring tinju yang terletak di padang rumput, terdapat 2 orang manusia kucing betina yang akan berkelahi.
"Bisakah kamu menjauh dari Danny onii-chan, Hatsuki senpai??" tanya Mimi dengan marah.
"Tidak mau... Karena dia bukan milik siapapun..." jawab Hatsuki.
"Kalau Danny onii-chan bukan milik siapapun, maka tidak ada yang berhak untuk mengambilnya kecuali aku..." ucap Mimi.
"Huh?!?! Siapa bilang?!?!" ucap Hatsuki dengan kesal.
"Tentu saja aku..." balas Mimi.
Hatsuki dan Mimi saling bertatapan dan menimbulkan aliran listrik dan terdengar suara petir dari tatapan mereka. Hatsuki yang mengenakan sarung tinju berwarna merah gelap pergi ke sisi ring untuk menunggu bel dibunyikan, begitu juga dengan Mimi yang memakai sarung tinju berwarna pink terang pergi ke sisi yang berlawanan dengan Hatsuki.
"Akan aku tunjukkan kalau yang pantas bersama Danny onii-chan adalah aku..." gumam Mimi.
"Akan aku tunjukkan kalau yang pantas bersama Danny-san adalah aku..." gumam Hatsuki.
Bel tanda pertandingan pun dimulai, Mimi dan Hatsuki berjalan ke tengah ring dan mulai saling menyerang. Karena Mimi bertubuh pendek, ia hanya bisa meninju perut Hatsuki, paling tinggi ia meninju rahang Hatsuki. Sedangkan Hatsuki, memiliki banyak keuntungan yang tidak diperoleh oleh Mimi, yaitu tubuhnya yang lumayan tinggi. Mereka terus saling meninju satu sama lain sampai salah satu dari mereka berdua pingsan.
Setiap serangan yang mereka berdua lancarkan, ada yang bisa dihindari, ada yang bisa ditangkis, dan ada pula yang terkena pukulan. Di bagian yang terkena pukulan, semakin lama semakin muncul memar.
"Ha... Ha... Ha... Ha..." hela nafas mereka berdua bersama-sama.
"Ada apa?? Apa kamu sudah menyerah, pendek??" tanya Hatsuki sambil mengejek Mimi.
"Tentu saja tidak akan pernah, wanita tua..." jawab Mimi dengan membalas ejekan Hatsuki.
Mimi melancarkan tinjunya ke perut Hatsuki dan berhasil mengenainya sehingga membuat Hatsuki membungkuk. Melihat kesempatan itu, Mimi langsung melancarkan uppercutnya ke dagu Hatsuki dan Hatsuki pun terjatuh.
"Sakit ya??? Kasihan..." ucap Mimi dengan mengejek.
Mimi langsung menarik rambut Hatsuki. Seketika itu pula, Hatsuki langsung melakukan hook ke rahang Mimi sehingga membuat Mimi terjatuh. Hatsuki pun berdiri dan membalas ejekan dari Mimi.
"Kamu kenapa?? Pingsan ya?? Kasihan...." ucap Hatsuki sambil mengejek Mimi.
Mimi pun berdiri kembali dengan perlahan, dan pertarungan mereka pun dilanjutkan kembali. Semakin lama mereka bertarung, mereka berdua semakin lelah. Namun pembuktian kepantasan mereka untuk bersama Danny-kun membuat mereka tidak ada yang mau mengalah. Pada saat hampir tengah hari, aku berjalan bersama Danny-kun melewati tempat mereka berdua bertarung sambil merangkul tangan Danny-kun. Wujudku tentu saja manusia kucing, begitu juga dengan Danny-kun.
"Mei... Kamu akan mengajakku kemana???" tanya Danny-kun.
"Aku akan mengajakmu ke hutan dekat pegunungan sana..." jawabku sambil tersenyum.
"Bukankah tempat itu menyeramkan??" tanya Danny-kun lagi.
"Kalau sendirian mungkin akan menyeramkan... Tapi kalau berdua, tidak akan menyeramkan..." jawabku lagi.
"Tapi, bukankah orang tuamu akan khawatir jika kita pergi kesana??" tanya Danny-kun.
"Mereka tidak akan khawatir kalau Danny-kun tidak mengatakannya kepada mereka..." jawabku.
"Apakah kamu mengancamku, Mei??" tanya Danny-kun penasaran.
"Tidak kok... Aku tidak mengancammu... Karena kalau Danny-kun merasa terancam, Danny-kun sudah tahu dari tadi... Dan juga Danny-kun memiliki insting yang kuat kalau Danny-kun merasa terancam..." jawabku sambil tersenyum manis.
Karena Danny-kun merasa penasarannya telah terbukti, kini ia menemaniku hutan dekat pegunungan sana. Ketika Mimi dan Hatsuki melihatku sedang merangkul tangan Danny-kun, mereka pun tersentak dan menghampiri kami berdua.
"Apa yang kamu lakukan, kucing pencuri?!?!" ucap mereka berdua serentak dengan kesal.
Aku pun menoleh ke arah lain dengan maksud mencari tahu siapa yang mereka maksud. Hatsuki dan Mimi merasa kesal karena aku cuekin mereka berdua. Tiba-tiba, Mimi melemparkan sepasang sarung tinju ke arahku sehingga mengenai wajahku.
"Ayo masuk ke dalam ring, kucing pencuri..." ajak Mimi dengan wajah kesal.
"Maaf ya... Aku ingin berkencan dengan Danny-kun hari ini... Jadi aku tidak bisa menerima tantanganmu..." ucapku sambil tersenyum.
"Apakah kamu takut???" tanya Mimi dengan menyindirku.
"Tentu saja tidak... Lagipula, aku tidak ingin kalian berdua makin terluka parah..." jawabku sambil tersenyum.
"Bagaimana kalau begini saja, kalau kami menang, kami akan kawin dengan Danny-san..." ucap Hatsuki.
"Boleh... Tapi kalau aku bisa mengalahkan kalian berdua, kalian berdua tidak boleh mendekati Danny-kun... SELAMANYA!!" ucapku sambil tersenyum.
"Okey..." ucap Mimi dengan yakin.
"Kalau begitu, Danny-kun akan menjadi wasitnya... Agar dia tahu kalau aku jauh lebih baik dari kalian berdua..." ucapku dengan bangga.
Mereka berdua pun menyetujuinya. Pertandingan pun dimulai, dan seketika itu, aku langsung menghantam wajah Mimi dengan tinjuku dengan kuat agar dia tidak bisa bangkit lagi. Hatsuki terkejut melihatku bisa mengalahkan Mimi dengan mudah. Dan ia pun juga berusaha untuk mengenaiku, namun tidak ada satupun serangannya mengenaiku.
"Ada apa??? Apa kamu sudah kelelahan??" ucapku sambil mengejek Hatsuki sambil tersenyum.
Setelah puas menghindari serangannya, aku pun mulai memukulnya hingga wajahnya babak belur dan kacamatanya menjadi tidak beraturan. Lalu untuk serangan terakhir, aku melancarkan uppercut ke dagunya dan Hatsuki pun terjatuh di atas tubuh Mimi. Dan pertarungan pun berakhir.
"Sudah jelas, bukan?? Hanya aku yang pantas bersama Danny-kun..." ucapku sambil tersenyum.
Lalu, aku melepaskan sarung tinju yang aku kenakan lalu menarik tangan Danny-kun untuk pulang.
"Mei, apakah kita tidak jadi ke hutan dekat pegunungan sana??" tanya Danny-kun.
"Tidak jadi... Karena aku sudah tidak punya niat lagi untuk kesana... Dan tubuhku juga bau keringat.. dan aku juga tidak ingin memiliki bau yang tidak mengenakkan ketika aku sedang kencan denganmu..." jawabku.
"Baiklah kalau begitu... Kapan-kapan saja kita kesana... Kita akan mengajak mereka berempat juga..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.
Aku pun langsung menggembungkan pipiku.
Epilog
"Tunggu sebentar!!!" ucap Hatsuki.
"Ada apa, ayam rabun??" tanyaku.
"Apa maksudnya ini??? Mengapa di dalam chapter ini masih ada si kucing bucin??" tanya Hatsuki dengan kesal.
"Bukankah itu bagus??" tanyaku dengan wajah datar.
"Bagus apaan... Mengapa akhirnya Danny-san harus berakhir bersama dengan si kucing bucin..." jawab Hatsuki yang masih kesal.
"Kalau kamu tidak suka, cari dong pria lain..." ucapku sambil tersenyum.
"Maaf saja ya... Saat ini, hatiku masih untuk Danny-san..." ucap Hatsuki sambil tersenyum pula.
"Heeee... Jadi kamu ingin mengajakku berkelahi, ayam rabun??" tanyaku dengan nada mengancam sambil tersenyum.
"Bukan cuma dia saja, kucing bucin... Aku juga..." ucap Mimi sambil memegang pundakku lalu meremasnya sambil tersenyum.
"Jadi kalian berdua tidak suka kalau aku bersama Danny-kun?? Oke... Sini maju..." ucapku dengan menantang mereka berdua.
Tiba-tiba mereka berdua langsung memukul wajahku dan aku terjatuh dengan mata yang berkunang-kunang.
CHAPTER 64 - CATFIGHT WILD DREAM
End