
Aku sedang berada di tengah ring melawan Hatsuki. Sebelum pertarungan dimulai, kami saling bertatapan dengan mengancam satu sama lain dengan mata sayuku.
"Ternyata kamu pendek juga, kucing bucin.." ejek Hatsuki.
"Ternyata kamu rabun juga, rabun ayam..." balasku.
Lawanku ini adalah seorang gadis yang memakai kacamata, dan yang anehnya adalah ia tak mau melepas kacamatanya.
"Nanti kacamatamu pecah loh..." ucapku dengan mengejek.
"Jangan khawatir, tanganmu tidak akan sampai ke pipiku..." balas Hatsuki.
"Kalau sampai, bagaimana???" tanyaku dengan mengancam.
"Gampang, tinggal aku buat babak belur wajahmu..." jawab Hatsuki dengan mengancam pula.
"Oya, pelatihmu itu baik ya..." ucap Hatsuki sambil tersenyum.
"Pasti... Bahkan dia keren..." ucapku sambil memuji Danny-kun.
"Kalau aku yang menang, boleh tidak..." ucap Hatsuki.
"Tidak boleh!!!" sanggahku.
"Apakah kamu menyukainya???" tanya Hatsuki.
"Tentu saja..." jawabku dengan mantap.
"Kalau begitu, aku tidak sabar ingin mendapatkannya..." ucap Hatsuki dengan mengejek.
Aku semakin geram mendengarnya. Dan ia melihatku dengan tatapan merendahkan. Kami pun menuju ke sudut ring untuk memulai pertarungannya. Bel pun berbunyi, dan kami pun menuju ke tengah ring.
*Biarkan imajinasimu berjalan*
BAM
BAM
BAM
BAM
BAM
BAM
BAM
BAM
BAM
BAM
BAM
BAM
BAM
BAM (perut bagian kanan membiru)
BAM
BAM
BAM
BAM
BAM
BAM
BAM
BAM (mata kanan membengkak)
Bel tanda ronde pertama berakhir. Kami masing-masing duduk di sudut dan aku meringis sakit karena wajahku lebih banyak dipukul.
"Ada apa??? Apa sudah menyerah???" ejek Hatsuki.
"Awas kamu ya, ayam rabun..." gumamku sambil mengatur nafas.
Tak lama kemudian, bel tanda ronde kedua dimulai.
*Biarkan imajinasimu berjalan kembali*
BAM (mata kanan tambah membengkak)
BAM (perut sebelah kiri membiru)
BAM (hidung berdarah)
BAM (sela bibir sebelah kiri membiru)
BAM (mata berkunang-kunang)
Bel tanda ronde kedua berakhir. Hatsuki duduk seperti biasa, sedangkan aku duduk seperti orang kepanasan.
"Bagaimana??? Apakah kamu sudah menyerah??" ejek Hatsuki.
"Aku..masih..bisa..lanjut.." gumamku dengan nafas yang tersengal-sengal.
Tak lama kemudian, bel tanda ronde ketiga dimulai. Hatsuki berjalan ke tengah ring, begitu juga denganku. Hanya saja, jalanku lebih lambat dari saat ronde kedua dikarenakan mataku masih berkunang-kunang.
"Inilah kesempatanku..." gumam Hatsuki.
Hatsuki meninju mataku yang sudah membengkak dan membuat pandanganku semakin berkunang-kunang, lalu Hatsuki melakukan uppercut ke daguku dan aku pun terjatuh dan mouthpiece ku pun lepas.
"1.." ucap Hatsuki.
"2.." ucap Hatsuki lagi.
"3.." ucap Hatsuki lagi.
"4.." ucap Hatsuki lagi.
"5.." ucap Hatsuki lagi.
Tiba-tiba Hatsuki mempunyai sebuah ide, yaitu ia melepaskan tali ring didepannya. Setelah melepasnya, ia lalu memapahku berdiri.
"Wah, ternyata kamu masih bisa berdiri..." ucap Hatsuki sambil menghinaku.
Kemudian, Hatsuki mendirikan aku ditempat yang tali ring dilepaskan tadi.
"Siap-siap ya.... Satu...dua..." ucap Hatsuki sambil memutar tangan kanannya.
BAM!!!!!
Hatsuki melakukan uppercut ke daguku sehingga membuatku terjatuh keluar ring. Dan pertarungan pun berakhir. Tak lama kemudian, aku terbangun dari tidurku. Disebelahku ada Danny-kun sedang menulis puisi di pondok itu. Melihat Danny-kun sedang asyik menulis, aku memeluknya.
"Ada apa, Mei???" tanya Danny-kun sambil tersenyum.
"Aku bermimpi buruk..." jawabku sambil memeluk Danny-kun.
"Oya??? Mimpi tentang apa???" tanya Danny-kun lagi.
"Aku tidak bisa menceritakannya..." jawabku yang masih memeluk Danny-kun.
Kemudian Danny-kun mengusap rambutku, dan aku pun mulai sedikit tenang.
"Oya Danny-kun, kalau wajahku tidak imut lagi, apakah kamu tetap mencintaiku??" tanyaku.
"Saat ini kamu masih imut kok Mei.." jawab Danny-kun sambil tersenyum.
"Maksudku kalau kita sudah tua nanti..." ucapku sambil menggembungkan pipi.
"Aku tidak tahu apakah kita bisa tetap bersama hingga tua atau tidak... Namun saat ini, aku hanya mencintai yang ada di depan mataku ini..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.
Mendengar jawaban itu, mataku berkaca-kaca. Dan dengan sigap aku memeluk Danny-kun dan dalam pikiranku ingin untuk menciumnya. Namun ketika bibirku hendak mencium bibir Danny-kun, tiba-tiba saja terdengar seperti alarm yang terpasang pada CCTV pondok itu seakan ingin memperingatkan aku untuk tidak berani mencoba melakukan hal yang terlarang. Di sisi lain, Hinada melihatku hendak mencium bibir Danny-kun dari CCTV dan ia meremas kaleng jus yang ia pegang sambil menggigit bibirnya hingga berdarah.
"Saatnya hukuman, Kucing Bau... Huhuhuhuhuhuhu..." ucap Hinada sambil tertawa seram.
Kemudian Hinada menekan tombol yang ada di depannya sehingga terdengar suara alarm di pondok tersebut. Dan kemudian terjadi suasana gempa di pondok tersebut, aku kehilangan keseimbangan dan jatuh ke lantai dan yang mengejutkan aku, Danny-kun melakukan kabeddon ketika gempa terjadi. Dan aku melihat wajah Danny-kun terlalu dekat sehingga membuat wajahku memerah.
"Benar juga, ini adalah kesempatanku..." gumamku.
Lalu aku memeluk Danny-kun saat gempa di pondok tersebut terjadi.
"Baiklah Kucing Bau, kelihatannya kamu ingin aku memberikan hukuman yang lebih berat untukmu.." ucap Hinada sambil tersenyum namun berkedut.
Kemudian gempa ternyata lebih kuat lagi, lalu benda-benda tumpul jatuh ke dahiku dari mulai buku, pensil, pena, buku tebal, buku setebal ensiklopedia, hiasan patung Liberty, hiasan patung menara Tokyo, dan yang terakhir hiasan patung Wonder Woman yang berpose seperti Superman terbang lalu mengenai kedua mataku dan akhirnya aku pun pingsan dalam pelukan Danny-kun. Setelah itu, gempa berhenti dan Danny-kun melirik sekeliling apakah akan terjadi gempa lagi atau tidak. Setelah dirasanya aman, Danny-kun melihatku pingsan dan berusaha untuk menyadarkan ku dengan menepuk pipiku. Karena aku belum sadar, Danny-kun mencoba membisikkan sesuatu ditelingaku.
"Mei, aku mencintaimu.." bisik Danny-kun.
Sontak aku langsung terbangun lalu mencium bibir Danny-kun, dan seketika itu pintu pondok terbuka oleh Hinada dan Nozomi. Seketika itu, mereka berdua melihatku dan Hinada segera menarikku dari pelukan Danny-kun dan menyeretku keluar, Nozomi pun menutup pintu.
BAK!!!
BUK!!!
BAK!!!
BUK!!!
BAK!!!
BUK!!!
BAK!!!
BUK!!!
BAK!!!
BUK!!!
Hinada dan Nozomi bergantian menginjakku, aku hanya bisa melindungi diriku saja. Setelah mereka selesai mereka berdua langsung pergi dari tempat itu meninggalkan aku yang kusut dan kotor karena tanah. Danny-kun membantuku berdiri dan ikut membantuku membersihkan pakaianku yang kotor.
"Ya ampun.. kamu tidak apa-apa kan, Mei??" tanya Danny-kun dengan khawatir.
"Tak apa-apa kok, Danny-kun..." jawabku sambil tersenyum.
"Wajahmu terluka loh.. sini aku obati.." ucap Danny-kun setelah melihat wajahku.
Danny-kun segera mengambil kotak P3K yang kebetulan ada di pondok tersebut yang ada di lemari obat. Lalu Danny-kun mengobati lukaku, walaupun aku meringis kesakitan namun kutahan agar aku tetap imut dimata Danny-kun.
Epilog
Hatsuki terbangun dari tidur siangnya di perpustakaan. Dan untungnya, ia adalah penjaga perpustakaan yang kebetulan tidak ada pengunjung yang datang.
"Rasakan itu, Kucing Bucin..." ucap Hatsuki sambil tersenyum.
CHAPTER 41 - JABULOUS WILD DREAM
End