Kanaya Meissa (Ultimate Kagura Dancer) ~Eternal Love~

Kanaya Meissa (Ultimate Kagura Dancer) ~Eternal Love~
CHAPTER 84 - BLOODY CHRISTMAS WILD DREAM



Di sebuah ring tinju pada malam sebelum natal, aku dan seorang gadis bernama Meridia Elinor akan bertarung. Karena pada chapter lalu, ia berani memeluk Danny-kun yang membuatku marah. Di tempat ini tidak ada penonton, namun banyak kamera berada di dekat ring karena pertandingan tinju ini disiarkan secara live streaming. Banyak komentar yang masuk untuk menyemangati kami berdua, bahkan komentar yang menjatuhkan kami pun juga ada. MC tinju pun mulai memperkenalkan kami berdua.


"Di sudut merah, dengan tinggi 158 cm, memakai pakaian santa, dan memakai sarung tinju berwarna biru, Kanaya Meiiiiisa..." ucap MC tinju.


"Di sudut biru, dengan tinggi 159 cm, juga memakai pakaian santa, namun memakai sarung tinju berwarna hitam, Meridia Elinoooor..." ucap MC tinju lagi.


Lalu kami berdua menuju ke tengah ring untuk mendengarkan arahan dari wasit.


"Baiklah, aku ingin pertarungan yang bersih... Tidak boleh menendang, tidak boleh menyikut, tidak boleh menyundul, dan tidak boleh menggigit..." ucap wasit.


"Apakah kalian berdua sudah mengerti???" tanya wasit.


Kami berdua mengangguk.


"Sebelum dimulai pertandingannya, ada yang ingin kalian sampaikan??" tanya wasit lagi.


"Pendek..." ejek Eli.


"Dada rata..." balasku.


"Mata sipit..." ejek Eli lagi.


"Gendut..." balasku lagi.


Lalu kami pun menuju ke sudut ring untuk memasang mouth piece kami, dan ronde pertama pun dimulai. Kami menuju ke tengah ring, lalu Eli pun memulai serangan ke arah wajahku, namun aku berhasil menghindarinya dan membalas ke arah perutnya.


"Umf..." ucap Eli.


"Kenapa?? Apa kamu sedang mencari koin yang jatuh???" tanyaku dengan mengejeknya.


Eli pun melakukan serangan lagi, namun aku berhasil menghindarinya dan memukul ke arah perutnya lagi.


"Umfff..." ucap Eli.


"Apa cuma segitu saja?? Dasar lemah..." ejekku lagi.


"Kalau begitu, aku mulai ya..." ucapku sambil tersenyum.


BAM


BAM


BUM


BAM


BUM


BAM


BAM


BUM


BAM


BAM


BUM (perut kiri Eli memerah)


"Ada apa??? Apa kamu sudah menyerah??" tanyaku sambil mengejek Eli.


BAM


BAM


BAM


BUM


BAM


BAM


BAM


BUM


BAM (perut bagian kanan Eli membiru)


"Kelihatannya kamu ini lemah sekali ya..." ucapku sambil mengejek Eli lagi.


BAM


BAM


BAM


BUM


BAM


BAM


BAM


BUM


BAM


BAM (perut kanan Eli membengkak)


"Apakah kamu sudah lelah??" tanyaku lagi sambil tersenyum mengejek Eli lagi.


BUM


BUM


BUM


BAM (perut kanan Eli tambah membengkak)


"Wah.... Kelihatannya sakit ya..." ucapku sambil tersenyum mengejek Eli lagi.


BUM


BUM


BUM


BUM


BUM


BAM (perut sebelah kiri Eli membiru)


"Kenapa??" tanyaku sambil tersenyum.


BUM


BUM


BUM


BUM


BUM


BUM


BAM (hidung Eli berdarah)


"Ups... sengaja.." ucapku sambil tersenyum.


BUM


BUM


BUM


BUM (pipi kanan Eli membiru)


"Ayo dong... Mana balasanmu..." ucapku sambil tersenyum.


BUM


BUM


BUM


BUM


BAM (sela bibir sebelah kiri Eli membiru)


"Aku lihat tadi kamu merangkul tangan dengan Danny-kun ya??" tanyaku sambil tersenyum.


BUM


BUM


BUM


BAM (mata Eli berkunang-kunang)


"Tunggu saja seribu tahun lagi, okey..." ucapku lagi sambil tersenyum.


BAK!!!


BUK!!!


BAK!!!


BUK!!!


BAK!!!


BUK!!!


BAK!!!


BUK!!!


BAK!!!


BUK!!!


Eli pun terjatuh dan wasit pun mulai menghitung.


"1..." ucap wasit.


"2..." ucap wasit lagi.


"3..." ucap wasit lagi.


"4..." ucap wasit lagi.


"5..." ucap wasit lagi.


"6..." ucap wasit lagi.


"7..." ucap wasit lagi.


Eli pun bangkit dan bel pertandingan ronde pertama pun berakhir. Kami berjalan ke sudut ring, lalu kami pun duduk disitu. Kami pun beristirahat sambil mengatur nafas kami.


"Bagaimana rasanya tinjuku, huh?? "gumamku dengan mengejeknya.


"Rasakan itu..." gumamku lagi.


"Sialan... Aku tak menyangka dia meninjuku separah ini... Awas saja kamu di ronde kedua ya..." gumam Eli.


Ronde kedua pun dimulai, kami berdua kembali menuju ke tengah ring. Di ronde kedua ini, keadaan masih tetap sama seperti ronde pertama, yaitu aku masih tetap mendominasi. Aku memukul wajah dan perutnya tambah luka dan parah. Bahkan air liur yang keluar dari mulut Eli, berubah menjadi darah.


"Sialan... Mengapa aku tidak bisa menyentuhnya??" gumam Eli dengan kesal.


"Ada apa?? Apa sudah selesai???" tanyaku sambil tersenyum mengejeknya.


"Belum selesai tahu..." jawab Eli dengan kesal.


Namun berapa kali pun Eli mencoba untuk meninjuku, tetap saja aku berhasil menghindarinya dan meninjunya kembali. Lalu ronde kedua pun berakhir. Aku dan Eli kembali duduk di sisi ring sambil melemaskan otot-otot kami.


"Bagaimana aku bisa meninjunya??" gumam Eli kembali.


"Ada apa??? Apakah kamu sudah mau menyerah???" tanyaku sambil memprovokasinya.


"Enak saja... Pertarungan ini belum berakhir, tahu..." jawab Eli dengan kesal.


"Oya?? Buatku ini sudah berakhir loh..." ucapku sambil tersenyum.


"Jelek...." ucapku lagi sambil tersenyum.


Ronde ketiga pun dimulai, aku dan Eli kembali menuju ke tengah ring. Namun Eli langsung melancarkan hook ke arah pipi kananku sehingga membuatku terkejut dan mataku berkunang-kunang.


"Are??" gumamku kaget.


"Inilah kesempatanku..." gumam Eli.


BAM


BAM


BUM


BAM


BUM


BAM


BAM


BUM


BAM


BAM


BUM (perut kiriku memerah)


"Ada apa??? Apa kamu sudah menyerah??" tanya Eli sambil mengejekku.


BAM


BAM


BAM


BUM


BAM


BAM


BAM


BUM


"Kelihatannya kamu ini lemah sekali ya..." ucap Eli sambil mengejekku lagi.


BAM


BAM


BAM


BUM


BAM


BAM


BAM


BUM


BAM


BAM (perut kananku membengkak)


"Apakah kamu sudah lelah??" tanya Eli lagi sambil tersenyum mengejekku.


BUM


BUM


BUM


BAM (perut kananku tambah membengkak)


"Wah.... Kelihatannya sakit ya..." ucap Eli sambil tersenyum mengejekku lagi.


BUM


BUM


BUM


BUM


BUM


BAM (perut sebelah kiriku membiru)


"Kenapa??" tanya Eli sambil tersenyum.


BUM


BUM


BUM


BUM


BUM


BUM


BAM (hidungku berdarah)


"Ups... sengaja.." ucap Eli sambil tersenyum.


BUM


BUM


BUM


BUM (pipi kananku membiru)


"Ayo dong... Mana balasanmu..." ucap Eli sambil tersenyum.


BUM


BUM


BUM


BUM


BAM (sela bibir sebelah kiriku membiru)


"Aku dengar tadi kamu mengatakan bahwa aku ini jelek ya??" tanya Eli sambil tersenyum.


BUM


BUM


BUM


BAM (mataku berkunang-kunang)


"Apa tidak terbalik ya..." ucap Eli lagi sambil tersenyum.


BAK!!!


BUK!!!


BAK!!!


BUK!!!


BAK!!!


BUK!!!


BAK!!!


BUK!!!


BAK!!!


BUK!!!


Aku pun terjatuh dan wasit pun mulai menghitung.


"1..." ucap wasit.


"2..." ucap wasit lagi.


"3..." ucap wasit lagi.


"4..." ucap wasit lagi.


"5..." ucap wasit lagi.


"6..." ucap wasit lagi.


"7..." ucap wasit lagi.


"8..." ucap wasit lagi.


"9..." ucap wasit lagi.


Aku pun bangkit dan bel pertandingan ronde ketiga pun berakhir. Aku dan Eli kembali duduk di sisi ring. Wajahku yang babak belur masih terasa sakit ketika aku mengatur nafasku, dan aku melihat Eli berbalik mengejekku.


"Bagaimana rasanya tinjuku?? Enak kan??" gumam Eli sambil tersenyum mengejekku.


Lalu ronde keempat pun dimulai. Aku dan Eli kembali ke tengah ring, lalu Eli melakukan uppercut ke daguku sehingga membuatku terpental ke tali ring. Eli mengikat kedua tanganku ke tali ring dan Eli pun memulai meninju mata kananku dan mata kiriku secara bergantian.


BAK (meninju mata kiriku)


BUK (meninju mata kananku)


BAK (meninju mata kiriku)


BAK (meninju mata kiriku)


BUK (meninju mata kananku)


BUK (meninju mata kananku)


BAK (meninju mata kiriku)


BUK (meninju mata kananku)


BUK (meninju mata kananku)


BAK (meninju mata kiriku)


BUK (meninju mata kananku)


BAK (meninju mata kiriku)


BUK (meninju mata kananku)


BAK (meninju mata kiriku)


BUK (meninju mata kananku)


BUK (meninju mata kananku)


BAK (meninju mata kiriku)


BAK (meninju mata kiriku)


BUK (meninju mata kananku)


BUK (meninju mata kananku)


BAK (meninju mata kiriku)


BAK (meninju mata kiriku)


BAK (meninju mata kiriku)


BUK (meninju mata kananku)


BUK (meninju mata kananku)


BUK (meninju mata kananku)


BAK (meninju mata kiriku)


BAK (meninju mata kiriku)


BAK (meninju mata kiriku)


BUK (meninju mata kananku)


BAK (meninju mata kiriku)


BUK (meninju mata kananku)


BAK (meninju mata kiriku)


BUK (meninju mata kananku)


BAK (meninju mata kiriku)


BUK (meninju mata kananku)


BUK (meninju mata kananku)


BUK (meninju mata kananku)


BAK (meninju mata kiriku)


BAK (meninju mata kiriku)


BAK (meninju mata kiriku)


BUK (meninju mata kananku)


BAK (meninju mata kiriku)


BUK (meninju mata kananku)


BAK (meninju mata kiriku)


BAK (meninju mata kiriku)


BAK (meninju mata kiriku)


BUK (meninju mata kananku)


Mataku pun mulai berkunang-kunang dan Eli melepaskan ikatanku lalu meletakkan aku di tengah ring.


BUM!!!!!! (Eli melakukan uppercut ke daguku menggunakan tangan kirinya)


Mouth pieceku pun terlempar keluar dan jatuh ke dalam ring, namun aku belum tumbang.


DUAR!!!!!! (Eli melakukan uppercut lagi ke daguku menggunakan tangan kanannya)


Kepalaku mengadah ke atas dan dari mulutku keluar darah dan ada salah satu gigiku yang patah yang membuat aku terjatuh pingsan dengan tubuh yang telentang, wajahku yang babak belur, hidungku berdarah, perutku yang penuh dengan warna biru, dan mataku memunculkan warna putih. Lalu wasit pun mulai menghitung.


"1..." ucap wasit.


"2..." ucap wasit lagi.


"3..." ucap wasit lagi.


"4..." ucap wasit lagi.


"5..." ucap wasit lagi.


"6..." ucap wasit lagi.


"7..." ucap wasit lagi.


"8..." ucap wasit lagi.


"9..." ucap wasit lagi.


"10..." ucap wasit lagi.


Bel pun telah dibunyikan menandakan pertarungan telah berakhir. Eli berdiri didekatku lalu menginjak kepalaku dan melakukan sebuah pose kemenangan.


"Bagaimana rasa tinjuku, huh??" tanya Eli sambil mengejekku.


Banyak komentar yang datang dari acara live tersebut memberikan selamat kepada Eli.


CHAPTER 84 - BLOODY CHRISTMAS WILD DREAM


End