
Seminggu lagi Danny-kun akan berulang tahun ke-17, aku akan membuat sebuah kejutan untuk Danny-kun. Aku akan merayakan ulang tahun Danny-kun hanya berdua saja. Namun entah mengapa tidak sesuai dengan keinginanku.
Karena ketiga gadis sedang berada di rumah masing-masing mau merayakan ulang tahun Danny-kun bersama-sama.
"Kira-kira apa yang Da-kun sukai ya??? Apa aku langsung berikan tubuhku saja??? Tapi itu kan terlalu cepat..." gumam Hinada tersipu malu.
"Kalau kuberikan sebuah buku puisi apa Danny-san suka???" gumam Hatsuki.
"Hmmm..hmmmm..hmmm..." ucap Nozomi bersenandung sambil membuat origami.
"Entah mengapa tahun ini adalah tahun yang menyebalkan untukku..." kesalku.
Esoknya, aku datang ke apartemen Danny-kun dan disana juga ada ketiga gadis itu.
"Apa yang kalian lakukan disini???" tanyaku.
"Memangnya aku perlu menjawabnya..." ucap Hinada dengan ketus.
"Baiklah kalau begitu, bisakah kamu minggir???" ucapku dengan tenang.
"Tidak mau..." ucap Hinada dengan ketus lagi.
"Hoooo... Jadi kamu berani melawanku ya??? Apa kamu mau dihajar lagi??" ucapku sambil tersenyum dengan kepala berkedut"
"Siapa takut... PENDEK!!!" ucap Hinada dengan mengejek.
Kami berdua berkelahi didepan pintu apartemen Danny-kun. Hatsuki dan Nozomi mencoba melerai kami, namun tidak berhasil. Ketika Danny-kun membuka pintu depan dan melihat kami berkelahi, Danny-kun hanya menatap kami berdua namun memancarkan aura kegelapan.
"Selamat pagi, Danny-kun..." ucapku dengan manja.
Danny-kun hanya diam saja.
"Danny-san, apa kamu baik-baik saja???" tanya Hatsuki.
Tiba-tiba Danny-kun jatuh pingsan dan kami berempat panik dan memapah Danny-kun ke kamarnya. Setelah sampai dikamarnya, kami baringkan Danny-kun dan aku segera mengambil air dalam baskom dan handuk untuk menurunkan panasnya.
"Bagaimana Danny-kun bisa demam??? Apa Danny-kun kurang tidur???" gumamku sambil khawatir.
"Sekarang bagaimana???? Apa kita bawa saja ke rumah sakit???" tanya Hinada.
"Jangan dulu... Karena kita tidak tahu apakah separah itu demam Danny-kun..." jawabku sambil meletakkan handuk basah ke kening Danny-kun.
"Bagaimana kalau demam Danny senpai parah???" tanya Nozomi.
"Kalau begitu, dalam 2 hari lagi kalau demam Danny-kun tidak turun juga, maka kita akan membawanya ke rumah sakit..." jawabku.
"Baiklah kalau begitu, bisakah kalian bertiga keluar??? Biar aku yang menjaga Danny-kun..." ucapku lagi.
"Aku menolak..." sanggah Hinada.
"Aku juga..." ucap Nozomi.
"Bukankah lebih baik kita menjaganya bersama-sama???" lanjut Hatsuki.
Kami berempat berdebat panjang dan akhirnya hasilnya adalah aku membiarkan mereka merawat Danny-kun hingga sembuh. Namun sebelum kami merawat Danny-kun bersama, aku meminta bantuan mereka bertiga untuk membeli barang yang dibutuhkan agar Danny-kun cepat sembuh dan tentu saja akal licik yang terlintas dipikiranku untuk membuat mereka pergi menjauh walaupun hanya beberapa jam saja.
"Ini daftar obat penurun demam.. dan bahan makanan untuk menurunkan demam..." ucapku sambil menyerahkan secarik kertas.
"Dan kalian boleh lihat isinya saat sudah sampai di supermarket.." lanjutku.
"Mengapa harus begitu???" tanya Nozomi penasaran.
"Apakah kalian tidak percaya padaku???" tanyaku lagi untuk meyakinkan mereka bertiga.
"Baiklah kalau begitu, kami akan beli yang ada di daftar ini..." ucap Hinada.
Mereka bertiga pun pergi ke apotek. Setelah mereka bertiga keluar, aku segera mengunci pintunya agar mereka bertiga tidak menggangu. Dan aku memeras handuk kembali lalu kemudian meletakkan handuk tersebut di kening Danny-kun. Aku melihat Danny-kun sambil membelai rambutnya dengan wajah tersenyum.
"Alangkah bahagianya aku jika hal ini bisa kulakukan setiap saat..." gumamku.
Kepala Danny-kun bergerak sedikit ke samping kanan seakan dirinya sedang bermimpi indah. Aku pun masih tetap mengusap rambut Danny-kun dan tersenyum.
"Kira-kira Danny-kun mimpi apa ya??? Aku penasaran..." gumamku lagi sambil tersenyum.
Di toko obat
Hatsuki, Nozomi, dan Hinada telah sampai ke toko obat. Disana, mereka bertanya apakah ada obat penurun panas karena demam. Ketika penjual bertanya apa nama obatnya, Hinada mengeluarkan secarik kertas yang diberikan olehku dan dia mulai membacanya, namun Hinada segera melipat kembali kertas tersebut dan mengatakan obat untuk menyembuhkan demam. Penjaga toko tersebut, mencari dan menemukan obat tersebut dan Hinada membayarnya.
Perjalanan menuju tempat Danny-kun
"Apakah kalian nanti tidak telat ke sekolah, Nozomi-san??? Hatsuki-san???" tanya Hinada.
"Aku tidak bisa pergi ke sekolah kalau Danny senpai masih sakit..." jawab Nozomi.
"Aku juga tidak bisa..." jawab Hatsuki.
"Lebih baik, kamu pergi beritahukan teman sekelas Da-kun agar mereka dapat menjenguknya... Karena tidak baik kalau kamu tidak memberitahu teman-temannya Da-kun ketika dirinya lagi sakit..." ucap Hinada.
"Baiklah kalau begitu, aku akan langsung ke sekolah... Namun setelah pulang sekolah nanti, aku akan ke tempat Danny senpai lagi...." lanjut Nozomi.
Hinada mengangguk.
Hinada mengangguk lagi.
Setelah Nozomi dan Hatsuki pergi ke sekolah, wajah Hinada berubah menjadi kecut karena dirinya sudah mengetahui apa maksudku yang sebenarnya. Hinada langsung pulang menuju apartemen Danny-kun dan setelah sampai disana, Hinada membuka pintu namun entah mengapa pintu tersebut terkunci. Dirinya pun mengetuk pintu namun tidak ada yang membuka pintunya. Tentu saja aku tidak membuka pintu, karena aku tidak ingin ada yang menggangu momenku bersama Danny-kun yang sedang beristirahat. Namun Hinada tetap saja mengetuk pintu.
"Buka pintunya, kucing bau... Aku mau masuk..." ucap Hinada.
Namun tidak ada jawaban karena aku tetap mengacuhkannya. Dan Hinada mengetuk pintu dan mengatakan hal tersebut sebanyak lima kali. Setelah itu, Hinada tidak mengetuk pintu lagi. Suasana menjadi hening dan pikiranku melayang. Sempat aku berpikir mesum, namun segera kutepis pikiran itu dikarenakan aku tidak ingin menjadi gadis yang buruk di mata Danny-kun. Namun tak lama setelah itu, terdengar suara ketukan pintu, namun kali ini bukan Hinada yang mengetuknya.
"Permisi... Selamat pagi..." ucap suara wanita yang sedang mengetuk pintu.
"Ya, ada apa???" tanyaku dari balik pintu.
"Saya mendapat sebuah laporan kalau di apartemen ini ada tindakan asusila.." jawab wanita itu.
"Saya tidak melakukan perbuatan asusila kok... Darimana anda mendapatkan laporan tersebut???" tanyaku lagi.
"Dari seorang wanita yang tidak ingin disebutkan namanya..." jawab wanita itu.
"Bisakah anda membuka pintunya agar saya dapat mendapatkan keterangan dari anda???" tanya wanita itu.
"Tunggu sebentar..." jawabku.
Aku perlahan membuka pintu, namun yang terlihat adalah Hinada yang menyamar sebagai seorang polisi. Aku pun dengan sigap menutup pintu, namun berhasil ditahan oleh Hinada. Kami saling tarik menarik pintu sekuat tenaga kami, namun aku kalah dan Hinada berhasil masuk. Hinada langsung menuju kamar Danny-kun dan meletakkan obat tersebut di meja belajar Danny-kun.
"Da-kun, ini obat penurun panas... Semoga lekas sembuh... Aku ingin kita bisa ngobrol bersama lagi.." ucap Hinada sambil mengusap rambut Danny-kun.
Aku segera bangkit dari jatuhku dan melihat segera menuju kamar Danny-kun agar rubah betina itu tidak melakukan hal buruk kepada Danny-kun. Dan benar saja, rubah betina itu mengusap rambut Danny-kun dan aku segera mencegahnya sebelum terlambat.
"Apa yang kamu lakukan, rubah betina?!?!?!" ucapku dengan kesal.
"Aku hanya mengusap rambut Da-kun..." jawab Hinada.
"Haaaa.. maaf saja, yang boleh melakukan itu hanya aku seorang..." ucapku dengan ketus.
Kami berdua bertengkar hebat hingga akhirnya membuat Danny-kun membuka matanya.
"Danny-kun... Kamu tak apa-apa???" ucapku sambil mengusap rambut Danny-kun sambil duduk didekatnya.
"Kamu kenapa Da-kun??? Apa keningmu masih panas???" ucap Hinada sambil meletakkan kepala Danny-kun ke pahanya.
Melihat hal itu, aku langsung mencubit paha Hinada dan sambil tersenyum kedut.
"Jangan coba-coba mengambil kesempatan ya... Rubah Betina sialan..." gumamku.
"Siapa cepat, dia dapat..." jawab Hinada dengan bergumam pula.
Tiba-tiba muncul aliran listrik antara kami berdua. Namun tak lama kemudian, terdengar suara bel dan aliran listrik kami berhenti. Kami berdua hanya diam saja karena salah satu dari kami tidak ingin bergerak satu inchi pun. Kami hanya saling bertatapan seperti mengatakan "Kamu saja yang membuka pintunya, aku disini saja...".
Namun Danny-kun bangun dari tidurnya dan kami mencegahnya untuk bangun agar Danny-kun bisa cukup beristirahat lagi. Kami berdua saling bertatapan kembali dan mengatakan hal yang sama dipikiran kami. Namun pada akhirnya, aku terpaksa membuka pintunya walaupun aku tak rela kalau Danny-kun berduaan dengan rubah betina itu.
Aku membuka pintu dan aku melihat teman sekelas Danny-kun dan teman sekelasku juga menjenguk Danny-kun. Aku pun mengantarkan mereka ke kamar Danny-kun dan mereka duduk di dekat Danny-kun dan aku duduk dekat rubah betina itu dan mencubit pahanya dengan maksud untuk meletakkan kepala Danny-kun dibantal. Namun rubah betina itu mengacuhkanku dan aku mencubit pahanya lebih kuat. Dan akhirnya kepala Danny-kun berada di bantal.
Saat sore hari, satu persatu dari mereka pulang dan hanya tinggal aku, Danny-kun, dan rubah betina itu.
"Mengapa kamu tidak pulang???" tanyaku ke Hinada.
"Aku ingin menginap disini menemani Da-kun..." jawab Hinada.
"Begitu ya...." ucapku pelan.
"Sebaiknya, kalian berdua pulang saja... Karena sebentar lagi malam... Aku bisa sendiri kok..." ucap Danny-kun.
"Nanti kalau Da-kun terjadi sesuatu bagaimana???" ucap Hinada dengan khawatir.
"Tidak apa-apa, aku sudah mendingan..." ucap Danny-kun.
"Kami berdua pulang dulu ya, Danny-kun..." ucapku sambil menarik tangan Hinada.
"Heiiii...." ucap Hinada yang tangannya ditarik olehku.
Kami berdua keluar dari apartemen Danny-kun, dan Hinada sudah dijemput oleh supirnya. Hanya tinggal aku didepan apartemen Danny-kun. Setelah Hinada pergi, tiba-tiba aku teringat sesuatu dan aku segera masuk kembali ke apartemen Danny-kun.
"Ada apa Mei??? Apa ada yang ketinggalan???" tanya Danny-kun.
Aku langsung mencium pipi Danny-kun tanpa menjawab.
"Semoga lekas sembuh ya, Danny-kun... Kalau perlu bantuan, hubungi aku saja..." ucapku sambil tersenyum manis.
Aku menutup pintu apartemen Danny-kun dan langsung pulang ke rumah.
CHAPTER 26 - MENJENGUK
END