Kanaya Meissa (Ultimate Kagura Dancer) ~Eternal Love~

Kanaya Meissa (Ultimate Kagura Dancer) ~Eternal Love~
CHAPTER 71 - TRAP IN HOTEL



Aku dan Danny-kun sedang menginap di sebuah hotel biasa dikarenakan malam ini hujan deras sekali. Di samping itu, kami memesan 2 kamar namun karena yang tersisa hanya 1 kamar saja dengan terpaksa kami harus tidur satu kamar. Dan kebetulan besok adalah hari Minggu. Jujur, aku merasa deg-degan karena terakhir satu kamar dengan Danny-kun saat kami berdua masih kecil.


"Kamu mandi duluan saja, Mei..." ucap Danny-kun.


"Apa tidak apa-apa??" tanyaku.


"Tidak apa-apa kok... Lagipula, nanti kamu akan sakit..." jawab Danny-kun sambil tersenyum.


Aku pun bergegas mandi namun tidak terlalu lama dikarenakan Danny-kun juga harus mandi. Setelah selesai mandi, Danny-kun pun mulai mandi agar dia tidak sakit. Aku duduk di sebuah kursi sambil menunggu Danny-kun selesai mandi.


"Mengapa aku deg-degan ya??? Seperti suami istri saja..." gumamku.


"Su...suami istri..." gumamku lagi dengan wajah memerah.


Sambil menunggu Danny-kun selesai mandi, aku memakai pakaianku kembali. Setelah Danny-kun selesai mandi, aku pun tanpa sengaja melihat tubuh Danny-kun sedang memakai handuk dan wajahku pun memerah namun dalam hati ini terasa senang.


"Terimakasih dewa karena aku sudah melihat tubuh Danny-kun..." gumamku sambil berdoa dengan perasaan senang.


Lalu aku berpaling sebentar ke arah lain saat Danny-kun memakai pakaiannya, karena aku tidak boleh melihat kepunyaan Danny-kun ketika kami berdua belum menikah. Setelah Danny-kun selesai memakai pakaiannya, ia pun duduk di atas kasur untuk memulai pembicaraan yang cukup serius.


"Mei, apakah kamu sudah merencanakan masa depanmu???" tanya Danny-kun.


"Sudah..." jawabku sambil tersenyum.


"Seperti apa rencanamu??" tanya Danny-kun lagi.


"Aku ingin menikah denganmu..." jawabku sambil tersenyum manis.


"Kalau hal itu tidak mungkin terjadi, kamu akan menikah dengan siapa??" tanya Danny-kun lagi.


Aku pun langsung memeluk Danny-kun.


"Aku akan tetap menunggumu walaupun pada akhirnya kamu tidak bersamaku..." jawabku.


"Namun sebelum itu terjadi, kamu jangan berkata seperti itu, Danny-kun... Aku tidak suka..." ucapku dengan lembut.


Danny-kun lalu mengusap rambutku. Ketika Danny-kun mengusap rambutku, kegelisahanku hilang lalu kemudian aku menatap Danny-kun dalam-dalam dan tanpa sadar aku mencium bibirnya dengan lembut. Setelah 5 menit kami berciuman, Danny-kun merasa mengantuk dan ia pun ingin tidur. Namun entah mengapa ranjang yang kami tempati terpisah sehingga membuatku sedikit bersedih, namun Danny-kun menatapku sambil tersenyum dengan maksud untuk mengatakan tidak apa-apa. Aku pun membalas senyumannya dan kami pun tidur di ranjang masing-masing. Selama 1 jam, aku tidak bisa tidur karena aku sering melihat Danny-kun tidur di kasur sebelahku. Aku menoleh ke arah lain, aku juga tetap tidak bisa tidur. Setelah itu, aku menyelinap ke ranjang Danny-kun agar aku bisa tidur. Dan sungguh di luar dugaan, aku pun bisa tertidur menghadap punggung Danny-kun. Aku bermimpi kalau aku menikah dengan Danny-kun dan mempunyai 2 orang anak, laki-laki dan perempuan. Kami hidup bahagia tanpa ada rubah betina, ayam rabun, akuma milku, dan brocon. Di dunia mimpi ini, aku dan Danny-kun bebas melakukan apapun yang kami suka dikarenakan dunia ini adalah surga kami berdua.


Esok paginya ketika pukul 05.30, Danny-kun terbangun dengan menghadap ke arahku dan ia pun terkejut ketika aku tidur disebelahnya.


"Mei... Mengapa kamu tidur disebelahku???" tanya Danny-kun dengan kaget.


"Ummmm..." ucapku sambil tidur.


Aku membuka mataku perlahan-lahan.


"Ohayou... Danny-kun..." ucapku sambil tersenyum manis.


"Ohayou juga, Mei..." balas Danny-kun sambil tersenyum.


"Bukan begitu..." lanjut Danny-kun dengan kembali kaget.


"Mengapa kamu tidur disebelahku, Mei???" tanya Danny-kun yang masih kaget.


"Aku tidak bisa tidur..." jawabku sambil bangun dan mengusap mataku.


"Tapi bukankah lebih baik kamu permisi dulu??" tanya Danny-kun.


"Aku tidak enak membangunkanmu..." jawabku sambil menguap.


Danny-kun tiba-tiba mencubit pipiku.


"Aw...aw...aw... Danny-kun... Sakit..." ucapku sambil meringis.


"Ini hukumanmu karena tidak permisi padaku..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.


Setelah aku selesai dicubit, Danny-kun yang mandi pertama kali dikarenakan ia yang bangun duluan. Aku kembali berbaring namun tidak tidur dikarenakan hari ini kami akan keluar dari hotel ini. Dan pagi ini pikiran mesumku mulai berulah lagi ketika Danny-kun sedang mandi, namun aku bisa menghentikannya karena itu bukanlah pikiran yang sehat. Disamping itu, keadaan kami tadi malam hingga pagi ini bukanlah keinginan kami. Setelah Danny-kun selesai mandi, aku pun segera bangun dan mandi. Dan ternyata Danny-kun sudah menyiapkan air panas untuk aku mandi. Aku membersihkan tubuhku hingga bersih dan wangi karena aku tidak ingin di pagi hari bersama Danny-kun hari ini membuat Danny-kun tidak nyaman. Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, kami pun segera keluar dari hotel tersebut untuk pulang ke rumah masing-masing, namun tiba-tiba Hinada muncul dari luar hotel.


"Tadi malam hujan... Makanya kami menginap di hotel ini.." jawab Danny-kun sambil tersenyum.


"Bukan itu maksudku..." ucap Hinada sambil cemberut.


Aku mengerti apa maksud dari Hinada, lalu spontan aku merangkul tangan Danny-kun.


"Apa yang terjadi di hotel tadi malam, itu bukan urusanmu..." ucapku sambil tersenyum.


"Aku tidak bertanya padamu, kucing bau..." ucap Hinada sambil tersenyum padaku.


"Pertanyaan yang ditujukan kepada Danny-kun adalah pertanyaan yang ditujukan padaku juga..." ucapku sambil tersenyum pula.


"Sejak kapan peraturannya diubah menjadi seperti itu??" tanya Hinada sambil tersenyum kedut.


"Ara...ara... Sepertinya kamu tidak diajarkan disekolahmu ya..." ucapku sambil tersenyum dengan maksud untuk mengejek kepada Hinada.


Kemarahan Hinada pun tersulut sehingga membuat kepalanya berkedut dan menimbulkan aliran listrik ketika kami berdua bertatapan sambil tersenyum.


"Yuk Da-kun... Aku akan mengantarmu pulang..." ucap Hinada sambil merangkul tangan Danny-kun di sisi satunya lagi.


"Bisakah kamu melepaskan tangan kotormu dari Danny-kun, rubah betina??" ucapku sambil tersenyum kedut.


"Mengapa tidak kamu saja, kucing bau??" jawab Hinada sambil tersenyum pula.


Danny-kun menghela nafasnya, lalu berpikir sejenak bagaimana caranya agar kami berdua tidak berkelahi.


"Kalau begitu, aku pulang duluan ya..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.


Aku dan Hinada memegang Danny-kun dengan erat agar Danny-kun tidak cepat pulang.


"Bagaimana kalau kita cari sarapan dulu??" tanya Hinada sambil tersenyum.


"Boleh juga... Bagaimana menurutmu, Mei??" tanya Danny-kun.


"Boleh juga idemu itu, Hinada-san..." jawabku sambil tersenyum.


Akhirnya kami pun mencari tempat untuk kami bertiga sarapan, namun tentu saja akan lebih indah kalau rubah betina ini tidak ikut.


Epilog


Disaat aku menuju rumahku, tiba-tiba saja Hinada mencegatku.


"Ada apa lagi, rubah betina??" tanyaku dengan datar.


"Aku hanya ingin tahu apa yang sedang kamu lakukan dengan Da-kun tadi malam..." jawab Hinada dengan kesal.


"Kan sudah kukatakan, itu bukan urusanmu..." ucapku dengan datar.


"Tentu saja itu urusanku... Karena aku yakin kalau kamu sudah memaksa Da-kun untuk melakukan perbuatan mesum..." ucap Hinada.


"Kalau iya, bagaimana??" tanyaku.


"Kamu tidak boleh lewat sebelum aku menghajarmu...." jawab Hinada.


"Kalau tidak??" tanyaku lagi.


"Kamu juga tidak boleh lewat sebelum aku menghajarmu juga..." jawab Hinada.


"Jadi kamu ingin mengajakku berkelahi?? Okey... Maju sini... Biar aku tinju wajahmu yang menyebalkan itu..." ucapku sambil tersenyum.


Hinada pun langsung menerjangku, namun aku berhasil memukulnya hingga dia terjatuh. Dia pun bangun dan aku menjatuhkannya lagi. Begitu terus hingga wajah Hinada babak belur dan ia pun pingsan.


CHAPTER 71 - TRAP IN HOTEL


End