Kanaya Meissa (Ultimate Kagura Dancer) ~Eternal Love~

Kanaya Meissa (Ultimate Kagura Dancer) ~Eternal Love~
CHAPTER 25 - WILD DREAM AGAIN



"Ugggghhh" ucap seorang gadis sedang tergeletak di tengah ring tinju.


"1..." Wasit menghitung.


"2..." Wasit menghitung lagi.


"3..." Wasit menghitung lagi.


"4..." Wasit menghitung lagi.


"5..." Wasit menghitung lagi.


Di pertandingan tinju kali ini aku melawan Hinada si rubah betina. Dia menjatuhkan aku lewat pukulan hooknya ke arah pipi kananku. Aku mencoba untuk berdiri namun mataku berkunang-kunang. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Aku akan menceritakannya.


Dua hari yang lalu saat pagi hari, aku dan Danny-kun sedang lari pagi. Udara sejuk saat itu dan aku merasa bahagia karena aku lari pagi bersama Danny-kun. Walaupun hanya sebuah rutinitas biasa, aku merasa menjadi gadis yang paling bahagia sedunia.


"Bagaimana kalau kita istirahat dulu, Danny-kun..." saranku.


"Baiklah..." jawab Danny-kun.


Kami berdua duduk di sebuah taman dan menikmati udara pagi yang segar.


"Apa kamu haus, Mei???" tanya Danny-kun.


Aku mengangguk.


Danny-kun mendatangi mesin penjual otomatis yang kebetulan berada di dekat taman dan membelinya.


"Ini Mei..." ucap Danny-kun sambil memberikan botol minuman padaku.


Namun tiba-tiba rubah betina itu datang dan mengambil minumanku.


"Hei..." ucapku kesal.


"Kamu itu tidak pantas minum dari uang Da-kun..." ucap Hinada dengan mengejek.


"Apa hakmu melarangku???" tanyaku kesal.


"Pastinya... Kamu itu cocoknya minum air kobokan..." jawab Hinada dengan mengejekku.


"Sudahlah hentikan... Tidak baik pagi-pagi sudah ribut..." ucap Danny-kun.


"Baik, Da-kun..." ucap Hinada dengan nada manja.


"Danny-kun... Boleh aku memukulnya???" tanyaku kesal.


"Tahan Mei... Disini bukan ring..." jawab Danny-kun.


"Kalau kamu mau bertanding tinju denganku, datanglah ketempat ku 4 hari lagi dan aku akan membuatmu babak belur..." ucap Hinada dengan mengejek padaku.


"Okey, kalau begitu dandan yang cantik ya sebelum aku menghajarmu..." balasku.


"Kalau begitu, bagaimana kalau kita taruhan???" ucap Hinada dengan tersenyum.


"Apa itu??" tanyaku.


"Kalau aku menang, Da-kun akan menjadi pelatihku.. "selamanya"..." jawab Hinada.


"Apa maksudmu dengan kata "selamanya"???" tanyaku dengan nada kesal.


"Apa kamu seekor kera???" ucap Hinada dengan mengejek.


Aku menarik rambut Hinada.


"Sayang sekali, aku sukanya kucing.." ucapku dengan tersenyum.


"Hee.. kucing itu terlalu bagus untukmu.. cocoknya itu belatung.." balas Hinada dengan tersenyum sambil menarik rambutku juga.


"Kelihatannya, kamu mulutmu perlu kutinju biar jadi bersih.." balasku lagi dengan menarik rambut Hinada ditambah kepalaku berkedut.


Kami saling menarik rambut dan akhirnya Danny-kun melerai kami.


"Sudahlah, bukankah lebih baik kalian selesaikan saja di ring??" saran Danny-kun.


Hinada melepaskan tangannya dari rambutku.


"Okey, Da-kun..." ucap Hinada dengan nada manja.


"Kalau begitu, aku pamit dulu ya Da-kun.." lanjut Hinada dengan nada manja.


"Pulang sana... Weeeeeekkkkkkk.." ucapku sambil aku menjulurkan lidahku untuk mengejek Hinada.


4 hari kemudian di ring tinju


"Tempat ini sepi sekali..." ucapku.


"Aku tidak suka tempat ramai..." jawab Hinada.


"Apa kamu takut kalah???" ucapku dengan mengejek.


"Aku tidak takut kalah... Aku hanya tidak mau wajah babak belurmu dilihat orang banyak..." balas Hinada.


"Ya...ya...ya... Terserah kamu saja..." ucapku dengan cuek.


"Ngomong-ngomong, kenapa Danny-kun tidak boleh masuk???" tanyaku lagi.


"Oh, aku sudah siapkan kursi VVIP buat Da-kun..." jawab Hinada dengan tersenyum.


"Apa maksudmu???" tanyaku lagi.


"Kamu lihat kamera itu???" ucap Hinada sambil menunjuk ke arah kamera.


Aku menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Hinada.


"Da-kun bisa melihat pertandingan kita lewat kamera itu..." ucap Hinada.


"Owh...." ucapku paham.


"Lalu coba kamu lihat ke atas..." ucap Hinada.


"Ada apa diatas???" tanyaku sambil menoleh ke atas.


Ketika aku menoleh ke atas, Hinada melakukan uppercut ke daguku dan aku terdorong ke belakang dan untungnya ditahan oleh tali ring.


"Ups... Maaf, sengaja..." ucap Hinada dengan mengejek.


"Apa maksudmu ini, rubah betina???" ucapku sambil memegang daguku yang kena pukul.


"Tidak ada maksud apa-apa, aku hanya ingin memukulmu saja..." ucap Hinada dengan mengejek lagi.


"Bukankah itu melanggar aturan??" tanyaku kesal.


"Kamu tahu aturan, "Ringku adalah Aturanku???" ucap Hinada dengan nada sombong.


"Baiklah kalau begitu, bagaimana aturannya??" tanyaku dengan kesal.


"Ada 2 peraturan.. yang pertama, ketika hitungan sampai 10 belum bangkit dia yang menang.. yang kedua, yang jatuh keluar ring itu yang kalah..." jawab Hinada.


"Tunggu sebentar... Keluar ring?? Memangnya tali ring tidak bisa menahan kita???" tanyaku.


"Tentu saja bisa, tapi perlu diingat tali ring ini dibuat khusus agar ketika terkena keringat tali tersebut akan menipis dan akhirnya putus..." jawab Hinada dengan tersenyum.


"Berapa ronde pertandingannya???" tanyaku lagi.


"Cukup 1 ronde saja..." jawab Hinada.


"Cepat sekali..." ucapku dengan kaget.


"Tapi 1 ronde hingga salah satu dari kita kalah..." lanjut Hinada.


"Boleh juga... Kalau begitu aku akan buat wajahmu seperti seekor monyet..." ucapku dengan mengejek.


"Okey... Kalau begitu aku akan buat wajahmu seperti seekor ****..." balas Hinada.


Aku langsung memukul wajah Hinada, namun Hinada berhasil mengindarinya dan memberiku pukulan hook ke pipi kiriku dan mengenainya.


"Langkah awal untuk membuat wajah seekor **** di wajahmu.." ucap Hinada dengan mengejek.


Kemudian Hinada langsung meninju hidungku dan juga mengenainya.


"Sepertinya sudah mulai kelihatan..." ucap Hinada dengan mengejek lagi.


Kemudian Hinada meninju mata kiriku dengan pukulan langsung sehingga aku terhuyung dan terjatuh, kemudian, wasit mulai menghitung sehingga kita kembali ke awal cerita.


"6..." Wasit menghitung lagi.


"7..." Wasit menghitung lagi.


"8..." Wasit menghitung lagi.


Hinada membantuku berdiri, namun tidak seperti membantu tetapi seperti mengangkat futon untuk dimasukkan ke dalam lemari setelah bangun pagi. Lalu Hinada mengikat tanganku dengan tali ring. Kemudian Hinada melakukan kuda-kuda lalu memukul wajahku bertubi-tubi. Setelah dia puas, dia memukul perutku juga bertubi-tubi, lalu dia melepaskan ikatanku dan Hinada mendirikanku menghadap sudut ring dan melakukan uppercut ke daguku sehingga aku terduduk disudut ring.


"Arara... Kamu kenapa??? Kok wajahmu jadi begitu??? Apa wajahmu habis digigit nyamuk???" ucap Hinada dengan mengejek.


Aku masih setengah sadar.


"Aku mau kok bantu kamu berdiri, tapi kamu harus menirukan suara seekor **** dahulu...." ucap Hinada dengan mengejek lagi.


Aku hampir sepenuhnya sadar.


"Kalau tidak mau dibantu berdiri, tak apa kok... Atau kalau kamu mengizinkan, aku akan mencium Da-kun..." ucap Hinada dengan memanas-manasi.


Mendengar kata itu aku berdiri secara perlahan. Dan setelah aku berdiri tegak, aku langsung memasang kuda-kuda dalam bertinju. Hinada masih tetap mengejekku dan menirukan gerakan kuda-kudaku dalam bertinju.


"Kamu mau melakukan apa??? Sudahlah, lebih baik kamu menirukan suara seekor **** saja... Aku pikir akan lebih bagus...." ucap Hinada tetap mengejekku.


Hinada lalu mendekatiku dengan maksud untuk memukulku, namun ketika sampai ke dalam jangkauanku aku langsung meninju hidung Hinada dan hidungnya berdarah.


"Kamu kenapa??? Apa kamu sedang sakit flu???" balasku mengejeknya.


"Hei, sakit tahu..." keluh Hinada sambil memegang hidungnya.


"Sakit ya?!?!?!? Kasihan anak mama..." ucapku dengan mengejeknya lagi.


Kemudian aku meninju mata kirinya sehingga membuat mata Hinada berkunang-kunang. Kemudian aku meninju hidungnya sekali lagi sehingga membuat Hinada terdorong sampai ke tali ring.


"Ini adalah kesempatanku... gumamku.


Aku meninju wajah dan perut Hinada bertubi-tubi sehingga Hinada mengeluarkan keringat dari wajahnya, darah dari hidungnya dan air liur dari mulutnya. Pada akhirnya, Hinada sempoyongan dan aku membantunya untuk berdiri tegak dan aku langsung melakukan uppercut ke dagunya dan Hinada terdorong dan terpeleset karena genangan air bercampur darah dan Hinada keluar ring karena tali yang menahannya memuai karena keringatnya. Pertandingan tinju ini berakhir dimenangkan olehku dan aku terjatuh karena kelelahan.


Begitu terbangun, aku berada di UKS Kibou Gamine Gakuen dan Danny-kun sedang duduk didekatku menungguku terbangun. Tak lama kemudian, aku terbangun dan Danny-kun tersenyum padaku.


"Selamat pagi, Mei..." ucap Danny-kun dengan tersenyum.


"Dimana ini???" tanyaku dengan suara pelan.


"Ini di UKS... Kata teman sekelasmu, kamu terkena bola voli saat pelajaran olahraga...." ucap Danny-kun.


Aku mencoba untuk mengingatnya dan ternyata memang benar kalau kepalaku terbentur bola voli, namun aku belum mengingatnya siapa yang mengenaiku. Paling tidak aku akan menunggu hingga sekolah usai.


"Sekolah hari ini sudah usai, Mei... Kebanyakan dari mereka sudah pulang.. yang tersisa hanya aku dan perawat yang menunggu kamu sadar..." ucap Danny-kun.


"Danny senpai... Pulang bersama yuk..." ucap Nozomi.


"Setidaknya, ketuk pintu dulu Nozomi-san..." ucap Danny-kun.


"Kelihatannya Meigomi masih pingsan... Untung saja tidak ketahuan kalau aku yang membuatnya pingsan..." ucap Nozomi.


"Mengapa kamu melakukan itu Nozomi-san?? Itu tidak baik..." ucap Danny-kun.


"Tak apa, palingan dia hanya amnesia saja..." lanjut Nozomi.


"Tapi kan...." lanjut Danny-kun lagi.


"Tak apa, Danny senpai sekarang ambil saja dulu tasnya di kelas... Aku tunggu disini..." saran Nozomi.


Danny-kun keluar dari UKS untuk mengambil tasnya. Lalu Nozomi melihatku sedang tertidur walaupun sebenarnya aku hanya pura-pura tidur.


"Hei Meigomi, kamu itu tidak pantas dengan Danny senpai.. kamu itu cocoknya sama cacing tanah..." ucap Nozomi dengan mengejek.


Nozomi terus saja mengejekku, hingga akhirnya aku merasa dia sudah cukup keterlaluan aku membuka mataku dan segera tersenyum.


"Ternyata kamu sudah sadar... Kenapa tidak besok saja sadarnya?? Kan aku bisa pulang bersama Danny senpai..." keluh Nozomi.


"Maaf ya... Kalau soal itu, aku tidak bisa jamin dan walaupun hanya dalam mimpi saja, aku akan segera menghapusnya..." ucapku sambil tersenyum.


"Bagaimana caranya???" tanya Nozomi penasaran.


"Okey, aku akan tunjukkan caranya..." jawabku.


Aku bangun dari tempat tidur dan aku menyuruh Nozomi berdiri ditempat yang kutunjukkan.


"Sekarang, kamu tutup matamu.." suruhku tanpa paksaan.


Nozomi pun menutup matanya. Setelah Nozomi menutup matanya, kepalaku memunculkan kedutan dan meninju dagu Nozomi dengan uppercut sehingga Nozomi terjatuh ke tempat tidur dan matanya berkunang-kunang lalu pingsan. Setelah itu, aku segera membuatnya seakan tertidur karena kelelahan dan aku segera menutup tirainya agar Danny-kun tidak mengetahuinya.


"Maaf menunggu lama..." ucap Danny-kun yang baru sampai.


"Tidak apa-apa kok, Danny-kun.. aku sudah agak mendingan...." jawabku sambil tersenyum.


"Dimana Nozomi-san??? Apa dia sudah pulang???" tanya Danny-kun.


"Dia sudah pulang, karena ada urusan penting..." jawabku lagi.


"Kalau begitu, kita pulang bersama saja... Karena kamu masih perlu beristirahat sesampainya dirumah..." saran Danny-kun.


"Terima kasih, Danny-kun..." ucapku sambil tersenyum memerah.


Danny-kun mengantarku pulang dan Nozomi masih tertidur lelap di UKS, dan dirinya terkunci disana hingga esok hari.


CHAPTER 25 - WILD DREAM AGAIN


END