
12 Februari
Hari ini aku, Hatsuki, Nozomi, dan Hinada sedang duduk di sebuah taman dekat Kibou Gamine Gakuen. Kami sedang berdiskusi dengan sengit tentang coklat siapa yang akan Danny-kun makan pertama kali.
"Tentu saja Danny-kun akan memakan coklat buatanku pertama kali..." ucapku sambil tersenyum.
"Tidak, Da-kun yang akan memakan coklat buatanku..." ucap Hinada.
"Kurasa Danny senpai pasti akan memakan coklat buatanku..." ucap Nozomi.
"Bukankah itu kurang penting ya siapa yang akan memakan coklat untuk Danny-san pertama kali??" tanya Hatsuki.
"Tentu saja itu penting...." jawab kami bertiga serentak.
"Kalau begitu, mengapa kita tidak mengadakan kompetisi saja??" saran Hatsuki.
"Benar juga, kalau begitu.. siapa yang coklatnya lebih enak menurut Danny-kun, dia yang menang..." ucapku.
Mereka bertiga mengangguk setuju.
13 Februari
Aku mulai belanja bahan untuk membuat coklat sepulang sekolah. Dan untungnya hari ini, banyak yang menjual bahan coklat yang sedang diskon. Namun aku tidak membelinya dikarenakan cintaku tidaklah semurah itu. Aku memilah dan memilih yang menurutku adalah coklat yang terbaik, namun yang terpenting adalah aku tak tahu coklat apa yang Danny-kun mau. Dan akhirnya aku memutuskan untuk memilih coklat putih itu karena menurutku warna putih itu suci. Seperti cintaku ke Danny-kun yang suci. Setelah selesai membeli coklat tersebut, aku segera pulang untuk membuat coklat spesial untuk Danny-kun. Malamnya, aku segera membuatnya. Aku membuat kue coklat putih yang kucetak berbentuk wajah seekor kucing. Untunglah aku berhasil membuatnya, dan bentuknya lucu sekali sehingga membuatku tak rela untuk memakannya.
Ditempat lain, Hatsuki membuat biskuit coklat. Dan kelihatannya, biskuit coklatnya berhasil dibuatnya. Di tempat lain juga, Nozomi juga membuat coklat. Namun coklat buatannya adalah coklat lelehan saja yang dimasukkan ke dalam plastik kecil. Aku mempunyai firasat buruk tentang hal ini. Di tempat yang lain lagi, Hinada membuat sebuah kue coklat yang mungkin bisa mengalahkan rasa seorang koki kue. Dan dia menghiasi kuenya dengan krim dan choco chips. Setelah aku selesai membuat kue tersebut, aku membungkusnya dengan rapi dan cantik agar enak dilihat sehingga Danny-kun menyukainya.
14 Februari
Kini tibalah saatnya aku memberikan sebungkus coklatku ke Danny-kun. Tiba di sekolah, aku melihat Danny-kun dan langsung menyapanya.
"Selamat pagi, Danny-kun..." ucapku dengan tersenyum.
"Selamat pagi juga, Mei..." balas Danny-kun sambil tersenyum pula.
"Ada apa Mei?? Kelihatannya kamu senang sekali hari ini..." tanya Danny-kun.
"Karena aku sudah menunggu hari ini..." jawabku dengan tersenyum manis.
"Oya Danny-kun, nanti saat pulang sekolah kita bertemu di dekat air mancur ya..." ucapku.
"Okey..." jawab Danny-kun mengiyakan.
Dalam hatiku sungguh senang sekali. Seakan seperti aku melihat surga yang indah yang hanya ditempati olehku dan Danny-kun saja.
Aku pergi menuju kelasku ditemani oleh Danny-kun, karena kelas kami searah. Aku menikmati setiap detik-detik penuh cinta ini. Ketika aku menuju ke kelasku, kami berpapasan dengan Nozomi.
"Danny senpai... Apakah nanti pulang sekolah Danny senpai sibuk???" tanya Nozomi.
"Tidak... Ada perlu apa, Nozomi-san???" tanya Danny-kun kembali.
"Apakah saat pulang sekolah nanti kita bisa bertemu di dekat air mancur???" tanya Nozomi.
"Aku dan Mei memang hendak kesana saat pulang sekolah nanti... Kita kesana saja bersama-sama..." jawab Danny-kun.
"Sabaarrr..sabarrrr.." gumam diriku menahan cemburu.
"Ngomong-ngomong, ada perlu apa Danny senpai mengunjungi kelasku??? Apa senpai ingin menemuiku???" tanya Nozomi sambil tersenyum.
Aku langsung menarik tangan Nozomi.
"Ya...ya.. ayo kita masuk ke dalam kelas, Akuma Milku..." ucapku sambil tersenyum kedut.
"Danny-kun, kami masuk kelas dulu ya... Sampai jumpa nanti saat pulang sekolah..." ucapku sambil tersenyum manis ke arah Danny-kun.
Aku menarik tangan Nozomi dan kami pun masuk ke dalam kelas. Setelah semua kelas selesai, Danny-kun datang menuju kolam air mancur yang ada di Kibou Gamine Gakuen. Disana Danny-kun melihatku, Hatsuki, Nozomi dan Hinada.
"Selamat datang Danny-kun..." ucapku sambil tersenyum.
"Ada apa??? Sepertinya kalian senang sekali hari ini..." tanya Danny-kun penasaran.
"Tentu saja, Da-kun... Karena hari ini adalah hari Valentine... Kami ingin memberikan coklat buatan kami dengan cara kami sendiri..." jawab Hinada.
"Tapi sebelum itu, bolehkah kami menutup matamu Danny senpai???" tanya Nozomi.
"Kalian tidak melakukan hal yang aneh kan???" tanya Danny-kun dengan curiga.
"Tentu saja tidak Danny-san... Kami hanya ingin memberikan coklat buatan kami dengan cara yang berbeda..." jawab Hatsuki.
"Mengapa tidak memberi dengan cara yang biasa saja??" tanya Danny-kun lagi.
"Karena Danny-kun adalah lelaki yang spesial bagiku..." jawabku sambil tersipu.
"Bagaimana kalau kalian melakukan hal yang aneh ketika mataku tertutup??" tanya Danny-kun lagi.
"Tenang saja Danny-kun... Kalau mereka bertiga melakukan hal yang aneh padamu, maka "tinjuku" yang akan bicara..." jawabku sambil tersenyum.
Akhirnya Danny-kun bersedia ditutup matanya. Setelah mata Danny-kun ditutup, aku menarik tangan Danny-kun untuk duduk di sebuah kursi dan ada mejanya disuatu tempat dekat air mancur di Kibou Gamine Gakuen. Setelah aku membantu Danny-kun duduk, aku membuka penutup matanya dan Danny-kun melihat kami memakai seragam pelayan seperti yang ada di kafe-kafe di seluruh Jepang.
"Hari ini, kami ingin Danny-kun mencicipi coklat buatan kami..." ucapku sambil tersenyum.
"Kalau begitu, yang pertama aku..." ucap Hatsuki.
Hatsuki mendekati Danny-kun dan membawakan sebungkus biskuit coklat yang telah dibuatnya. Kemudian Danny-kun mencobanya dan mengatakan kalau coklat buatannya enak.
"Terimakasih... Danny onii-chan..." ucap Hatsuki sambil tersipu malu.
Danny-kun kaget.
"Sama-sama..." jawab Danny-kun sambil tersipu malu.
"Ya...ya... Sudah cukup merayu Danny-kun ya, Hatsuki-san..." ucapku dengan menarik tangan Hatsuki dengan wajah yang cemburu.
"Sekarang giliran ku..." ucapku.
Aku mendekati Danny-kun sambil membawa sekotak coklat buatanku dengan berpakaian pelayan restoran Jepang. Danny-kun melihatku dengan wajah yang takjub pula.
"Mei, kamu cantik hari ini..." ucap Danny-kun.
"Terimakasih... Danny-kun..." ucapku dengan wajah yang memerah.
Selain aku memberikan coklat buatanku, aku juga menyeduhkan teh hijau ke dalam gelas.
"Silahkan dinikmati, Danny-kun..." ucapku sambil tersenyum manis.
Danny-kun pun memakan coklat buatanku hingga habis dan meminum teh hijaunya. Setelah selesai meminum tehnya, Danny-kun tersenyum senang.
"Sama-sama... Darli...." ucapku sambil tersenyum.
Tiba-tiba Hinada memukul kepalaku dari belakang sehingga membuat lidahku tergigit.
"Ouch... Sakit tahu..." ucapku meringis sakit.
"Maaf ya... Aku sengaja melakukannya, kucing bau..." ucap Hinada dengan mengejek.
Aku dan Hinada saling bertatapan marah dan muncul aliran listrik.
"Kalau begitu, sekarang giliranku..." ucap Nozomi.
Danny-kun melihat Nozomi memakai pakaian seorang maid. Dan dirinya baru pertama kali melihat kostum maid.
"Silahkan dinikmati coklat buatanku, senpai..." ucap Nozomi sambil tersenyum.
Danny-kun melihat coklat buatan Nozomi masih terbungkus dalam plastik seperti krim yang digunakan untuk membuat kue. Hanya saja lebih tipis dan kecil.
"Tunggu sebentar Danny senpai... Biar kubuka dulu bungkusnya." ucap Nozomi.
Danny-kun mengangguk.
Nozomi pun membuka bungkus coklat tersebut dan Nozomi duduk di pangkuan Danny-kun dan itu membuatku dan Hinada kaget. Dan lebih kagetnya lagi, Nozomi mengoleskan coklat tersebut dibibirnya.
"Silahkan dinikmati, Danny senpai..." ucap Nozomi dengan manja.
Ketika Nozomi hendak memberikan coklat tersebut dari bibirnya, tiba-tiba aku dan Hinada meninju kedua mata Nozomi sehingga Nozomi terpental. Kami berdua menarik baju maid Nozomi ke arah dekat pohon ditaman sekolah dan menggantungnya di dahan pohon tersebut, lalu kami berdua menemui Danny-kun kembali.
"Terakhir giliranku..." ucap Hinada sambil tersenyum.
Hinada berjalan ke arah Danny-kun sambil membawa kue coklat yang dihiasi dengan krim, lalu meletakkannya di atas meja.
"Hinada-san... Mewah sekali kue coklat buatanmu..." puji Danny-kun.
"Tidak kok, biasa saja... Kalau Da-kun ingin kue yang lebih besar lagi, aku bisa kok membawanya..." ucap Hinada sambil tersenyum.
"Tidak usah Hinada-san... Begini sudah cukup kok..." ucap Danny-kun sambil tersenyum juga.
"Da-kun... Bisakah kita memotong kuenya????" tanya Hinada.
"Okey..." jawab Danny-kun.
Danny-kun berdiri dan Hinada memegang pisau untuk memotong kuenya dan berdiri di samping Danny-kun.
"Lihatlah, kalian berdua... Ini adalah kue pernikahan ka...." ucap Hinada.
Kemudian aku membenamkan wajah Hinada ke kue buatannya.
"Apanya yang kue pernikahan, rubah betina?!?!?" Berani sekali kamu mengatakan hal yang mustahil untuk kamu dapatkan..." ucapku dengan marah sambil tersenyum.
"Apa yang kamu lakukan, ku..." ucap Hinada.
Aku kembali membenamkan wajahnya ke kue coklat tersebut.
"Maaf ya... Aku tidak bisa mendengarmu!?!?!?!" ucapku yang masih marah sambil tersenyum.
Danny-kun sweatdrop.
Setelah Danny-kun selesai memakan semua coklat buatan kami, maka tibalah saatnya penilaian.
"Bagaimana coklat buatanku, Danny-kun??? Apakah enak???" tanyaku penasaran.
"Hmmmm... Sulit juga untuk memilih..." jawab Danny-kun.
Kami berempat menunggu penilaian Danny-kun dengan degup jantung yang berdebar-debar.
"Pemenangnya adalaaaahhhh..." ucap Danny-kun.
Kemudian Danny-kun menunjukkan coklat buatannya yaitu pie coklat.
"Coklat siapa itu????" tanya Hatsuki.
"Ini coklat buatanku... Kalian ingin mencobanya???" jawab Danny-kun.
"Tapi bukankah White Day masih sebulan lagi???" tanya Hinada.
"Kalau kalian tidak ingin mencobanya, tak apa... Aku bisa memberikannya kepada orang lain..." jawab Danny-kun.
Kami berempat mengambil coklat tersebut karena kami tidak mau Danny-kun memberikannya kepada orang lain. Kami pun mencobanya dan rasanya menurutku seperti ciuman saat kami berdua di ferris wheel. Tiba-tiba aku menitikkan air mata.
"Ini enak sekali, Danny-kun..." ucapku sambil tersenyum manis lalu memeluk Danny-kun
"Untunglah kalau kamu suka, Mei..." ucap Danny-kun sambil mengusap rambutku.
"Bagaimana menurut kalian bertiga??" tanya Danny-kun lagi.
"Ini super duper enak...." jawab mereka bertiga serentak.
"Da-kun.... Menikahlah denganku..." ucap Hinada sambil berusaha memeluk Danny-kun.
"Tidak... Menikah saja denganku, Danny senpai...." ucap Nozomi sambil berusaha juga untuk memeluk Danny-kun.
"Tidak... Menikah saja denganku, Danny-san..." ucap Hatsuki.
"TIDAK BOLEEEEHHHHH?!?!?!? Hanya aku yang boleh menikah dengan Danny-kun..." teriakku saat memeluk Danny-kun.
"Lepaskan pelukanmu dari Da-kun..." ucap Hinada.
"Lepaskan pelukanmu dari Danny senpai..." ucap Nozomi.
"Lepaskan pelukanmu dari Danny-san..." ucap Hatsuki.
Mereka bertiga mengatakan kalimat tersebut secara serentak sambil menarikku untuk melepaskan pelukanku. Hal itu membuat Danny-kun risih. Bukan karena mereka mencoba melepaskan pelukanku pada Danny-kun, namun karena suara yang bersahut-sahutan dari kami berempat.
"Baiklah kalau begitu.... SAATNYA HUKUMAN!!!!!!" ucap Danny-kun sambil tersenyum.
Kami semua terdiam dan ketakutan karena dibelakang Danny-kun muncul sosok Ashura yang menyeramkan.
CHAPTER 32 - VALENTINE CHOCO'S WAR
End