Kanaya Meissa (Ultimate Kagura Dancer) ~Eternal Love~

Kanaya Meissa (Ultimate Kagura Dancer) ~Eternal Love~
CHAPTER 68 - NEW LOVE COURT



"Baiklah, kita mulai sekarang pengadilannya..." ucap Hatsuki sambil mengetuk palu.


"Aku tidak menyangka kalian melakukan ini lagi... Apa tidak bosan??" ucapku sambil menghela nafasku.


Plak!!!


Hinada menamparku dengan keras.


Plak!!!


Aku membalas menamparnya.


Aku dan Hinada berkelahi, namun segera dihentikan oleh Nozomi dan Mimi.


"Tenanglah kalian berdua... Sedangkan untukmu, kucing bucin... Kami berempat punya hukuman untukmu..." ucap Hatsuki.


"Apa-apaan itu... Aku tidak bersalah tahu..." ucapku dengan kesal.


"Tidak bersalah ya... Sekarang, coba perhatikan foto-foto ini..." ucap Hatsuki.


Disitu terpampang foto-fotoku bersama Danny-kun ketika berada di apartemen Danny-kun sambil makan nasi goreng yang kami buat bersama-sama.


"Darimana kalian dapat foto-foto ini??" tanyaku dengan kaget.


"Dari informan yang terpercaya..." jawab Hinada sambil tersenyum padaku.


"Nah, sekarang kamu tidak bisa mengelak lagi..." ucap Hinada sambil tersenyum.


"Kalau itu memang benar, kenapa?? Bukankah itu romantis buatku??" ucapku sambil tersenyum cuek kepada mereka berempat.


"Aku tidak masalah kalau kalian makan nasi goreng buatan kalian sendiri, namun yang akan kita bahas adalah foto ini..." ucap Nozomi.


Mimi menyodorkan salah satu foto ketika aku memeluk Danny-kun sambil menangis.


"Kamu memanfaatkan kepolosanmu untuk membuat Danny senpai memelukmu dan mengelus rambutmu..." ucap Nozomi dengan kesal.


"Memangnya salah?? Bukankah aku ini tunangannya Danny-kun?? Lagipula, aku tidak perlu minta izin untuk memeluk Danny-kun dari kalian..." ucapku.


"Harus!!!" ucap mereka berempat serentak.


"Siapa kalian yang berhak mengaturku!!! Kalian itu hanya orang asing dimataku dan dimata Danny-kun!!!" ucapku dengan marah.


"Jaga ucapanmu itu, kucing bau!! Bagiku, Da-kun itu orang yang spesial..." ucap Hinada dengan marah.


"Kamu yang perlu menjaga ucapanmu itu... Danny-kun itu milikku... Bukan milikmu!!!" ucapku sambil marah ke arah Hinada.


PLAK!!!


Hinada menamparku dengan sangat keras.


PLAK!!!


Aku membalasnya dengan tamparan yang keras pula. Dan akhirnya kami berdua pun berkelahi. Nozomi dan Mimi pun kemarahannya juga ikut tersulut, sehingga terjadilah 3 vs 1. Hatsuki pun mengetuk meja dengan palunya dengan kuat agar kami berempat berhenti berkelahi.


"Kalian ini seperti anak kecil saja... Kalian tidak malu kalau Danny-san melihat kalian berkelahi??" ucap Hatsuki.


Kami pun berhenti berkelahi walaupun rambut kami sudah kusut dan acak-acakan. Aku pun membenarkan kembali rambutku seperti semula.


"Bisa kita lanjutkan???" tanya Hatsuki.


Kami pun kembali duduk di tempat masing-masing.


"Baiklah kalau begitu, kita lanjutkan dengan foto ini..." ucap Hatsuki.


Aku melihat foto seorang wanita disitu, namun aku tidak tahu namanya siapa.


"Siapa wanita ini??" tanyaku.


"Dia adalah tetangganya Danny-san..." jawab Hatsuki.


"Bukankah dia ini wanita baik-baik???" tanyaku lagi.


"Jangan kamu melihat dari tingkah polosnya, kucing bau..." jawab Hinada.


"Coba kamu perhatikan, berapa lama dia menjadi tetangga Da-kun??" tanya Hinada kepadaku.


"Mungkin sekitar 3 tahun..." jawabku.


"Itu bahaya sekali... 3 tahun itu tidak sebentar loh..." ucap Hinada sambil memanas-manasi aku.


"Tapi aku sudah bersama Danny-kun sejak umur 6 tahun loh, rubah betina..." ucapku dengan bangga.


"Itu kan ketika kalian masih kecil yang belum mengerti tentang cinta... Sekarang Da-kun sudah dewasa loh.. dan lagipula Da-kun itu tampan, sehingga banyak wanita yang mengejarnya..." ucap Hinada semakin memanas-manasi aku.


"Tidak... Aku yakin Danny-kun pasti tidak akan selingkuh dengan wanita lain..." ucapku sambil tersenyum.


"Benarkah??? Bukankah Danny senpai itu disukai oleh kami berempat selain kamu, Meigomi???" tanya Nozomi sambil tersenyum.


"Itu karena kalian merasa ge er saja bahwasanya Danny-kun menyukai kalian berempat..." jawabku sambil tersenyum pula.


"Bukankah kamu juga yang duluan kegeeran menganggap pertunanganmu saat Da-kun memberikanmu kimono saat kalian SMP???" tanya Hinada sambil tersenyum.


"Kalau itu, memang tradisi keluargaku... Lagipula yang namanya tradisi itu harus tetap dilestarikan..." jawabku sambil tersenyum lagi.


"Kalau begitu, aku akan mengambil kimono pemberian Da-kun tersebut darimu..." ucap Hinada sambil tersenyum.


"Kalau begitu, aku akan menghajarmu hingga wajahmu tidak satu orangpun yang mengenalmu..." ucapku sambil tersenyum pula.


Nozomi dan Mimi mengambil popcorn yang ada di meja mereka dan memakannya menikmati pertengkaran kami berdua.


"Kalau begitu, aku juga akan melenyapkanmu hingga tidak bersisa..." ucapku sambil tersenyum lagi.


Aku menatap wajah Hinada sambil tersenyum namun dengan amarah, begitu juga dengan Hinada sehingga menimbulkan aliran listrik dan petir yang menyambar.


"Hei ayam rabun, bisakah kita lanjutkan kapan-kapan saja?? Karena aku ingin menghajar gadis yang tidak tahu diri ini..."ucapku sambil tersenyum.


"Tanganku juga sudah mulai gatal untuk menghajar si kucing bau ini..." ucap Hinada sambil tersenyum pula.


"Kalau begitu, sidangnya akan ditunda sampai waktu yang ditentukan..." ucap Hatsuki sambil mengetuk palu.


Lalu Hatsuki, Nozomi, dan Mimi pergi dari ruangan itu sehingga tinggal aku dan Hinada yang masih saling bertatapan sambil tersenyum namun dengan wajah yang marah.


"Jadi begitu ya... Semua berawal dari kimono yang diberikan oleh Da-kun..." ucap Hinada sambil tersenyum.


"Memangnya kenapa, rubah betina??? Apa kamu iri??" tanyaku sambil tersenyum.


"Tidak kok... Aku tidak iri... Untuk apa aku iri karena barang murah seperti itu..." ucap Hinada sambil tersenyum.


"Asal kamu tahu saja, kimono yang diberikan oleh Danny-kun kalau dijual akan mencapai harga 10 juta Yen..." ucapku dengan sombongnya.


"10 juta Yen?? Itu masih uang jajanku sehari-hari..." ucap Hinada membalas kesombonganku.


"Heee... Uang jajan sehari-hari ya..." ucapku sambil tersenyum kedut.


"Yup... Gadis miskin sepertimu pasti tidak pernah memegang uang 10 juta Yen, bukan??" ucap Hinada yang semakin sombong.


Aku pun mengepalkan tanganku sambil tersenyum kedut.


"Kamu mau berkelahi denganku?? Ayo maju sini..." ucap Hinada dengan tersenyum.


Aku pun melancarkan pukulan keras ke arahnya, namun Hinada berhasil menghindar lalu ia pun meninju mata kiriku sehingga mata kiriku membiru.


"Hahahaha... Rasakan itu kucing bau... Gadis miskin sepertimu tidak cocok memiliki wajah yang imut..." ucap Hinada dengan tertawa.


Lalu disaat Hinada hendak meninjuku lagi, Danny-kun datang dengan tiba-tiba.


"Hinada-san... Apa yang kamu lakukan??" ucap Danny-kun.


Aku pun segera memeluk Danny-kun sambil menangis tersedu-sedu.


"Apa yang terjadi padamu, Mei??" tanya Danny-kun dengan khawatir.


"Aku ditinju oleh rubah betina ini, sehingga mataku membiru seperti ini..." jawabku dengan sedih.


"Coba aku lihat..." ucap Danny-kun.


Danny-kun melihat mataku yang membiru karena ditinju oleh Hinada.


"Hinada-san, apa yang terjadi??" tanya Danny-kun dengan marah.


Aku melihat Hinada sambil tersenyum mengejek.


"Rasakan itu, rubah betina!!" gumamku.


Hinada pun menjelaskan apa yang terjadi. Dan akhirnya Danny-kun memberitahu kami berdua agar tidak berkelahi lagi. Lalu setelah itu Danny-kun pergi.


"Bagaimana rasanya dimarahi oleh Danny-kun, rubah betina?? Makanya, jangan pernah meninju wajahku yang imut ini..." ucapku sambil tersenyum.


"Da-kun keren sekali... Ingin aku mencium bibirnya itu..." ucap Hinada sambil tersenyum.


Mendengar itu, aku pun meninju mata kirinya sehingga menjadi membiru dan Hinada jatuh pingsan.


CHAPTER 68 - NEW LOVE COURT


End