Kanaya Meissa (Ultimate Kagura Dancer) ~Eternal Love~

Kanaya Meissa (Ultimate Kagura Dancer) ~Eternal Love~
CHAPTER 46 - JABULOUS DREAM REVENGE



Setelah aku kalah telak dari Hatsuki, aku berlatih lebih keras lagi. Tidak akan aku biarkan ia membuatku babak belur seperti waktu itu. Selagi aku berlatih, aku juga berpikir bagaimana cara agar aku bisa mengalahkannya. Danny-kun melihatku berlatih dengan serius dan ia pun tersenyum.


"Baiklah, Mei... Kita beristirahat dulu..." ucap Danny-kun.


Aku berhenti dan mengangguk kemudian aku duduk di kursi.


"Ini Mei, minumannya..." ucap Danny-kun.


"Terimakasih Danny-kun...." ucapku sambil mengelap keringatku lalu mengambil minumannya.


Aku segera meminumnya dengan perlahan-lahan. Dahagaku hilang dan aku segera bertanya kepada Danny-kun.


"Danny-kun, apa kamu tahu bagaimana cara mengalahkan Ayam Rabun itu???" tanyaku.


"Ayam Rabun???" tanya Danny-kun heran.


"Iya, Ayam Rabun... Gadis yang akan aku buat babak belur nanti..." jawabku.


"Mengapa Hatsuki-san disebut Ayam Rabun???" tanya Danny-kun lagi.


"Karena aku tidak suka kalau dia menggodamu..." jawabku ketus.


"Aku tahu, hanya saja.. bagian mana dari dirinya yang mirip seperti ayam???" tanya Danny-kun.


"Entahlah..." ucapku dengan merajuk.


"Tak apa jika kamu tidak menyukai sikap Hatsuki-san... Namun kamu tidak boleh terpancing emosi, Mei..." ucap Danny-kun.


Aku hanya diam saja dan tidak menanggapi.


"Kalau begitu, Danny-kun ada strategi tidak untuk mengalahkan si Ayam Rabun itu??" tanyaku.


"Tentu saja ada... Namun, aku belum tahu apakah berhasil atau tidak..." jawab Danny-kun.


"Apa itu, Danny-kun???" tanyaku penasaran.


"Aku akan memberitahumu esok hari... Hari ini kita sudahi dulu latihannya..." jawab Danny-kun.


"Danny-kun..." ucapku dengan manja.


"Ada apa, Mei???" tanya Danny-kun.


Aku menutup mataku karena aku ingin Danny-kun menciumku.


"Mei, aku pulang duluan dulu untuk mempersiapkan latihan kita untuk esok hari..." ucap Danny-kun.


Lalu Danny-kun berdiri kemudian pergi dari tempat latihan. Aku membuka mataku kemudian aku membuat ekspresi cemberut. Esoknya, aku bertemu Danny-kun di tempat latihan biasa. Dan aku melihat sesuatu terbungkus menggantung seperti samsak tinju.


"Apa ini, Danny-kun???" tanyaku.


"Inilah jawabanku kemarin, Mei..." jawab Danny-kun.


Aku semakin penasaran apa isinya. Lalu, Danny-kun membuka bungkusan yang agak besar tersebut dan mataku terbelalak keheranan.


"Aku tak mengerti apa aku harus senang atau bagaimana..." ucapku.


Aku melihat sebuah samsak bergambar Ayam Rabun itu. Dan entah mengapa, hal itu membuatku bertambah kesal.


"Danny-kun, apa kamu menyimpan benda ini semalaman???" tanyaku.


"Iya.. aku menyimpannya semalaman agar bisa dipakai untuk hari ini..." jawab Danny-kun.


Mendengar jawaban itu, aku membuat ekspresi cemberut. Lalu aku pemanasan sambil memasang wajah cemberut dan marah. Danny-kun membungkus samsak tinju tersebut dengan kain bergambar Ayam Rabun itu. Melihat gambar itu, aku memasang kuda-kuda untuk memukulnya. Aku terus memukulnya tanpa lelah dan aku memasang wajah marah karena aku sudah kalah dari gambar tersebut. Aku berpikir bahwa gambar itu sudah bersama Danny-kun semalaman, sedangkan aku hanya sampai sore saja.


"Rasakan tinjuku ini, Ayam Rabun... Akan aku buktikan kalau aku lebih pantas darimu..." gumamku.


Danny-kun mulanya tersenyum ketika aku bersemangat latihan hari ini, namun tak lama kemudian, Danny-kun mulai sedikit curiga padaku. Ia melihatku latihan dengan marah dan cemberut.


"Ada apa Mei???" tanya Danny-kun.


"Tidak ada apa-apa..." jawabku sambil meninju samsak.


Danny-kun memperhatikanku dengan seksama dan memang ada yang aneh pada diriku. Tiba-tiba aku terkejut karena Danny-kun mengusap rambutku.


"Kelihatannya hari ini kamu sedang ada masalah... Bisakah kamu menceritakannya kepadaku, Mei??" tanya Danny-kun sambil tersenyum.


Aku hanya diam saja. Danny-kun mencoba berpikir mengapa aku cemberut seperti itu. Lalu tak lama kemudian, Danny-kun mulai mengerti mengapa aku cemberut.


"Mei, bukankah dirimu lebih imut daripada dia??" tanya Danny-kun sambil menunjuk ke arah samsak tinju.


Aku hanya diam saja namun wajahku bersemu memerah. Ketika aku sedang asyik kepalaku diusap, tiba-tiba ditelevisi tempat gym muncul konferensi pers yang diadakan oleh Ayam Rabun itu.


"Mungkin aku akan mengalahkannya hanya dalam dua ronde saja..." jawab Hatsuki dengan tersenyum.


Lalu setiap jepretan kamera mulai memotretnya. Dan disana aku melihatnya ada Rubah Betina, Akuma Milku, dan si brocon Mimi-chan disamping Ayam Rabun itu.


"Kelihatannya dia percaya diri sekali... Kalau begitu, kita tidak boleh kalah...." ucap Danny-kun sambil tersenyum.


Melihat Danny-kun tersenyum, aku mulai bersemangat kembali untuk latihan. Setelah dua Minggu latihan, akhirnya hari yang ditunggu datang juga. Karena hari ini adalah hari dimana aku akan membuat Ayam Rabun itu menderita kekalahan.


"Apakah kamu gugup, Mei??" tanya Danny-kun sambil tersenyum.


"Tidak kok, Danny-kun... Aku sungguh bersemangat karena ingin mengalahkannya..." jawabku.


"Aku tunggu di pinggir ring ya..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.


"Okey..." ucapku.


Aku segera pergi ke lokerku dan tak sengaja melihat mereka bertiga memasukkan sesuatu ke dalam tempat minumku. Namun aku berpikir bahwasanya yang dimasukkan ke dalam tempat minumku adalah obat tidur. Setelah selesai melakukan hal tersebut, mereka pergi dari tempat itu.


"Jadi kamu ingin main curang ya, Ayam Rabun..." gumamku.


Setelah itu aku masuk dan melihat yang mana tempat minum yang sudah dicampur dengan obat tidur tersebut dan aku sudah menemukannya karena tempat minum tersebut hanya ada satu. Lalu aku membawa tempat minuman itu dan kutukar dengan tempat minum Ayam Rabun itu.


Di atas ring


Para penonton bersorak sorai pada pertandingan kami. Bahkan ada penonton yang bertaruh untuk kemenangan Ayam Rabun itu. Namun itu bukan masalah, karena Danny-kun selalu mendukungku.


"Apa tidak apa-apa kamu memakai kacamata saat bertanding denganku?? Nanti kacamatamu rusak loh..." ucapku.


"Jangan khawatir, kamu tidak akan bisa mencapai wajahku...." ucap Hatsuki.


"Kelihatannya wajahmu kurang imut... Boleh aku perbaiki???" Lanjut Hatsuki dengan mengejek.


"Tidak... Terimakasih... Aku lebih suka memperbaiki wajahmu yang tidak imut itu..." balasku sambil tersenyum kedut.


"Kucing Mesum..." ejek Hatsuki.


"Nenek tua...." balasku.


Bel tanda ronde pertama dimulai. Aku menuju ke tengah ring, begitu juga dengan Hatsuki. Aku memulai seranganku, namun Hatsuki berhasil menghindarinya.


"Hanya segini saja, huh..." gumam Hatsuki dengan mengejek.


"Satu ronde pasti akan selesai..." lanjut Hatsuki dengan bergumam.


Hatsuki melancarkan serangannya ke arah wajahku, namun ketika aku hendak menangkisnya, tiba-tiba saja Hatsuki mengubah arah serangannya ke arah perutku.


"Ummmmfffff" ucapku ketika perutku ditinju.


"Ara-ara... Sakit ya?? Kasihaaaannnn..." ejek Hatsuki.


Lalu Hatsuki memukulku lagi. Setelah ronde pertama berakhir, aku duduk di sudut ring sambil menahan rasa sakit di wajahku dan perutku. Danny-kun memberikan saran padaku sambil aku minum. Di luar ring, mereka bertiga hanya senyum-senyum saja. Mungkin dipikiran mereka, karena aku babak belur atau mereka berhasil membuat aku minum yang telah diberikan obat tidur. Namun mereka tidak mengetahuinya, bahwasanya aku sudah menukarnya dengan botol minum milik Hatsuki.


Bel tanda ronde kedua pun berbunyi. Aku dan Hatsuki menuju ke tengah ring. Dan entah mengapa, Hatsuki merasakan kantuk yang luar biasa.


"Ini kesempatanku..." gumamku.


Aku langsung melakukan hook ke pipi kanannya. Lalu aku melanjutkannya dengan melakukan hook ke pipi kirinya. Kemudian, aku melakukan uppercut ke dagunya dan ia terjatuh, lalu wasit menghitungnya. Banyak orang yang kaget saat itu, terutama Hatsuki sendiri. Ia bangkit saat hitungan kelima.


"Apa yang terjadi???" gumam Hatsuki.


Hatsuki mempertahankan kuda-kudanya, namun aku meninjunya kembali. Aku meninju wajahnya ke kiri dan ke kanan sehingga membuat tubuh Hatsuki berputar-putar pada porosnya.


"Danny-san... Aku cinta kamu...." ucap Hatsuki ketika ditinju.


Mendengar itu, amarahku tersulut sehingga aku melakukan uppercut ke dagu Hatsuki dan itu membuatnya terpental ke luar ring.


DING.....DING.....DING....DING....


Bel tanda pertandingan telah berakhir dikarenakan Hatsuki keluar arena.


Epilog


GUBRAK!!!!


Hatsuki terjatuh dari tempat tidurnya.


CHAPTER 46 - JABULOUS DREAM REVENGE


end