
Musim panas telah tiba, kini aku berada di daerah Okinawa bersama Danny-kun dan 4 gadis yang selalu membuat masalah denganku.
"Pantainya bagus sekali...." ucap Danny-kun dengan kagum.
"Tentu saja bagus... Pantai ini adalah pantai pribadiku..." ucap Hinada dengan bangga.
Lalu ia melihatku dengan senyum untuk mengejek.
"Pantainya memang bagus... Tapi Danny-kun, sebelum kita kemari, aku menemukan tempat yang paling bagus dari sini... Nanti kita berdua kesana ya...." ucapku dengan manja ke Danny-kun.
"Dimana itu???" tanya Danny-kun penasaran.
"Nanti sore kita kesana... Soalnya disana kita bisa menikmati pemandangan yang indah..." jawabku sambil tersenyum.
"Oke..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.
"Da-kun duluan saja dulu ke pantai bersama Hatsuki-san, Nozomi-san, dan Mimi-chan..." ucap Hinada sambil tersenyum.
"Danny-kun mengangguk.
Lalu Danny-kun bersama 3 orang gadis itu menuju pantai. Kini hanya ada aku dan Hinada. Lalu Hinada menghadap ke arahku.
"Apa maksudmu tadi, Kucing Bau?!?!" ucap Hinada sambil tersenyum kedut.
"Apa maksudmu??? Aku tidak mengerti??" ucapku yang pura-pura bodoh.
"Apa kamu sedang merencanakan sesuatu, Kucing Bau?!?" ucap Hinada dengan tersenyum kedut.
"Oh, yang itu.. tentu saja ada... Lagipula, Danny-kun itu tunanganku.. wajar saja aku membuat kenangan manis bersamanya..." ucapku sambil tersenyum.
Lalu Hinada meremas rahangku.
"Kenangan manis?!?!?! Hanya aku yang boleh membuat kenangan manis dengan Da-kun..." ucap Hinada dengan tersenyum marah.
Lalu aku meninju perutnya dan segera menginjak kakinya sambil memuntirnya.
"Dalam mimpimu!!!!" ucapku dengan marah.
Lalu aku pergi ke tempat Danny-kun berada agar ketiga gadis itu tidak berbuat yang tidak-tidak kepada Danny-kun.
"Danny-kun... Tunggu..." ucapku sambil berlari ke arah Danny-kun.
Danny-kun berhenti sebentar untuk menungguku.
"Apa yang sedang kalian bicarakan tadi, Mei???" tanya Danny-kun.
"Tidak ada... Hanya dia berkata kalau pakaian renangku ini imut..." jawabku sambil tersenyum manis.
"Benarkah???" tanya Danny-kun curiga.
Aku langsung memegang tangan Danny-kun agar ia tidak memikirkannya.
"Ayo, Danny-kun... Laut dan pantai sedang menunggu kita..." ucapku sambil tersenyum manis.
Aku menarik tangannya sambil berlari ke arah pantai. Disana kami berdua bermain-main. Dari mulai membangun istana pasir, mencari kerang, bahkan walau hanya duduk saja di bawah payung pantai yang beralaskan tikar.
"Mei, tadi kamu mengatakan ada tempat yang indah disekitar sini... Bisakah kamu memberitahuku???" tanya Danny-kun.
"Tempat itu tidak jauh kok..." jawabku sambil menyenderkan kepalaku di bahu Danny-kun.
"Kalau boleh tahu, dimanakah tempat itu???" tanya Danny-kun semakin penasaran.
"Nanti sore kamu akan tahu dimana tempatnya, Danny-kun..." jawabku yang masih menyenderkan kepalaku di bahu Danny-kun.
Tiba-tiba, kepalaku disentuh oleh Danny-kun.
"Senangnya...." gumamku sambil tersenyum.
"Knock...knock... Selamat siang..." ucap seorang gadis.
Lalu gadis itu menegakkan kepalaku lalu membenamkan kepalaku ke pasir pantai.
"Guh...." ucapku ketika kepalaku dibenturkan ke pasir pantai.
"Ara....ara... Ada apa, Kucing Bau?!?!? Lagi berendam di pasir?!?" ucap Hinada dengan mengejekku.
Dengan wajahku yang berlumuran pasir, aku meraih tangan Hinada kemudian aku membantingnya ke pasir dengan wajah Hinada menghadap pasir.
"Ara...ara... Apa yang terjadi padamu, Rubah Betina?!?!? Apakah kamu begitu lapar sehingga pasir pun kamu makan?!?!?" balasku dengan mengejeknya.
Hinada pun mengangkat kepalanya dan wajahnya juga dilumuri pasir. Hinada menatapku dengan tatapan marah, begitu juga denganku. Namun Danny-kun menepuk pundak kami berdua dengan maksud agar kami berdua berhenti. Kami berdua saling mendorong dengan kening kami dan menimbulkan aliran listrik yang semakin lama semakin kuat.
"Mei, Hinada-san... Apakah kalian tidak bisa berteman saja???" tanya Danny-kun sambil tersenyum ramah.
"Tidak akan..!!" jawab kami berdua serentak.
Lalu Danny-kun berdiri dan meninggalkan kami berdua dan mencari sesuatu yang bisa menghentikan perkelahian kami. Dan tidak lama kemudian, Danny-kun membawa 2 bungkus cokelat dengan merek dan besar yang sama. Lalu Hinada mengambil kedua bungkus cokelat tersebut dengan cepat, namun aku segera merebutnya kembali, kemudian aku mengembalikan kedua bungkus cokelat tersebut kepada Danny-kun sambil tersenyum manis. Danny-kun mengambilnya dengan tersenyum kepadaku.
"Game apa Danny-kun???" tanyaku.
"Game menghabiskan cokelat ini...." jawab Danny-kun.
"Kalau itu, mudah sekali..." ucapku dan Hinada serentak.
"Namun cokelat siapa yang habis duluan, maka dia yang kalah..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.
Kami berdua merasa bingung apa maksud dari Danny-kun. Setelah menjelaskan peraturannya, Danny-kun memberikan cokelat tersebut kepada kami berdua masing-masing satu bungkus. Aku mulai berpikir, sedangkan Hinada sudah memakannya. Dan aku mempunyai sebuah ide agar aku bisa menang.
"Ini, aku berikan padamu sebungkus lagi... Karena aku belum lapar..." ucapku sambil tersenyum manis kepada Hinada agar ia tidak curiga.
"Terimakasih..." ucap Hinada.
Hinada pun memakan cokelat tersebut. Setelah selesai, Hinada teringat dengan peraturan tersebut yang membuatnya kalah dariku.
"Dan pemenangnya adalah.... Meeeeiiiiii...." ucap Danny-kun.
Aku memeluk Danny-kun dengan wajah gembira.
"Tunggu duluuuu..." teriak Hinada.
Aku tidak memperdulikan teriakan Hinada karena sedang asyik memeluk Danny-kun.
"Aku ingin pertandingan ulang...." ucap Hinada dengan kesal.
Hinada melihatku sedang memeluk Danny-kun, lalu ia menarikku dengan sekuat tenaga dan akhirnya aku terlepas. Karena Hinada melepas pelukanku ke Danny-kun, aku menyikut perutnya lalu melakukan uppercut ke dagunya sehingga membuat Hinada terjatuh dan muncul planet Saturnus yang berputar di atas kepalanya.
"Rasakan itu, Rubah Rakus...." ejekku.
Sore hari
Ketika kami berlima menunggu Danny-kun, Danny-kun belum terlihat karena sebentar lagi sudah malam. Aku berinisiatif untuk mencari Danny-kun tanpa memberitahu mereka berempat. Aku mencari Danny-kun di sepanjang pantai, dan aku melihat Danny-kun di bibir pantai menikmati matahari terbenam yang akan sebentar lagi akan muncul.
"Danny-kun..." ucapku ketika aku mendekati Danny-kun.
Danny-kun menoleh ke arahku.
"Ada apa, Mei???" tanya Danny-kun sambil tersenyum.
"Sebentar lagi makan malam... Ayo kita kembali ke rumah pantai..." jawabku.
"Boleh aku menunggu disini sebentar??" Tanya Danny-kun sambil menatap ke arah laut.
"Aku akan menemanimu disini..." ucapku sambil tersenyum.
Lalu aku berdiri di sebelah Danny-kun sambil menikmati matahari terbenam yang sebentar lagi akan muncul.
"Mei... Aku tidak akan melupakan hari ini..." ucap Danny-kun sambil tersenyum.
"Sama... Aku juga tidak akan melupakannya...." ucapku sambil tersenyum pula.
"Mungkin ini adalah musim panas terakhirku di masa SMA... Karena tahun depan, aku akan lulus dan akan ke luar negeri...." ucap Danny-kun.
"Apa kamu tidak bisa di Jepang saja???" tanyaku yang sebenarnya sedih mendengar bahwa Danny-kun akan pergi ke luar negeri setelah lulus nanti.
"Aku ingin mencari tahu dunia yang luas ini... Aku ingin mencari setiap puisi yang ada di dunia ini...." ucap Danny-kun.
"Tidak boleh... Danny-kun tidak boleh pergi...." ucapku sambil menggenggam baju Danny-kun.
"Bukankah kamu berjanji untuk tidak meninggalkanku???" tanyaku sambil bersedih.
"Tentu saja aku masih ingat... Namun, aku ingin melihat dunia yang luas ini..." ucap Danny-kun.
"Bukankah saat ini sudah ada internet??" ucapku.
"Itu tidak sama... Aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri..." ucap Danny-kun.
"Okey... Tapi dengan satu syarat..." ucapku.
"Apa itu???" Tanya Danny-kun.
"Jangan mencari wanita lain..." Jawabku.
Danny-kun mengangguk sambil tersenyum. Lalu aku memeluk Danny-kun.
Epilog
Nuansa matahari terbenam sudah dimulai, aku akan mengambil kesempatan ini untuk mencium bibir Danny-kun. Namun entah mengapa, ada seseorang yang melempar batu kerikil ke arahku.
Danny-kun kaget dan langsung bertanya apakah kamu tidak apa-apa. Lalu aku mulai melanjutkannya dengan merangkul leher Danny-kun agar momen tersebut dapat tercapai. Namun tiba-tiba, sebuah kelapa muda mengenai kepalaku dan aku jatuh pingsan, sehingga aku gagal mencium bibir Danny-kun.
CHAPTER 49 - SUMMER BEGINS!!!
end