
**Hallo semua, mohon maaf jika updatenya lama hehehe makasih yang udah sabar menunggu kelanjutan cerita ini...buat yang nggak suka cerita ini silahkan di skip ya nggak usah di baca. Makasih buat semuanya yang sudah mampir di cerita iniπ€
Happy reading π€**
Di sebuah ruangan privat di dalam restoran, dua pria sedang duduk berhadapan dengan menatap satu sama lain dengan pandangan tajam yang menjadi ciri khas keduanya.
"Apa hubunganmu dengan Adrian?" tanya Devan memulai pembicaraan.
"Kami hanya rekan bisnis," jawab Mr. A santai.
"Lalu, untuk apa kau membawa bunga?" tanya Devan dengan tatapan curiga.
"Aku hanya ingin menjenguk istri dari rekan bisnisku, apa itu salah?" ucap Mr. A.
"Adrian adalah sepupuku, kami bersaudara. Jangan pernah memiliki niat buruk padanya, terutama dengan Adelia!" tegas Devan dengan tatapan tajamnya.
"Adelia?" ulang Mr. A lagi, yang memang sejak tadi nama itu sudah memenuhi isi kepalanya.
"Iya, dia istri Adrian!" ucap Devan.
"Nama itu mengingatkanku dengan Adel," ucap Mr. A.
"Jangan berpikir terlalu jauh! Adelia sangat berbeda dengan Adel!" sambung Devan.
Mr. A kembali diam, hatinya kembali berpikir jernih. Meskipun ia sempat menaruh curiga yang sengat kebetulan nama mereka sama. Namun, perkataan Devan barusan menyadarkan dirinya. Kalau Adel yang ia miliki sudah tiada dan tidak akan pernah kembali.
"Apa yang terjadi dengan Adel?" tanya Devan penasaran.
Mr. A kembali tertunduk dan mulai mengingat memori yang terjadi sebelum ia kehilangan orang yang sangat dicintainya.
Sebelum Adel kecelakaan....
Di sebuah rumah yang sangat mewah dan megah. Terdapat banyak pengawal yang berjaga di berbagai sudut ruangan. Bukan pengawal dengan level biasa, senjata api selalu menemani langkah mereka kesana kemari. Di dalam ruangan yang berukuran sedang, terlihat Adel yang sedang duduk santai dengan membaca majalah.
"Sayang, apa kau tahu kemana perginya Devina?" Tanya Mr. A pada Adel.
Adel terlihat menghentikan kegiatannya saat ini dan mengambil buah apel yang ada di meja. Tatapan matanya kini beralih pada sosok pria yang sudah berada di kursi yang sama dengannya.
"Aku tidak tahu!" jawabnya singkat. Namun sangat jelas di wajahnya sedang menyembunyikan sesuatu.
"Apa kau yakin?" tanyanya lagi.
"Aku tidak suka dia menikah dengan pria itu!" tegas Adel dan menggigit apel yang berada di genggaman tangannya.
"Untuk apa dia menikah dengan pria itu, sedangkan nyawanya dalam bahaya!" teriak Adel yang kini sudah berdiri dari duduknya. Majalah yang sejak tadi ia baca, juga sudah jatuh di atas karpet.
"Apa maksudmu sayang?"
"Aku tidak ingin membahas hal itu, saat ini!" Adel melangkah pergi meninggalkan ruangan itu dengan perasaan emosi.
***
Mr. A kembali sadar atas lamunan beberapa detik yang lalu, kini tatapan matanya kembali di alihkan pada Devan yang terlihat menagih satu penjelasan.
"Aku tidak tahu, apa yang menyebabkan kecelakaan itu terjadi. Malam itu, aku mendapatkan kabar tentang kecelakaan Adel. Aku sudah menyuruh orang untuk memeriksa lokasi Adel kecelakaan. Tapi mereka tidak menemukan tubuh Adel di sana," jawab Mr. A dengan tatapan tajam.
Mr. A tidak ingin menceritakan kejadian yang sebenarnya. Rasa cinta yang begitu besar pada Adel, membuat dirinya berbohong pada Devan. Meskipun ia tahu, kalau kekasihnya lah penyebab Devina hilang pada saat pesta pernikahannya dengan Devan.
"Tapi, kenapa kau mengatakan kalau Adel telah meninggal? Apa kau berusaha bohong padaku?" tanya Devan yang masih belum percaya pada Mr. A.
"Satu hari setelah kecelakaan itu terjadi, aku mendapatkan kabar kalau Adel sudah ditemukan. Tapi aku hanya bisa melihat petinya dari jarak jauh. Adel sudah tidak bernyawa, dan aku merahasiakan semua ini untuk melindungi identitasnya." ucap Mr. A yang sudah dipenuhi dengan wajah sedih.
"Apa kau yakin? Kalau Adel sudah tiada?" tanya Devan yang masih tidak percaya dengan cerita Mr. A.
"Apa kau pikir aku mengarang sebuah cerita tentang kematian kekasihku, Devan?" ucap Mr. A yang kini sudah mulai emosi.
"Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu. Tapi Adel adalah wanita tangguh, tidak semudah itu dia meninggalkan dunia ini. Hanya karena kecelakaan mobil?" jelas Devan sambil meneguk satu gelas minuman yang ada di hadapannya.
Sebuah kalimat yang baru saja diucapkan Devan, membuat secercah harapan baru bagi dirinya. Hatinya yang selama ini sudah merelakan kematian Adel, kini kembali muncul satu harapan baru. Sebuah harapan kalau sang kekasih masih hidup. Sungguh harapan mustahil yang tidak pernah terlintas di pikirannya.
"Aku tidak ingin membahas tentang Adel. Aku hanya ingin mengatakan satu kebenaran, kalau aku tidak tahu kemana Devina pergi," ucap Mr. A yang juga mengambil gelas yang ada di meja.
Pembicaraan antara Mr. A dan Devan kali ini membuahkan hasil. Devan tidak lagi mencurigai Mr. A atas hilangnya sang kekasih. Devan sangat tahu, kalau wanita yang selama ini ia cintai adalah orang kepercayaan Adel.
Hilangnya Devina dan Adel dalam waktu yang berdekatan, membuat Devan menyimpan curiga pada Mr. A. Kalau dia adalah dalang dari semua masalah yang hadir dalam hidupnya. Namun, semua tuduhannya kepada Mr. A selama ini tidak benar. Bahkan, orang yang ia tuduh menyembunyikan sang kekasih,.kini sudah tiada di dunia ini.
Matahari semakin bersinar dan terasa di kulit. Mr. A dan Devan sudah meninggalkan restoran dan kembali melanjutkan urusan mereka masing-masing. Meskipun pertemuan kali ini menghilangkan salah paham antara keduanya. Namun, Devan masih tersimpan raut wajah curiga di diri Devan saat ini.
Devan sudah sejak lama mengenal Mr. A. Bahkan, kedekatan mereka saat itu, sempat menimbulkan tali persahabatan di antara keduanya. Namun, semua hancur saat Devina hilang. Hingga salah paham terjadi.
"Aku tahu, kau sedang merencanakan sesuatu pada Adrian dan Adelia. Aku tidak akan membiarkan mereka dalam bahaya!" ucap Devan kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.
**Hai readers,,,,bantu like komen bintang lima dan jangan lupa favorit okey.
Terimakasih sudah membaca π**