
Dorr...
Suara tembakan itu benar-benar memekakkan telinga. Semua burung-burung yang singgah di pepohonan menjadi berterbangan tidak karuan. Semua pengawal yang sudah berjaga sudah siap memegang pistol dan mengarahkan ke pria misterius yang menjadi penyebab kekacauan ini.
"Adrian." ucap Adelia pelan ketika kini Adrian sudah ada di atas tubuhnya yang mungil.
Tanpa ingin menjawab pertanyaan Adelia, Adrian segera mengeluarkan sebuah pistol yang selalu ia bawa. Baku tembak sudah tidak bisa terelakkan lagi. Entah di mana pihak musuh dan entah di mana pihak Adrian sudah membaur menjadi satu.
Adelia diam menatap tindakan Adrian. Kini perasaan takut itu tidak mewakili dirinya. Hatinya jauh lebih mengkhawatirkan Adrian yang kini sedang bertarung dengan gerombolan musuh yang tidak tahu asalnya dari mana.
Adrian kembali menunduk dan menggenggam tangan Adelia. Pria itu memberi isyarat kepada Adelia untuk melangkah mengikutinya menjauhi kebun teh.
"Siapa mereka, Adrian?" tanya Adelia sambil terus melangkah dengan cepat mengikuti tuntunan Adrian.
"Diam kau jangan banyak bicara, Adelia. Kita harus segera mencari tempat yang aman untuk bersembunyi." jawab Adrian sambil terus menarik tangan Adelia dan menggenggamnya dengan kuat.
Entah berapa lama dan berapa jauh perjalanan Adrian dan Adelia. Kini mereka malah memasuki sebuah hutan yang di tumbuhi pepohonan besar dan rerumputan. Merasa keadaan sudah aman dan terhindar dari gerombolan orang jahat itu. Kini Adrian menghentikan langkahnya untuk mengatur napasnya agar kembali normal.
"Apa kau lelah, Adelia?" tanya Adrian sambil melepaskan genggaman tangannya.
"Tidak." jawab Adelia singkat dan terus memandang wajah Adrian.
"Kau jangan bercanda, Adelia. Kita sudah berjalan sejauh ini dan kau bilang tidak lelah sama sekali?" ucap Adrian sambil duduk di atas rumput dia benar-benar sangat lelah.
"Memang kenyataannya aku tidak merasakan lelah, Adrian. Oh iya, mereka menggunakan seragam yang sama seperti para pengawalmu, Adrian." ucap Adelia ketika kembali mengingat penyerang yang ingin menembak dirinya dan Adrian.
Tanpa di sadari oleh Adrian dan Adelia, segerombolan orang yang tidak dikenali identitasnya itu sudah ada di sekeliling mereka. Adrian dan Adelia masih larut dalam pikiran mereka masing-masing. Tanpa menyadari kedatangan orang-orang berbahaya itu.
"Tidak ada tempat untuk kalian bersembunyi lagi." ucap seseorang dari arah berlawanan dari Adelia.
Adrian dan Adelia memandang sekeliling mereka," Siapa kau?" ucap Adelia tegas, matanya menatap tajam ke arah pria yang kini sedang tersenyum licik memandangnya.
Adrian langsung terperanjat kaget dari duduknya. Kini posisinya sudah berada di samping Adelia. Dengan memegang sebuah pistol yang siap untuk melindungi dirinya dari bahaya yang akan mengancam kapan saja.
"Adel...senang bertemu denganmu lagi, sayang." ucap pria berjas hitam yang menjadi pimpinan utama para gerombolan penyerangan itu.
Mendengar pria misterius memanggil nama Adelia membuat Adrian berpikir bahwa mereka saling mengenal satu sama lain.
"Kau mengenalnya, Adelia?" tanya Adrian curiga kepada Adelia.
"Tidak, aku tidak mengenalnya, Adrian." jawabnya yakin.
Dorr....
Suara tembakan kembali terdengar, beberapa penyerang itu terjatuh tergeletak di tanah. Terlihat Jimy dan Alex sudah ada di sana. Dengan cepat Jimy dan Alex berlari menghampiri posisi Adrian dan Adelia.
"Tuan, anda baik-baik saja?" tanya Alex dengan wajah khawatir.
Jangan lupa tinggalkan jejak komentar ya kawan terimakasih atas dukungannya🤗