I'M the mafia

I'M the mafia
Bab 60



Malam yang begitu sunyi, hanya ada Adelia dan Adrian di hutan itu. Pikiran keduanya masih hanyut dengan peristiwa yang baru saja terjadi beberapa jam yang lalu. Bulan madu yang direncanakan oleh Nyonya Wina dengan cukup pertimbangan itu harus berakhir dengan hilangnya Adrian dan Adelia yang tersesat di tengah-tengah hutan.


Hanya keheningan yang menemani dan suara jangkrik menjadi penghuni hutan di malam yang sunyi ini. Adelia teringat bahwa orang yang ingin mencelakainya sangat tidak begitu asing bagi hidupnya. Tapi, sekeras apapun dia ingin mengingat tetap tidak akan berhasil.


"Bagaimana dengan keadaan Jimy dan Alex, apa mereka baik-baik saja?" ucap Adelia.


"Aku harap mereka baik-baik saja, kita harus segera mencari tempat aman untuk beristirahat malam ini." Adrian memandang sekeliling, hanya ada pepohonan besar yang rindang.


"Baiklah, dan pria itu." ucap Adelia pelan.


"Kau mengenalnya?" tanya Adrian curiga.


Adelia hanya menggelengkan kepala dengan pelan, tangannya kembali meremas dres putih yang kini ia kenakan. Tiba-tiba kepalanya terasa sakit. Sekuat mungkin kendalikan sakit yang kini menyerangnya. Ia tidak ingin membuat Adrian ada dalam masalah dan repot atas keadaan yang ia ciptakan.


"Kau baik-baik saja, Adelia? Kau seperti kesakitan." tanya Adrian sambil memandang khawatir kepada Adelia.


"Tidak, aku hanya memikirkan kejadian tadi." ucap Adelia berbohong.


"Apa hubungannya kau dengan pria itu? Dia kelihatan sangat membencimu." Adrian mulai menyelidiki.


"Tidak tau, Adrian. Aku tidak bisa mengingatnya." jawab Adelia pelan sambil membuang pandangannya secara bebas.


"Aku sudah berjanji pada Mama, untuk selalu menjagamu." ucap Adrian sambil memandang wajah Adelia.


Deg..


Tiba-tiba hati Adelia terasa sakit. Seperti ada benda tajam yang baru saja mengiris hatinya. Kalimat yang baru saja dikatakan oleh Adrian adalah sebuah penjelasan. Kalau rasa khawatir yang di perlihatkan hanya untuk memenuhi janji kepada Nyonya Wina, bukan karena rasa sayang pada dirinya.


Kenapa aku sangat kecewa saat mendengar perkataan itu, seharusnya aku sadar sejak awal.


Adelia mendongak menatap cahaya rembulan yang bersinar di langit beserta bintang yang menerangi gelapnya malam ini.


Suasana kembali hening, tidak ada lagi obrolan di sana. Perasaan kecewa yang sudah memenuhi hati, membuat semua keadaan menjadi tidak berarti lagi. Ingin rasanya berteriak di hadapan Adrian, agar Adrian mau memperdulikannya. Tapi semua ini memang sudah di atur, bahkan perasaan yang dimiliki Adrian juga di atur olehnya agar nama Adelia tidak mudah masuk ke dalam hatinya.


Dengan posisi saling bersampingan dan sama-sama bersandar pada sebuah pohon besar. Udara dingin yang semakin menusuk membuat tubuh Adelia menggigil. Terlihat Adelia yang sedang mengigau kecil dengan mata terpejam.


"Ayah....ayah...ayah..."


Adrian yang kebetulan belum bisa memejamkan mata langsung menoleh saat mendengar suara Adelia.


"Adelia, hey bangun." sambil menepuk pipi Adelia pelan.


"Ayah..." Adelia mengigau, dengan tetesan air mata yang terus mengalir.


"Tubuhnya sangat panas." Adrian memegang kening Adelia dan memperhatikan wajahnya yang sudah memerah.


"Aku akan membawamu keluar dari hutan ini." Adrian mengangkat Adelia ke dalam gendongannya.


Adrian terus berjalan menelusuri hutan yang masih gelap dan tidak kunjung menemukan bantuan. Tubuh yang lelah sudah tidak terasa sama sekali. Kekhawatiran terukir jelas di wajah Adrian.


"Bangunlah, Adelia." sebuah kata yang berulangkali ia sebutkan. Namun tidak ada respon dari Adelia.


"Astaga, apa lagi ini." saat mata Adrian melihat seseorang berjalan ke arahnya. Sebuah pistol sudah siap siaga untuk jaga-jaga kalau ada bahaya.


Perlahan bayangan hitam itu semakin mendekat, sosok seorang pria yang belum jelas raut wajahnya. Adrian hanya diam dan tetap menggendong Adelia, dia siap untuk menghadapi kemungkinan yang akan terjadi beberapa detik lagi.


Seorang pria yang memang sudah tidak asing lagi dalam hidupnya sudah berdiri tegap di hadapan Adrian. Dengan wajah yang sudah tidak terbaca lagi, pria itu hanya memasang wajah peduli dan siap menolong Adrian beserta sang istri. Tidak ada raut kebencian sama sekali di wajahnya.


Tubuh Adrian hanya bisa diam mematung tanpa bisa berkata sepatah katapun, sosok yang sangat tidak di harapkan kini sudah ada di depan mata. Sambil menatap wajah Adelia yang masih memejamkan mata.


"Adrian, apa yang terjadi pada istrimu?" tanya orang itu sambil mendekat untuk melihat jelas wajah Adelia.


"Dia sakit, demamnya sangat tinggi." jawabnya singkat sambil membuang pandangan ke arah bebas.


"Ayo, kita harus keluar dari hutan ini dan membawanya ke rumah sakit."


Adrian hanya diam. Tidak bisa lagi menolak tapi sangat berat untuk menerima. Keadaan Adelia yang paling penting, adrian berusaha menuruti nalurinya dan melupakan ego yang ada di dalam pikirannya. Hanya menganggukkan kepala sebagai tanda setuju. Adrian mulai mengikuti langkah orang yang ada di hadapannya untuk keluar dengan cepat meninggalkan hutan dan membawa Adelia ke rumah sakit terdekat.


Sudah cukup lama mereka berjalan menembus hutan hingga mendapatkan jalan keluar. Terlihat sebuah mobil telah terparkir di jalan yang sempit itu. Pria yang menjadi penolong Adrian saat ini langsung naik dan duduk di belakang kemudi. Di susul oleh Adrian yang meletakkan Adelia di jok belakang dan menaruh kepala Adelia du atas pangkuannya.


Mobil sudah melaju dengan kencang menembus jalan hutan yang sempit dan tidak berpenghuni. Hanya ada kebisuan di dalam mobil tanpa ada kata. Ego keduanya masih melekat kuat, hanya Adelia yang menjadi penengah di antara keduanya hingga mereka mau berada di tempat yang sama.


"Kau bukanlah orang biasa, jadi kekacauan yang terjadi sudah menjadi berita heboh di media." ucap pria yang menyetir dan fokus pada arah jalan.


"Aku tidak ingin memiliki hutang budi padamu, hal yang kau lakukan hari ini adalah bayaran atas perbuatan yang pernah kau lakukan waktu dulu." ketus Adrian.


Setidaknya aku masih punya kesempatan untuk menebus kesalahanku di masa lalu Adrian.


Pria itu tidak menjawab, hanya memfokuskan pandangannya ke arah jalan lurus di depan.


Secara perlahan Adelia mulai membuka matanya, terlihat sosok pria yang sudah tidak asing lagi ada di hadapannya. Posisinya terasa sangat dekat, karena saat ini ia berada di atas pangkuan Adrian. Mencoba diam dan menikmati suasana, Adelia kembali memejamkan mata tanpa peduli dengan keadaan dirinya saat ini.


Kalau tidak seperti ini, kapan lagi aku bisa berada di pangkuanmu Adrian.


Adelia tertidur dengan perasaan bahagia. Meskipun senyuman itu hanya terlukis di hatinya.


"Adrian, maafkan aku." ucap pria itu sambil menyetir mobil dan di penuhi rasa bersalah.


"Aku tidak ingin membahas hal itu saat ini." jawab Adrian singkat, yang masih belum menyadari kalau Adelia sudah sadar sejak beberapa detik yang lalu.


Tunggu tunggu, kok sepertinya Adrian sedang bicara sama seseorang. Dan ini seperti sedang berada di dalam mobil. Siapa pria itu, suaranya aku sama sekali belum pernah mendengarnya. Batin Adelia.


Dengan perlahan Adelia membuka mata untuk sekedar mengintip sosok pria yang menjadi lawan bicara Adrian saat ini.


"Siapa kau!" teriak Adelia dengan nada tinggi, dan pandangan mata kaget.


Kini posisinya sudah terduduk dan tidak tergeletak di pangkuan Adrian, tanpa ia sadari tatapan mata Adrian sudah tertuju padanya.


"Adelia, kau sudah sadar?" tanya Adrian penuh kecurigaan, saat Adelia tiba-tiba berteriak seolah-olah tidak terjadi sesuatu.


"Apa kau baik-baik saja Adelia?" ucap pria itu sambil melirik ke arah spion mobil yang terdapat wajah Adelia.


"Aku...aku terbangun saat mendengar percakapan kalian. Kalian berdua sangat berisik." jawabnya mencoba mencari alasan untuk mencari alasan untuk menyelamatkan dirinya.


"Apa masih demam?" ucap Adrian sambil mengangkat tangan untuk memegang kening Adelia.


"Tidak, aku sudah sembuh." jawab Adelia sambil menolak tangan Adrian untuk berada di keningnya.


"Kau masih demam Adelia." protes Adrian lagi.


"Tidak, aku baik-baik saja." bantah Adelia.


"Kita harus segera ke dokter." ucap Adrian tidak terbantahkan lagi.


"Terserah kau saja." ucap Adelia dengan wajah cemberutnya dan menatap ke depan.


"Bagaimana kau tau namaku?" tanya Adelia kepada pria yang tidak di kenalnya.


"Aku mendengar dari Adrian." jawabnya singkat.


"Siapa namamu?" tanya Adelia penasaran.


"Namaku Devan, kau yakin baik-baik saja?" tanya Devan sambil tersenyum memandang Adelia.


"Aku wanita yang kuat, aku tidak akan mudah jatuh sakit." Adelia melirik ke arah Adrian yang terlihat tidak suka di sana.


"Kau tetap harus diperiksa Adelia." ucap Devan singkat yang mulai merasa perubahan sikap dari Adrian yang duduk di belakangnya.


Kenapa dia menatapku seperti itu, apa aku melakukan kesalahan lagi. Pasti dia sangat kesal karena tadi aku pingsan. Lalu siapa yang membawaku keluar dari hutan??


ucap Adelia di dalam hati dan menunduk takut tidak berani menatap wajah Adrian.


Beraninya dia berbicara dengan pria lain tanpa rasa bersalah sedikitpun, awas saja kau nanti.


Adrian membuang napas secara kasar.


Kenapa wajah Adrian seperti itu? Apa dia cemburu padaku? Bukankah pernikahan mereka hanya sebuah keterpaksaan yang di minta kedua orang tua.


Devan bertanya-tanya dalam hati ingin tau, ia mencoba untuk memahami suasana saat ini.