I'M the mafia

I'M the mafia
Bab 66



Setelah kejadian besar yang membuat rahasia Adelia hampir terbongkar dan pertanyaan Adrian saat di rumah sakit tadi, cukup menjadi perhatian suami istri itu.


"Wijaya sudah membersihkan semua bukti, aku yakin dia tidak akan menemukan apapun!" gumam Agung sambil menatap ke arah luar jendela.


"Aku masih memikirkan masalah ini, Jimy juga tidak akan tinggal diam untuk mencari bukti, bagaimana kalau Adrian sampai tahu..." raut wajah Wina sudah di penuhi kesedihan, hatinya merasakan perih tiap kali ia membayangkan sikap Adrian ketika mengetahui semua kebenaran yang sudah ia simpan selama ini.


"Kita harus menemukan pria itu." ucap Agung sambil memandang wajah sang istri.


"Max?" tanya Wina singkat.


Mengangguk pelan, " Hanya dia orang yang saat ini ingin ditemui Adrian, dan kita harus menemukan pria itu lebih dulu!" ucap Agung sambil berjalan pelan untuk mengambil tumpukan kertas yang ada di atas meja.


"Apa itu?" tanya Wina penasaran sambil melangkah mendekat.


"Ini beberapa hal yang berhubungan dengan Max, pria itu masih memiliki kelemahan." sambil tersenyum tipis


"Aku harus menemuinya." ucap Agung kemudian melangkah pergi meninggalkan Wina sendiri dikamar.


"Maafkan Mama Adrian..."ucap Wina lirih sambil memandang ke sebuah foto pernikahan. "Kalian pasangan yang sangat serasi sayang..." gumam dalam hatinya sambil tersenyum melihat foto Adrian dan Adelia di sana.


Sementara itu, Agung sudah bersiap untuk pergi berangkat ke suatu tempat yang menjadi tempat pertemuan antara Adrian dan Max. Di dampingi oleh beberapa orang kepercayaan, kini mobil Agung melaju dengan kecepatan di atas rata-rata menuju ke sebuah gudang.


Hatinya sudah dipenuhi rasa khawatir yang begitu besar. Satu detik saja ia terlambat, maka semuanya akan menjadi hancur.


"Kita harus cepat sampai di gudang itu." ucap Agung kepada supir sekaligus orang kepercayaannya.


"Baik, Tuan!"


Beberapa jam kemudian, rombongan Agung sudah sampai di gudang. Hatinya semakin di penuhi rasa khawatir saat ia melihat mobil Adrian sudah terparkir di sana. Dengan langkah cepat, Agung mulai masuk ke dalam gudang itu.


Sampai di dalam terlihat Adrian dan Max sedang berdebat. Perdebatan keduanya begitu sengit, hingga satu kalimat yang di ucapkan Max membuat hati Agung menjadi gusar.


Dengan tatapan perintah, ia layangkan pada seorang pria yang menjadi pengawalnya. Dengan segera pria itu mengeluarkan sebuah pistol dan melayangkan satu tembakan tepat sasaran mengenai dada Max.


Adrian terlihat sangat marah pada saat itu. Dan Agung mendapat tanggapan buruk dari Adrian, sungguh membuat hati Agung terasa teriris. Meskipun hari ini ia sudah berhasil membungkam mulut Max, tetapi rasa percaya Adrian terhadap dirinya seketika itu juga sirna, hingga akhirnya Adrian meninggalkan Agung di gudang bersama pengawal pribadinya.


"Entah kapan saat itu tiba Adrian. Tapi papa harap kau mau memaafkan kami atas apa yang telah kami lakukan." satu kalimat yang terukir di hati Agung saat ini.


Rumah utama....


"Eva, kau sudah pulang? Bagaimana keadaan Adelia?" tanya Wina ketika melihat kehadiran Eva di rumah.


"Nona muda masih belum sadar Nyonya, saya ke sini ingin mengambil beberapa pakaian ganti untuk Nona Adelia dan Tuan Adrian." jawab Eva sambil menundukkan kepalanya.


"Apa dia tidak pulang malam ini?" tanya Wina sambil kembali memikirkan Adrian dan Adelia.


"Tidak Nyonya, Tuan Adrian akan menemani Nona Adelia di rumah sakit malam ini."


"Baiklah, apa pengawal sudah tiba?"


"Sudah Nyonya. Sebelum saya berangkat ke sini, para pengawal sudah berjaga di depan kamar Nona Adelia." jelas Eva.


"Eva, jangan ijinkan orang asing masuk ke dalam kamar Adelia!" ucap Wina memberi perintah.


"Tadi siang, Nona Alana dan Tuan Devan datang menjenguk Nona." ucap Eva perlahan sambil menahan rasa takut.


"Devan?" ucap Wina.


"Iya Nyonya, Tuan Devan..." jawab Eva pelan.


"Apa Devan yang di maksud Eva adalah putra tunggal Wira? Tapi, sejak kapan ia kembali dekat dengan Adrian." gumam Wina dalam hati sambil melamun.


"Pergilah!" ucap Wina yang juga melangkah pergi menuju mobil.


"Aku harus memastikan hal ini sendiri." Mobil melaju ke suatu tempat yang ingin di kunjungi.


Mobil terhenti di sebuah rumah besar, kedatangan Wina sudah tidak asing lagi bagi pengawal di sana. Setelah turun dari mobil, Wina mendapat sambutan hangat dari beberapa pengawal yang sedang berjaga di pintu utama.


"Selamat datang Nyonya. Sudah lama anda tidak berkunjung." ucap kepala pelayan rumah utama keluarga Wira.


"Dimana dia?" tanya Wina singkat.


"Tuan muda ada di dalam Nyonya, mari saya antar." ucap pelayan sambil melangkah masuk menuju sebuah ruang besar yang ada di lantai atas.


"Semua masih sama seperti dulu." ucap Wina.


"Tidak ada yang berubah Nyonya, Tuan muda tidak ingin kami merubah apapun dari rumah ini."


"Apa dia sudah memiliki kekasih?"


"Belum Nyonya, sejak kejadian itu. Belum ada wanita yang dekat dengan Tuan muda."


"Benarkah?" tanya Wina yang tidak yakin.


"Benar Nyonya." ucap pelayan itu sambil mengetuk pintu besar untuk meminta ijin, agar bisa masuk ke dalamnya.


Tidak butuh waktu lama untuk menunggu, pintu sudah terbuka dari dalam dan sudah berdiri seorang pria muda yang sangat dekat dengan dirinya.


"Devan!" sapa Wina.


"Tante! Kenapa tidak bilang jika ingin datang ke sini?" ucap Devan kaget, dan mempersilahkan Wina masuk ke dalam.


"Apa kau sehat Devan?" tanya Wina sambil melangkah masuk.


Kepala pelayan itu hanya menundukkan kepala dan pergi meninggalkan kamar untuk mempersiapkan sesuatu untuk Wina.


"Aku tidak pernah merasa baik Tante, sejak...." perkataannya tertahan sambil menunduk sedih.


"Papamu akan memaafkan kamu Devan, percaya sama Tante. Beliau sangat begitu menyayangimu."


"Tapi aku sudah jahat terhadap dirinya Tante." raut wajah sedih sudah terpancar di wajah Devan.


"Dia akan bahagia disana, jika kau juga bahagia." ucap Wina sambil duduk di sebuah sofa.


"Baiklah, Oh iya sudah lama Tante tidak datang kemari, apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Devan penasaran sambil mengerutkan keningnya.


"Apa kalian sudah kembali seperti dulu lagi Devan?" tanya Wina sambil memandang Devan menagih sebuah jawaban.


"Maksud Tante, aku dan Adrian?" tanya Devan balik.


"Ya, apa hubungan kalian sudah baikan?" tanya Wina penasaran.


"Apa Tante tidak tau kalau aku yang sudah menyelamatkan mereka daru hutan, atau hanya pura-pura tidak tahu?" ucap Devan dalam hati sambil melamun.


"Devan, apa kau mendengar Tante?" tanya Wina yang melihat Devan hanya diam.


"Belum Tante, hubungan kami masih belum baik tetap sama seperti dulu." jawab Devan sambil menyandarkan kepala dengan begitu santai.


****