
Hallo semua apa kabar hari ini?
Semoga kalian semua dalam keadaan baik-baik saja Amin🤲
Happy reading 🖤
"Sekarang ada di mana orang yang bertanggung jawab atas semua masalah ini?" tanya Adrian menatap tajam Jimy.
"Mereka sudah di serahkan kepada polisi Tuan." jawab Jimy membuang tatapan mata ke arah lain.
"Setelah semua yang terjadi, dengan mudahnya dia duduk di sana." Adrian kesal, mengepal kuat kedua tangannya.
"Anda bisa menemui mereka kapan saja Tuan. Apapun yang ingin anda lakukan tidak ada seorangpun yang mampu menghalangi anda." jelas Jimy sambil membuang napasnya kasar.
"Nyawa di bayar nyawa. Kau tahu itu Jimy." tatapan perintah yang harus segera di laksanakan Jimy.
"Baik Tuan." Jimy melangkah pergi meninggalkan Adrian yang masih mematung di depan pemakaman.
"Alex, jasamu akan selalu ku ingat. Kematianmu tidak akan pernah menjadi hal sia-sia." ucap Adrian dan berbalik badan menuju arah mobil.
Sepanjang jalan pikirannya kembali dipenuhi Adelia yang masih tertidur dan belum juga membuka kedua mata. Belum ada perkembangan kondisinya sejak ia pindah rumah sakit.
"Siapa mereka! Dendamnya sangat besar kepada Adelia." Adrian terus melajukan mobil menuju ke arah rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit, Adrian segera membuka pintu mobil. Ruang rawat Adelia menjadi tujuan utama langkah kakinya.
Terus berjalan tanpa memperdulikan sekeliling yang ada. Dengan hati-hati Adrian menarik gagang pintu dan melangkah masuk ke dalam ruangan.
"Mama.." ucap Adrian saat melihat Nyonya Wina sudah berada di samping Adelia.
"Adrian." dengan lirih, terdapat banyak buliran air mata yang membasahi wajah wanita itu.
"Mama, sejak kapan ada di sini?" tanya Adrian sambil menyambut pelukan hangat Nyonya Wina.
"Mama sangat khawatir dengan kalian berdua Adrian."
"Apa yang terjadi pada istrimu, Adrian?" tanya Tuan Agung sambil kembali memandang ke arah Adelia.
"Adrian tidak tahu Pa, kenapa mereka menembak Adelia. Mereka tiba-tiba datang dengan jumlah yang begitu banyak." jelas Adrian, ingatannya kembali pada kejadian penembakan itu.
"Kita harus kehilangan Alex." ucapan Tuan Agung dipenuhi raut wajah kesedihan.
"Mereka begitu menginginkan Adelia Ma, apa yang sudah ia lakukan hingga membuat pria itu sangat murka padanya." ucap Adrian lirih dan menatap ke arah Adelia yang masih belum juga membuka matanya.
"Hanya diam, tidak ada kata lagi yang keluar dari Tuan Agung dan sang istri. Rahasia besar tentang Adelia yang sudah rapi mereka tutupi kini mulai muncul ke permukaan. Bukan hanya Adelia, Eva dan Alex sudah lebih dulu menjadi korban. Mereka tidak memiliki keberanian untuk menceritakan rahasia besar tentang Adelia. Kini tatapan mata mereka bertiga hanya di tujukan kepada wajah Adelia yang kini masih tertidur dengan begitu tenang.
Tok...Tok ..
Dari balik pintu, seorang pria muncul lengkap dengan seragam Dokternya.
"Hallo, bagaimana keadaan Adelia?" ucap Aldo sambil melangkah mendekati tempat Adelia berbaring saat ini.
"Dia masih belum sadarkan diri, sejak tadi pagi kondisinya sudah mulai stabil." jawab Adrian sambil menuju sebuah kursi dan mulai menyandarkan tubuhnya.
"Aku akan mengambil alih tugas Dokter yang merawat Adelia, aku akan menangani dia dengan tanganku sendiri." Aldo mengambil pergelangan tangan dan mulai memeriksa dengan seksama.
"Aldo, dari mana kau tahu kalau Adelia ada di sini?" tanya Nyonya Wina yang masih berada di samping Adelia.
"Jangan tanyakan hal itu Nyonya, kalian bukanlah orang biasa." Aldo mengedipkan sebelah matanya. " Semua berjalan normal, dalam waktu dekat dia akan segera sadar."ucap Aldo dan beralih menatap ke arah Adrian yang sedang termenung.
"Baiklah kalau begitu, Papa dan Mama akan segera kembali, kami harus menyelesaikan beberapa masalah." Tuan Agung dan Nyonya Wina melangkah pergi meninggalkan Adrian dan Aldo di sana.
"Kabari aku jika Adelia sadar nanti." sambung Tuan Agung sebelum menutup pintu.
Hanya ada Adrian, Adelia dan Aldo di dalam ruangan. Tatapan kedua pria itu masih saling tatap tanpa mengeluarkan kata.
"Bisa kau jelaskan semua yang terjadi padaku Adrian." tuntut Aldo yang sudah banyak kehilangan informasi tentang masalah yang sedang menimpa sahabatnya. "Bahkan kita harus kehilangan Alex, kau tahu. Alex bukan sosok manusia yang mudah di kalahkan, dia sangat tangguh." sambung Aldo lagi.
Adrian hanya bisa menopang kepalanya dengan kedua tangan. Kali ini masalah yang menimpa dirinya bukan hal yang mudah untuk di atasi.
"Aku tidak mengetahuinya, sejak malam itu..." pikiran Adrian kembali teringat saat kejadian di apartemen. "Mr. A!"
"Mr. A? siapa lagi dia ?" Aldo mengerutkan keningnya " Bahkan akhir-akhir ini kau banyak mengenal sosok misterius."
"Pria yang menyerang di Vila, wajahnya mirip sekali dengan pria yang menyerang kami di Apartemen."
"Maksudmu dia bukan musuhmu? Melainkan musuh Mr. A yang baru saja kau sebutkan tadi?"
"Jimy pernah bilang, bahwa mereka datang untuk menyerang Mr. A di malam itu."
"Lalu apa hubungannya orang itu dengan perusahaanmu? Dia bukan mengincar pria itu, tapi juga mengincar kalian berdua."
"Bukan aku, tapi Adelia." Adrian menatap ke arah Adelia.
Sudah beribu teka-teki yang mengisi pikiran Adrian, semua itu muncul di waktu yang berdekatan. Entah siapa yang salah dan entah siapa yang benar. Adrian kembali diam sambil menggabungkan beberapa peristiwa yang baru saja terjadi dalam hidupnya.
Tidak selang beberapa menit kemudian, Jimy sudah berada di dalam ruangan. Terdapat Eva juga di sana, dengan mata memerah di penuhi air mata. Langkahnya ia percepat untuk lebih dekat dengan keberadaan Adelia saat ini.
"Nona..." tangisnya pun pecah saat melihat wanita yang saat ini ia hormati sedang terbaring lemah tak berdaya.
"Siapa lagi wanita itu Adrian? tanya Aldo yang tidak pernah mengetahui keberadaan Eva.
"Dia pelayan wanita yang khusus membantu segala keperluan Adelia." jawab Adrian singkat.
"Tuan, anda sudah bisa menemui pria itu. Ia bernama Maxim" sambil menarik napas penuh dan menahan kalimatnya, " Ketua dari geng mafia Tiger." sambung Jimy dengan tatapan lurus ke arah Adrian.
"Geng mafia?" ucap Aldo dan Adrian secara bersamaan.
"Iya Tuan." sambil mengangguk pelan.
"Sejak kapan kau mulai berurusan dengan mafia Adrian? Perusahaanmu bergerak di bidang makanan ringan. Bukan senjata atau obat terlarang." ucap Aldo bingung.
Adrian hanya mengerutkan keningnya tanpa bisa membantah perkataan Aldo. Semua yang di ucapkan Aldo adalah sebuah kebenaran yang sesungguhnya. Ia tidak pernah memiliki musuh yang berasal dari komplotan mafia.
"Max, apa dia orang yang sana dengan sosok yang membuat kekacauan di apartemen?" Aldo menatap tajam wajah Jimy menagih sebuah jawaban.
"Iya Tuan, dia pria yang sama waktu penyerangan di apartemen. Satu di antaranya bernama Jo, dia adalah orang kepercayaan Max. Salah satu pembunuh bayaran yang tidak pernah gagal dalam misinya." jelas Jimy setelah mendapat beberapa informasi penting itu.
"Lengkap sudah, kali ini kau benar-benar dalam masalah besar. Mafia, dan pembunuh bayaran. Jimy, apa masih ada satu nama yang menjadi biang masalah dalam peristiwa ini?" tanya Aldo dengan wajah yang cukup serius.
"Mr. A, Tuan." jawab Jimy singkat.
"Aku sudah lebih dulu mendengar namanya dari Adrian. Baik, sekarang kita satukan.Apa hubungan ketiga pria itu dengan istri Tuan muda keluarga Kusuma?"
Masih berpacu dalam pikiran mereka masing-masing. Dengan tatapan saling menuduh untuk mengeluarkan satu kesimpulan. Aldo lebih dulu menyerah, ia tidak ingin terus larut dalam pemikirannya tentang masa lalu Adelia.
"Aku harus pergi, kalian pecahkan sendiri teka-teki ini. Dan jangan lupa kabari aku jika sudah mendapat jawaban." Aldo berdiri dari duduknya sambil sedikit melirik ke arah Eva. "Mereka mempunyai kriteria pelayan yang bagus" Aldo keluar dari ruangan itu.
Adrian dan Jimy masih saling bertatap muka. Sederet bukti sedikit demi sedikit sudah mulai terkuak.
"Kita harus menemui Max!" ucap Adrian sambil berdiri dari tempat duduknya. "Jaga dia untukku, beberapa pengawal akan segera datang untuk menjaga kamar ini." sambung Adrian sambil menatap ke arah Adelia beberapa detik.
Tanpa banyak kata, Jimy hanya bisa memandang Eva dan memberi kode untuk selalu menjaga Adelia dan tidak pernah meninggalkannya sedetikpun. Jimy segera berlalu mengikuti langkah Adrian dari belakang.
Tertinggal Eva di dalam kamar bersama Adelia yang masih belum kunjung sadar. Eva memegang pergelangan tangan Adelia, hatinya sangat pilu saat harus menyaksikan pemandangan yang kini ada di hadapannya.
"Nona, saya tahu anda wanita yang sangat kuat. Anda harus segera bangun nona." Eva menarik selimut Adelia.
Suara pintu tiba-tiba terbuka. sosok wanita muda yang sangat cantik melangkah masuk ke dalam ruang rawat Adelia. Dengan membawa satu parsel buah yang di letakkan di atas meja dekat tempat tidur.
"Siapa anda?" tanya Eva sambil berdiri waspada melindungi Adelia.
"Alana, saya sekertaris pribadi Tuan Adrian." ucap Alana memandang ke arah Adelia dengan pandangan tidak suka.
"Tuan Adrian baru saja keluar bersama Tuan Jimy nona."
"Ya, saya hanya ingin menjenguk istri dari bos saya." ucap Alana dengan wajah tidak suka, Alana mulai duduk di samping ranjang Adelia.
"Nona masih belum sadar." ucap Eva.
"Jika dia tidak bangun untuk selamanya, itu hal yang bagus bagiku. Kenapa hanya Alex, seharusnya Jimy juga ikut pergi bersama Alex." ucap Alana dalam hati.
Alana sangat ingin Jimy juga tiada dari muka bumi ini karena dia selalu jadi penghalang buat hubungannya dengan Adrian.
"Maaf nona, saya harus menghubungi Tuan Jimy dulu. Saya harus memberi tahu kalau anda berada di sini." Eva mengambil handphone.
"Jangan!" Aku tidak lama, sekarang juga sudah mau pulang." Alana mendadak takut dan segera mengambil tas yang berada di atas meja. "Jimy tidak akan suka jika mendengar kabar bahwa aku berkunjung di kamar Adelia." sambungnya pelan, sambil melangkah pergi meninggalkan Adelia dan Eva di kamar.
Eva hanya diam memandang kepergian Alana.
"Dari awal aku sudah curiga dengannya, dia tidak terlihat tulus menjenguk nona Adelia." ucap Eva kembali memandang wajah Adelia dengan raut wajah sedih. "Sampai kapan anda tertidur nona, anda harus segera bangun, saya sudah mencium aroma pelakor." tambah Eva.
Sementara itu, di depan ruang Adelia.
"Sial berani sekali pelayan murahan itu mengancam diriku. Aku hanya ingin berada di samping wanita itu dan mendoakan agar malaikat maut segera menjemput agar dia bisa menyusul Alex." ucap Alana kesal, langkahnya terhenti saat sosok pria yang tidak asing ada di hadapannya.
"Devan?" dengan sigap, Alana berlari cepat ke sudut ruangan untuk bersembunyi dari pandangan Devan.
"Untuk apa dia ada di sini." ucap Alana bingung.
Dengan membawa sebuket bunga lily, Devan masuk ke ruang Adelia di rawat. Tidak ada gerak-gerik yang mencurigakan. Sebelum masuk ia sempat memperhatikan sekeliling rumah sakit. "Kenapa Adrian tidak meletakkan pengawal di sini." Devan menarik gagang pintu dan melangkah masuk.
"Aku yakin, dia memiliki hubungan spesial dengan wanita itu. Aku bisa memanfaatkan keadaan ini untuk membuat hubungan Adrian dan wanita itu menjadi hancur." Senyum licik mulai terukir di wajah Alana, dengan langkah cepat ia meninggal rumah sakit.
"Anda siapa Tuan?" tanya Eva, saat lagi-lagi melihat orang asing masuk ke kamar Adelia.
"Devan!" jawabnya singkat, "Bagaimana dengan kondisi Adelia?" tanya Devan balik.
"Nona belum sadar, tapi kata Dokter nona Adelia sudah melewati masa kritisnya Tuan." jawab Eva.
"Semoga dia cepat sadar kembali." ucap Devan dengan menggenggam tangan Adelia.
"Maaf Tuan, jangan lakukan itu." ucap Eva pelan.
"Maaf.." sambil melepas genggaman tangannya. "Cepat sembuh, aku akan kembali lagi besok." ucap Devan dan melangkah meninggalkan kamar.
***
Di dalam mobil, Adrian hanya diam memandang ke arah luar jendela. Tidak seperti biasanya, yang selalu ada laptop di pangkuan pria itu. Saat ini pikirannya tidak sanggup untuk bekerja. Semua hanya terfokus pada keadaan Adelia.
"Tuan, apa anda baik-baik saja?" tanya Jimy khawatir.
"Semua ini terjadi begitu cepat, aku tidak mempunyai persiapan sedikitpun untuk menghadapi masalah yang terjadi."
"Kita akan segera mendapat jawaban dari pria itu Tuan."
Kring....kring...
Handphone Jimy berdering.
"Ada apa? Lalu bagaimana dengan Max? Tetap jaga dia, jangan biarkan dia kabur!" Jimy meletakkan handphone dengan gusar.
"Ada apa Jimy?" tanya Adrian, seakan mengerti kalau sesuatu telah terjadi.
"Jo berhasil kabur Tuan, tetapi Max sudah ada dalam pengawasan orang-orang kita."
"Aku ingin segera menemui pria itu." jawab Adrian.
"Tuan, kita sudah berurusan dengan para Mafia. Apa tidak sebaiknya kita meminta bantuan Tuan muda devan?" Dengan hati penuh gejolak, Jimy memberanikan diri mengungkap isi hatinya saat ini.
"Tidak, aku tidak ingin berurusan dengan dirinya lagi." Adrian membuang napas dengan kasar dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
Pernyataan Adrian sudah suatu penolakan atas tawaran Jimy, tanpa berani mengulangi kesalahan yang sama. Jimy lebih memilih untuk menuruti perintah Adrian saat ini dan kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
****
Di sebuah gedung besar yang terlihat tidak berpenghuni jika dilihat sekilas dari luar. Tampak Max yang terduduk di atas kursi dengan posisi tangan dan kaki yang terikat. Bibirnya tersenyum tipis menatap orang-orang yang saat ini telah mengelilingi dirinya.
"Tidak semudah itu kalian mengalahkanku!" teriak Max hingga suaranya memenuhi seisi ruangan.
Tidak ada jawaban dari seorangpun, pengawal itu lebih memilih diam menatap ke arah Max.
"Kau sudah kalah Max!" ucap Jimy dari kejauhan menjawab teriakan Max.
Adrian dan Jimy baru saja tiba di sana. Masih dengan tatapan penuh kebencian dan tangan yang mengepal kuat. Adrian berjalan mendekati tubuh Max.
"Siapa kau? Kenapa kau menyerangku? ucap Adrian, sambil duduk di sebuah kursi yang ada di hadapan Max.
"Sejak awal sudah ku katakan padamu, aku tidak punya urusan dengan kalian. Aku hanya menginginkan wanita sialan itu."
Plakk....
Satu tamparan mendarat tepat di wajah Max. Kesabaran yang sejak awal sudah ia tahan harus terlampiaskan saat mendengar perkataan Max saat itu.
"Beraninya kau mengatakan hal itu, wanita yang baru saja kau sebut adalah istriku!" teriak Adrian sambil berdiri dari duduknya.
"Istri! Apa kau yakin dua mencintaimu? Sudah ada pria lain di hatinya, kau tidak akan pernah sanggup menggantikan posisinya." ucap Max sambil berdecak.
"Tutup mulutmu Max! Aku bisa membunuhmu sekarang juga." sebuah pistol yang ada di genggaman Adrian sudah mengarah tepat di depan wajah Max.
"Kau marah? Apa kau takut?" Max kembali menatap Adrian dengan penuh kebencian. " Kau tidak pernah tahu, siapa wanita yang kau sebut istri itu" sambil membentuk sebuah senyuman licik. " Dia adalah seorang wanita yang sangat licik dan penuh dengan misteri. Dia bisa menghilang kapan saja ia ingin dan muncul di hadapanmu tiba-tiba. Wanita itu seorang...."
Dor....
Satu buah peluru melesat ke arah Max. Ia tidak bisa untuk melanjutkan perkataannya. Mata Max memandang Adrian dengan penuh kebencian. Lagi-lagi dia harus gagal menghabisi wanita yang menjadi musuhnya sejak dulu.
"Kau akan menyesal Adrian." ucap Max dengan nada lemah dan mulai memejamkan kedua matanya.
Tatapan mata semua orang tertuju pada sosok pria paruh baya yang baru saja tiba. Pengawal yang mendampingi sudah berhasil membungkam mulut seseorang yang akan membongkar semua rahasia Adelia. Senyum puas terpancar jelas di wajah penembak.
"Papa!" ucap Adrian sambil melangkah mendekat.
"Apa dia yang sudah menyebabkan kepergian Alex?" tanya Tuan Agung santai, memandang ke arah Max.
"Iya, tapi aku masih membutuhkan informasi yang ia ketahui tentang Adelia." perkataan Adrian terhenti, sambil memandang tajam ke arah Tuan Agung. " Sebelum Papa datang dan menghancurkan segalanya!" sambung Adrian dengan penuh kekesalan dan amarah.
"Tuan, dia sudah tidak bernyawa lagi." ucap Jimy sambil meletakkan tangan Max pada posisinya.
"Aku hanya tidak suka melihat wajahnya yang masih sanggup untuk tersenyum, atas semua yang sudah terjadi." jawab Tuan Agung.
*****