I'M the mafia

I'M the mafia
Bab 61



Beberapa jam yang lalu.


Dalam urusan bisnis. Devan ada di kota yang sama dengan sepasang suami istri itu.


"Jadi Adrian sudah menikah?"


"Iya Tuan, sang istri bernama Adelia."


"Baiklah, kau boleh pergi sekarang." ucap Devan dan mengambil remote TV dan menyetel sebuah berita yang menjadi trending topik hari ini.


"Penyerangan kembali terjadi, yang berasal dari kelompok geng mafia yang selama ini masih menjadi buronan para polisi. Di duga penyerangan itu terjadi sore ini di sebuah kebun teh yang terletak tidak jauh dari Vila keluarga ternama, yaitu keluarga Kusuma. Menurut saksi mata, ahli waris yang bernama Adrian Kusuma telah melakukan perjalanan bulan madu di Vila bersama sang istri. Sampai sekarang keberadaan keduanya masih belum bisa di ketahui. Sekian informasi berita terkini."


"Berarti Adrian ada di sana, di vila. Aku harus segera menolongnya." Devan mengambil kunci mobil dan pergi menuju ke arah vila.


Devan terus melajukan mobilnya ke arah vila yang sudah diketahui tempatnya. Keberadaan Devan saat ini memudahkan dirinya untuk segera sampai di vila. Kehadiran Devan di vila di sambut beberapa pelayan. Dengan hormat, mereka menyambut kedatangan Devan yang tiba-tiba muncul di sana.


"Selamat malam Tuan muda Devan, ada hal apa yang membuat anda datang ke vila ini." sapa salah satu pelayan yang sudah lama mengenal Devan.


"Adrian dimana?" tanya Devan dengan raut wajah khawatir.


"Tuan muda Adrian dan Nona Adelia masih belum di temukan, Tuan. Semua pengawal sudah berpencar mencari keberadaan mereka sejak sore tadi." jawabnya sambil menunduk tanpa berani memandang wajah Devan.


"Dimana kejadian itu terjadi?"


" Di kebun teh yang tidak jauh dari danau Tuan." ucap seorang pelayan.


"Danau? Mereka pasti lari ke arah hutan." Devan berlari cepat menuju mobil.


Bukan hal baru lagi bagi Devan dengan lokasi vila itu. Sejak kecil vila itu sudah menjadi rumah bagi Devan. Sebuah rumah yang menjadi tempat tinggalnya tiap kali ia lari daru masalah yang menerpa dirinya. Bukan hanya danau yang menjadi tempat favorit untuk bermain, tapi hutan belantara yang terlihat menyeramkan itu juga menjadi salah satu tempat favorit bagi Devan di masa itu. Seperti mengerti ke mana arah jalan menuju keberadaan Adrian, Devan menghentikan mobilnya di tepi jalan. Kedua mata menatap sekeliling hutan yang kini ada di hadapannya.


"Tempat ini masih sama seperti dulu." Devan melangkah masuk menembus hutan yang rindang, untuk menemukan Adrian dan Adelia yang tersesat.


Masih belum berada dalam keadaan aman. Bukan hanya pengawal keluarga Kusuma yang mencari keberadaan Adrian. Tetapi seluruh bawahan Max dan Jo juga telah berpencar untuk menemukan keberadaan Adelia terlebih dahulu.


Beberapa di antara mereka sudah menyamar untuk memperoleh informasi. Seseorang yang berada tidak jauh dari vila sudah terlihat dengan senyum lebar yang terukir di bibirnya. Informasi yang baru saja ia dengar adalah sebuah kabar gembira bagi sang atasan. Segera ia mengeluarkan ponsel yang tersimpan di saku celananya.


"Tuan, mereka berada di hutan. Seorang pria sedang perjalanan menyusul mereka." ucap orang itu saat memberi kabar tentang keberadaan Adelia melalui panggilan telepon genggamnya.


"Baik Tuan, saya akan segera ke sana." sambungnya lagi, dan memutuskan panggilan telepon.


****


Devan terus melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Merasa tidak memiliki persiapan sebelumnya, Devan mulai mengkhawatirkan keberadaan dirinya saat ini. Bukan hanya sebuah pada firasat, kenyataan buruk sudah ada di depan mata. Segerombolan orang bersenjata dan mobil-mobil yang sudah menghalangi jalan Devan sudah menyambut kedatangan mereka bertiga.


Tidak hilang akal, Devan menekan layar handphone untuk memberi kode pertanda bahaya kepada semua bawahan untuk segera menolongnya.


Hatinya kembali di penuhi kekhawatiran, rasa nyaman yang baru saja ia rasakan beberapa menit sebelumnya harus terganti lagu menjadi suatu kenyataan buruk. Hanya diam di dalam mobil, seperti hanya menunggu malaikat maut datang menjemput. Kini Devan dan Adrian sudah sama-sama memegang sebuah pistol dan bersikap waspada terhadap beberapa orang yang sudah melangkah mendekati mobil.


"Adrian, apapun yang terjadi tetap lindungi Adelia. Pengawal akan segera tiba beberapa menit lagi, kita harus bisa mengulur waktu sampai mereka tiba." ucap Devan memberi penjelasan kepada Adrian.


"Adelia, tetap di dalam mobil. Biar aku dan Devan yang turun untuk menghadapi mereka." perintah Adrian kepada Adelia dengan tatapan mata tajam memandang wajah Adelia.


Adelia hanya mengangguk pelan, meskipun hanya ingin selalu ada di samping Adrian tapi saat ini ia tidak ingin membuat Adrian dalam masalah karena keegoisan. Dengan perlahan Adrian dan Devan melangkah keluar dari dalam mobil. Tatapan kebencian sudah melekat di wajah keduanya.


"Siapa kalian, apa yang kalian inginkan dari kami." ucap Devan memulai pembicaraan.


"Serahkan wanita itu pada kami, dan kalian akan terbebas dari semua masalah ini." jawab Jo dengan santai.


Pria itu memiliki banyak nyawa cadangan ternyata, melihat wajahnya yang sudah tidak karuan bentuknya itu kini dia masih berani mengancam.


Devan memandang sinis ke arah orang yang berbicara di depannya.


"Tidak akan, kami tidak akan menyerahkan wanita itu." ucap Devan santai.


Devan terlihat peduli dengan keselamatan Adelia, tapi bukan saatnya untuk membahas hal itu.


Adrian memandang wajah Devan sebelum memandang ke arah Adelia yang masih berada di dalam mobil.


"Aku tidak perlu meminta persetujuan dari kalian berdua, saat ini juga aku akan membawa dia pergi." Jo maju beberapa langkah mendekati mobil.


Sebuah pistol yang di genggam oleh Devan sudah siap menyambut kedatangan Jo saat itu.


"Wah... wah... kau ingin bermain-main denganku, anak muda." Membuang pistol yang ada di tangannya. "Mari lawan aku dengan tangan kosong." sambil mengacungkan jari di hadapan Devan.


"Kita harus tetap mengulur waktu Adrian, aku akan melawan orang itu. Kau tetap lindungi Adelia." bisik Devan pelan di telinga Adrian.


"Baiklah! Devan, berhati-hatilah. jawab Adrian pelan.


Pertarungan tunggal sudah di mulai, Devan jatuh lebih dulu saat pertarungan itu baru saja di mulai. Tidak hanya berhenti sampai di situ, Devan kembali bangkit hingga membuat keadaan kembali berbalik.


Max yang sudah geram dengan keberadaan Adelia yang tidak kunjung bisa ia dapatkan. Ia sudah menodongkan pistol ke arah Adelia. Matanya sudah di penuhi api kebencian.


Dorr


Suara tembakan di mulai, Adrian berhasil membuat pistol yang di genggam Max terjatuh dan tergeletak di atas tanah. Seperti sebuah aba-aba, suara tembakan itu memancing semua orang yang ada di sana untuk menyerang Adrian. Suasana kembali tegang.


****