I'M the mafia

I'M the mafia
Bab 33



Adrian sungguh tidak tahu, sejak kapan ia begitu peduli dengan Adelia. Tapi yang pasti saat ini, dia sangat mengkhawatirkan Adelia. Bisnis yang dijalankannya juga memiliki banyak musuh dan saingan, Adrian kini berpikir kalau bahaya yang saat ini menimpa Adelia berasal darinya.


Adrian sudah tidak sabar untuk melihat Adelia untuk memastikan keadaannya.


"Adelia..." ucap Adrian pelan, saat melihat wajah Adelia di dalam toko.


Adelia yang melihat kedatangan Adrian, langsung segera beranjak dari tempat duduknya dan berlari kencang memeluk pria yang sudah menjadi suaminya itu. Ini adalah pertama kali baginya merasakan sangat nyaman ketika Adrian ada di depan matanya.


Adrian tampak diam dan tangannya bergerak menenangkan Adelia.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Adrian sambil memegang pundak Adelia.


"Aku baik-baik saja, tapi Eva Adrian!" ucap Adelia dengan suara serak karena habis menangis.


"Tenanglah, pengawal sudah membawanya ke rumah sakit, ayo kita pulang Adelia," ucap Adrian sambil membawa Adelia kedalam pelukannya.


"Tapi aku ingin melihat keadaan Eva," ucap Adelia saat ia telah berada di dalam mobil.


"Nanti saja kita ke sana Adelia, keadaan masih belum aman. Penembak itu masih berada di sekitar sini. Dan aku takut penembak itu masih mengincarmu," ucap Adrian cepat.


"Tapi bagaimana jika terjadi sesuatu dengannya? aku yang mengajaknya keluar rumah untuk menemaniku," ucap Adelia lirih.


"Semua akan baik-baik saja, saat ini kita harus pulang ke rumah dan kau juga butuh istirahat," bujuk Adrian.


"Baiklah, ayo kita pulang," ucap Adelia sambil menatap kosong ke arah luar jendela.


Alex saat ini tidak ikut dengan Adrian karena ia harus kembali ke kantor untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Adrian. Tugasnya adalah untuk mengatasi masalah perusahaan cabang yang saat ini bermasalah. Hingga Jimy yang memiliki tugas penuh untuk menjaga keselamatan Adrian dan Adelia saat ini.


***


Pria yang mengincar adelia adalah Max, dia merupakan seseorang yang menjadi bagian masa lalu dari kehidupan Adelia.


Pria itu sudah melihat Adelia dari sejak memasuki taman bunga itu. Dia yang begitu sangat penasaran dengan sosok wanita yang mirip dengan musuh masa lalunya, dengan segera mengikutinya dari belakang.


Sampai akhirnya yang dia lihat memang benar Adelia, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu untuk membunuh Adelia.


Berhubung suasana taman yang begitu sepi.


"kau masih hidup Adelia," ucapnya pelan.


Dirogohnya pistol yang berada di dalam saku jasnya dan segera menarik pelatuknya ke arah Adelia.


Dor


Satu tembakan terdengar, tapi tembakan itu salah sasaran dan mengenai orang lain. Ia tidak menyerah begitu saja ia kembali menembak ke arah Adelia. Tapi sayangnya wanita itu berhasil menghindar dan melarikan diri. Merasa kehilangan jejak Adelia ia melampiaskan amarahnya kepada pelayan yang terlihat begitu penting bagi Adelia. Ia menembak tepat di dada pelayan itu.


"Adelia, kali ini kau selamat. Tapi tidak dengan lain kali aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri" ucap Max, berlalu pergi meninggalkan taman bunga itu.


***


Tuan Agung dan Nyonya Wina baru saja tiba di rumah utama. Perasaannya kini sangat merindukan Adelia menantu kesayangannya. Setelah masuk ke dalam rumah, Nyonya Wina langsung berjalan menuju kamar Adelia.


Nyonya Wina sama sekali tidak mengetahui masalah yang telah menimpa diri Adelia, raut wajahnya tampak bahagia. Dengan membawa sebuah paperbag yang berisikan sebuah hadiah untuk Adelia, Nyonya Wina membayangkan begitu bahagianya Adelia setelah menerima hadiah yang ia berikan.


Belum sempat menaiki satu anak tangga, Nyonya Wina sudah dihentikan oleh Pak Udin.


"Kemana perginya Adelia, Pak Udin?" tanyanya dengan bingung.


"Nona sedang pergi berjalan-jalan di taman bunga, dan tidak jauh dari rumah utama.


"Baiklah, kalau gitu saya akan kembali ke kamar. Kabari saya jika Adelia sudah tiba di rumah Pak Udin," ucap Nyonya Wina sambil melangkah menuju kamarnya.


Baru saja berbalik, langkah kaki Nyonya Wina terhenti saat melihat beberapa mobil pengawal yang mengiringi mobil Adrian dari belakang.


"Apa yang terjadi, kenapa Adrian meminta pengawal sebanyak itu untuk mengiringnya," ucap Nyonya Wina heran dan juga khawatir.


Nyonya Wina mempercepat langkah kakinya, mendekati Adrian dan Adelia yang baru saja tiba dan turun dari mobil.


Adelia yang melihat Nyonya Wina, ia segera berlari menubruk wanita paruh baya itu.


"Mama...." ucap Adelia memeluk Nyonya Wina dengan air mata yang kembali menetes membasahi kedua pipinya.


"Apa yang terjadi Adelia? kenapa menangis"


"Adrian, apa yang terjadi? kenapa Adelia menangis seperti ini?" tanya Nyonya Wina sambil memandang ke arah Adrian, meminta penjelasan.


"Sebaiknya kita bicara di dalam, Ma. Kita harus membawa Adelia masuk," ucap Adrian sambil melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga.


Nyonya Wina segera menuruti permintaan Adrian. Ia merangkul pinggang Adelia, dan membawa masuk ke dalam. Nyonya Wina berjalan menuju ke sebuah sofa.


Dengan pelan Nyonya Wina mendudukkan dirinya di sofa diikuti oleh Adelia di sebelahnya.


"Ceritakan apa yang terjadi sebenarnya, Adrian!'' ucap Nyonya Wina menagih penjelasan terhadap Adrian.


"Begini, Ma. Ada yang ingin mencelakai Adelia, satu pengawal kita mati tertembak. Dan satu pelayan wanita yang menemani Adelia juga tertembak dan berada di rumah sakit sekarang."


"Apa!'' ucap Nyonya Wina kaget.


Rasa khawatir yang selama ini ia takuti, kini telah terjadi. Rasa khawatir, ketika Adelia kembali bertemu dengan orang masa lalunya. Satu masa lalu kini sudah mulai muncul, Nyonya Wina semakin khawatir dengan keselamatan Adelia kedepannya.


"Kenapa kau pergi sendiri sayang, di luar sangat bahaya bagimu," ucap Nyonya Wina sambil mengelus kepala Adelia yang masih ada dalam pelukannya.


"Maafkan aku Ma, aku tidak tahu akan terjadi seperti ini, Adelia pikir semua akan baik-baik saja," ucap Adelia pelan.


"Adrian, kenapa kau biarkan Adelia pergi keluar rumah sendirian?" ucap Nyonya Wina dengan nada tinggi.


"Adrian sudah menyuruh seorang pengawal untuk menjaganya Ma," jawab Adrian yang tidak mau disalahkan oleh sang ibu.


"Seorang kau bilang? lalu sekarang hasilnya bagaimana Adrian." ucap Nyonya Wina.


"Maafkan Adrian, Ma," ucap Adrian tanpa ingin membantah perkataan sang ibu lagi, lebih baik ia mengalah.


"Sebaiknya kau ajak Adelia ke kamar," ucap Nyonya Wina sambil memandang wajah Adelia yang begitu lelah.


"Baik, Ma," ucap Adrian sambil beranjak dari tempat duduknya." Ayo kita ke kamar sayang, kau harus istirahat," ucap Adrian dengan mengulurkan tangannya di depan Adelia.


Adelia hanya mengangguk tanpa menjawab perkataan Adrian, dan menyambut uluran tangan Adrian lalu melangkahkan menuju kamar.