
Mobil melaju dengan kecepatan sedang menembus suasana malam yang begitu sunyi. Waktu yang sudah menunjukkan larut malam membuat jalanan sepi, hanya ada beberapa kendaraan yang lewat. Dan itu membuat jalanan begitu mudah di lewati.
Suasana di dalam mobil begitu hening, tidak ada yang memulai obrolan. Semua larut dalam pikirannya masing-masing.
Adelia diam menatap ke arah luar. Walaupun tidak ada yang menarik untuk di lihat. Karena sekarang sudah malam, hanya ada lampu kota yang kelihatan menghiasi jalanan.
Adelia sudah mengetahui keadaan Eva, tapi dia sama sekali masih memiliki rasa bersalah yang begitu besar. Karena semua berawal dari dirinya yang ingin pergi jalan-jalan. Adelia tidak pernah berpikir bahwa akan mengalami kejadian buruk, hingga menyebabkan nyawa orang melayang.
"Adelia, apa yang kau pikirkan?" tanya Adrian memecah keheningan.
Benar saja lamunan Adelia kini buyar seketika. Saat mendengar perkataan Adrian.
"Aku tidak memikirkan apapun, hanya saja aku sedikit lelah." ucap Adelia tanpa mengalihkan pandangannya.
"Lalu, apa yang kau lihat di kegelapan?" ucap Adrian heran dengan Adelia yang masih melihat ke arah luar.
"Aku hanya melihat lampu," jawab Adelia singkat.
"Lampu, kau sangat suka dengan lampu? tanya Adrian.
"Ya, karena lampu bisa menerangi kegelapan."
"Iya, kau benar sekali." ucap Adrian.
Tumben sekali dia banyak bicara, biasanya dia sungguh sangat irit dan tidak suka berbicara denganku.
Adelia sangat heran dengan Adrian, akhir-akhir ini dia sering berbicara dan sikapnya sedikit lembut padanya.
"Bagaimana pendapatmu tentang Vina?" tanya Adelia mengalihkan pembicaraan.
"Siapa Vina?" tanya Adrian bingung.
"Vina itu bayi yang baru saja aku gendong tadi. Vina begitu lucu bukan, aku jadi ingin memiliki anak yang lucu dan menggemaskan seperti Vina." ucap Adelia sambil membayangkan Vina yang memang sangat menggemaskan.
Kenapa dia harus berkata seperti itu? Aku jadi bingung harus menjawab apa.
Adrian bingung dan memilih memandang ke luar jendela.
"Adrian, kenapa kau tidak menjawab? Apa kau tidak menyukai anak kecil?" tanya Adelia.
"Aku tidak tahu Adelia."
"Tidak tahu? apa kau sama sekali tidak pernah melihat anak kecil sebelumnya," tanya Adelia dengan penasaran.
"Tidak pernah,'' jawab Adrian singkat dengan wajah dingin yang tidak tertebak.
Menjengkelkan, baru saja aku puji kalau sikapnya berubah manis. Sekarang kembali menjadi dingin, aku tarik semua kata-kata baikku tadi.
Adelia menggerutu di dalam hatinya. Ia sangat kesal akan respon Adrian yang hanya menjawab dengan seadanya.
Sekarang hanya keheningan yang muncul, perkataan yang dilontarkan Adelia dan jawaban yang di ucapkan Adrian cukup membuat suasana menjadi senyap.
Jimy yang berada di kemudi hanya bisa menjadi pendengar yang baik, tanpa mau ikut campur. Ia segera menambah kecepatan mobilnya agar segera sampai di rumah karena sudah sangat larut malam.
Tidak berselang lama akhirnya mereka sudah sampai di depan pintu rumah utama.
Adelia segera membuka pintu mobil dan masuk ke dalam rumah diikuti Adrian di belakangnya. Adelia ingin segera merebahkan tubuhnya yang terasa sangat begitu lelah. Begitu juga dengan Adrian.
Sesampainya di kamar, Adelia segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dan memejamkan matanya.
Astaga dia langsung tidur bahkan dia tidak ganti baju terlebih dahulu. Padahal dia habis dari luar.
Adrian melihat Adelia dengan jengkel.
"Diamlah, aku sedang ngantuk." gumam Adelia.
"Kau berani menentang perintahku Adelia," ucap Adrian dengan ketus.
Sontak Adelia membuka paksa kedua matanya dan segera menatap wajah Adrian yang ada di depannya.
"Maaf, jangan hukum aku Adrian. Aku sungguh lelah hari ini." ucap Adelia memelas.
"Cepatlah segera ganti bajumu, atau kau mau aku bantu membuka bajumu?" tanya Adrian.
"Tidak, aku bisa ganti baju sendiri," ucap Adelia dengan gugup.
Dia pasti tidak main-main dengan kata-katanya, jadi lebih baik aku segera ganti baju. Dan segera tidur.
Adelia dengan segera bangun dari tidurnya dan melangkah ke kamar mandi. Setelah selesai ia membaringkan tubuhnya diikuti oleh Adrian yang sudah berganti dengan piyama tidurnya. Dan tertidur pulas.
Adrian dan Adelia sama seperti pasangan pengantin pada umumnya tidur satu ranjang yang sama. Tapi bedanya adalah Adrian dan Adelia tidak melakukan hal apapun yang melewati batas. Walau sudah menikah Adrian sama sekali belum menyentuh Adelia.
****
Dengan berat Adelia membuka kedua matanya. Sungguh tidur yang begitu singkat untuknya. Tubuhnya terasa sangat begitu lelah, atas peristiwa yang menimpanya. Ia merenggangkan kedua tangannya dan menoleh pada sebuah bantal yang sudah tidak ada penghuninya.
"Adrian kemana?" Adelia duduk dan mulai memfokuskan penglihatannya.
Adelia beranjak dari tempat tidurnya. Matanya terbelalak kaget saat melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 08.00.
"Astaga, aku bangun kesiangan. Semoga Adrian belum pergi ke kantor. Kenapa dia tidak membangunkanku!" Adelia segera berlari ke kamar mandi.
Perasaannya yang tidak karuan mulai ia lupakan. Sekarang yang paling penting ia harus segara membersihkan dirinya, dan segera turun ke bawah.
Adelia memilih baju dan segera memakainya dengan asal. Dengan cepat Adelia berlari kecil menuruni tangga.
Suara sandal Adelia terdengar seperti irama, membuat semua orang yang masih berada di ruang makan mengalihkan pandangannya ke arah Adelia.
"Adelia, jangan lari. Kau bisa jatuh jika berlari seperti itu," ucap Nyonya Wina.
Melihat tingkah laku Adelia. Adrian tersenyum tipis.
"Maaf Ma, Adelia bangun kesiangan," ucap Adelia dengan napas yang belum normal.
"Tidak apa-apa Adelia, sebaiknya kau segera sarapan," titah Nyonya Wina.
"Baik Ma," Adelia menarik kursi dan duduk di sebelah Adrian dan segera melakukan ritual sarapan yang kesiangan.
Setelah selesai makan, Nyonya Wina memandang ke arah Adrian dan Adelia dengan serius.
"Adrian, Mama punya hadiah untuk kalian berdua," sambil menyodorkan sebuah amplop cokelat di hadapan Adrian.
"Ini apa Ma?" ucap Adrian bingung.
"Kau buka saja langsung Adrian," ucap Nyonya Wina.
Adrian kemudian membuka amplop cokelat itu, "Paket liburan?" ucap Adrian begitu terkejut dan kembali menatap wajah Nyonya Wina.
"Iya, itu untuk kalian dan Mama sudah menyiapkan segalanya. Besok kalian akan berangkat Bulan madu," ucap Nyonya Wina.
"Bulan madu?" teriak Adelia dan Adrian bersamaan.
"Iya, apa ada yang salah? Kenapa wajah kalian terlihat tidak bahagia?" tanya Nyonya Wina penuh selidik.
Tuan Agung yang sudah mengetahui rencana sang istri hanya bisa diam. Ia juga tidak memiliki kemampuan untuk melarang kemauan Istri tercintanya. Semua yang direncanakan oleh Nyonya Wina memang harus segera dilakukan. Demi melindungi Adelia dari bahaya yang kapanpun bisa saja menimpanya.