I'M the mafia

I'M the mafia
Bab 77



Adelia memegang bunga mawar itu dengan perasaan senang. Selain warnanya yang cantik, harum bunga itu juga sangat menyenangkan. Akan tetapi sekelebat bayangan tiba-tiba muncul di dalam ingatannya hingga mengakibatkan kepalanya berdenyut kencang, Ia merasakan rasa sakit kepala yang amat luar biasa.


"Auh, sakit!" pekik Adelia sambil memegang kepala dengan kedua tangannya.


Kelopak bunga mawar sudah berserak di lantai, kedua matanya terpejam menahan rasa sakit yang kini ia rasakan.


"Adelia." Adrian segera menghampiri Adelia dengan wajah khawatir. "Jimy, panggilkan Aldo!" perintah Adrian dengan cepat.


Jimy langsung berlari cepat keluar ruangan, kebetulan di depan ia melihat pengawal yang sedang berjaga. Dengan segera Jimy memerintahkan salah satu dari mereka untuk segera memanggil Dokter Aldo.


"Panggilkan Dokter Aldo cepat!" teriak Jimy lalu kembali masuk ke dalam ruangan.


Di dalam kamar, Adrian terlihat sangat panik. Rasa tidak tega telah menyelimuti hati Adrian. Hatinya benar-benar sakit, saat melihat Adelia yang kini sedang menahan sakit.


"Dimana dia? Kenapa lama sekali Jimy!" ucap Adrian frustasi.


Tidak menunggu lama, Aldo sudah masuk ke dalam kamar dengan langkah cepat Aldo berjalan menghampiri ranjang diikuti beberapa perawat.


"Apa yang terjadi Adrian?" tanya Aldo yang kini sudah berada di samping Adelia.


"Apa yang kau rasakan nona Adelia?" sambungnya lagi.


"Aku tidak tahu, Adelia tiba-tiba berteriak kesakitan." jelas Adrian, memandang Adelia yang masih tertutup oleh tangannya.


"Kepalaku sakit Dokter!"


"Berbaringlah, aku akan memeriksamu." pinta Aldo.


Adelia mulai membaringkan tubuhnya secara perlahan, dibantu oleh Adrian yang kini ada di sampingnya. Tatapan mata Adrian semakin khawatir saat melihat buliran air mata jatuh di pipi Adelia.


"Adelia, kau akan baik-baik saja." ucap Adrian pelan.


"Semua akan baik-baik saja, aku akan menanganinya dengan baik." ucap Aldo yang sudah siap dengan beberapa alat medisnya.


Adrian melangkah mundur memberikan ruang untuk memeriksa keadaan Adelia. Beberapa perawat terlihat melingkari ranjang. Adrian segera meninggalkan ruangan diikuti oleh Jimy dari belakang.


"Apa yang terjadi padanya?" ucap Adrian lirih.


"Nona Adelia akan baik-baik saja,Tuan." jawab Jimy pelan.


Sudah setengah jam Adrian menunggu di luar ruangan, tapi Aldo belum juga keluar dari ruangan. Rasa khawatir dan takut kembali melebur menjadi satu di dalam hati Adrian. Baru saja beberapa hari ini dia bernapas lega, saat melihat Adelia sadar dari koma. Namun, haru ini ia kembali di penuhi rasa. khawatir yang begitu besar.


Setelah lama menunggu, akhirnya sosok yang sejak tadi ia nantikan kini sudah muncul. Belum sempat Adrian bertanya, Aldo lebih dulu berbicara.


"Apa ada sesuatu yang memaksa ingatan Adelia? Sesuatu tentang masa lalu yang pernah terjadi dalam hidupnya?" tanya Aldo.


"Sesuatu?" ucap Adrian dan Jimy secara bersamaan.


"Ya, apa kalian menanyakan sesuatu pada Adelia? Hingga dia mencoba untuk kembali mengingat masa lalunya."


"Kau menuduhku?" ucap Adrian ketus.


"Tidak, aku tidak menuduhmu. Tapi memang kenyataannya ada sesuatu yang memaksa dirinya untuk kembali mengingat masa lalunya yang terlupakan." jelas Aldo.


Adrian dan Jimy hanya diam untuk berpikir sejenak. Hingga akhirnya Jimy menemukan titik terang atas kejanggalan yang menjadi penyebab Adelia seperti itu.


"Bunga mawar merah." ucap Jimy yang berusaha memahami keadaan yang sebenarnya terjadi.


"Hanya bunga mawar?" tanya Aldo yang kembali mengingat kelopak bunga yang berserakan di lantai.


"Pasti ada sesuatu dengan bunga itu." ucap Aldo pelan.


"Lalu bagaimana dengan keadaan Adelia?" tanya Adrian lagi.


"Aku sudah memberinya suntikan, untuk meredakan rasa sakit di kepalanya."


"Aku akan masuk menemuinya." ucap Adrian cepat.


"Adrian!" panggil Aldo.


"Ada apa?" jawab Adrian singkat.


"Adelia tidak akan mudah menerima masa lalunya! Jika hal ini terjadi lagi, itu akan membuat keadaannya semakin memburuk. Aku harap kau mengerti dengan apa yang aku katakan." ucap Aldo yang berusaha untuk menjelaskan keadaan Adelia saat ini.


Adrian hanya mengangguk pelan sebagai jawaban, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan Adelia. Di dalam kamar, Adelia terlihat tidur dengan tenang. Mungkin karena pengaruh suntikan Yang di berikan Aldo pikirnya. Tatapan mata Adrian kembali di alihkan pada kelopak bunga mawar merah yang kini berserakan di lantai. Jimy yang berada di belakang Adrian hanya diam tanpa berani mengeluarkan satu patah katapun.


"Apa ini salah satu alasan Mama menyembunyikan semuanya?" gumam Adrian dalam hati.


Di dalam ruang rawat Adelia kembali hening. Jarum infus yang sempat dilepas, kini sudah terpasang lagi di tangan Adelia. Adrian masih berdiri mematung, memandang wajah Adelia.


"Singkirkan bunga mawar ini, Jimy." ucap Adrian pelan.


"Baik, Tuan." ucap Jimy sambil melangkah mengambil bunga itu kemudian membuangnya di tong sampah.


"Jim, pergilah ke kantor. Aku akan menemani Adelia hari ini." perintah Adrian lagi.


"Baik, Tuan," Jimy menunduk hormat kemudian pergi meninggalkan Adrian.


Di depan kamar, Jimy berpapasan dengan Eva yang kini sedang berjalan menuju kamar Adelia. Eva terlihat berlari cepat dengan raut wajah takut, saat melihat Jimy yang kini ada di hadapannya.


"Darimana saja kau, Eva!" tegas Jimy dengan raut wajah marah.


"Maaf, Tuan," jawab Eva pelan.


"Maaf? Aku butuh jawaban. Bukan kata maaf!" bentak Jimy.


"Saya ijin pulang sebentar, untuk menemui putri saya Tuan. Dia sedang sakit." jawab Eva masih dengan nada yang di penuhi ketakutan.


Jimy hanya diam tanpa mau berkata lagi, tatapan matanya ia alihkan pada satu lorong yang terbentang lurus di depan.


"Maafkan saya, Tuan." sambung Eva lagi.


"Pulanglah! hari ini nona Adelia akan ditemani oleh tuan Adrian. Kau bisa menggunakan waktu yang singkat ini, untuk menemani putrimu." ucap Jimy kemudian berlalu pergi meninggalkan Eva yang masih berdiri mematung.


"Apa aku sedang bermimpi?" gumam Eva sambil menepuk kedua pipinya, dirinya masih tidak percaya dengan perkataan Jimy barusan.


Disisi lain...


Di dalam mobil, Mr. A kembali mengingat satu nama yang sempat disebutkan oleh Jimy. Pikirannya kembali dipenuhi rasa penasaran yang amat dalam, kepada pemilik nama itu. Padahal, rasa penasarannya akan segera terjawab beberapa saat lalu. Namun, semua harus gagal ketika Devan datang dan merusak semua rencana yang sudah ia susun dengan rapi.


Adelia, nama itu mengingatkanku pada dirimu sayang. batin Mr. A dengan perasaan penuh kerinduan dengan membayangkan wajah Adel.


Di sebuah restoran yang ada di pusat kota. Rombongan Mr. A dan Devan telah tiba di sana. Tidak lagi dengan tampilan mencolok, mereka masuk hanya membawa dua orang pengawal. Sisanya terlihat berjaga di depan restoran.


***


Tinggalkan jejak komentar kalian guys🤗