I'M the mafia

I'M the mafia
Bab 45



"Nona, Adelia," ucap Jimy saat melihat Adelia dari jarak yang tidak terlalu jauh dari posisinya saat ini.


Sejak terjadi penyerangan yang terjadi di Restoran, Jimy memerintahkan semua pengawal untuk berjaga melindungi Adrian dan Adelia. Jimy sedang duduk di salah satu kursi yang ada di bawah Apartemen.


Matanya terfokuskan pada seorang wanita, yang sedang berjalan keluar dari apartemen. Hingga Jimy sadar, kalau wanita yang saat ini ia pandang adalah Nona muda yang harus ia lindungi. Kakinya segera berlari cepat mengejar Adelia.


"Nona, anda mau pergi kemana?" tanya Jimy yang kini sudah berada tepat di belakang Adelia.


"Aku tidak ingin berada di sini," jawab Adelia pelan.


"Nona, kembalilah ke kamar dan beristirahat," bujuk Jimy agar Adelia mau kembali masuk ke dalam kamar.


"Tidak mau, Adrian sangat membenciku. kehadiranku hanya merepotkan dirinya saja," ucap Adelia sambil kembali melangkahkan kakinya.


"Nona, percayalah pada saya, Tuan Adrian tidak mungkin seperti itu." ucap Jimy.


"Aku tidak ingin kembali ke ruangan itu," tolak Adelia lagi.


Adelia menghentikan langkahnya, memutar tubuhnya menghadap Jimy. Perkataan Jimy membuat Adelia berpikir dua kali, atas niat yang ingin ia lakukan saat ini. Adelia menatap wajah Jimy dengan serius.


"Nona, Tuan Adrian hanya belum siap dengan status pernikahan yang terjadi secara tiba-tiba. Lambat laun Tuan akan berubah, Nona. Hingga ia tidak bisa mengendalikan emosinya," ucap Jimy terus menjelaskan keadaan Adrian, supaya Adelia tidak pergi meninggalkan Adrian.


"Benarkah?" tanya Adelia sedikit percaya.


Sifat Adelia yang patuh, membuat Jimy sangat mudah menerima kehadirannya. Jimy yang selalu bersikap waspada, kini mulai mempercayai Adelia. Meskipun kenyataan buruk yang baru saja ia temukan, tetap tidak memudarkan rasa percaya dan pedulinya kepada Adelia. Sifat lembut yang ditunjukkan Adelia, memancarkan ketulusan di sana. Dengan lapang dada, Jimy menyambut kehadiran Adelia sebagai Nona muda yang mendampingi kehidupan Adrian seterusnya.


"Benar, Nona," jawab Jimy pelan sambil tersenyum memandang Adelia.


"Bukankah anda belum makan, Nona. Ingin saya pesankan makanan?" tawar Jimy memecah keheningan malam itu.


Makanan adalah yang sejak tadi Adelia pikirkan. Hampir sirna dari isi kepalanya, karena amarah yang diluapkan oleh Adrian. Tapi saat Jimy kembali mengingatkannya, kata lapar kembali memenuhi isi kepalanya.


"Iya, perutku sangat lapar," jawab Adelia sambil memegang perutnya. Adelia mulai melupakan yang tadi memenuhi pikirannya.


"Mari, Nona. Saya akan mengantar anda, untuk makan." ucap Jimy melangkah ke arah restoran.


Adelia mengikuti langkah Jimy dari belakang, untuk masuk kembali ke dalam gedung Apartemen. Jimy membawa Adelia ke sebuah kursi yang sudah tersedia di restoran.


"Anda ingin makan apa, Nona?" Saya akan memesankannya untuk anda." tanya Jimy sambil menggeser satu kursi untuk duduk Adelia.


"Terserah kau saja," jawab Adelia pasrah tanpa ingin lagi protes jenis makanan apa yang ingin ia makan saat ini.


Tanpa menjawab, Jimy pergi meninggalkan Adelia sendiri. Untuk memesan makanan dan minuman untuk Adelia.


Terlihat langit yang begitu cerah malam ini, banyak bintang yang bersinar di langit, sorot lampu-lampu yang indah, menerangi halaman Apartemen.


Seharusnya aku bisa lebih bersabar, saat menghadapinya.


Adelia kembali memandang kosong. Pikirannya kembali mengingat Adrian.


"Nona, silahkan di makan," Jimy menghilangkan sepiring nasi goreng dan teh hangat di hadapan Adelia.


"Terima kasih, Jimy." ucap Adelia dan mulai melahap nasi goreng itu secara perlahan, hingga tidak butuh waktu lama, makanan sudah habis menyisakan wadahnya saja.


(Saking laparnya ya gaes)🤣


"Jimy, apa orang-orang perusuh tadi musuhnya Adrian?" tanya Adelia dengan begitu penasaran.


"Bukan, Nona. Itu adalah orang yang ingin membunuh rekan kerja Tuan Adrian." terang Jimy.


"Jadi tidak ada urusan dengan kalian kan?" ucap Adelia.


Adelia mengangguk mengerti.


"Tuan Adrian memang memiliki banyak musuh dalam masalah bisnis, banyak yang berlomba-lomba ingin menjatuhkan Tuan Adrian." ucap Jimy mulai menjelaskan semua kepada Adelia.


"Banyak musuh!" ucap Adelia kaget


Adrian mempunyai banyak musuh, karena dia pengusaha muda yang amat sukses.


Adelia berucap di dalam hatinya, sementara Jimy hanya menganggukkan kepalanya dengan begitu santai.


****


Adrian terbangun dari tidurnya. Lelaki itu memang bukan tipe orang yang mudah larut dalam tidur yang panjang. Merasa ada sesuatu yang melindungi tubuhnya dari rasa dingin, Adrian segera terbangun, ia mulai memfokuskan pandangan matanya.


Dilihatnya sekeliling ruangan tempat ia kini berada, tidak terlihat sosok wanita yang baru saja ia lukai dengan perkataannya.


"Kemana lagi dia," ucap Adrian pelan kemudian beranjak dari sofa. Berjalan ke arah kamar mandi, berharap Adelia ada di dalam.


Tidak ada seorangpun di dalam, tatapan matanya mulai berubah menjadi kekhawatiran.


"Apa dia kabur! kenapa dia sangat merepotkan. Dia pasti marah dengan perkataanku tadi," ucap Adrian pelan yang mulai menyadari kesalahannya terhadap Adelia.


Maafkan aku Adelia, aku masih belum bisa mengontrol emosiku.


Batin Adrian merasa bersalah.


Dengan cepat Adrian mengambil sebuah jaket, dan melangkah keluar dari kamar.


"Kemana dia pergi!" tanyanya pelan dengan pandangan terus menyelidiki setiap sudut lorong yang ada di apartemen itu.


Tidak terasa Adrian sudah berada di lantai bawah, ia di sambut oleh beberapa pengawal yang sedang berjaga.


"Apa kalian melihat Adelia?" tanya Adrian kepada beberapa pengawal yang sedang berjaga di sana.


"Nona, Adelia berada di restoran bersama Tuan Jimy, Tuan," jawab seorang pengawal sambil membungkuk hormat.


Tanpa membalas perkataan sang pengawal, Adrian melangkahkan kakinya ke arah restoran yang letaknya tidak jauh dari tempatnya kini berada.


"Apa dia turun ke bawah karena kelaparan, seharusnya aku tadi memesankan makanan untuknya. Repot begini kan jadinya," umpat Adrian pelan, sambil terus melangkah masuk ke dalam restoran.


Bisa Adrian lihat, di dalam restoran ia melihat dua sosok manusia, yang sudah tidak asing di hidupnya. Adrian melangkah pelan hingga kini sudah berada di hadapan Adelia dan Jimy. Tanpa di sadari oleh keduanya.


"Kau hobi sekali menghilang, Adelia."


Tatapan mata Adrian sudah tidak terbaca lagi. Adrian terlihat menggenggam kedua tangannya dengan erat. Ia tidak lagi mau mengeluarkan kata lain.


Jimy langsung terperanjat kaget dari duduknya, ia berdiri dan membungkukkan tubuhnya.


Adelia hanya diam dan kaget melihat kehadiran Adrian. Ia merasa takut dan bersalah terhadap Adrian, karena mempunyai niat untuk kabur dari apartemen dan menjauhi Adrian.


"Adrian, sejak kapan kau ada di sini," tanya Adelia dengan hati-hati.


Adrian memandang Adelia dengan tatapan yang semakin tajam. Membuat wajah Adelia memucat karena ketakutan.


"Kembali ke kamar sekarang, Adelia!"


Kenapa Adrian selalu marah padaku!