
Tok tok....
Suara ketukan pintu, membuat Adrian dan Jimy mengalihkan pandangannya. Seorang pria baru saja membuka pintu, untuk masuk ke dalam kamar.
"Hei, kenapa kalian menatapku seperti itu? Apa ada yang salah dengan penampilanku?" tanya Aldo santai yang baru saja tiba di sana.
Adrian dan Jimy saling pandang dan kemudian menggelengkan kepala. Tanda tidak ada yang salah dengan penampilan Aldo malam ini.
"Apa yang terjadi dengan Nona Muda keluarga Kusuma?" Aldo melangkah mendekat ke arah Adelia, dan mulai memegang pergelangan tangan Adelia.
"Aku tidak mengerti, kenapa dia mudah sekali pingsan," ucap Adrian sambil menjatuhkan dirinya di atas sofa.
"Aku rasa dia kelelahan dan belum makan," terang Aldo.
"Maksudmu dia pingsan karena kelaparan?" tanya Adrian sambil mengerutkan dahinya.
"Dari pemeriksaan yang kulakukan begitu," jawab Aldo sambil tersenyum meledek Adrian.
"Sungguh merepotkan," umpat Adrian kesal.
"Aku mendengar ada keributan tadi. Siapa yang ingin menyerangmu?" tanya Aldo penasaran yang kini sudah duduk di hadapan Adrian.
"Aku tidak mengenal mereka, penyerangan itu terjadi secara tiba-tiba." ucap Adrian dengan menopang kepala dengan tangannya.
"Aku rasa kamu memiliki musuh yang bertambah banyak," ucap Aldo santai.
"Entahlah aku sendiri tidak tahu." ucap Adrian.
"Adrian, apa pernikahanmu dengan Adelia baik-baik saja? Apa Alana melakukan sesuatu padamu? tanya Aldo dengan raut wajah khawatir. Ia tahu kehadiran Alana di samping Adrian bisa merusak pernikahan sahabatnya.
Aldo salah satu teman Alana dan Abian. Mereka bertiga memiliki hubungan yang cukup dekat. Setelah pernikahan Adrian, Abian menghilang dan menjauh dari hidup Alana. Hal itu membuat Aldo kehilangan sosok sahabat terbaiknya.
"Dia tidak melakukan apapun padaku, tapi dia sudah pernah mencelakai Adelia." ucap Adrian pandangan matanya kini berubah menjadi sangat tajam.
"Apa! apa yang dilakukannya?" tanya Aldo penasaran.
"Alana menyiram Adelia dengan minyak panas, tapi aku sudah bisa mengatasinya," jawab Adrian.
"Astaga sampai separah itu Alana bertindak. Aku sungguh tidak menyangka Alana seperti itu." ucap Aldo menggelengkan kepala.
"Awalnya aku juga tidak percaya, tapi semua bukti sudah jelas dan mengarah padanya." ucap Adrian.
"Baiklah aku mengerti, seharusnya Abian tidak memaksamu untuk mempekerjakan Alana di perusahaanmu, Adrian."
"Aku tidak pernah mempermasalahkan hal itu Aldo." Adrian membuang tatapannya ke arah lain.
"Terserah kau saja, Adrian." Aldo menyandarkan tubuhnya di sofa.
Jimy menuangkan minuman, ke dalam gelas kosong yang ada di hadapan Adrian dan Aldo, " Saya permisi, Tuan." Jimy membungkukkan tubuhnya setengah hormat.
"Tunggu, Jimy," pinta Adrian, "Apa Mama sudah mengetahui hal ini?" tanya Adrian.
"Nyonya tidak mengetahui yang terjadi tadi, Tuan. Saya sudah memberitahu, kalau Nona Adelia akan menginap di apartemen malam ini." jelas Jimy.
Tanpa banyak kata lagi, Jimy melangkah pergi keluar dari kamar Adrian. Belum sempat melangkah jauh Jimy mendengar ada yang memanggil namanya, dan ia refleks menghentikan langkahnya.
"Tunggu Jimy, aku akan ikut pergi denganmu. Aku tidak mungkin berlama-lama di dalam kamar ini, yang berisi sepasang kekasih." Aldo berdiri dan melangkah mendekati posisi Jimy.
"Masih banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu, Aldo. Karena kau satu-satunya sahabat terbaikku yang tersisa." ucap Adrian kesal saat melihat kepergian Aldo.
"Aku akan menemuimu lain waktu, sekarang sudah larut malam," ucap Aldo sambil menutup pintu dari luar.
"Dia sungguh menyebalkan." Adrian melangkah ke arah tempat tidur untuk memandang wajah Adelia. "Apa kau tidak akan bangun sampai besok pagi?" tanya Adrian pelan. Ia terus saja memandang wajah Adelia yang sedang memejamkan mata. Adrian baru menyadari kalau dia berbicara seorang diri.
Melihat tidak ada tanda-tanda Adelia akan bangun, Adrian memutuskan untuk masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan dirinya di sana. Tidak butuh waktu lama Adrian menyelesaikan mandinya. Ia melihat pesan yang berisikan beberapa pesan dari sang ibu.
*Apa kau memutuskan untuk mempercepat bulan madu kalian di apartemen? Apa kau sudah tidak sabar Adrian?
~Mama*
"Ini bukan bulan madu yang sudah aku rencanakan, Ma. Tapi ada sebuah kekacauan yang harus menyebabkan kami menginap di apartemen. Menantu kesayangan Mama masih tidak sadarkan diri," ucap Adrian lirih.
****
"Aku akan membalas kalian!" menarik sebuah peluru yang tertancap di tangannya, menggunakan pisau yang saat ini ia genggam .
Di depan cermin, Max berdiri memandang wajahnya sendiri. Rasa marah dan dendam yang selama ini ia simpan, harus kembali hadir di dalam pikirannya. Tidak ada seorangpun yang berani mengganggunya saat ini. Semua pengawal setianya, lebih memilih untuk menjaganya dari depan pintu kamar tempat ia kini berada. Tidak ada yang berani mendekatinya.
Seorang pria mengenakan jas berwarna hitam, melangkah dengan langkah begitu cepat. Pria itu menggenggam sebuah tas kecil. Pandangannya terus ia fokuskan, pada sebuah pintu kamar besar yang kini ada di hadapannya. Setelah sampai pria itu menghentikan langkahnya.
"Apa dia ada si dalam?" tanyanya singkat kepada beberapa pengawal, yang sedang berjaga di depan kamar Max.
"Tuan ada di dalam, dia sudah menunggu anda," jawab seorang pengawal singkat, sambil membukakan pintu kamar Max.
Langkah kaki yang tadi berdurasi cepat, kini mulai melambat. Pandangan matanya hanya di arahkan ke wajah Max yang kini sedang menahan amarah.
"Tuan, maafkan saya sudah datang terlambat," ucapnya dengan pelan sambil membungkukkan tubuhnya.
"Dia masih hidup, aku sangat yakin mereka memiliki sebuah rencana yang licik untuk menghancurkanku," ucap Max sebelum membalikkan tubuhnya untuk memandang seseorang yang kini berdiri di belakangnya.
Wira, seorang pria muda yang selalu berhasil menyelesaikan semua tugasnya tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Wira merupakan salah satu orang yang sudah lama bekerja dengan Max. Jejaknya menghilang saat wira berhasil menyelesaikan misinya membunuh seorang mafia yang sangat hebat. Wira pergi tanpa meninggalkan jejak, semua rencananya juga sangat rapi hingga tidak ada yang curiga sedikitpun.
"Dia masih hidup, Wira," ungkapnya singkat.
"Itu tidak mungkin, Tuan. Aku sudah membunuhnya waktu itu. Bahkan dia menghembuskan nafas terakhirnya, tepat di hadapanku." ucap Wira ia sungguh tidak percaya dengan kenyataan ini.
"Apa kau pikir aku sedang bercanda, dia ada di depan mataku. Dia berada di kota ini. Bahkan Agam juga ada di sini," teriakan Max mampu memecahkan telinga siapa saja yang mendengarnya.
Wira diam membisu tanpa kata. Hatinya masih merasa yakin, kalau ia sudah berhasil menyelesaikan tugasnya.
"Saya akan menyelesaikannya, Tuan." Wira menundukkan kepalanya dengan wajah bersalah. Dirinya telah gagal, dalam tugas penting yang diperintahkan oleh Max.
Uppsss terpotong 🤧