
Suasana di restoran itu masih sangat tegang, banyak kerusakan di mana-mana. Baku tembak masih saja dilakukan dari dua kubu. Saling menyerang tiada henti.
Merasa telah kalah, Max mengurungkan niatnya untuk menyerang. Pria itu pergi dari tempat itu, diikuti oleh beberapa pengawal yang masih tersisa.
"Siapa Wanita yang di gendong, Tuan Adrian?" tanya Mr. A kepada Jimy, ia begitu penasaran dengan wanita itu.
"Istri Tuan Adrian, Tuan," ucap Jimy dengan napas terengah-engah.
"Ooo...Saya tidak melihat wajahnya dengan jelas tadi. Kenapa dia ada disini?" tanya Mr.A lagi.
"Nona Muda memang menunggu Tuan Adrian, di kamar apartemen ini, Tuan." Jimy masih penasaran dengan tamu yang tidak diundang karena tiba-tiba muncul, " Tuan, siapa mereka? Saya tidak mengenal mereka, kenapa mereka menyerang?" tanya Jimy.
"Bukan kau yang di serang, tapi aku. Mereka ingin membunuhku," jawab Mr. A santai.
"Apa anda memiliki musuh, Tuan? Mereka terlihat sangat berbahaya," ucap Jimy lagi.
"Kau akan mengetahuinya nanti, aku harus segera pergi," Mr. A melangkah pergi meninggalkan Jimy, dan beberapa pengawal yang telah terluka.
"Aku harus menyelidikimu, Tuan," Jimy terus menatap ke arah punggung Mr. A yang mulai melangkah jauh menuju mobil.
Di sisi lain, Adrian telah berhasil membawa Adelia, kembali ke kamar apartemen. Wajahnya terlihat panik, melihat keadaan Adelia. Tanpa pikir panjang, Adrian merogoh handphone yang berada di dalam saku celananya. dan menghubungi seseorang yang bisa membantu masalahnya saat ini.
"Segera ke apartemenku, aku membutuhkan bantuanmu."
Panggilan terputus, kini pandangannya hanya tertuju pada Adelia yang masih tidak sadarkan diri.
"Dasar gadis pembangkang, aku sudah menyuruhmu untuk menunggu di kamar ini. Kenapa kau malah turun ke bawah. Merepotkan saja, dan apa yang akan aku katakan pada Mama, jika tadi kau dalam bahaya," Adrian berbicara sendiri dengan terus memandang wajah Adelia.
Seseorang mengetuk pintu, Adrian menatap ke arah pintu sebelum mengeluarkan kata, "Masuk."
"Iya, aku baik-baik saja. Tapi dia," jawab Adrian pelan yang kembali memandang ke arah Adelia.
"Saya sudah menyuruh Nona Adelia untuk menunggu, Tuan. Tapi...." Jimy menghentikan perkataannya, dan memandang ke arah Adelia penuh pertanyaan.
Seharusnya aku tahu sejak awal. Kalau Nona Adelia tidak akan semudah itu, untuk menuruti perkataanku.
Umpat Jimy dengan kesal, dalam hati.
"Aku sudah menghubungi Aldo. Dia akan segera datang untuk memeriksa keadaan Adelia." Adrian menatap tajam wajah Jimy yang sudah memandang Adelia.
Aldo adalah sahabat yang dimiliki Adrian saat ini. Sahabat terbaik, yang selalu ada saat ia memiliki masalah di perusahaannya. Selain pengusaha sukses, Aldo juga berprofesi sebagai seorang dokter. Bahkan bisnis yang bergerak di perusahaannya, juga ikut seputar farmasi. Aldo juga memiliki satu rumah sakit, tempat ia menyalurkan bakat kedokterannya.
Jimy tidak menghiraukan tatapan tajam dari Adrian. Karena ia harus segera menyampaikan berita yang begitu penting.
"Tuan, saya rasa Mr. A bukan hanya seorang CEO du perusahaannya. Sepertinya, dia juga memiliki bisnis gelap. Dan hal itu membuat dirinya di kejar oleh musuhnya," ungkap Jimy sambil mengingat kejadian beberapa menit yang lalu.
"Aku sama sekali tidak tahu tentang itu, itu adalah tugasmu untuk menyelidikinya," jawab Adrian dengan santai. Saat ini, pikirannya masih dipenuhi dengan kesehatan Adelia.
"Saya akan segera menyelidikinya, Tuan." jawab Jimy sambil menunduk, dan melangkah pergi meninggalkan Adrian dan Adelia di dalam kamar.
"Tunggu, Jimy!" teriak Adrian, menatap wajah Jimy dengan serius.
"Maaf, Tuan. Apa anda membutuhkan sesuatu?" tanya Jimy yang kini sudah membalikkan tubuhnya dan menghadap ke arah Adrian.
"Terima kasih sudah melindungiku" ucap Adrian.
Adrian sangat lemah dalam hal menembak, dia bisa menembak hanya sedikit dan itu hanya pada saat latihan. Belum sekalipun menghadapi musuh seperti di restoran.