
Kenapa harus secepat ini, aku harus menyuruh orang untuk membereskan semua kekacauan ini, pria itu pasti tidak akan tinggal diam saat mengetahui Adelia masih hidup. Dan itu akan sangat membahayakan bagi keselamatan Adelia.
Entah rencana apa yang ingin dilakukan oleh Nyonya Wina. Tetapi untuk saat ini pikirannya dipenuhi dengan rasa khawatir, karena musuh masa lalu Adelia sudah berada di depan mata.
Tanpa disadari oleh Nyonya Wina, bahwa Jimy kini tengah mengawasinya dari balik dinding.
"Nyonya Wina seperti mengetahui sebuah rahasia besar tentang Nona Adelia, namun ia masih mencoba menyembunyikannya." ucap Jimy pelan dan melangkah meninggalkan ruangan itu.
***
Di dalam kamar, Adelia hanya diam tanpa kata. Setelah membersihkan diri, Adelia hanya duduk di atas sofa. Pikirannya masih saja terus memikirkan keadaan Eva.
Adrian melihatnya dan menghampiri Adelia.
"Apa yang sedang kau pikirkan Adelia?" tanya Adrian sambil duduk di samping Adelia.
"Aku memikirkan Eva..." ucapnya lirih.
"Kau masih memikirkannya?" ucap Adrian.
"Aku khawatir dengannya," ucap Adelia.
"Baiklah, malam ini kita akan menjenguknya." ucap Adrian.
"Benarkah?'' tanya Adelia yang masih tidak percaya dengan perkataan Adrian.
"Tentu saja," jawab Adrian singkat.
"Terima kasih, Adrian." ucap Adelia dan memeluk Adrian.
Deg
Jantung Adrian seperti berhenti berdetak. Pelukan yang dilakukan oleh Adelia seperti bom waktu, yang membuat detak jantungnya tiba-tiba berhenti dan tiba-tiba berdegup kencang. Tidak terlihat ada penolakan maupun menyambut pelukan Adelia. Adrian hanya diam tanpa ekspresi.
Hal itu tidak sama dengan Adelia. Ia kini merasa sangat begitu senang, atas tawaran yang mengajaknya menjenguk Eva. Adelia memeluk Adrian sebagai ucapan terimakasih. Namun pelukan itu, tidak menggambarkan perasaan yang berbeda untuk Adrian.
"Lepas, kau bisa membuatku berhenti bernapas. Jika kau terus saja memelukku seperti ini Adelia," ucap Adrian dingin.
Sekuat mungkin ia tutupi ia mulai merasa nyaman saat berada di dekat Adelia.
"Maaf..." ucap Adelia lirih sambil menundukkan kepala merasa bersalah.
"Kau tidak perlu sedih seperti itu, mari kita turun dan makan malam. Setelah itu kita akan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Eva," ucap Adrian sambil beranjak dari sofa.
"Adrian-" ucap Adelia terhenti, "Terima kasih," lanjutnya lagi.
Adrian hanya mengangguk dan memandang wajah Adelia, kemudian melangkah menuju ruang makan, Adelia juha mengikuti Adrian dari belakang.
Adrian Akhir-akhir ini bersikap baik padaku, dan itu dia semakin terlihat manis.
Ucap Adelia dalam hati.
Di ruang makan terlihat masih kosong. Tuan Agung dan Nyonya Wina belum terlihat batang hidungnya. Hanya Adelia dan Adrian yang sudah duduk untuk makan malam.
"Pak Udin, di mana Mama dan Papa?" tanya Adrian heran dan merasa ada yang aneh, karena Nyonya Wina tidak pernah sekalipun telat untuk makan malam.
"Tuan dan Nyonya sedang pergi keluar, Tuan. Nyonya menitipkan ini, untuk Nona Adelia." ucap Pak Udin sambil menyerahkan sebuah paperbag, dan meletakkannya di atas meja.
"Apa ini Pak?" ucap Adelia bingung.
"Sebaiknya kau buka saja dari pada penasaran seperti itu," ucap Adrian.
"Adrian, apa ini milikmu?" ucap Adelia sambil memegang baju bayi tersebut.
"Apa kau sedang bercanda, apa maksudmu itu baju milikku ketika aku masih bayi? ucap Adrian sambil mengernyitkan keningnya.
"Mungkin saja ini baju bayi keturunan keluarga Kusuma," ucap Adelia polos, sambil mengingat kalung turun temurun keluarga Kusuma yang ada pada lehernya.
Adrian tidak menanggapi perkataan Adelia dan memilih melanjutkan makan malamnya.
"Adelia, cepatlah selesaikan makan malam mu. Kita akan segera berangkat ke rumah sakit," ucap Adrian kembali melanjutkan makannya yang sempat terhenti karena Adelia.
Adelia hanya mengangguk dan segera menyelesaikan makan malamnya.
Untuk apa Mama memberiku baju bayi? Apa itu artinya Mama ingin segera menimang seorang cucu?
Adelia masih bertanya-tanya dalam hati.
Tidak butuh waktu lama Adrian dan Adelia sudah selesai dengan makan malamnya. Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 malam. Adrian dan Adelia kini tengah berada di dalam mobil dan segera berangkat menuju ke arah rumah sakit tempat Eva di rawat.
Di dalam mobil hanya ada keheningan. Perasaan khawatir dan rasa cemas terus saja muncul di hati Adelia. Walaupun Eva sudah di tangani oleh Dokter, tapi Adelia masih khawatir jika belum melihat keadaannya secara langsung. Ia berharap semoga Eva dalam keadaan baik-baik saja.
"Apa yang sedang kau pikirkan, apa kau masih memikirkan tentang baju bayi itu? ucap Adrian memecah lamunan Adelia.
"Eva..." ucap Adelia pelan tanpa semangat.
"Hey, tenanglah kita akan segera tiba di rumah sakit, dan kau bisa melihat keadaannya secara langsung." ucap Adrian.
"Hmmmm.... Apa keluarganya sudah mengetahui hal ini?" tanya Adelia.
"Jimy-'' tanpa bisa menjawab pertanyaan Adelia. Adrian justru memberi kode kepada Jimy untuk menjelaskan pertanyaan yang diajukan Adelia.
"Sudah Nona, keluarga Eva dan putri kecilnya sudah menemaninya di rumah sakit," ucap Jimy tanpa menoleh dan terus melajukan mobilnya agar segera sampai.
"Putri kecil?" tanya Adelia kaget.
"Iya, Nona." ucap Jimy.
Aku baru ingat, Eva pernah bercerita dan bilang bahwa dia memiliki anak yang masih kecil, dan dia bekerja juga demi anak yang sangat ia cintai. Aku akan sangat merasa bersalah jika terjadi sesuatu hal yang buruk kepada Eva.
Adelia menundukkan kepalanya dengan rasa bersalah yang begitu besar. Andaikan waktu bisa diulang, ia tidak akan pergi mengajak Eva, dan ia akan lebih memilih pergi seorang diri saja.
Setelah beberapa menit kemudian, mobil yang ditumpangi Adelia dan Adrian sudah tiba di rumah sakit.
Tanpa menunggu perintah, Adelia segera melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ruangan Eva. Perasaan khawatir yang muncul di pikirannya akan segera terjawab setelah ia melihat keadaan Eva.
Sesampainya di depan ruangan Eva, Adelia melangkahkan kakinya untuk masuk dengan perlahan.
"Eva...." ucap Adelia sambil membuka pintu kamar tempat Eva di rawat.
Dengan perasaan yang sangat bimbang, Adelia melangkahkan kakinya yang terasa begitu berat untuk mendekat ke arah Eva. Terlihat Eva yabg yang masih memejamkan mata, ditemani seorang wanita muda yang menggendong seorang bayi.
"Apa dia putrinya Eva?" tanya Adelia sambil menatap wajah polos seorang balita yang ada di hadapannya, " Bolehkah aku menggendongnya?" ucap Adelia dengan hati-hati.
"Tentu saja, Nona, anda boleh menggendongnya. Vina terlihat senang bertemu dengan anda," ucap wanita tersebut sambil memberikan bayi itu kepada Adelia.
"Vina, nama yang bagus," ucap Adelia sambil tersenyum kepada bayi lucu itu.
Eva masih belum sadar apakah dia baik-baik saja??
***